“Kalau begitu bagaimana cara saya memanggil anda?”
“Kau bisa memanggilku seperti kau memanggil teman temanmu dan juga ganti kata saya itu dengan aku, oke?”
“Eee, ya, oke.”
Orang orang disini benar benar aneh tapi sangat mudah diajak bicara.
“Oh ya, aku akan pulang.”
Saat aku ingin beranjak dari tempat tidurku tiba tiba dia menahanku lagi.
“Kenapa kau buru buru sekali ingin pulang, lagipula ini masih pagi.”
“Soalnya ini bukan rumahku, aku benar benar berterima kasih karena sudah diijinkan tidur disini semalam, bahkan dipagi hari aku sudah ditemani oleh istri Archduke sendiri, aku benar benar merasa bersyukur, tapi-“
“Husttt, sudahlah tidak apa apa, lagipula gurumu sudah menitipkanmu pada kami hari ini untuk berjaga jaga kalau mereka datang lagi, mandilah dulu, aku akan meminta pelayan untuk membawakan baju untukmu, lalu sarapan.”
“Ahhh, iya, terima kasih.”
Akupun langsung pergi kekamar mandi.
Rasanya seperti aku adalah anaknya saja, pagi pagi sudah ada disampingku, menyuruhku mandi lalu makan, sifat keibuannya sangat besar, saat sudah menikah nanti, apakah aku bisa menjadi ibu sepertinya ya?
Ughh, aku membayangkan, bagaimana jika aku menanyakan hal ini pada Kai, dia pasti akan tambah mengolok olok diriku.
Setelah selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk. Saat aku keluar, aku terkejut karena tiba tiba ada orang didalam kamar dan membungkuk padaku.
“Si-siapa kamu?”
“Saya adalah kepala pelayan disini, saya orang yang disuruh oleh nyonya untuk mengantarkan baju ini.”
Dia menyodorkan baju berwarna putih polos kepadaku dan akupun langsung mengambilnya. Kenapa harus repot repot menungguku selesai mandi? Padahal kan bisa ditaruh di atas tempat tidur saja. Saat aku melihat tempat tidurnya, yang tadinya berantakan, sekarang sudah rapi kembali.
“Apakah kau yang merapikan tempat tidurnya?”
“Iya.”
“A-anu, terima kasih sudah merapikannya.”
“Kalau begitu saya izin mengundurkan diri.”
“Iya, silahkan.”
Setelah itu dia pergi, rasanya sangat aneh sekali diperlakukan seperti itu. Aku langsung memakai pakaian yang dia berikan padaku.
Tak lama setelah aku memakai baju itu, istri Archduke membuka pintu kamarku.
“Wahhhh, kau sangat cantik memakai baju itu, apalagi saat terkena cahaya matahari seperti itu, kau terlihat sangat terang.”
“Terima kasih.”
“Tunggu sebentar, duduklah.”
Aku menurutinya dan duduk di depan kaca ini, dia mengambil dua pita dan mengambil sedikit rambutku di sebelah kiri dan kanan lalu mengikatnya dengan pita yang diambilnya tadi.
“Sudah jadi, kau jadi semakin cantik jika seperti ini.”
Yahh, yang penting dia senang, bagiku tidak jadi masalah.
“Kalau begitu, ayo kita sarapan.”
Dia menarik tanganku dan mengajakku ke ruang makan. Saat dalam perjalanan menuju ruangan itu, aku berpikir, pasti akan jauh lebih menyenangkan jika ini dilakukan oleh ibuku sendiri, tapi karena aku sendiri tidak tau siapa ibuku disini jadi tidak apa apalah.
Aku yakin, tanpa keluargapun aku masih bisa bertahan disini, lagipula disini banyak yang menyayangiku, selama mereka tidak berubah itu cukup bagiku, meskipun aku sudah tidak mencari keluargaku dan identitasku tetap saja aku harus tau kenapa para iblis itu menginginkanku kan.
Setelah itu kami sampai di ruang makan, disana terlihat Archduke dan anaknya yang sedang duduk bersama. Bukannya ini adalah sarapan rutin bersama keluarga, kenapa harus membawaku disaat seperti ini.
