LAMPIASAN AMARAH

1783 Kata
    Saat aku sedang menangis sendirian seperti ini, tiba tiba ada yang membuka pintunya.       Aku terkejut dan langsung mengusap air mataku.       “Kenapa kau duduk dipojokan seperti itu?”       Itu suara Kai, aku langsung berdiri tanpa berhadapan dengannya.       “Kau ini sangat tidak sopan sekali, aku ini perempuan, seharusnya kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk, kalau aku tadi sedang tidak memakai baju bagaimana.”       “Kenapa kau membelakangiku?”       “Emm, itu, karena, karena…”       Kai menarik nafas panjang lalu membuangnya, lalu dia berjalan kehadapanku, aku hanya menatap kebawah dan tidak berani menatap matanya.       “Tadi, saat kau ditahan oleh iblis itu, aku dan Sarah mendengar lebih dari itu, kami mendengar tentang keinginanmu.”       Dia dan Sarah mendengar keinginanku!! Aku langsung menatapnya dan membuat wajah seolah tak terjadi apa apa padaku tadi.       “Haha, aku ini memang aneh ya, keinginanku ini bahkan juga sama anehnya dengan diriku.”       Ella, jangan menangis didepannya, tahan air matamu. Sebenarnya, aku juga sangat sedih jika keinginanku ini dibilang aneh, tapi, aku tau, saat aku membicarakan keinginanku ini dengan bawahan orang tuaku dulu, mereka tertawa dan bilang bahwa keinginanku adalah sesuatu yang sangat aneh, saat itu aku sedih tapi aku tidak bisa menangis, aku hanya bisa tertawa mengikuti alurnya mereka.       “Hahaha, konyolnya diriku ini, sudah sudah, sekarang aku ingin mandi, kau keluarlah.”       Tapi, bukannya keluar, Kai malah memeluk diriku. Seketika wajahku langsung berubah menjadi marah.       “Kenapa kau memelukku?”       Padahal aku sudah menahan air mataku agar tidak keluar, menahan sesak yang ada didadaku, kenapa kau malah melakukan hal yang membuatku semakin ingin mengeluarkannya.       “Keluar! Sudah kubilang, KELUAR!!”       Aku terus memukul punggung Kai agar dia melepaskanku, tapi pelukannya, bukannya melonggar malah menjadi semakin erat. Kemudian dia melepaskan pelukannya dariku dan memegang kedua pergelangan tanganku.       “Berhentilah menganggap bahwa keinginanmu itu adalah sesuatu yang konyol dan aneh. Tidak ada yang aneh dengan keinginanmu sama sekali. Suatu hari nanti, aku yakin bahwa keinginanmu itu akan menjadi kenyataan.”       Kakiku tiba tiba menjadi sangat lemas, akupun terduduk.       “Heh, keinginanku itu menjadi kenyataan? Jangan memberikan sebuah harapan palsu padaku, aku membencinya. Yang merupakan kebenarannya adalah, selamanya, tidak peduli seperti apapun aku disiksa, dipaksa, dan dibohongi, keinginanku ini tidak akan pernah terwujud.”       Seketika itu, mataku kembali mengeluarkan air mata.       “Perkataan seperti itu, hanya terus membuatku mengkhayal tinggi dan lebih tinggi lagi setelah itu aku pasti akan ditampar oleh kenyataan dan langsung terjatuh menghantam tanah. Tidak peduli sekeras apapun aku berusaha dan bertahan, semuanya akan tetap menjadi khayalan. Aku sudah muak dengan itu semua.”       Kai kemudian berlutut dan memelukku kembali.       “Aku tidak menyuruhmu yakin dengan perkataanku tapi menurut pendapatku keinginanmu pasti akan terwujud, lupakan saja itu semua. Sekarang sudah tidak apa apa, menangislah sekuat yang kau inginkan, jangan khawatirkan apapun, kamar dari putra Archduke juga jauh dari sini, jadi kau tidak perlu khawatir tangisanmu akan mengganggunya.”       Malam itu adalah pertama kalinya, aku bisa melepaskan seluruh perasaanku.       Ya, aku memeluk Kai balik dan menangis dipelukannya. Kai adalah orang pertama yang ingin menjadi temanku, orang pertama yang tidak menganggap keinginanku itu sebagai sesuatu yang aneh dan konyol, dan orang pertama yang menemaniku melepaskan seluruh perasaan yang memberatkan hatiku.   ………………………………       Setelah itu, aku tiba tiba terbangun diatas tempat tidur.       “Ahh, kau sudah bangun? Apakah kau selalu bangun dengan terkejut seperti itu?”       Siapa itu yang berbicara? Saat aku melihatnya, ternyata dia adalah istrinya Archduke. Ternyata aku masih ada dirumahnya Archduke.       