AWAL DIMULAINYA PENGGALIAN RAHASIA

1654 Kata
    Keesokan paginya, aku dan Sarah turun kebawah, untuk pergi ke akademi. Saat sampai diruang tengah, aku melihat Kai sudah ada disini dan tidak melihat tanda tanda adanya guru, sepertinya dia dipanggil lagi.       Tumben sekali aku melihat Kai pagi pagi begini sudah disini.       “Apakah pangeran kesini dulu sebelum ke akademi?”       “Dia tidak pernah kesini sebelumnya, kemungkinan pasti ada sesuatu.”       Kai sepertinya mendengar percakapan kami dan menoleh kebelakang. Aku melihat dia sedang memakan kue yang kubuat dengan Sarah kemarin.       “Oh, kalian sudah turun?”       “Kau, tumben sekali pagi pagi begini sudah sampai disini.”       “Tentu saja, kemarin malam saat aku sampai disini, kau terlihat memindahkan kuenya, jadi, aku kepikiran untuk datang keesokan paginya untuk makan ini, ternyata ini sangat enak.”       Bisa bisanya kau datang kemari hanya untuk makan kue, yah kalau sepotong tidak apa apalah.       “Oh ya, sesuatu yang berwarna warni ini apa namanya?”       “Itu namanya krim, rasanya manis kan?”       Kai mengangguk sambil melanjutkan makannya. Aku dan Sarah memutuskan untuk duduk sambil menunggu Kai selesai makan. Saat berjalan menuju tempat duduk diseberang Kai, aku melihat bahwa dia membawa semua kuenya!!       “Hei, kau mengambil semuanya!?”       “Habisnya ini sangat enak sekali, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memakan semuanya.”       Aku mengambil kue yang tersisa, untungnya masih lumayan banyak, sepertinya dia hanya mengambil 2 potong saja.       “Sudah, itu yang terakhir untukmu, ini untukmu Sarah, kau belum mencicipinya sama sekali kan. Ini sangat enak lho.”       Aku memberikan sepotong untuk Sarah dan Sarahpun mengambilnya.       “Satu potong lagi untukku, tolonglah, punyaku sudah habis.”       “Kau sudah makan 2 potong, tidak ada lagi untukmu.”       “Padahal aku masih menginginkannya.”       “Sarah, cepat makan itu, setelah ini kita akan berangkat.”       Sarah mengangguk dan cepat cepat menghabiskan kuenya setelah itu kami berangkat ke akademi. Sesampainya disana, tak lama kemudian Bu Alice masuk ke ruang kelas.       “Kemarin malam, Ella, kau bertarung dengan iblis itu kan?”       “Iya, bu. Apakah ada masalah?”       “Saat itu apa saja yang terjadi?”       Kenapa aku tiba tiba ditanyai seperti ini? Apakah mungkin terjadi sesuatu dengan iblis kemarin? Tapi kemarin dia jelas jelas pergi dalam keadaan baik baik saja. Mungkin ini hanya pertanyaan biasa saja.       “Saat itu, karena kami tidak diperbolehkan membunuh iblis dan saya sendiri tidak tau apa yang membuat iblis bisa terbunuh jadi saya hanya menggunakan serangan fisik biasa.”       “Setelah itu?”       “Setelah itu dia pergi.”       “Tidak, maksudku apakah dia mengatakan sesuatu?”       Aku melirik sebentar ke arah Kai, sepertinya Archduke dan Kai mulai waspada karena perkataanku kemarin, berarti saat pagi pagi sekali guru sudah tidak ada karena ingin mendiskusikan ini ya. Ternyata, Kai yang bisa terbilang konyol, sebenarnya dia adalah orang yang waspada dan pintar, boleh juga, ini semakin meningkatkan kecurigaanku pada rahasia kalian itu.       “Ella, jawab pertanyaan ibu!”       “I-iya bu, sebenarnya iblis kemarin mengatakan sesuatu kepada saya.”       “Apa itu?”       Mata semua anak tertuju padaku dengan ekspresi yang penasaran, hanya Kai, dahinya berkerut dan wajahnya menjadi sangat serius. Anak ini sungguh sangat mudah dibaca.       “Kalau tidak salah, dia bilang bahwa dia akan kembali lagi, yah seperti itulah kira kira.”       “Hahh, baiklah, pelajaran kali ini, ibu akan mengajari kalian tentang iblis, ingat ini bukan untuk membunuh iblis tapi agar kalian mengerti apa yang tidak boleh kalian lakukan pada iblis itu.”       