Hatiku merasa sangat sakit, kenapa mereka memperlakukanku seperti itu. Padahal saat itu kupikir Kai adalah orang yang paling perhatian terhadapku dan Sarah sudah kuanggap sebagai cahaya kehidupanku.
Tapi, semuanya berubah, aku sama sekali tidak menyukai 2 orang yang menjelma menjadi temanku ini.
“Tapi kenapa aku harus pergi dari sini!?”
“Itu karena nanti malam aka nada perjamuan untuk ulang tahunnya Allen, jadi kami memutuskan untuk menyembunyikanmu diistana.”
Setelah itu, Kai langsung melangkah pergi, sebelum terlalu jauh aku langsung bertanya.
“Bagi kalian, sebenarnya aku ini apa!?”
“Hah?”
Kai dan Sarah sepertinya tidak mendengar pertanyaanku barusan.
“Ti-tidak, bukan apa apa.”
Aku langsung memalingkan pandanganku dari mereka dan langsung pergi. Di perjalanan, aku mendengar para pelayan dibelakangku ini bergosip.
“Dia ini, seharusnya tidak berteriak begitu pada pangeran Kai, sudah diberi tempat tinggal yang nyaman dan tidak usah ikut berjuang aja pake protes.”
“Benar, sungguh sangat memalukan.”
Aku hanya bisa mendengar diriku terus diberi kritikan oleh para pelayan ini. Hingga sesampainya diistana, aku dapat melihat bahwa Raja Wingston sudah menungguku.
Aku turun dari kereta dengan disambut oleh Raja Wingston.
“Selamat datang di istanaku, apakah kau bosan berada di kediaman Wagner?”
“Ahhh, iya, hanya sedikit.”
Kemudian, kami berduapun masuk kedalam aula istana.
“A-anu, Raja Wingston, apakah guru saya ada disini?”
“Iya, dia ada disini, sebentar, pengawalku akan memanggilkannya untukmu.”
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya guru datang, aku langsung berlari dan memeluknya.
“Kenapa tiba tiba memelukku seperti ini? Apakah kau merasa putus asa?”
“Hahaha, bicara apa kau ini? Aku sangat merindukanmu guru, dalam 8 bulan ini kau hanya mengunjungiku sekali, kau ini sesekali kunjungi aku, jangan cuman sekali saja.”
“Kita sedang didepan Raja, jaga sopan santunmu.”
“Kalau begitu, Raja Wingston, bolehkah kami bicara didepan?”
“Silahkan.”
Aku langsung menarik guru keluar begitu saja, saat ini aku tidak ingin memikirkan tentang reputasiku atau apapun itu lah, aku hanya ingin…
“Kita sudah diluar, kau tidak ingin mengamuk?”
“Aku ini sedang sibuk, jangan memanggilku untuk urusan yang tidak jelas seperti ini.”
Dia berubah, biasanya dia pasti akan memarahiku, kenapa? Kenapa dia berubah? Padahal aku sudah rela dikurung selama 8 bulan, kenapa?
“Guru, aku ingin kembali ke gunung, ayo kita pulang ke gunung.”
“Kau tidak nyaman berada disini?”
“Tidak, bukan begitu, aku ha-hanya ingin kesana.”
“Saat ini, banyak iblis yang muncul diwilayah ini, kita tidak bisa kembali kesana, cepatlah masuk, bisa gawat jika ada iblis yang melihatmu disini.”
Guru menarikku kembali kedalam lalu izin kepada Raja Wingston untuk meminjamkan 1 kamarnya untuk kutempati.
Aku dikurung disebuah kamar, aku hanya pasrah saja sambil melihat keluar jendela,hingga malam tiba, dari jendela aku bisa melihat bahwa banyak iblis yang membunuh manusia.
“Mereka membunuh manusia bahkan tanpa pandang bulu, yang lebih parah lagi, jumlah mereka memang sangat gawat.”
Disana, aku melihat teman temanku sedang berjuang untuk memukul mundur mereka tapi jauh diantara mereka aku melihat ada iblis yang dibunuh.
“Gawat!! Iblisnya…dibunuh, perang pasti dimulai.”