Aku mencoba beranjak dari tempat tidurku tapi dia.       “Kau tidak perlu berdiri dari sana, katakan saja apa yang kau butuhkan, aku akan mengambilkannya untukmu.”       “Tidak, saya hanya merasa tidak sopan jika saya harus seperti ini didepan anda.”       “Tidak perlu merasa tidak sopan begitu, tidak apa apa, kau duduk saja disini.”       Ternyata orang yang berkuasa disini tidak sesombong yang kukira, padahal kukira mereka akan sombong dan menindasku.       “Oh ya, kenapa saya masih ada disini?”       “Oh, kemarin pangeran Kai menggendongmu keluar dari kamar mandi, katanya kau menangis hingga kelelahan lalu tertidur, karena hari sudah malam dan takutnya para iblis akan datang kembali kesana jadi kami memutuskan untuk membiarkanmu disini dulu.”       “Hahhh, itu terdengar sangat memalukan sekali.”       “Tidak apa apa, lagipula saat pangeran menggendongmu keluar, semua orang disana juga sudah keluar, hanya aku yang ada disana.”       “Apakah anda mendengar percakapan saya dan pangeran Kai didalam kamar mandi?”       “Iya.”       “Jika anda berada disini, lalu, anak anda, apakah anda tidak menemaninya tidur?”       “Dia tidur bersama ayahnya.”       Hahh, rasanya aku sudah bersalah padanya karena membayangkan sesuatu yang tidak tidak tentangnya, dia bahkan rela menungguku seperti itu.       Aku memegang kepalaku dengan tangan kananku.       “Oh ya, aku ingin bertanya sesuatu. Mengenai mimpimu yang semalam, kau bermimpi apa?”       Seketika tubuhku langsung membatu, pertanyaan ini adalah sesuatu yang paling aku hindari didunia ini, mimpi itu adalah bagian dari masa laluku yang buruk.       “Jika kau tidak ingin memberitahuku maka tidak apa apa.”       “Saya akan menceritakannya, setelah saya menceritakannya, kumohon jangan membenciku dan mengatakan ini pada siapapun.”       Aku akhirnya, membuka masa laluku dengan orang lain, karena bagiku dia adalah orang asing, maka, jika nanti dia membenciku maka bagiku mungkin tidak akan masalah, mungkin.       “Aku bermimpi tentang kehidupanku sebelumnya saat aku berumur 10 tahun.”       “Mungkin ini sulit dipercaya diusiaku saat itu, tapi inilah kenyataannya. Aku membunuh 2 adik kembarku hanya karena cemburu.”       “Tidak mungkin, berapa umur adikmu?”       Dia terlihat sangat terkejut, yah, sudah kuduga, siapa yang tidak akan terkejut mendengar bahwa anak 10 tahun sudah membunuh 2 orang sekaligus apalagi orang yang dibunuh adalah keluarganya sendiri.       “Mereka berumur 7 tahun, anda pasti berpikir bahwa aku ini sangat kejam kan, yah, aku memang orang yang kejam, hanya karena sebuah rasa cemburu, aku membunuh mereka.”       Dia hanya terdiam tak berbicara, karena sudah terlanjur seperti ini lebih baik kuceritakan semuanya.       “Setelah aku membunuh mereka, aku melihat ada darah ditanganku, entah kenapa setelah itu, aku malah ketakutan sendiri, padahal saat aku membunuh mereka, rasa takut diseluruh tubuhku seakan menghilang, setelah membunuh, mereka langsung datang dan menghantamku bersamaan.”       “Karena terlalu takut, akupun pingsang diruangan itu, tak lama kemudian, aku membuka mataku, aku melihat ayah dan ibuku berbincang, seolah aku melihat mereka menunjukkan ekspresi yang bahagia, setelah itu aku memanggil mereka dan mereka langsung mengubah ekspresi mereka secepat membalikkan tangan.”       “Ibu menegaskan padaku bahwa ini semua adalah kesalahanku dan aku sendirilah yang terjun dalam dunia kegelapan milik ayah dan ibu, dan ibu juga bilang bahwa setelah itu hidupku hanya akan dipenuhi tangisan, teriakan, permohonan, dan darah.”       “Setelah itu mereka meninggalkanku diruangan gelap yang penuh darah itu bersama dengan mayat kedua adikku dan akupun dikurung disana, aku masih ingat kejadian setelah itu, keesokan harinya, keadaan mentalku langsung terganggu dan aku harus dibawa kedokter. Disana aku menjalani segala perawatan agar aku cepat sembuh dan dalam waktu setahun akupun sembuh.”       “Dalam waktu setahun itu, aku hanya sendiri, dikurung disebuah kamar yang kecil, dari sebuah jendela aku melihat anak anak seumuranku bermain dengan bahagia, hanya aku yang harus terkurung disana. Setelah kejadian itu, aku kembali bersekolah tanpa teman.”       “Mereka tidak ingin berteman denganku karena menganggap bahwa aku masih gila, meskipun mereka ingin bermain denganku, orang tua mereka pasti tidak mengijinkannya, jadi aku selalu sendirian didunia itu hingga aku mati.”       “Anda terlihat sangat terkejut, jika anda ingin membenciku maka aku tidak akan keberatan, itulah kisahku yang sebenarnya, memang sangat kejam dan masih ada banyak lagi kisah kejam dalam hidupku jika anda ingin mendengarnya. Rasanya, seumur hidup ini aku tidak pernah curhat hal seperti ini kepada orang lain, lega sekali setelah menceritakannya, terima kasih sudah mau mendengarku.”       Tiba tiba, dia memelukku begitu saja. Aku sama sekali tidak mengerti dengan orang orang didunia ini, apakah mereka begitu sukanya memeluk orang sembarangan? Sangat aneh sekali. Biasanya orang saat mendengar kisah masa lalu yang kejam dari seseorang, dia pasti akan menghindari orang itu, tapi yang ini malah memelukku, yang benar saja.       “Kenapa anda tiba tiba memelukku?”       “Pasti sangat berat menanggung beban seberat itu saat kau masih kecil, kau sudah berkerja keras.”       “Aku ini sudah membunuh adikku sendiri, lho. Apakah anda tidak membenci saya?”       “Diusia 10 tahun seperti itu, merasa cemburu adalah suatu hal yang wajar, membunuh memang salah tapi yang lebih salah adalah orang tuamu. Kenapa mereka tidak memahami perasaanmu, kenapa mereka tidak mengawasi anak anaknya, dan menunjukkan ekspresi bahagia saat kedua anak kembar mereka dibunuh, itu juga merupakan sebuah kesalahan.”       “Yah, kan saya hanya bilang seolah, lagipula saat itu saya baru sadarkan diri, jadi, mungkin saya bisa salah lihat.”       Kemudian, dia melepaskan pelukannya dariku.       “Lalu apa maksudnya dengan terjun kedunia kegelapan milik ayah dan ibu? Dunia kegelapan seperti apa itu?”       “Itu, berkaitan dengan, emm, apakah anda tau pembunuh bayaran?”       “Apakah itu pekerjaan dari orang tuamu?”       “Iya, mereka bahkan memiliki anak buah untuk memudahkan pekerjaan mereka, setelah kejadian itu, akupun juga dipaksa untuk ikut bergabung diusiaku yang ke 12.”       “Kau sangat hebat bisa melalui semua itu.”       “Menurut anda, siapa yang salah diantara orang yang membunuh 1 orang dengan orang yang telah membunuh 1000 orang?”       “Orang yang membunuh 1000 orang, mungkin.”       “Salah, jawaban yang benar adalah mereka berdua sama sama salah, mereka sudah membunuh orang, tidak peduli berapa banyak jumlah orang yang dibunuh, itu tetaplah sebuah nyawa, yang namanya pembunuh tetaplah pembunuh. Itu juga berlaku sepertiku, orang tuaku memang salah karena tidak mengawasiku dan memaksaku terjun kedunia mereka tapi aku juga salah.”       “Andai saat itu aku tidak termakan rasa cemburu dan bisa berpikir jauh lebih dalam lagi, adik adikku pasti masih hidup, aku sangat bersyukur jika anda tidak membenci saya dan tidak menjauhkan anak anda dari saya, dan juga tolong jangan ceritakan ini pada siapapun terutama Kai dan Sarah.”       “Mereka berdua adalah teman yang sangat berharga bagi saya, saya tidak ingin mereka membenci saya hanya karena masa lalu saya, bisakan anda menjaga rahasia saya?”       “Tentu saja, aku akan menjaga rahasiamu. Oh ya, aku akan lebih senang, jika kau tidak terlalu formal denganku.”       “Tapi bukankah itu terlalu-“       “Aku akan senang jika kau menyetujuinya.”       Sambil memegang tanganku, dia menatapku dengan penuh harap, rasanya saat ini, aku seperti sedang ditatap oleh diriku sendiri. Istri Archduke terlihat masih sangat muda, Archduke sendiri juga terlihat masih muda, Raja Wingston juga terlihat masih muda. Orang orang disini sangat pintar menjaga diri mereka, mereka bahkan terlihat lebih muda daripada usia mereka, dan juga ada beberapa yang sedikit blak blakan.       “Baiklah, aku akan menyetujuinya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN