“Lili? Siapa Lili? Tidak ada yang namanya Lili disini, sepertinya kau salah orang.”
“Ohh, masih ingin bermain denganku? Kalau begitu, Sean eratkan lagi tanganmu.”
“Baik, pangeran.”
Dengan sigap, iblis yang bernama Sean itu, mengeratkan geanggaman tangannya pada leher Karen.
“Tidak!! Jangan, aku bersungguh sungguh, tidak ada yang bernama Lili disini.”
“Sean, lepaskan tanganmu darinya.”
Akhirnya, tangan yang mencengkram leher Karen sudah terlepas, dia memang kehilangan kesadarannya, tapi dia masih hidup.
Pangeran iblis itu berjalan mendekatiku, rambutnya yang berwarna hitam seolah menyatu dengan kegelapan dikamarku, dan sepasang mata berwarna merah darah itu menatapku dengan tajam.
“Memang tidak ada yang bernama Lili, tapi, kau pernah memiliki nama itukan?”
Dia, apakah dia tau aku berasal dari dunia lain.
“Jangan mendekat!! Apa yang sebenarnya kau inginkan!?”
“Apa yang aku inginkan? Yang kuinginkan hanyalah dirimu.”
Disaat yang sama, Karen terbangun, Sean yang ada disampingnya hampir mencekiknya lagi tapi…
“Tung…gu sebentar, kalian menginginkan Ella kan?”
Seketika Sean langsung berdiri dan pangeran iblis itu melihat kebelakang. Dia lengah, inilah waktuku untuk menyerangnya.
Aku mengeluarkan pedang dari tangan kananku dan langsung menusuk jantung bagian kanannya.
“Pangeran!!”
Sean langsung berlari kearah tuannya, sedangkan aku langsung pergi kearah Karen.
“Maafkan aku sudah membuatmu menjadi seperti ini, apakah kau baik baik saja? Untuk sekarang naiklah kepunggungku, aku akan membawamu pergi.”
Aku membelakangi Karen dan mempersiapkan punggungku untuk dia naikki, tapi… dia malah mendorongku hingga membuatku tersungkur dan merantai diriku.
“Hei, apa yang kau lakukan!?”
“Maaf, Ella, tapi dari awal, kami sudah merancanakan ini.”
“Kami? Jadi, kau bekerja sama dengan mereka untuk menangkapku!?”
“Mereka hanya menginginkanmu, jika kau dibawa oleh mereka, maka mereka akan berhenti membunuh dan menculik manusia lagi.”
“s****n kau!!! Apakah kau pikir dengan tertangkapnya aku mereka akan berhenti begitu saja, jangan percaya perkataan para iblis itu, dasar bodoh!!”
Pangeran iblis yang telah kulumpuhkan dengan menusuk jantung kanannya, kini jantungnya telah sembuh.
“Kau ini, masih saja sama seperti dulu, anak yang sangat merepotkan.”
“Dulu? Hei, sejak kapan pula aku mengenalmu, dasar iblis sialann. Lepaskan aku!!!”
Pangeran iblis itu mendekati diriku lalu jongkok didepanku sambil mengangkat daguku.
“Lepaskan!! Jangan sembarangan menyentuhku!!”
“Ternyata kau sudah lumayan berubah, temperamenmu menjadi sangat buruk dari yang dulu, padahal aku menyukai temperamenmu yang dulu.”
“Apa yang kau katakan? Maaf saja, tapi, temperamenku dari dulu memang buruk.”
“Tidak, temperamenmu dulu tidak seperti ini, Lili. Apakah kau sudah melupakanku?”
“Hah?”
“Sean!”
Saat pangeran iblis itu memanggil namanya, dia langsung tau apa yang harus dia lakukan, dia menyuruh Karen untuk segera pergi dari sini, dan bilang untuk jangan mengatakan kejadian hari ini pada siapapun, dia juga menyuruhnya untuk mengurus mayat mayat yang ada diluar dan membersihkan bekasnya, agar tidak ada orang yang curiga bahwa mereka ada disana.
Karen menurutinya dan pergi meninggalkanku. Anak itu memang s****n, jika aku menemukannya lagi maka aku pasti tidak akan mengampunimu.
“Sekarang anak itu sudah pergi, apakah aku perlu memberikan beberapa petunjuk padamu agar kau mengingat diriku?”
Kemudian dia melepaskan tangannya dari daguku dan berdiri.
“Baiklah, akan kuberi petunjuk saja. Aku sama sepertimu, berasal dari dunia lain, orang yang telah mengikutimu selama kurang lebih 9 tahun dikehidupan sebelumnya.”
Petunjuk ini, dikehidupan sebelumnya, orang yang telah mengikutiku selama 9 tahun lamanya, siapa? Karena sudah terlalu lama berada didunia ini dan aku juga mulai berusaha untuk melupakan kenangan burukku, aku menjadi lupa akan beberapa hal dalam kehidupanku, hingga akhirnya dia mengatakan sesuatu yang membuatku mengingatnya.
