Mendekati Hari Lamaran

1874 Kata

  Tiba di stasiun Gambir disambut terik matahari Jakarta. Hiruk pikuk dan lalu lalang orang selalu membuat Bimo tak nyaman.     Kalau Rara tengah tak banyak pekerjaan, dia selalu mau menjemputnya.    “Pergi enggak bilang-bilang, eh, balik mau dijemput. Aku lagi sibuk.” Kali ini dia menolak dengan tegas. Bimo hanya menyengir, mau minta jemput sama Ira, hatinya mengatakan tidak. Jadilah Bimo mencegat taxi.      Setibanya taxi di rumah Bunda, tampak Bunda tengah menunggunya di beranda. Bimo takut kalau bundanya marah. Di hari tuanya, Bimo ingin menjaga hatinya. Setelah bertahun-tahun meninggalkannya.    “Assalamualaikum Bun,” sapa Bimo. Wajah Bunda cerah seketika, dipeluk anaknya segera dengan lega.    “Wa’alaikumsalam,” balas Bunda, sambil menggandeng lengan Bimo masuk ke rumah.     Se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN