Sebelum pulang, aku, Kai, dan Sarah mendaftar dulu ke Bu Alice untuk kelompok patroli malam hari. Setelah itu, Kai pergi duluan, sedangkan aku, Sarah, dan Karen pulang bersama.
Kami bertigapun langsung pulang. Aku memutuskan untuk mengantar Sarah pulang duluan, setelah itu aku berjalan berdua dengan Karen.
Disaat kami berjalan berdua, aku menggenggam pergelangan Karen.
“Oh, kita sudah sampai dirumahmu.”
“Hah?”
Aku mencengkram pergelangan Karen dan membisikkan sesuatu ditelinganya.
“Katakan saja iya.”
Dengan panik, Karen menuruti perkataanku, padahal saat ini kita berada di depan toko baju.
“I-iya, kita sudah sampai, terima kasih sudah mengantarku.”
“Oh ya, pas sekali karena orang tuamu menjual baju aku juga ingin membeli beberapa, ayo.”
Aku menarik Karen masuk. Tempatnya cukup luas dan tidak terlalu banyak orang, tempatnya sangat pas untuk membicarakan ini.
Aku menarik Karen, kami memilih tempat yang agak jauh dari kasir dan jendela. Dengan berpura pura memilih baju aku berbicara dengan Karen.
“Kau pasti sangat heran kenapa aku menyuruhmu berbohong dan menarikmu masuk kan?”
“Ti-tidak sama sekali.”
“Tidak perlu berbohong seperti itu, berbohong seperti itu hanya akan membuatku lebih kesal padamu daripada kau mengatakan apa yang ada di hatimu itu.”
Karen hanya diam saja sambil menatap heran padaku.
“Akan kukatakan sesuatu padamu, saat ini aku sedang diikuti beberapa prajurit, jumlahnya tidak lumayan banyak tapi kekuatan mereka lumayan.”
“Hei, apakah kau buronan disini?”
“Hanya dengan satu kalimat saja, kau sudah mengganti cara bicaramu ya, bagus sekali. Dengar, aku bukan buronan sama sekali, tapi bagi mereka, aku sama seperti barang berharga yang harus dijaga agar tidak dicuri, tentu saja mereka melakukannya tanpa sepengetahuanku.”
“Bagaimana aku bisa percaya padamu kalau kau bukan buronan?”
“Orang tua yang ada dirumahku itu adalah penyihir agung kerajaan ini dan aku berteman dengan pangeran kerajaan ini, kalau aku buronan, kenapa mereka tidak langsung meringkusku dan malah membiarkanku berkeliaran seperti ini, itu sudah cukup untuk membuktikan kalau aku bukan buronan disini.”
“Lalu, untuk apa kau memberitauku tentang mereka?”
“Saat ini, wajah, rambut, mata, dan baju kita sama, itu artinya kau hampir mirip denganku. Sekarang, kau tidak mempunyai pilihan lain selain menurutiku. Hari ini, aku ingin kau menyamar menjadi diriku.”
“Apa!? Kau sudah gila, itu tidak mungkin. Lagipula kenapa kau ingin aku menyamar menjadi dirimu?”
“Semua prajurit itu mengganggu kegiatanku, aku tidak menyukainya, sejak kemarin mereka terus mengawasiku, aku tidak bisa bergerak semauku. Oleh karena itu, aku butuh orang sepertimu.”
“Apakah setelah ini kau akan melepaskanku?”
“Tentu saja.”
Aku membicarakan rencanaku dengan Karen, meskipun ini bisa dibilang gila tapi seharusnya berhasil.
Kamipun menjalankan rencananya, Karen keluar dengan membawa beberapa kantung baju, dengan sigap para prajurit itu mengikutinya begitu saja tanpa curiga. Saat sudah sangat lama, aku mulai keluar dari toko itu dengan membeli jubah berwarna hitam.
Akhirnya, aku bisa bebas dari para prajurit itu, Kai ternyata sangat pandai berakting juga ya, di akademi tadi seolah olah dia mengkhawatirkan orang yang akan pulang sendirian, padahal dia tau, dari sudut pikirku pasti akulah yang pulang sendirian, dia mengkhawatirkanku seolah olah aku benar benar akan pulang sendirian, padahal dia sendiri seharusnya tau kalau ada prajurit yang mengikutiku.
Aku segera pergi ketempat yang sepi tapi luas, pasti ada disekitar sini, seharusnya.
Setelah lama, berkeliling, akhirnya aku menemukan tempat itu.
Tapi tempatnya bukan didaratan, melainkan di danau. Danaunya sangat sepi dan tidak ada orang sama sekali dan tempatnya juga lumayan jauh dari pemukiman warga.
Sebenarnya aku mencari tempat sepi, hanya untuk berlatih sihir. Aku ingin berlatih sihir ditempat yang tidak akan menarik perhatian banyak orang, karena itu akan sangat mengganggu.
Yah, karena aku hanya bisa menemukan tempat yang seperti ini, jadi, tidak apa apalah. Lagipula sihir yang ingin kupelajari adalah sihir yang digunakan iblis kemarin untuk melawanku, yaitu sihir pijakan, itu akan memudahkanku untuk bertarung diudara.
Prakteknya tentu saja tidak akan semudah membaca prosedurnya. Aku telah mencoba beberapa kali untuk membuat sihirnya didaratan dengan jarak sekitar 30 cm dari tanah. Aku sudah bisa menciptakan bentuknya tapi saat aku ingin memijakkan kakiku diatasnya selalu saja menembus kebawah.
“Bagaimana ini? Aku harus bisa menguasai sihir ini sebelum malam tiba. Sebelumnya aku tidak pernah gagal mempelajari 1 sihir dalam setengah hari, kali inipun aku tidak boleh gagal.”
Sihir ini akan menjadi sihir paling berguna dimisiku kali ini, jadi, aku tidak boleh sampai gagal untuk menyempurnakannya.
Singkatnya, malam haripun tiba, hari ini yang berpatroli adalah bagian kelas D dan E, besok adalah waktu kelasku untuk berpatroli.
Sihir yang kupelajari hari ini, kunamai sihir pijakan, akhirnya setelah berusaha berjam jam, aku menguasainya. Sejak dulu, kemampuanku untuk mempelajari 1 sihir saja hanya butuh waktu setengah hari, aku tidak tau bagaimana caraku melakukannya, tapi yang pasti, ini sangat luar biasa.
Untuk yang terakhir dari latihan ini, aku menggunakannya untuk berjalan di udara, warna dari pijakannya berwarna hijau transparan, sangat indah.
Sihirnya mengikuti otak dan kaki, dimanapun kakiku berada dan saat otakku menginginkan pijakan itu, maka sihirnya akan muncul dengan otomatis.
Sebenarnya, aku bisa membuat sihir ini agar bisa berada dimanapun yang aku mau, tidak hanya ditempat kakiku berada, tapi untuk mengaktifkannya, memerluka tanganku, sama seperti penggunaan sihir yang lainnya yang menggunakan tangan, tapi tentunya lebih praktis dengan caraku yang menggunakan kaki ini.
Aku mengenakan jubah yang kubeli di toko baju tadi lalu aku menggunakan sihir yang baru kukuasai tadi, yaitu sihir pijakan, dengan sihir ini aku terus melompat keatas dan membuat pijakan lagi dan lagi.
Dengan begini, aku bisa pergi kemanapun yang aku mau, karena pasti tidak akan ada dari mereka yang menyangka bahwa ada orang yang sedang berlari diatas mereka.
Aku berlari lurus dengan terus membuat pijakan dikaki, aku tidak perlu meninggikannya lagi karena aku merasa bahwa ini sudah lumayan tinggi, bahkan tinggi istanapun tidak sampai setinggi tempatku berada saat ini.
Dari sini, aku bisa melihat rumahku, seharusnya saat ini, dia melakukan apa yang kusuruh.
Saat ditoko baju tadi, aku memberikan Karen kunci rumahku, aku memberinya pesan setelah membuka kunci pintunya dia tidak perlu menguncinya lagi, aku juga memberitau padanya letak kamarku, aku menyuruhnya untuk menggantungkan sebuah tulisan didepan pintu, tulisannya adalah, aku sangat lelah, aku ingin tidur, jangan ganggu aku, seperti itulah kurang lebih tulisannya.
Aku juga menyuruh Karen untuk tidak berbicara dengan guru sama sekali, karena aku dan Karen memang terlihat kembar tapi tentunya tidak dengan suara kami. Aku menyuruh Karen untuk tetap berada dikamarku sampai aku kembali lagi malam ini.
Aku harus sedikit bersyukur karena Karen itu adalah anak yang suka berada diluar, jadi orang tuanyapun tidak akan heran jika di pulang saat malam.
Guru seharusnya pulang sangat larut sekali hari ini karena seperti biasanya dia itu orang yang sibuk apalagi disaat saat seperti ini.
Di kondisi yang seperti ini aku akan pergi ke wilayah utara. Misiku adalah mencari tau mengapa iblis iblis ini sangat ingin menangkapku, dengan kemampuan analisaku, iblis yang kemarin akan datang kewilayah ini lagi untuk mencariku, tapi seharusnya semuanya akan baik baik saja karena ada prajurit itu.
Tentang iblis yang kemarin itu, aku merasa bahwa dia sangat kuat, jelas jelas kemarin dia sedang menahan diri. Saat dia melancarkan serangannya kearahku, aku hanya mengeluarkan perisai sihir, tapi aku tetap bisa merasakan tekanannya, padahal kemarin dia sedang menahan diri.
Aku tidak ingin melawan iblis itu, jadi aku putuskan untuk mencari jawaban dari bawahannya. Aku ingin pergi ke wilayah selatan dan mencari jawaban disana, karena dikerajaan ini yang diserang iblis dengan jumlah yang sedikit hanya di wilayah selatan saja, pasti penjagaan disana juga hanya sedikit.
Sebenarnya di wilayah barat juga tidak terlalu banyak iblis yang menyerang tapi penjagaannya sangat ketat.
Saat ingin pergi ke wilayah selatan, aku menoleh sekali lagi ke rumahku, saat aku melihatnya, ternyata prajurit yang seharusnya menjaga disana, semuanya… telah terbunuh.
Aku bisa melihat apapun yang ada disana karena banyak pencahayaan, prajurit yang seharusnya menjaga disana mati dengan tragis, mayatnya tergeletak begitu saja dijalanan.
“Jika warga melihat ini, maka akan gawat, apalagi aku meninggalkan Karen disana sendirian. Aku harus segera kembali.”
Aku langsung kembali ke rumahku, jaraknya lumayan jauh denganku saat ini, Karen, kumohon bertahanlah disana.
Dalam beberapa menit, aku akhirnya sampai disana, tanpa basa basi lagi aku langsung masuk kedalam.
“KARENNN!!”
Saat aku, berteriak memanggil namanya, tidak ada jawaban sama sekali dari Karen. Karen disini menyamar sebagai diriku seharusnya dia tidak dibunuh.
Aku langsung mengecek ke kamarku.
“Karen!!”
Saat aku membuka kamarku, aku melihat iblis yang bertarung denganku kemarin, dia mencekik Karen di tembok dan dibelakang iblis itu, ada iblis yang lainnya lagi.
“Pangeran, apakah dia perlu kulepaskan?”
Pangeran!! Dia tadi bilang pangeran kepada orang yang ada dibelakangnya kan, kalau begitu berarti, iblis yang ada dibelakangnya itu, pangeran iblis!!
“Tidak perlu, tahan dia seperti itu.”
Karen ada disana dan sedang disandera, iblis itu bahkan tidak melonggarkan tangannya sama sekali, bagaimana ini, apa yang harus kulakukan?
Saat aku sedang bimbang, tiba tiba tangan Karen bergerak kearahku.
“El…la, se…la…mat…kan a…ku.”
“Hei kau yang ada disana, apakah kau mengingat sesuatu dengan kejadian ini?”
Dia… apa yang dia bicarakan?
“Seharusnya kejadian ini akan membuatmu mengingat sesuatu, kata katanya, posisinya, dan penderitaannya, apakah kau sama sekali tidak mengingat kejadian itu, Lili.”
Seketika itu mataku langsung melebar, Lili, itu adalah namaku di kehidupan sebelumnya dan kejadian ini sama persis, apakah dia mengibaratkan iblis yang mencekik itu adalah mobil, tembok itu sebagai pohon, lalu tangannya, tangannya sama seperti tanganku yang meminta pertolongan.
Aku langsung menyipitkan mataku dan waspada terhadapnya, aku melepaskan jubahku karena sudah tidak berfungsi lagi, yang anehnya adalah…
Siapa dia? Kenapa dia bisa tau kejadian ini? Dan apa tujuannya membuatku mengingat kejadian ini?