“Emm, itu, sebaiknya aku sarapannya nanti saja.”
“Kenapa? Bukankah lebih baik jika kita makan bersama sama?”
“Tapi kan-“
“Sudahlah, ayo.”
Dia langsung menarikku dan membawaku masuk kedalam tapi aku terus menolak. Archduke dan anaknya melihat ke arah kami berdua. Jujur, aku merasa sangat malu sekali.
“Kenapa hanya berdiri disana? Kemarilah.”
Archduke menyuruhku untuk masuk. Ini sangat aneh, kenapa mereka memperlakukan aku yang hanya orang asing ini sampai seperti ini? Bukankah ini terlalu berlebihan untuk orang sepertiku?
“Ella, duduklah disamping Allen.”
Allen itu sepertinya nama anak mereka, akupun langsung duduk disampingnya. Anak mereka masih berusia 13 tahun tapi entah kenapa wajahnya itu seperti dia masih berumur 6 tahun saja, dia ini sepertinya tipe tipe baby face, sangat imut sekali.
Akupun makan dengan tenang tapi merasa sedikit tidak nyaman. Bagaimana tidak!? Ini adalah rumah dari Archduke, seorang Archduke dan aku yang hanya rakyat biasa ini, diperbolehkan menginap lalu sarapan bersama dengan mereka, bukankah ini terlalu berlebihan.
Setelah makan, Archduke memintaku untuk mengikutinya ke ruang kerjanya.
Sesampainya disana…
“Kemarin malam, saat mereka menangkapmu, apakah kau merasa ada yang datang kerumahmu?”
“Tidak ada.”
“Kalau begitu, kemana kau sebelum ditangkap oleh mereka?”
Pertanyaan seperti ini, apakah dia mengetahui sesuatu tentang kejadian kemarin malam? Tenang dulu Ella, aku sudah memastikan bahwa tidak ada yang sadar bahwa kemarin malam aku berkeliaran di atas langit, kalau begitu kenapa dia bisa bertanya seperti ini?
“Jawablah.”
“Ti-tidak, tidak kemana mana.”
s**l, aku langsung refleks menjawab, semoga jawaban ini tidak akan membuatnya bertanya lebih jauh lagi.
“Kalau begitu…”
Archduke kemudian berjalan kearah mejanya, dia membuka salah satu loker disana dan mengambil sesuatu lalu menunjukkannya padaku.
“Milik siapa ini?”
“Itu…”
Barang yang diperlihatkan ke diriku adalah jubah hitam yang kupakai kemarin malam.
“Jubah ini kutemukan didepan pintu rumahmu dan letaknya ada dilantai. Jika ada orang yang ingin mengunjungimu malam itu tidak mungkin dia akan memakai jubah hitam ini kan, jika iblis yang menangkapmu itu memakai jubah hitam ini, seharusnya dia terus memakainya sampai kembali ke kerajaannya. Jadi milik siapa ini?”
“I-itu, ju-jubah itu memang milik iblis yang menyerang saya kemarin, saya mendengar ada suara pintu yang dibuka, karena saya pikir itu guru jadi saya langsung turun kebawah, tapi saat sudah sampai dibawah ternyata itu bukan guru melainkan iblis yang memakai jubah hitam, saya sempat bertarung dengan iblis itu didalam rumah dan jubahnya terjatuh saat itu.”
“Kau berbohong.”
“Saya tidak berbohong.”
Gawat, ini benar benar gawat, sekarang apalagi yang akan dia katakan.
“Kalau kau bertarung di ruang tengah, seharusnya mereka juga menahanmu diruang tengah, sedangkan saat kami sampai disana kau ditahan di kamarmu.”
Mampus sudah, apa yang harus kujawab setelah ini, perkataannya ini emmang sangat masuk akal, dan itulah yang membuatku kesulitan untuk menjawabnya.
“Hahh, baiklah saya menyerah, kemarin malam saya memang tidak ada dirumah.”
“Kemana kau malam itu?”
“Sebelum saya menjawab pertanyaan anda, pertama, saya hanya akan menjawab 1 pertanyaan saja dan yang kedua anda harus berjanji pada saya, bahwa anda akan menjawab pertanyaan saya.”
