Cinta Dalam Diam

1093 Kata
Bissmillahirrahmanrrahim .. "Mencintai dalam diam layaknya Fatimah dan Ali." | Cinta Aisyah | Ig: @ aliyanatasya25 *** Kisah cinta yang sudah terpendam sejak lama, kisah cintanya sangat terjaga kerahasiaannya dalam kata, ekspresi dan ekspresi mereka bahkan konon syaithan pun tak bisa mengendusnya, mereka bisa menjaga izzah mereka, hingga Allah telah menghalalkannya. Ali bin Abi Thalib adalah keponakan dan salah satu sahabat yang istimewa dimata Rasulullah SAW. Selain beliau tinggal langsung bersama Rasulullah, dia juga seorang pemberani yang pernah menggantikan posisi tidur Rasulullah disaat hijrah dan juga seorang mujahid perang yang gagah. Sementara Fatimah, putri Rasulullah SAW taat, penyayang dan sangat peduli pada Rasulullah SAW, selalu ada disamping dalam setiap kisah perjuangan sang ayah membumikan nilai-nilai islam di tengah kafir Quraisy. Ali sudah suka Fatimah sejak lama, kecantikan putri Rasulullah ini tak hanya jasmaninya saja, kecantikan Ruhaninya mengatur batas hingga langit ketujuh. Kendalanya adalah perasaan rendah dirinya, apakah mampu ia membahagiakan putri Rasulullah dengan keadaannya yang serba terbatas. Demikian kira-kira perasaan yang ada pada Ali saat itu. Pada suatu ketika, Fatimah dilamar oleh seorang laki-laki yang selalu dekat dengan nabi, yang mempertaruhkan kehidupannya, harta dan jiwanya untuk Islam, menemani perjuangan Rasulullah SAW sejak awal-awal risalah ini. Dialah Abu Bakar Ash Shiddiq, entah kenapa mendengar berita ini Ali terkejut dan tersentak jiwanya, muncul rasa-rasa yang diapun tak mengerti, Ali diuji karena terasa apalah dirinya jika dibandingkan dengan Abu Bakar duduknya disisi nabi. Ali belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan perjuangannya dalam pemberdayaan risalah Islam, entah sudah berapa banyak tokoh-tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan dakwahnya. Sebutlah 'Utsman,' Abdurrahman bin auf, Thalhah, Zubair, Sa'd bin abi Waqqash, Mush'ab. Ini yang tak mungkin dilakukan oleh anak-anak seperti Ali. Tak sedikit juga b***k yang dibebaskan oleh Abu Bakar sebutlah Bilal bin rabbah, khabbab, keluarga yassir, 'Abdullah ibn mas'ud. Dari sisi finansial Abu Bakar seorang saudagar tentu akan lebih bisa membahagiakan Fatimah, sementara Ali ?, hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. Melihat dan memperhitungkan hal ini, Ali ikhlas dan bahagia jika Fatimah bersama Abu Bakar, meskipun ia tak mampu membohongi rasa-rasa dalam hatinya yang ia sendiri tak mengerti, apakah mungkin itu yang namanya cinta? Namun ternyata lamaran Abu Bakar ditolak oleh Fatimah sehingga hal ini menumbuhkan kembali harapannya. Ali kembali mempersiapkan diri, berharap dia masih memiliki kesempatan itu. Namun ujian bagi Ali belum berakhir, setelah Abu Bakar mundur muncullah laki-laki nan gagah perkasa dan pemberani. Seseorang yang masuk Islamnya mengangkat derajat kaum muslimin, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. Seorang yang diberi gelar Al-Faruq, ya, dialah Umar ibn Al Khaththab. Pemisah antara kebenaran dan kebatilan juga datang melamar Fatimah. Ali pun ridha jika Fatimah menikah dengan Umar, ia bahagia jika Fatimah bisa bersama dengan sahabat kedua Rasulullah setelah Abu Bakar yang mana Rasulullah sampai membahasakan "Aku datang bersama Umar dan Abu Bakar". Namun kemudian Alipun semakin bingung karena ternyata lamaran Umarpun ditolak. After that menyusul Abdurahman bin Auf melamar sang putri dengan membawa 100 unta bermata biru dari mesir dan 10.000 Dinnar, kalo diuangkan dalam rupiah kira kira 55 milyar. Dan lamaran bermilyar-milyar itupun ditolak oleh Rasulullah. Akan tetapi pengikut Ali bin Abi Thalib belum berakhir sampai di sini karena ternyata sahabat yang lainpun melamar sang Az Zahra. Usman bin Affanpun memberanikan dirinya melamar sang putri, dengan mahar seperti yang dibawa oleh Abdurrahman