Bimo yang terbiasa hidup di Lembang, dengan udara yang sejuk dan nuansa pedesaan. Merasa Jakarta adalah kota yang penuh tekanan. Tekanan yang Bimo dapatkan, dari Bunda dan Ira. Bunda yang berharap banyak, Bimo segera menikahi Ira. “Apa lagi yang kamu tunggu Bimo?” Pertanyaan Bunda bagai sebuah paksaan. Bimo terdiam, di luar matahari tengah terik, panasnya terasa terbawa ke dalam rumah bahkan sampai ke hati Bimo. Rara saat itu menatapnya kasihan, adiknya seperti kepiting rebus. “Bun, pernikahan itu bukan perkara main-main. Sepertinya Bimo butuh waktu untuk meyakinkan dirinya.” Rara berusaha membantu Bimo keluar dari tekanan. Bimo tersenyum mendengar pembelaan Rara. “Ra, berapa lama lagi? Kamu tahu Ira begitu setia menanti Bimo.“ Bunda beralasan. Bimo tersenyum kecut. “Bun