Akhirnya, pelajaran yang kunanti nantikan datang juga.       “Pada dasarnya, iblis itu sama dengan manusia, fisik, otak, dan perasaan. Ingat, iblis juga memiliki perasaan dan mereka juga bisa memberikan kasih sayang, sama seperti manusia biasa. Hanya saja yang membedakan antara iblis dan manusia ada 2.”       “Pertama, mereka memiliki kemampuan regenerasi yang lebih cepat daripada manusia, jika luka ringan mereka akan langsung sembuh jika luka berat setidaknya mereka membutuhkan waktu sekitar 1 menit untuk menyembuhkannya. Tapi jika mereka terus menerus beregenerasi, kemampuan regenerasi itu lama kelamaan juga akan melemah, seharusnya kalian mengerti maksudku.”       “Kedua, mereka memiliki 2 jantung, dikiri dan kanan. Jika kalian menusuk salah satu jantungnya, mereka tidak akan mati melainkan hanya terluka berat, 1 menit kemudian, jantungnya akan selesai beregenerasi, dalam 1 menit itu, coba tusuk jantung yang lainnya. Jika ingin lebih simple, langsung tusuk dua duanya, itu memang simple kalau hanya dikatakan saja, saat kalian mencobanya itu pasti akan sulit.”       “Materi tadi, hanya untuk pengetahuan agar kalian tidak membunuh iblisnya, ingat, jangan pernah membunuh iblis.”       Selanjutnya, Bu Alice memberikan pelajaran tentang sihir.       Beberapa jam kemudian, akhirnya pelajaran telah selesai, seperti biasa aku meregangkan otot ototku.       Tanpa sadar ada seseorang yang berdiri dibalik meja tempatku duduk, akupun melihat wajahnya.       Aku tersenyum saat tau wajahnya, dalam hatiku aku berkata, wah wah lihat siapa yang datang menghampiri kita ini, mengejutkan sekali.       Orang itu adalah korban yang hampir terculik yang menggila sambil mencengkram tanganku kemarin.       “Oh, kau, bukankah kau korban yang hampir terculik kemarin? Bukanknya kau berasal dari kelas lain, kenapa kemari?”       Sarah terlihat kebingungan dengan keadaan ini.       “Aku ingin minta maaf atas perkataanku yang kemarin tentang-“       “Berhenti berhenti, tidak perlu disebutkan tentang apa. Sudah pasti aku akan memaafkanmu, dengan satu syarat.”       “Apa itu?”       Aku berdiri dan mendekat ke teliganya sambil memegang tengkuknya. Aku langsung mengeluarkan aura intimidasiku.       “Jangan pernah bilang kepada siapapun, tentang apa yang kau katakan kemarin, bilang juga pada ketiga orang yang kemarin untuk tutup mulut, ingat, jangan coba coba melawanku, aku tau pasti Archduke dan Kai yang menyuruhmu minta maaf padaku kan, tentang apa yang kukatakan ini, kau juga tidak boleh bilang pada mereka.”       Yang tadinya aku hanya memegang tengkuknya, kini aku menguatkan peganganku dan mencengkramnya.       “Jika kau melawanku aku tidak tau apa yang akan terjadi pada lehermu yang indah ini.”       “A-aku akan melakukan apa yang kau katakan.”       Huh, ternyata hal ini berguna juga, aku sempat belajar cara mengintimidasi orang saat berumur 15 tahun dikehidupanku sebelumnya, diajari oleh orang tuaku. Ternyata berguna juga, sekali kali aku memang harus mengucapkan terima kasih pada mereka.       Saat aku sedang memikirkan kedua orang tuaku, tiba tiba ada tangan yang menarikku menjauh dari orang yang kucengkram, mau tidak mau aku harus melepaskan cengkramanku agar tidak melukainya.       “Kau berbicara apa padanya?”       Ternyata, Kai yang menarikku.       “Lepaskan aku, jangan seenaknya menarikku begitu, aku kan jadi kaget, kalau jantungku copot bagaimana!?”       “Kau berbicara apa padanya?”       “Kenapa kau sampai seserius itu sih, padahal aku hanya berbicara, aku akan memaafkannya jika dia menjadi temanku, sudah itu saja.”       “Tapi kenapa harus sampai seperti itu?”       “Habisnya, saat aku mendapat ide ini dikepalaku, aku teringat saat kejadian aku berteman dengan Sarah dulu, jadi untuk menghindari kau mengoceh padaku atau teman baruku aku harus mengatakannya dengan cara seperti itu, benar kan?”       Aku menatapnya dengan wajah tersenyum kearah orang itu.       “I-iya, dia hanya bilang bahwa syaratnya adalah menjadi temannya, ta-tapi aku ingin meminta syarat yang lain, la-lagipula kami tidak sekelas, a-akan sulit berteman, ja-jadi syarat yang lainnya.”       “Ehhh, padahal itu sayarat terbagus dan yang paling gampang ternyata kau tidak mau, kalau begitu syarat yang lainnya ya.”       Aku terpikirkan sebuah ide bagus.       “Kalau begitu, temani aku pulang bersama dengan Sarah, bagaimana, itu sangat mudah kan?”       “Sya-syarat-“       Aku menepuk pundaknya dan sedikit mencengkramnya sambil menunjukkan senyumku lagi.       “Mau ya?”       “Syaratnya aku terima!!”       Kemudian aku melepaskan tanganku.       “Kau melakukan itu bukan berarti aku akan memaafkanmu ya, karena kau menolak syarat pertamaku kau terkena hukuman, semakin kau menolak syaratnya akan semakin bertambah lho.”       “Ella ternyata orangnya pendendam ya.”       “Aku tidak seperti itu kok Sarah, hanya saja karena aku tidak merasakan ketulusan orang ini dalam meminta maaf jadi aku memberinya syarat, semakin ditolak akan semakin bertambah. Jadi, lain kali saat kau minta maaf itu harus dengan perasaan yang tulus.”       “Kalau begitu, aku akan mencontoh caramu ini, agar semua orang tau betapa pentingnya meminta maaf dengan tulus.”       “Hahahaha, tidak perlu sampai dicontoh segala.”       Aku memasang muka serius sambil melingkarkan tanganku dileher Sarah.       “Hanya saja, karena dia disuruh orang untuk meminta maaf padaku, makanya dia tidak tulus.”       Kai langsung menunjukkan ekspresi terkejut, sudah kubilang, anak ini terlalu mudah ditebak.       “Dan yang menyuruhnya adalah Archduke dan Kai, benarkan?”       “Darimana kau tau itu?”       “Kau ini bodoh ya, Kai. Tentu saja aku mengetahuinya, dari ekspresimu saja sudah ketahuan kalau itu memang benar. Begini, akan kujelaskan, kemarin saat dia mengatakan hal yang tidak tidak tentangku, kau dan Archduke ada disana kan, jadi karena kupikir kalian terlalu memikirkan perasaanku makanya menyuruh anak ini meminta maaf padaku kan, begitulah pikirku.”       Kai menunjukkan ekspresi lega setelah mendengar jawabanku. Jika kita ingin tau orang itu berbohong atau tidak adalah dari ekspresinya, jika ingin tau apakah orang itu menyembunyikan sesuatu dari kita atau tidak adalah dari ekspresinya. Maka dari itu, dalam saat saat seperti ini sangat diperlukan sebuah ketenangan, agar tidak ada yang bisa membaca ekspresi kita.       “Oh ya, siapa namamu dan dari kelas apa?”       “Namaku Karen dari kelas B.”       “Oh oke, kalau sudah begini kan gampang. Kalau begitu ayo pulang.”       “Kalau begitu, kemari.”       Kai sepertinya ingin menggunakan sihir teleportnya untuk mengantar kami pulang.       “Tidak perlu, bukannya kau ada pekerjaan di istana, cepatlah pulang, pekerjaan sedang menunggumu, lho.”       “Tapi salah satu dari kalian akan ada yang pulang sendirian, itu berbahaya.”       “Tenang saja, aku akan membuat mereka berdua pulang dengan aman, tidak perlu khawatir, serahkan saja padaku.”       Akhirnya, Kai percaya padaku dan akupun pulang bersama dengan Sarah dan Karen.       Ada sesuatu yang perlu aku katakan pada Karen, kalau pembicaraanku ini diketahui oleh Kai, bisa gawat.       Kalianlah yang pertama kali, bermain rahasia denganku, karena aku sangat yakin bahwa rahasia itu ada hubungannya denganku maka aku juga berhak tau kan, kalian yang pertama kali memulai, perjalananku menggali rahasia, baru saja dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN