Setelah Bimo membersihkan badan. Bimo mencoba istirahat di dalam kamar. Direbahkan badannya, rasa lelah baru dirasakannya mengingat tadi ia begitu panik dan berjalan cepat kadang setengah berlari seperti orang kesetanan. Pertanyaan Axel tadi sangat menohok. Apakah ia bahagia? Ia sendiri tak bisa menjawabnya. Berjauhan dengan Axel? Itu pertanyaan yang mudah dijawab dari pada pertanyaan pertama. Jawabannya pasti, ia tidak bahagia sama sekali. Masa-masa dulu bersama, ia, Daniel dan Axel adalah saat-saat bahagia. Kebersamaan yang telah melahirkan semangat pada dirinya untuk selalu ada demi Axel dan Daniel. “Bim.” Daniel memanggil, disusul ketukan di daun pintu. “makan terlebih dahulu, keburu kau tidur. Kutunggu di meja makan!” lanjut Daniel setengah berteriak. Daniel merasa khawatir