“Dan orang yang mati bersama denganmu karena tertabrak mobil dan mobil yang menabrak kitapun meledak, Bummmm, seperti itu, kau ingat?”
Orang yang mati bersamaku karena tertabrak mobil, aku mengingatnya!! Apakah dia adalah…
“Nathan!?”
“Benar sekali, sekarang namaku bukanlah Nathan lagi, tetapi Albert, kak Lili. Eh, tidak tidak, karena aku lebih tua darimu maka, seharusnya kaulah yang memanggilku Kakak, benarkan Lili.”
Ini sungguh kebetulan yang besar, kami mati bersama dan pergi ke dunia baru yang sama, dan sekarang takdir malah mempertemukan kami kembali.
“Hidupmu dari dulu sampai sekarang masih saja terlihat menyedihkan ya.”
“Diam!! Apa yang sebenarnya kau inginkan!?”
“Kan sudah kubilang, aku menginginkan dirimu, tapi bukan dalam hal cinta, kali ini berbeda. Hei, kau belum tau identitasmu yang sebenarnya kan, sudah kuduga orang orang itu akan menyembunyikannya darimu.”
Albert kembali jongkok didepanku dan memegang daguku.
“Hei, apakah kau merasa ini tidak adil, para petinggi dikerajaan ini tau segalanya tentangmu. Mereka saja bisa mengetahui segalanya tapi kenapa kau tidak? Bukannya itu tentang dirimu sendiri, kenapa mereka menyembunyikannya darimu?”
“Jangan coba coba mengadu domba diriku dengan mereka!!”
“Aku tau dari dulu, bahkan dikehidupan sebelumnya, kau menginginkan sebuah keluarga yang sama seperti keluarga pada umumnya kan, sebuah keluarga yang hangat dan harmonis, kau menginginkan kasih sayang orang tuamu, menginginkan teman, selama ini kau menginginkan semua itu kan”
Aku memang menginginkannya, dari dulu, dulu sekali, hanya saja aku selalu memendam keinginanku, terkadang aku menciptakan sebuah khayalan, saat ayah dan ibu ulang tahun, kami bersama meniup sebuah lilin di kue ulang tahun, itulah sebabnya dulu aku belajar cara membuat kue ulang tahun.
Bahkan saat ulang tahunku, aku membuat kue ulang tahunku sendiri, menyalakan lilin diatasnya dan membayangkan bahwa ayah dan ibu sedang bernyanyi lagu selamat ulang tahun untukku lalu dengan wajah senang aku meniup lilinnya, tapi bagaimanapun, khayalan tetaplah sebuah khayalan, pada akhirnya hingga kematianku tiba, aku hanya selalu sendirian di dunia itu.
Untuk menjawab pertanyaan Albert, aku melirik kearah yang lain agar tidak menatap matanya.
“Ka-kalau memang iya, kenapa? Apa yang salah dari itu?”
“Kalau begitu, teruslah mengkhayal seumur hidupmu, karena terkadang sebuah khayalan itu lebih indah daripada kenyataan.”
Setelah mengatakan itu, Albert langsung memukul tengkukku dan aku langsung tidak sadarkan diri, kata kata terakhir dari Albert yang kudengar adalah…
“Berceritanya sudah cukup, sekarang saatnya aku membawamu pergi.”
Seperti itu, lalu aku juga mendengar ada orang yang mendobrak pintu kamarku, siapa orang itu, apakah Karen kembali lagi kemari? Setelahnya, aku benar benar tidak sadarkan diri.
………………………
Aku terbangun di sebuah sofa panjang, sesuatu yang kudengar saat pertama kali bangun adalah suara ayah dan ibuku, dari suaranya mereka terlihat sangat bahagia.
Aku kemudian duduk dengan sendirinya. Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri, tubuhku bergerak dengan sendirinya.
Ada apa ini? Apakah ini sebuah khayalan lagi? Jika ini memang sebuah khayalan aku akan menerimanya asalkan khayalan itu adalah khayalan yang indah, tapi…
Dari situ, bukannya melihat sesuatu yang menyenangkan, aku malah melihat darah ada dimana mana, dilantai, tembok, lalu tanganku!!
“Ayah? Ibu?”
Saat aku memanggil mereka, mereka langsung menatapku dengan tatapan yang dingin. Suara tawa mereka seketika langsung menghilang.
“Aku membunuhnya, ayah, ibu, aku membunuhnya, bagaimana ini?”
Aku menatap tanganku sambil menangis, suara ini seperti suara anak anak, mungkinkah kejadian ini...
Setelah itu, ibu dan ayah menatapku dengan tajam, kemudian ibu mengatakan…
“Ingat ini, sadarilah, ini semua kesalahanmu, ini semua adalah perbuatanmu, kau sudah terjun sendiri kedunia kegelapan milik ayah dan ibu, kau harus membiasakan diri dengan semua ini, karena perjalanan hidupmu setelah ini hanya akan dipenuhi, tangisan, teriakan, permohonan, dan darah.”