Aku langsung berlari kearah pintu dan mencoba untuk membukanya tapi sangat sulit sekali, karena aku tidak punya waktu lagi aku segera menghancurkan temboknya tapi karena terlalu keras jadi memakan waktu.
Aku segera terburu buru karena 10 detik setelah kematian iblis itu, pangeran iblis langsung tiba ditempat, orang itu tidak lari sama sekali, dia pasti sangat takut hingga membatu ditempat.
Saat, aku hampir menghancurkan temboknya, tiba tiba prajurit dalam jumlah banyak langsung masuk kekamarku bersama dengan Raja Wingston dan Guru.
Prajurit dengan sigap langsung menangkapku dan menghentikanku menghancurkan temboknya.
“Lepaskan aku!!”
“Kau ingin kemana malam malam begini?”
“Yang mulia, anak itu, dia baru saja membunuh iblis, perang pasti akan segera dimulai.”
“Apa!! Segera kirimkan pasukan ketitik tersebut.”
“Aku, aku juga ingin membantu.”
“Tidak!! Kau tetap berada disini.”
“Tapi-“
“Prajurit, kurung dia dan rantai tangannya.”
Prajurit ini langsung menyeretku ke penjara bawah tanah.
“Lepaskan aku!! Aku juga ingin membantu!!”
Sesampainya disana, mereka memasukkanku kedalam sel dan merantai kedua tangan dan kakiku ke tembok.
Tempatnya sangat gelap, satu satunya cahaya yang ada hanya obor yang ditaruh ditengah tengah, diantara dua sel, lalu mereka segera meninggalkanku.
Aku dirantai dan tidak bisa melakukan apa apa, tapi ingatan yang paling buruk dihidupku muncul saat aku menatap tembok disamping kiri dan kananku.
Temboknya sangat gelap, dan karena itulah, halusinasiku tiba tiba dimulai. Suasana yang intens membuatku membayangkan ada mayat adikku dikehidupan selanjutnya, keduanya ada di kanan dan kiriku.
Darah darahnya yang ada ditembok, sekarang aku sendirian disini, sama sekali tidak ada orang, tiba tiba adikku yang telah mati itu berdiri dan mendekat kearahku.
Ini hanya sebuah bayangan saja, jangan takut, mereka hanya sebuah bayangan saja, tutup matamu dan pikirkan hal baik, hal yang baik, tapi apa?
Kedua adikku terus mendekatiku.
“AAAAHHHHHHH!!”
Dalam sekejap, dua prajurit yang berjaga diluar langsung masuk.
“Ada apa? Apakah ada iblis yang masuk?”
“Lepaskan aku!! Aku tidak mau disini, lepaskan!!”
Aku terus meronta agar dilepaskan, tak lama kemudian, ternyata Raja Wingston datang bersama dengan istrinya.
“Maafkan aku karena harus mengurungmu disini.”
“Ka-kalau begitu, lepaskan, lepaskan saya.”
“Sebelum itu, kau harus berjanji untuk tidak kabur darisini. Malam ini tidak akan ada yang mengawasimu, gurumu sudah pergi ke acara perjamuannya, sebentar lagi kami juga akan berangkat. Bagaimana? Kau bisa menepati janjimu atau tidak?”
“A-akan kutepati, aku berjanji. Kumohon, kumohon lepaskan aku.”
“Kalau begitu, prajurit lepaskan dia. Ella, aku tidak tau kapan mereka akan memulai perang, sampai saat itu tiba jangan membuat masalah dan jangan sampai tertangkap oleh mereka.”
Setelah itu Raja Wingston pergi, diikuti oleh istrinya, prajurit yang tadinya disuruh untuk melepaskanku tiba tiba menghentikan pergerakan tangannya.
“Hei, kenapa kau berhenti? Cepat lepaskan aku!!”
“Kaupikir kami akan melakukannya begitu saja.”
“Tapikan, Raja Wingston sudah memberikan perintahnya kan.”
“Kami tidak akan melepaskanmu dari sini, kau tadi berteriak dengan sangat keras, apakah kau takut kegelapan? Kalau begitu, menjeritlah lebih keras lagi dan hibur kami dengan jeritanmu itu.”
“Kenapa kau lakukan itu padaku? Cepat, lepaskan aku!!”