“Baiklah, tapi hanya satu pertanyaan saja.”
“Malam itu, aku berlatih sihir, agar warna rambut dan mataku tidak diketahui iblis maka aku membeli jubah hitam itu.”
“Kenapa kau harus keluar rumah padahal hanya berlatih sihir saja?”
“Saya sudah tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan anda lagi.”
Archduke hanya menarik nafas panjang lalu membuangnya, sepertinya rakyat biasanya yang berani seperti ini dengannya hanya aku saja, hehe.
“Baiklah, kalau begitu apa pertanyaanmu?”
“Kenapa para iblis itu mengincarku?”
“Sebenarnya ini adalah sebuah rahasia, tapi karena aku sudah menyetujuinya maka aku akan memberitahumu. Didalam dirimu itu ada sebuah kekuatan yang sangat besar dan mereka mengincar itu, kemungkinan besar digunakan untuk melawan kami para manusia.”
“Kenapa anda bisa mengatakan bahwa didalam tubuh saya tersimpan kekuatan besar padahal anda tidak mengenal saya sama sekali?”
“Aku sudah tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan anda lagi.”
Dia mengembalikan perkataanku pada diriku sendiri, dia tadi menunggu momen momen seperti ini kan, dia pasti balas dendam padaku, PASTI!!
“Akan kukatakan padamu, mungkin aku tidak berhak mengatakan ini tapi, kau memiliki kekuatan yang sangat besar didalam tubuhmu dan bisa menjadi bom waktu bagi siapa saja. Suatu hari nanti kau pasti akan menghadapi sebuah pilihan yang sangat mempengaruhi 2 kerajaan sekaligus. Gunakan kekuatan itu untuk menolong orang lain, jangan termakan oleh emosi pribadi.”
“Kemarin, istriku menunggumu didepan kamar mandi, pagi ini, saat kami berdua bangun, dia menceritakannya padaku. Dia bilang, anak itu pasti sudah melewati masa masa yang buruk, mungkin dia tidak tau cara mengungkapkan perasaannya, oleh karena itu dia menangis sangat keras kemarin.”
Perkataannya membuatku diam seribu bahasa, aku tidak tau harus menjawab apa kepadanya.
“Sesekali menangis itu tidak apa apa, menangis memang tidak akan menyelesaikan masalah atau mengubah apapun tapi setidaknya itu akan mengurangi beban yang ada dihatimu.”
“Archduke, anda adalah ayah yang baik, dan istri anda adalah ibu yang baik, kalian berdua memang pasangan yang serasi, jadilah seperti ini selamanya, saya pamit dulu.”
Kemudian, aku keluar dari ruangan itu. Archduke dan istrinya adalah pasangan yang serasi, aku tidak tau apakah mereka menikah didasari dengan cinta atau tidak, tapi sekarang mereka terlihat seperti mencintai satu sama lain dan yang paling penting itu tidak mempengaruhi anak mereka.
Dulu, ayah dan ibuku menikah tidak didasari dengan cinta, tapi keuntungan, karena ibu merasa ayah adalah orang yang bisa diandalkan dan kaya jadi dia menikahinya, sedangkan ayah butuh ibu karena ibu sangat hebat dalam menjalankan misi yang diberikan client, setiap hari hanya membicarakan tentang pekerjaan dan aku terabaikan.
Ibu melahirkanku juga hanya untuk dijadikan pewaris, adikku ada juga hanya untuk bahan percobaan apakah aku mampu melakukan sebuah pembunuhan, tapi karena mereka merasa bahwa aku sudah memiliki kebencian terhadap mereka tapi tidak bisa melakukan apapun, mereka menjadi sering memberikan motivasi motivasi negatif terhadapku.
Yahh, itu juga termasuk dalam kesalahanku, aku tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja dan dengan bodohnya, dulu, aku masih mengharapkan kasih sayang dan perhatian mereka dengan melakukan semua yang mereka perintahkan.
Pada akhirnya, aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan karena terus dibohongi, intinya dalam keluargaku dulu, semuanya ada hanya karena mereka rasa itu menguntungkan bagi mereka, jika itu merugikan maka akan pasti akan langsung dibuang.
Itulah awal mula kehidupan burukku dimulai.