Setelah itu mereka berdua meninggalkanku sendiri di ruangan penuh darah ini dan menguncinya.
“Ayah ibu, tidak, jangan mengunci pintunya, aku tidak ingin berada diruangan ini, banyak sekali darah, aku takut. Ayah ibu, AYAHHHH!!!! IBUUU!!!!!”
…………………………
“Jangan kunci, banyak darah, jangan pergi, aku takut. TIDAKKKK!!”
Lalu aku langsung bangun dari ketidak sadaranku sambil berteriak dengan posisi duduk, saat aku tau bahwa itu semua hanya mimpi, aku merasa lega.
Dengan nafas yang memburu, aku memegang kepalaku.
“Ternyata hanya mimpi.”
“Ella, kau baik baik saja?”
Suara ini, setelah itu, aku baru sadar dengan persekitaranku. Disekitar tempat tidur ini, aku melihat ada orang yang rambut dan matanya mirip denganku lagi tapi bukan Karen, dia sepertinya istri Archduke, lalu disampingnya ada Archduke dan ditengah tengah mereka ada anak yang berambut merah dan bermata biru, sepertinya tiga orang ini adalah keluarga.
Setelah itu ada Sarah, Kai, lalu siapa orang ini? Aku tidak mengenalnya tapi dia terlihat seperti Kai, apakah mungkin itu adalah Raja Wingston, lalu setelah itu ada guru.
“Ella, kau baik baik saja? Kau seperti sedang ketakutan? Apakah kau bermimpi buruk?”
“Ahh, i-iya, aku baik baik saja tapi bagaimana aku bisa ada disini?”
“Awalnya, aku dan pangeran ingin pergi mengunjungimu karena kami pikir kau pasti akan kesepian, tapi saat kami sampai disana, tiba tiba kami mendengar kau berteriak seperti jangan coba coba mengadu domba kami, setelah itu pangeran langsung menggunakan sihir teleportnya dan meminta bantuan kepada Archduke dan tuan penyihir agung, setelah itu kami kembali lagi, saat kami kembali ternyata kau sudah tidak sadarkan diri. Yah, seperti itulah kurang lebih ceritanya.”
Mereka ternyata sangat memikirkanku bahkan lebih dari apa yang kubayangkan, sedangkan aku, aku hanya tau bahwa aku harus membongkar rahasia itu bahkan sampai harus membahayakan orang lain.
“Apakah anda Raja Wingston?”
“Iya, ada apa?”
“Tidak, saya hanya terkejut dengan kemiripian antara anda dan pangeran, dan juga anak ini, apakah ini anak anda Archduke?”
“Iya, dia anakku, umurnya 3 tahun lebih muda darimu.”
“Dia sangat lucu sekali, warna rambutnya mirip dengan anda dan warna matanya mirip dengan milik ibunya.”
Saat aku menyadari bahwa topik seperti ini sama sekali tidak membuatku tenang, malah membuatku semakin sesak.
“Ahhh, maafkan atas kelancangan saya.”
Aku langsung berdiri dari tempat tidurku dan langsung membungkuk kearah Raja dan Archduke.
“Seharusnya saya melakukan ini daritadi, maaf atas kelancangan saya.”
“Kau tidak perlu sampai segitunya, lagipula kau juga baru sadarkan diri.”
“Kalau begitu boleh saya tanya, kamar mandinya ada dimana ya?”
“Di pintu sana, itu adalah kamar mandi.”
“Oh ya sebelum itu, maafkan atas kelancangan saya lagi tapi…”
Aku berjongkok didepan putra Archduke.
“Mungkin aku tidak berhak mengatakan ini tapi, anak kecil seharusnya tidur lebih cepat, jika kau tidur terlalu larut maka itu tidak akan baik untuk kesehatanmu. Kalau begitu, saya izin untuk pergi kekamar mandi.”
Aku memberikan senyumku pada mereka dan langsung memasuki kamar mandinya, disisi lain, tanpa kuketahui, mereka berkata…
“Aku khawatir pada, Ella. Aku yakin saat ini dia tidak baik baik saja.”
“Jangan khawatir, aku akan menyusulnya kedalam, kalian tunggulah diluar.”
Sedangkan didalam kamar mandi, aku mengeluarkan perasaanku seorang diri dengan menangis. Rasanya saat aku menahan perasaanku disana, rasanya sangat sesak dan menyakitkan, apalagi berbicara tentang sebuah keluarga, dengan bodohnya tadi, aku malah berbicara dengan topik ini.
Aku meringkup dipojokan, menangis tanpa suara, tetap sendirian, rasanya tetaplah sesak dan menyakitkan. Aku harus bagaimana agar bisa melupakan semua masa laluku?
Masa lalu ini sudah seperti jurang kegelapan bagiku, setiap aku mengingatnya, aku merasa bahwa, aku semakin jatuh kedalamnya, semakin menjauhi cahaya. Apalagi saat ini ada Albert, yang dulunya adalah Nathan. Dia membuatku mengingat segalanya dan mendorongku menjauhi cahaya.