bin Auf, hanya ia datang kembali bahwa keberadaannya lebih mulia di banding Abdurrahman bin Auf karena ia telah lebih dulu masuk islam. Tidak disangka tidak diduga, ternyata Rasulullah menolak lamaran Usman bin Affan. Empat sahabat sudah memberanikan diri dan mereka semua telah ditolak oleh Rasulullah SAW. "Mengapa bukan engkau saja yang kawan?", Seru sahabat Ali, "Mengapa engkau tak mencoba melamar Fatimah ?, aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi .." "Aku?", Tanyanya tak yakin. "Ya. Engkau wahai saudaraku!" "Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa aku andalkan?" Sahabatnyapun menguatkan "Kami dibelakangmu, kawan! Akhirnya Ali bin Abi Thalibpun memberanikan diri menjumpai Rasulullah untuk menyampaikan maksudnya, meminang putri nabi untuk jadi istrinya. Awalnya beliau hanya duduk di samping Rasulullah dan lama tertunduk diam. Hingga Rasulullahpun bertanya" wahai putra Abu Thalib, apa yang engkau inginkan? " Sejenak Ali terdiam, dan dengan suara bergetar iapun menjawab," Ya Rasulullah, aku akan meminang Fatimah "Mendengar jawaban Ali ini beliau SAW tidak terkejut." Bagus, wahai Ibnu Abu Thalib, beberapa waktu terakhir ini banyak yang melamar putriku, tetapi ia selalu menolaknya, karena itu, Kemudian Rasulullah meninggalkan Ali dan bertanya kepada putrinya, ketika ditanyai Fatimah hanya terdiam dan Rasulullah SAW menyimpulkan bahwa diamnya Fatimah pertanda kesetujuannya. Rasulullah kemudian melanjutkan Ali dan bersabda "Apakah engkau memiliki sesuatu yang akan engkau jadikan mahar wahai Ali? Alipun menjawab" Orang tuaku yang menjadi penebusnya untukmu ya Rasulullah, tak ada yang aku sembunyikan darimu, aku hanya memiliki unta untuk membantuku menyiram tanaman, sebuah pedang dan sebuah baju zirah dari besi " Dengan tersenyum Rasulullah SAW bersabda "Wahai Ali, tidak mungkin engkau secara terpisah dengan pedangmu, karena dia menolak diri dari musuh-musuh Allah SWT dan tidak mungkin juga engkau berpisah dengan untamu karena ia membantu membantu mengairi tanamanmu, aku terima mahar baju besimu, juallah dan jadikan sebagai mahar untuk putriku " Ali bin Abi Thalib menjual baju besi tsb dengan harga 500 dirham dan menyerahkan uang tersebut kepada Rasulullah SAW, dan nabipun membagi uang tersebut ke dalam 3 bagian. Satu bagian untuk kebutuhan rumah tangga, satu bagian untuk wewangian dan satu bagian lagi di kembalikan kepada Ali bin Abi Thalib sebagai biaya untuk jamuan makan untuk para tamu yang menginspirasi pesta.Dan malam harinya setelah dihalalkan oleh Allah SWT, terjadilah dialog yang sangat menggetarkan. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah lelah menikah, Fatimah berkata kepada Ali, "Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya", Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal dengannya. Sambil tersenyum Fatimah menjawab, "Pemuda itu adalah dirimu." *** Aisyah yang membaca cerita tentang cinta dalam diam Ali dan Fatimah. Sampai meneteskan airmata, begitu rapihnya sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah menyimpan cinta dalam diamnya. Hingga, tidak satupun yang kecuali kecuali Allah Ta'ala. Cinta yang tersimpan rapih, dan tersusun indah. Namun, terkadang aku selalu mengharapkan sosok pendamping yang sempurna. Padahal aku sendiri jelas memiliki kekurangan. Kita diciptakan memang untuk menyempurnakan bukan? Wahai Calon Imam .. Aku berharap, kamu menjadi sempurna. Namun cukuplah, cukuplah kekuranganku dengan kelebihanmu. Jika nanti kita bersatu dalam ikatan yang suci, aku mohon bimbing aku hingga menjadi wanita yang salihah .. Apa yang dirasakan Aisyah, sama dengan Sayyidah Fatimah. Mencintai dalam Diam. Ya Allah, apakah engkau tahu dengan siapa perasaan ini berlabuh? Aku tak ingin salah dalam memilih pendamping hidup. Karena aku hanya ingin menikah satu kali hidupku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN