Sesaat setelah aku keluar dari ruangan Archduke, aku melihat Allen bersembunyi diantara tiang tembok sambil melihatku. Dia sepertinya ingin berbicara padaku, akupun menghampirinya lalu berjongkok didepannya.
“Apakah kau ingin berbicara padaku?”
Dia hanya mengangguk saja, wajahnya itu imut sekali, serasa pengen cubit tapi anak orang.
Aku berdiri lalu menggandeng tangannya.
“Kalau begitu, ayo cari tempat yang bagus untuk berbicara.”
Kemudian, Allen menarikku ke suatu tempat. Tak lama kemudian, kami sampai disuatu tempat, tempat yang ada banyak sekali bunga.
“Tempatnya bagus sekali, ada banyak sekali bunga, tapi kenapa hanya ada bunga mawar putih dan merah saja?”
“Itu karena ayah suka mawar putih dan ibu suka mawar merah, makanya disini lebih banyak bunga mawar merah dan putih daripada bunga yang lainnya.”
Saat melihat bunga bunga itu entah kenapa aku teringat dengan Archduke dan istrinya. Lihat saja warna bunga bunga itu, bukankah kedua warna mawarnya sama dengan warna rambut mereka, pasangan yang serasi.
Tiba tiba, Allen menarikku lagi menuju bangunan kecil, sepertinya kita akan duduk disana. Bangunan ini, hampir sama dengan bangunan yang ada dikomik.
Pilar pilarnya dilingkari oleh mawar, sebelah kanan merah dan sebelah kiri putih, kamipun duduk disana.
“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?”
“Kakak itu siapa?”
“Oh ya, aku baru ingat kalau aku belum memperkenalkan namaku ya, namaku Ella Ethelbert.”
“Siapa orang tua kakak?”
“Sebenarnya aku tidak tau siapa orang tuaku, aku sudah ditinggalkan oleh mereka sejak lahir.”
“Kalau begitu, apakah kakak anak haramnya ibu?”
Hahhh, apakah aku tidak salah dengar? Pertanyaan macam apa ini, kenapa bisa sampai sana woiii.
“Kenapa kau bisa berpikir kalau aku anak haramnya ibumu, ha?”
“Habisnya, kakak terlihat sangat mirip dengan ibu, dan juga bukankah sangat aneh, ibu selalu menaruh banyak perhatiannya padamu, padahal biasanya ibu sudah ada disampingku pagi pagi sekali, tapi saat aku bangun dia tidak ada dan malah datang ke ruang makan denganmu.”
Anak ini, bukankah tadi dia terlihat malu malu, kenapa sekarang malah berubah 360 derajat. Bahkan saat mengatakan ini dia sepertinya sudah dari awal tidak malu malu, apakah mungkin malu malu itu hanya untuk kesan awalnya saja.
“Apakah kau cemburu padaku?”
“Siapa juga yang cemburu, dasar anak haram.”
Perasaan dia tadi kek kucing dah kenapa sekarang malah jadi singa. Mana lagi nyebut gue anak haram, ga ada akhlak emang ni anak.
“Jangan menyebutku anak haram oke, hanya karena warna rambut dan mata lalu wajahku mirip dengan ibumu, bukan berarti aku anak haramnya kan. Lagipula masih ada anak diluar sana yang visualnya sama dengan ibumu.”
“Aku tidak pernah melihat ada orang yang seperti itu.”
Pengen kungomong kasar tapi ntar ngadu ni anak, makanya keluar nak, jangan dikandang teross.
“Ada loh orang seperti itu.”
“Tidak ada!!”
“Ada!!”
Saat aku sedang berdebat, tiba tiba, Kai dan Sarah datang. Saat Allen melihat mereka, dia langsung berdiri dan berlari kearah Kai dan memeluk kakinya. Akupun turut menghampiri mereka.
“Hei hei, tumben sekali kau langsung memelukku seperti ini, ada apa?”
Kai jongkok dan mengusap kepalanya.
“Wanita itu, dia bilang bahwa dikerajaan ini ada orang yang membenciku, aku bilang padanya mana mungkin ada orang yang membenciku, iya kan kak?”
Kai langsung menatapku sambil memeluk Allen yang sedang berakting menangis, kemudian Sarah berkata.
“Jahatnyaaa.”
“Hei, sejak kapan aku mengatakan itu padamu!! Jangan berbohong, dasar anak kecil.”
“Allen, abaikan saja dia, sejak dulu sifatnya memang seperti itu, dia itu wanita gorilla.”
“Kai!! Kau juga, jangan menambah nambahi suasana!!”
Dan akhirnya aku seperti menyadari sesuatu lalu menghampiri Sarah.
“Oh ya, inikan masih pagi, kenapa kalian ada disini?”
“Kami meminta izin untuk pulang duluan.”
“Memangnya hal seperti itu diperbolehkan?”
“Iya, dengan membuat sedikit alasan.”
“Alasan yang seperti apa?”
“Yahh, pokoknya alasan.”
Aku hanya mengangguk saja, karena itu berasal dari mulut Sarah, jadi aku percaya, jika berasal dari mulutnya si Kai, itu baru pantas untuk dicurigai.
“Kak Kai, tidak mau menghukum wanita itu?”
Anak ini ternyata masih belum selesai sandiwaranya, kalau begitu kemarilah, akan kuladeni dirimu.
Aku langsung berjalan mendekati Kai yang sedang menggendong Allen, yah karena tubuh Allen pendek makanya tidak terlalu berat, seharusnya.
“Oh, untuk yang tadi, aku benar benar minta maaf ya.”
Setelah itu, aku mencubit kedua pipinya lalu menariknya.
“Aaaaaa, sakit sakit, lepaskan.”
Setelah itu aku melepaskannya, dalam hatiku aku berkata mampus lu, dasar bocil, makanya jangan macem macem.
“Apa yang kau lakukan, itu sangat sakit!!”
“Habisnya pipimu itu membuat dirimu menjadi sangat menggemaskan, kalau mau aku akan menariknya lagi, apakah kau mau?”
“Tidak tidak, turunkan aku, aku akan mengadukanmu ke ayah.”
Kai menurunkannya dan Allen langsung berlari pergi.
“Oh ya, Ella, ngomong ngomong, kau dan Karen sudah lumayan akrab ya.”
“Hah?”
Apa maksudnya dengan lumayan akrab, sejak kapan? Kemarin?, yang benar saja, setelah dia menukarkan diriku dengan si iblis s****n itu, mana mungkin aku akan akrab dengannya, padahal saat itu, walaupun aku tidak menyukainya tapi aku masih berusaha menyelamatkannya.
Bukannya berterima kasih malah menjualku, emang contoh contoh anak patut masuk neraka.
“Soalnya, dia tadi pagi sebelum kelas dimulai, dia bilang bahwa agar kau baik baik saja.”
Yang benar saja, dia pasti mengira aku sudah dibawa oleh mereka.
“Dengar Sarah, aku tidak akrab dengan Karen dan selamanya tidak akan pernah!!”
“Kau masih belum memaafkannya?”
“Tidak akan pernah!! Setelah aku kembali ke akademi, aku tidak akan pernah melepaskannya.”
“Cewek gorilla, ternyata kau orang yang sangat pendendam ya.”
“Maaf saja jika kau tidak suka, tapi inilah sifatku.”
Setelah itu tiba tiba Kai dan Sarah, merubah ekspresi mereka menjadi serius.
“Ella, ada yang perlu kami diskusikan denganmu.”
“Kenapa menjadi serius seperti itu? Apa yang ingin kalian diskusikan?”
“Tentang iblis.”
Iblis!! Mereka berdua terlihat serius, apakah ada sesuatu yang terjadi?
“Informasi tentang adanya iblis memang sangat sulit untuk disembunyikan dari masyarakat, oleh karena itu, saat hari pertama patroli, kami membuat peredam suara untuk setiap rumah, sehingga saat kita bertarung tidak akan ada orang yang mendengar, kecuali ketika mereka diluar.”
“Sebenarnya Archduke sudah membuat rumor dan menyebarkannya sehingga semua orang tetap berada di dalam rumah saat malam hari. Tapi karena pertarungan kami yang terlalu besar kemarin, tanpa sengaja menimbulkan sebuah ledakan yang menembus peredam suara yang kami buat.”
“Oleh karena itu, informasi tentang iblis yang berkeliaran dimalam haripun terbongkar, tadi pagi, semua orang dikerajaan ini datang keistana dan protes karena tidak ada pemberitahuan dan berbohong tentang kematian orang akhir akhir ini.”
“Kalau begitu, kenapa aku tidak tau?”
“Itu karena kami sudah memasang peredam suara yang paling kuat disini, jadi kau tidak bisa mendengar suara dari luar sedikitpun.”
“Lalu kenapa kau masih ada disini? Bukannya kau seharusnya memiliki banyak pekerjaan diistanamu?”
“Memang ada tapi tidak banyak dan juga…”
Apakah masih ada lagi? Kali ini Kai memasang ekspresi yang agak santai, jadi pasti ini informasi yang cukup mengenakkan.
“Kau akan jadi tahanan rumah sementara.”
“APAAAA!!!”
Aku? Tahanan rumah? Kenapa aku harus menjadi tahanan rumah?
“Hei, jangan berteriak, lagipula kau hanya perlu berada disini dan tidak melakukan apapun, bukankah itu enak?”
“Enak dari mananya, aku tidak akan mau menjadi tahanan rumah, kalau kau mau menjadi tahanan rumah lebih baik kau saja yang jadi tahanan, aku ingin bebas!!”
“Hei, tolong mengertilah, saat ini kau yang diincar oleh mereka, sedangkan jumlah mereka menjadi sangat banyak di wilayah ini, Sarah kau juga coba bujuk dia.”
“Ella, tolonglah mengerti, kalau kau mau, aku pasti akan mengunjungimu setiap hari setelah kelas selesai, bagaimana?”
“Huh, karena melihat kalian yang bekerja keras seperti ini demi melindungiku, aku jadi merasa sedikit tidak enak. Kalau memang situasinya seperti itu, aku akan menuruti kalian, tapi kalian harus berjanji bahwa kalian akan berhati hati, bagaimana? Sarah juga tidak perlu mengunjungiku sampai setiap hari begitu, oke?”
“Kalau begitu, aku dan pangeran akan dengan senang hati menyetujuinya.”
Saat sudah seperti ini, sepertinya aku harus mengatakan ini pada mereka.
“Kalian berdua, jangan pernah bilang pada Karen bahwa aku masih ada di kerajaan ini.”
“Hei, cewek gorilla, apakah kau masih dendam padanya dan membuatnya khawatir bahwa kau sudah diculik oleh para iblis, begitu?”
“Tidak, aku sangat serius kali ini.”
Aku mulai menceritakan tentang kejadian bagaimana aku bisa tertangkap oleh para iblis itu, aku tetap bilang pada mereka bahwa aku keluar diam diam dan menjadikan Karen sebagai diriku, untuk berjaga jaga kalau tiba tiba guru pulang lalu aku pergi ke suatu tempat.
Tapi aku tidak menceritakan bahwa aku mengetahui bahwa ada prajurit yang mengikutiku dan tentang untuk apa aku pergi. Aku hanya menceritakan sesuatu yang menurutku perlu aku katakan pada mereka, selebihnya aku tidak mengatakan pada mereka.
Aku juga bilang untuk memberitahukan ini pada Archduke karena saat dia bertanya tadi aku hanya menjawabnya secara singkat.
“Jadi saat dia berkata agar kau baik baik saja itu maksudnya untuk dirimu yang ditangkap?”
“Yah seperti itu, dari awal anak itu memang tidak pernah serius meminta maaf padaku.”
“Kalau begitu, bukankah dia harus diberi hukuman?”
“Tidak, karena cara berfikirnya tidak salah sama sekali, jangan menghukum dia.”
“Bukankah katanya kau membenci dia, bukankah kebih baik jika memberinya hukuman?”
“Tidak, hanya karena aku tidak menyukainya bukan berarti aku harus melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya kan.”
Pada akhirnya, Kai memutuskan untuk tidak menghukum Karen dan aku sepakat menjadi tahanan rumah disini, aku juga bilang pada Kai untuk menyuruh guru agar sesekali untuk mengunjungiku.
Setelah itu kami bertiga pergi ke ruangan Archduke, jujur saja, karena rumahnya terlalu luas, aku lupa dengan jalan kembali ke kamarku.
Saat dalam perjalanan menuju ruangannya Archduke, tiba tiba kami bertemu dengan istri dari Archduke, mumpung berpapasan aku langsung berkata.
“Aku tidak ingat jalan kembali kekamarku.”
“Kau mau aku mengantarmu kembali kesana?”
Aku langsung mengangguk, kemudian Kai menyahut.
“Ohh, jadi daritadi kau ingin ikut denganku karena tidak tau jalan kembali kekamarmu?”
Aku juga hanya mengangguk saja.
“Kalau begitu aku akan mengantarmu berkeliling saja, bagaimana? Kau pasti sangat bosan kan?”
“Tapi rumah ini terlalu besar, aku tidak yakin bisa mengingatnya.”
“Daripada diam saja, lebih baik berkeliling kan, tidak akan jadi masalah jika kau tidak bisa mengingatnya.”
“Kalian berdua terlihat lebih akrab ya sepertinya, padahal dia baru saja sehari disini.”
“Yahh, tidak bisa dibilang akrab juga, tapi sepertinya kami akan menjadi akrab.”
Setelah itu, kamipun pergi, Sarah ikut denganku dan Kai pergi sendirian ke ruangan Archduke.