“Dengar, diluar sana, banyak orang yang menderita karenamu, kami juga kehilangan keluarga kami karena dirimu, Kau hanya tinggal berada disini dan jangan menyusahkan kami dan juga jangan lupa berikan kami sebuah hiburan dengan suaramu itu.”
Setelah itu mereka meninggalkanku, bahkan obor yang seharusnya ada satu disana malah diambil oleh mereka.
Ruangan ini menjadi gelap total, aku tidak bisa melihat apapun. Aku berusaha menggunakan sihirku untuk membuat pencahayaan tapi aku tidak bisa mengeluarkan sihirku.
Apakah rantai ini sudah dilengkapi anti sihir? Kenapa aku tidak bisa menggunakan sihirku!?
Apa yang harus kulakukan, tidak, aku yakin semuanya akan baik baik saja, tenanglah.
Aku mundur perlahan mundur kebelakang, karena terus berjalan mundur akhirnya tubuhku menabrak sesuatu, sontak, aku langsung merasa kaget, tapi ternyata, saat kuraba raba ternyata…
“Huhh, tenang, ini hanya tembok, hanyak tembok biasa, tidak ada darah, jangan khawatir, semuanya akan baik baik saja.”
Suara yang tidak kuinginkan tiba tiba muncul kembali.
“Ka…kak, kenapa membunuhku?”
Kata kata itu terus menggema ditelingaku.
Aku terduduk dengan menyembunyikan wajahku dengan kakiku, menutup rapat mata dan telingaku.
Tapi suaranya sama sekali tidak mau berhenti. Kumohon berhentilah, berhenti.
“BERHENTI!! KUMOHON, KALIAN LEPASKAN AKU!! LEPASKAN AKUUU!!!”
Aku hanya bisa menahan ketakutanku saja, padahal saat aku tiba di kerajaan ini, aku sudah memutuskan untuk tidak sendirian dan mencari setidaknya satu atau dua teman, tapi sekarang mereka hilang.
Aku kembali sendirian, dihempaskan ke jurang kegelapan untuk yang kedua kalinya, aku kembali kesepian. Pada akhirnya, usaha yang kubuat agar aku tidak merasakan kehidupanku yang dulu untuk yang kedua kalianya, semuanya… sia-sia.
Setelah berjam jam aku disana, para prajurit itu kembali, mereka melepaskan rantai yang mengikat kaki dan tanganku.
“Cepatlah berdiri dan pergi kekamarmu, sebentar lagi Raja Wingston akan tiba.”
Akhirnya, aku bisa keluar dari sini, tapi saat aku berdiri, kakiku menjadi sangat lemas, aku kembali terduduk dan tidak bisa berdiri lagi.
“Cepatlah!! Ck, lambatnya.”
Prajurit itu tanpa pikir panjang lagi langsung menggendongku dipundaknya dan membawaku kembali kekamarku.
Karena ketakutan, kakiku menjadi selemas ini, lemah sekali aku ini.
Sesampainya dikamar, dia langsung menghempaskanku ke lantai dan menutup pintunya.
Suara suara yang terus menggema di telingaku telah menghilang, aku masih ingat dengan apa yang mereka katakana.
Dia bilang semuanya gara gara aku, mereka kehilangan keluarga dan orang orang yang disayanginya, semua itu karena diriku, mereka mati karena kesalahanku.
Aku meringkuk dilantai sambil memikirkan itu semua, asal mereka tau saja, aku juga ingin membantu, jika ini semua bisa selesai dengan menyerahkan diriku maka akan kuserahkan diriku, tapi mereka melarangku.
Kalian juga bilang, agar aku tidak merepotka para petinggi dan cukup menurut saja, disisi lain kalian juga bilang bahwa aku menyusahkan karena harus dilindungi, padahal yang lain sedang berjuang tapi aku malah bersantai santai disini.
Jadi, sebenarnya, apa yang harus kulakukan?
Aku sama sekali tidak mengerti, beritahukan padaku, apa yang harus kulakukan, bukan hanya memberikan komentar pedas padaku.
Karena suara suara yang terus menggema di telingaku hilang dan aku tidak lagi membayangkan darah, tanpa sadar aku tertidur.