Seminggu berlalu

1053 Kata
Bismillahirrahmanirrahim .. "Ketika kamu butuh sandaran. Maka, aku akan menyiapkan sandaranmu. Tetapi, jika kamu butuh sandaran untuk membuat hatimu tenang. Maka, bersandarlah pada Sajadah Allah." | Cinta Aisyah | *** Seminggu berlalu, Seperti biasa Aisyah dan Almeer berangkat ke Kampus selalu bersama, pulang mereka selalu bersama. Aisyah ada kelas pagi ini, sedangkan Almeer ia sedang tidak ada kelas pagi ini. Almeer hanya mengantar Aisyah saja. Sesampainya ia di Kampus, Aisyah berpamitan dengan suaminya yang mengulurkan kearah Almeer yang disambut dengan Almeer. Kemudian ia mencium tangan Almeer. "Aku pamit yah. Assalamualaikum." Ujar Aisyah memberi salam sambil meninggalkan Almeer. "Waalaikumussalam." Jawab Almeer kemudian ia menancap gas mobilnya. Aisyah menyosori setiap langkahnya didepan Fakultas. Mulai dari Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran dan sebagainya. Fakultas Kesenian dan Desain, melewati gedung Perpustakaan. Sesampainya ia di kelas, Ia menyampaikan salam kepada yang sudah datang. Kemudian, Aisyah mendudukkan dirinya dikursi paling depan. Disampingnya sudah ada sahabatnya Sejak pertama Masuk Ospek ini, Sisilia Soraya. "Syah, Selamat yah atas pernikahan kalian. Maaf aku gak bisa dateng, soalnya ada keperluan mendadak." Ucap Sisil. "Iyah makasih yah Sil. Tak apa kok yang penting doanya." Sahut Aisyah sambil senyum. "Eh btw, gimana malam inspirasi?" Pertanyaan itu membuat Aisyah merona. Masalahnya ia mengingat kejadian kejadian minggu lalu. Ia telah memberikan haknya pada suaminya. Aisyah hanya memberikan senyum yang tidak bisa ditebak. Sedangkan Sisil, ia terus menggodanya. "Pasti enak yah .. malam pertama." Celetuknya. Aisyah tersenyum malu. "Ih Sisil .. kamu apaan sih." Ujar Aisyah malu. Bagaimana tidak malu? Ia sendiri jika kejadian itu akan merasa malu. Apalagi ia bercerita tentang malam itu. Ah lupakan itu. "Baiklah, aku tidak membahas itu lagi." Ujarnya seraya tersenyum pada Aisyah. Kemudian, Dosennya masuk. Aisyah Membalikkan badannya kearah Dosen. Sebelumnya Aisyah berbalik kearah Sisil. Pelajaran berjalan selama 1 jam. Setelah pelajaran selesai, Aisyah dan Sisil keluar dari Fakultas Kesenian dan Desain. Mereka melangkahkan kakinya di lorong gedung Fakultas. Selama mereka berbincang-bincang mengenai mata pelajaran, tiba-tiba ada seorang laki-laki menghampiri mereka. "Assalamualaikum Aisyah." Ucap seorang Lelaki. Aisyah menundukkan kepalanya, seraya ucapan "Waalaikumussalam". "Kamu mau pulang Syah?" Tanyanya lagi. Aisyah sudah tahu lelaki ini siapa. Dari suaranya ia sudah hafal. Dia adalah Yoga Prasetyo. Kakak kelas yang telah menolongnya waktu ia terlambat masuk. Karena Ban mobil abangnya bocor ditengah jalan. Sehingga Aisyah berjalan lumayan jauh menuju Kampusnya. Menolong Aisyah dari larangan yang diberikan kak Dinda dulu. Ia ingat sekali. "Iya kak, saya mau pulang." Ucap Aisyah. "Mau aku antar gak? Sekalian bareng gitu. Aku juga mau pulang." Ujarnya sambil menawarkan Aisyah untuk mengajaknya bareng bersamanya. Tetapi Aisyah sedang menunggu seseorang, "Tapi Maaf kak, Saya sudah ada yang jemput." Tutur Aisyah sopan "Hmm baiklah, aku tidak memaksamu. Kalau gitu, aku pulang duluan yah, Assalamualaikum." Ujar Yoga sambil melenggang pergi. Untung saja kak Yoga tidak memaksaku untuk ikut bersamanya. Kalau saja, jaga apa yang harus aku katakan pada suamiku. Bisa-bisa dia marah padaku. Batin Aisyah. Sesampainya mereka didepan gerbang, suara klakson mobil dari arah kanan berbunyi, Tinn .. tinn .. Aisyah yakin itu adalah suaminya. "Iyaudah Syah, kalo gitu aku duluan yah. Soalnya kamu juga sudah dijemput." Ujar Sisil. "Eh kamu gak mau bareng aku? Kamu ikut saja yah, nanti aku akan bilang suamiku." Tawar Aisyah. "Hmm .. gak usah deh Syah. Aku