Bismillahirrahmanirrahim ...
"Kesuksesan adalah tahap dimana kamu dapat menggapai semua yang kamu cita-citakan tercapai. Ingat! Jika kamu sudah berada dititik itu tetaplah rendah hati dan tidak sombong. Sebab, orang jika dirinya sudah sukses, maka ia akan takabbur."
| Cinta Aisyah |
Selamat Membaca
Sejak Aisyah memberi alamat rumah tinggal, Almeer semakin semangat untuk segera mengkhitbah-nya. Namun, ia ingin berta'ruf terlebih dahulu agar mereka saling mengenal satu sama lain. Jika tidak ada kecocokan dalam diri mereka masing-masing, mereka akan membatalkannya. Namun, jika mereka saling cocok untuk melanjutkan proses ini ke jenjang yang lebih serius yaitu Pernikahan.
Pernikahan memang keinginan setiap orang. Pernikahan yang Sakinah, Mawaddah warohmah pasti yang diinginkan setiap orang. Namun, bukan rumah tangga, jika tidak ada ujian atau cobaan. Setiap rumah tangga seseorang pasti akan diuji. Entah lewat suaminya atau istrinya. Dan bahkan ada yang lewat mertuanya. Akan tetapi, hadapilah semua ujian atau cobaan itu dengan kepala dingin. Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi, karena bisa jadi itu hasutan setan. Allah menghalalkan Perceraian, namun Allah sangat hangat Perceraian.
Dilain tempat, Aisyah sedang memandang wajah dipantulan cermin. Setelah sholat, ia harus siap diri. Dengan menggunakan baju gamis berwarna merah muda yang dilengkapi dengan jilbab syar'i berwarna dusty pink, terlihat sangat cantik sekali.
Setelah Aisyah memakai make up dengan tipis, kemudian Aisyah duduk dipinggir tempat tidurnya. Sambil menunggu keluarga Almeer dateng.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar kamar Aisyah.
Tok..tokk..tokk ..
"Masuk gak aku kunci kok" jawab Aisyah
Tibalah sosok wanita paruh baya di depan pintunya. Yang tak lain adalah bundanya Aisyah, Annisa Wijaya.
Wanita yang telah melahirkan Aisyah, menjaga dan membimbing Aisyah hingga besar kini. Dan jika Aisyah telah menikah nanti, maka tugasnya telah disimpan oleh suaminya nanti.
"Kamu sudah siap nak?" Tanya bunda yang menghampiri dirinya.
"Sudah kok Bun. Emang keluarga Mas Almeer sudah dateng?" Tanya Aisyah.
'Mas' ahh apa tidak terlalu formal yah dengan sebutan 'Mas' itu.
"Cie jadi manggilnya Mas nih?" Ledek bunda sambil tersenyum penjara.
"Ihh apaan sih bun, kan memang harus begitu bukan?"
"Iya sudah gpp. Ayo kita turun sepertinya itu mobil mereka deh." Tutur bunda saat mendengar suara mobil yang berhenti didepan rumah.
Lalu mereka pun menuruni anak tangga satu persatu. Dengan langkah yang sedikit lambat, didalam hati Aisyah merasakan adanya gejolak yang tak karuan. 'Ternyata begini rasanya jika akan dilamar seseorang yang kita cintai.' Batin Aisyah.
Dua keluarga yang saling melengkapi, saling membutuhkan dan saling memperjuangkan ikatan cinta yang halal. Akan dikumpulkan di surga-Nya.
Dua keluarga itu sudah berkumpul diruang tamu, keluarga Aisyah dan Almeer. Mereka semua sedang membicarakan tentang lamaran Almeer dengan Aisyah. Yah, Sejak Aisyah bertemu dengan Almeer. Ia sudah mulai ada perasaan yang berbeda, entah rasa kagum atau bukan yang jelas seperti perasaan cinta. Setiap malam ia bangun untuk melaksanakan sholat istikhoroh. Agar ia diberikan petunjuk oleh Allah, berikan jodohnya kelak ia menginginkan lelaki soleh dan bertanggungjawab. Setiap hari ia selalu dibayangkan oleh bayangannya. Aisyah yakin bahwa Almeerlah yang menjadi pendamping hidupnya. Aisyah yakin bahwa Almeer adalah lelaki yang Soleh.
"Pak, kedatangan saya dengan keluarga saya merekomendasikan ingin Ta'aruf dengan anak bapak yaitu Aisyah." Almeer memulai pembicaraan.
"Apa kamu yakin ingin ta'aruf dengan anak saya?" Tanya Anton - ayah Aisyah.
"Saya yakin pak, kalau Aisyah adalah wanita yang selama ini saya idamkan untuk menjadi pelengkap separuh agama saya." Ujar Almeer dengan berkeyakinan penuh.
"Apa kamu siap menjaga putri saya dengan segenap hatimu?" Tanya Ayahnya lagi.
Bukan maksud untuk memanfaatkan acara. Namun, alangkah baik jika seorang ayah bertanya kepada lelaki yang ingin melamar putrinya. Seorang ayah memang mengingnkan anak perempuan yang hidup bahagia bersama lelaki yang ia cintai. Termasuk Anton yang menginginkan Putrinya hidup bahagia bersama suaminya nanti. Anton hanya memastikan bahwa Almeer dapat menjaga putrinya itu.
"Saya siap untuk menjaga putri bapak setiap waktu. Bahkan setiap saat pak, saya akan selalu berada disampingnya." Ujar Almeer meyakini Ayah Aisyah
"Saya tidak mau melihat anak saya menangis jika sudah menikah denganmu jika kamu menyakitinya dan menangisinya." Ujar Anton dengan tegas. Sambil memberi pesan kepada Almeer, agar menjaga anaknya dengan tidak menyakiti hatinya.
"Saya janji pak, tidak akan membuat Aisyah menangis karena saya, saya akan membahagiakan dia pak." Almeer.
Yakin Aisyah, Almeer memanglah lelaki yang ia cari selama ini. Jika ia menerima ajakan ta'arufnya, apakah ia shalat? Tidakkan?
"Baiklah. Aisyah keputusan ada ditangannya." Ujar Ayah sambil menengok ke arah Aisyah. Yang sedari tadi diam dan menundukkan kepalanya.
"Aisyah, Apa kamu mau ta'aruf denganku?" Kini Almeer mulai mengalihkan pandangannya kearah Aisyah.
Aisyah tampak diam. Ia mencerna setiap perkataan Almeer. Ia mengucapkan,
"Bissmillahirrahmanirrahim ... Aku mau Ta'aruf dengan kamu." Ujar Aisyah. Sambil menganggukan sebuah kepala dan tersenyum.
"Jadi selama proses Ta'aruf berlangsung kalian boleh saling mengenal. Tapi ingat, saling mengenalnya itu hanya lewat perantara saja yah, disini Ayah akan libatkan abangnya Aisyah, Andika. Agar dia bisa mengamati kalian agar tidak ikhtilat yah." Pesan Ayah pada mereka.
***
Paginya Aisyah kembali beraktifitas seperti biasanya, pergi ke kampus. Selain menjadi mahasiswi, Aisyah juga mengajar anak-anak mengaji di Rumah Tahfidz Asshobirin didekat kompleknya, jika ada waktu luang ia memnyempatkan diri untuk mengajar. Namun, jika tidak sempat ia tidak mengajar.
Hari ini Aisyah memakai baju gamis dengan perpaduan dua warna ijo tosca dan pink yang dibalut dengan kerudung senadanya. Ia menyusuri lorong kampus, banyak mahasiswi yang sedang duduk dihalaman depan kelas. Ada yang sedang berbincang dengan temennya, ada yang sedang membaca buku.
Setelah sampai didepan kelasnya, Aisyah masuk ke ruang fakultasnya itu, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.
"Aisyah ?!" Panggilnya dari jauh.
Aisyah menengok. Dan ternyata Almeer yang memanggilnya. Ia berhenti dan berdiri di depan pintu kelas. Kemudian, Almeer menghampiri Aisyah.
"Ini CV Ta'arufnya, maaf kemarin belum sempat kasih ke kamu." Tuturnya sambil menyodorkan Lamaran Ta'aruf.
"Ohhiya, makasih yah mas. Nanti CV aku nyusul aja yah." Ujarnya dengan menyebutkan nama Almeer dengan sebutan 'mas'.
"Mas?" Almeer terkejut.
"Ii ... iya mas. Kan kamu lebih tua." Sahut Aisyah dengan nada pelan. Dan terlihat gerogi.
"Ahh Baiklah. Yasudah, aku mau masuk dulu ada kelas hari ini. Assalamualaikum." Pamitnya. Kemudian dia langsung pergi pergi.
"Waalaikumussalam." Aisyah menjawab salamnya Almeer
"Aisyah apa-apaan sih, kenapa manggil Almeer mas sih. Kan belum jadi suami, ishh kenapa bisa keceplosan ginih sih ya allah .." Batinnya.
Sudahlah, lupakan.
Wahai diri ..
Bertahanlah untuk tetap setia menunggu,
Bertahan untuk tetap berada pada titik sulit ini,
Agar nanti aku bisa menggapai semuanya.
Wahai Hati ..
Ikhlaskan semua yang pernah terjadi,
Aku yakin, dibalik semuanya pasti ada hikmah didalamnya.
Wahai Hati ...
Berpegang teguhlah atas agama yang kini kupegang teguh. Jangan sampai imanku lemah.
***