duluan, Assalamualaikum." Ucapnya lalu pergi. Setelah menjawab salam dari Sisil, Aisyah langsung masuk ke mobil Almeer. "Assalamualaikum, mas." Ucap Aisyah dengan lembut dan seperti biasa, Aisyah akan melakukan kewajibannya mencium tangan suaminya, Almeer tersenyum dan mengusap rambutnya dibalik Jilbab Syar'ii Aisyah. Selama diperjalanan, Aisyah menghadapi jendela kaca mobil, sesekali ia melihat kendaraan yang terlintas di mobil yang ia kendarai. Kini, ia memperhatikan setiap inci wajah suaminya. Tampan, batin Aisyah. Aisyah terkesiap, saat tangan Almeer melambaikan wajahnya. "Aku tahu kok, aku Tampan kan." Ucap Almeer dengan penuh percaya diri. Aisyah akui, dirinya memang sangat tampan. Menggunakan baju tidur biru muda dengan lengan digulung siku, ditambah senyum yang membuat para wanita tergoda akan ketampanan yang ia miliki, termasuk Aisyah. Istrinya sangat terpesona melihat ketampanan suaminya. "Ih .. Pede sekali sih kamu." Aisyah mengelak. Sebenarnya Almeer memang Tampan. Tetapi, Aisyah tidak mengiyakan perkataannya itu. Bisa-bisa besar kepala. Batinnya. "Itu kamu ngeliatin aku sampe segitunya, sampe gak kedip gitu matanya." Ujar Almeer diiringi kekehan respons. "Iiih tau deh." Ucap Aisyah dengan cuek. Almeer hanya tertawa Aisyah. *** Sesampainya mereka dirumah, Aisyah langsung membersihkan badannya. Sedangkan Almeer, ia sedang menonton tv diruang keluarga. Ohiya, mereka sudah pindah rumah sejak dua hari yang lalu, jadi mereka hanya tinggal berdua. Setelah Aisyah selesai mandi, ia menuju ke dapur untuk memasak makan siang hari ini. Ia melirik kearah Almeer yang sedang seriua menonton tv. Kemudian ia mengambil bahan-bahan untuk memasak didalam kulkas. Ia mengambil daging ayam dan mengambil sayuran. Aisyah akan memasak ayam goreng dan sayur asem. Ia mulai tata tertib dan tata tertib ia akan mencucinya. Almeer yang memperhatikan yang istrinya begitu ahlinya dalam memasak. Ia langsung menghampiri Aisyah di Dapur. Kemudian ia menerapkan Aisyah dari belakang. Sedangkan Aisyah terlonjat kaget akan kehadiran Aisyah. "Iiih kamu ngagetin aja sih. Aku kan lagi masak, lepasin dulu." Ucap Aisyah sambil melepaskan pelukan Almeer. "Memangnya gak boleh yah, aku peluk kamu?" "Bukannya gitu, tapi aku lagi masak sayang. Nanti kalau gosong lagi bagaimana?" "Iyah sudah. Aku tunggu di meja makan saja." Ucap Almeer, kemudian berlalu pergi kearah meja makan. Lima menit kemudian, Aisyah telah menyelesaikan masaknya. Ia sudah merapikannya diatas meja. Karena jam masih menunjukkan pukul 11:35, masih ada waktu untuk makan siang bersama. "Sini piring kamu." Aisyah mengambil piring yang ada ditangan Almeer. Ia menyedokkan nasi beserta lauknya kedalam piring Almeer. Kemudian, Aisyah menyerahkan nasi dan lauknya pada Almeer. Lalu, mereka menyatap makan siang berdua. Adzan dzuhur sudah berkumandang, setelah membereskan piring kotor bekas makan tadi, Aisyah langsung memasuki kamar. Almeer sudah rapih dengan baju koko serta sarungnya. Ia akan melaksanakan sholat di masjid dekat komplek ini. Dengan mengingat-Nya kita akan merasakan hati yang damai dan tenang. Dengan melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, kita wajib melaksanakan sholat. Jika hati kita merasakan banyak masalah, maka ingatlah bahwa Allah selalu ada untuk kita. Allah tidak akan membebani seorang hamba-Nya sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah Bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, berperang kamu beruntung." (QS Ali Imran: 200) Jika kamu mampu untuk bersabar maka balasannya adalah Surga. Bersabar dalam menghadapi masalah, ingatlah bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Dalam keadaan apapun, kamu harus mengingat Allah. Maka Allah akan mengingat-mu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN