ULANG TAHUN SANG GURU 2

1307 Kata
    Setelah begitu lama sibuk didapur, aku dan Sarah masuk kedalam kamarku lalu mandi secara bergantian.       Setelah selesai mandi, aku dan Sarah turun kebawah, Sarah memakai baju yang digunakan sebelumnya, sedangkan aku memakai baju yang layak untuk disebut perempuan bukan gorilla.       Aku mendengar ada suara langkah kaki, itu pasti guru, aku menyuruh Sarah untuk siap siap didekat pintu, saat pintunya dibuka…       “SELAMAT ULANG TAHUNNN!”       Saat membuka pintu, guru benar benar terkejut karena kami tiba tiba mengucapkan selamat ulang tahun secara bersamaan dan dengan suara yang keras.       Yang membawa kue adalah aku dan Sarah bagian pemeriahan dengan bertepuk tangan, karena aku hanya tau tanggal dan bulan lahir guru, aku tidak tau umur berapa dia sekarang sehingga aku hanya bisa memprediksi saja bahwa umurnya masih di 2 digit.       Sehingga aku menaruh 2 lilin ulang tahun di kue ini. Sebenarnya ada lagunya juga, tapi aku memilih untuk tidak menyanyikannya, sangat memalukan jika aku harus menyanyi sendirian, apalagi suaraku itu hancur jika bernyanyi, nada nadanya pasti akan menjadi sangat berantakan.       “Guru, bagaimana dengan perayaan ulang tahunmu kali ini? Kau tersentuh kan.”       “Kue macam apa ini? Kenapa bentuknya seperti ini?”       Astaga, disaat seperti ini seharusnya kau bilang bahwa kau tersentuh, jangan malah bertanya seperti itu.       Huhh, karena hari ini ulang tahunmu dan juga aku bisa memaklumi kenapa bertanya seperti itu.       “Ini adalah kue ulang tahun yang berasal dari duniaku, aku menghiasnya sedemikian rupa agar menarik, lihat disini juga ada tulisannya. Bagus kan?”       “Tampilan yang bagus tapi belum tentu rasanya juga enak kan.”       Orang ini…!!       “Hei, kakek s****n, seharusnya disaat seperti ini kau bilang terharu dan berterima kasih padaku, jangan malah mengomentariku dengan komentar jelekmu itu!!”       Sarah yang berada dibelakangku sepertinya terkejut karena aku tiba tiba membentak.       “A-anu, Ella, tenang dulu…”       “Oh, bukannya kau gadis yang tadi siang ikut dengan Ella dan pangeran untuk berbicara dengan Archduke kan.”       “I-iya, nama saya Sarah.”       “Sarah ya, kalau begitu kedepannya aku titipkan anak bodoh ini padamu, tolong jaga dia ya.”       “Emmm sepertinya saya yang akan dijaga oleh Ella.”       “Baiklah baiklah, karena kalian sudah kenal satu sama lain, sekarang guru, cepat tiup lilinnya.”       Kemudian, lilin pun sudah tertiup.       “Oh ya, ngomong ngomong, kenapa hari ini kau memakai pakaian seperti ini dirumah, bukannya kau senang memakai pakaianmu yang dulu, apakah jangan jangan karena kau tidak mau menunjukkan sisi gorillamu itu dihadapan temanmu?”       “Diam, dasar kakek s****n, kalau hari ini bukan ulang tahunmu, aku pasti sudah mengoceh padamu.”       Setelah itu, aku menyerahkan kue ulang tahunnya pada Sarah, lalu memasang muka serius.       “Dengar kakek s****n, aku akan mengatakan ini sekali dalam seumur hidupku.”       “Aku, dengan nama yang telah kau berikan padaku, Ella Ethelbert.”       Kemudian aku langsung membungkuk untuk memberikan penghormatan pada guru.       “Aku mengucapkan terima kasih sebesar besarnya karena sudah membesarkan diriku hingga sebesar ini, sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Walaupun yang kuberikan sekarang tidak sebesar dengan apa yang kau berikan padaku, tapi didalam hal yang kuberikan padamu itu tersimpan kasih sayang dan penghormatan yang besar dariku kepadamu, kakek.”       Keinginanku saat berumur 5 tahun, yaitu ingin memanggilmu kakek dengan terhormat sekarang sudah tersampaikan.       Guru meletakkan tangannya dikepalaku seperti yang dilakukan Archduke, tapi sensasi yang diberikan berbeda jauh, meskipun begitu, dari telapak tangan ini, aku merasakan suatu ketulusan yang sangat besar.       “Seharusnya diacara seperti ini akulah yang berterima kasih, tegakkan kepalamu.”       Aku mengangkat kepalaku kembali, orang ini walaupun sudah tua tapi tingginya melebihi diriku, hampir sama seperti tinggi Archduke tapi kelihatannya berbeda 10 cm, jika aku sekitar 160 cm berarti guru sekitar 170 cm.       Guru memeluk diriku, baru pertama kali ini guru memelukku seperti ini, aku sangat senang karena rasanya seperti dipeluk oleh keluarga sendiri.       Saat kami berdua sedang berada dalam posisi seperti itu tiba tiba ada serangan mendadak yang memancar kearah kami berdua, dengan sigap aku langsung membuat sihir perisai.       Serangannya tidak cukup kuat tapi cukup untuk melukai. Saat aku melihat orang yang menyerang kami, aku bisa merasakan hawa keberadaannya, dia adalah iblis!       Aku melepaskan pelukanku dari guru dan langsung mengejarnya.       “Ella!! Tunggu, jangan pergi!!”       Guru meneriakiku agar aku kembali tapi aku menghiraukan perkataan guru dan tetap mengejar iblis itu.       Aku melompat ke dinding rumah penduduk.       “s**l!! Kemana dia? Cepat sekali larinya.”       Aku tidak bisa membiarkan iblis itu di wilayah ini, aku harus segera mengusirnya. Mengingat perkataan Archduke saat di akademi, aku tidak boleh membunuhnya, aku hanya perlu memukulnya mundur, tapi sekarang aku kehilangan jejaknya, bagaimana aku bisa tau bahwa iblis itu sudah pergi dari wilayah ini atau tidak.       Tiba tiba saja, aku merasakan hawa keberadaan iblis itu lagi. Dari… atas!!       Iblis itu melancarkan sihir apinya padaku, aku menangkisnya dengan sihir perisaiku, rasanya seperti lebih kuat daripada tadi, tapi masih bisa diatasi. Yang kupijak sekarang adalah atap rumah orang, aku tidak tau apakah ada orang atau tidak dibawahku, jadi aku hanya bisa menangkisnya.       Kuharap orang yang ada didalam rumah ini tidak merasakan apa apa, karena jika mereka keluar dan melihat adanya iblis, ketenangan dikerajaan ini juga akan bermasalah.       Aku bingung apa yang harus kulakukan, sementara iblis ini terus bergerak disekitarku dengan cepat. Aku tidak boleh membuatnya mati tapi aku sendiri tidak tau apa yang bisa membuatnya mati, bagaimana jika tanpa sengaja aku malah membunuh iblis ini.       Apa yang harus kulakukan, pikirkan suatu cara, pasti ada cara.       Saat aku sedang memikirkan tentang apa yang harus kulakukan, aku terpikirkan suatu cara, yaitu serangan fisik. Jika hanya menerima serangan fisik, tentunya iblis itu takkan mati begitu saja.       Iblis ini terus bergerak dengan cepat, dia melompat di pijakan sihir yang dibuatnya sendiri, meskipun sudah begitu pergerakannya tetap sama, kecepatannya tidak melambat ataupun berkurang.       Jika aku bisa, memperkirakan waktu disaat dia melistas didepanku, aku pasti bisa meninjunya.       Aku terus mengamati pergerakannya, tapi tiba tiba ada yang berubah dari pergerakannya, sebelumnya dia hanya mengitariku tapi kini dia langsung menyerang dari depan. Aku langsung melompat keatas untuk menghindari serangannya.       s**l, aku terlalu lambat. Dengan keadaan aku yang sedang berada di udara, ini sangat tidak menguntungkan diriku, aku melihat kearah iblis itu, sepertinya dia bersiap kearahku.       Disaat seperti itu aku mendapat ide darurat, iblis itu langsung melesat kearahku. Bagus kemarilah, saat kau kemari, aku akan…       Dia sudah dekat, sekarang!!       Aku langsung menendangnya sekuat tenaga, dia masih sempat menangkisnya tapi karena terlalu kuat diapun terpental, bisa dibilang rencanaku berhasil.       Aku kembali mendarat diatap rumah, sedangkan dia membuat sihir yang sebelumnya digunakan berpijak dan membuat dinding transparan dari itu dan menabrakkan dirinya sendiri lalu berpijak dengan sihirnya seperti tadi.       Dia sedikit terluka karena serangan fisik itu dan karena menabrakkan diri seperti itu, tapi dalam sekejap, dia langsung sembuh, kemampuan regenerasi yang hebat.       Saat lukanya sudah sembuh dia mengatakan sesuatu.       “Sepertinya, kau orang yang dia cari, kami telah menemukanmu.”       Setelah itu dia pergi, apa sebenarnya maksud perkataan dia tadi? Aku sama sekali tidak mengerti.       Tidak lama setelah itu, tiba tiba saja, Kai, Archduke, Guru, dan juga Sarah, datang padaku secara bersamaan.       “Bodoh!! Bukannya tadi sudah kubilang untuk berhenti dan jangan pergi, kenapa kau tetap pergi!?”       “Maaf guru, tapi aku tidak bisa mengesampingkan kata kata Archduke ketika dikelas. Oh ya, Archduke apakah ada korban karena kemunculan iblis tadi?”       “Ada 1 korban yang meninggal, hanya itu saja, sepertinya belum banyak iblis yang menjajah wilayah barat, hari ini yang berpatroli kelas 1 A dan B, mereka hanya menemukan 1 korban itu, lalu ada 2 hampir diculik dan 2 hampir dibunuh, semuanya murid dari akademi kecuali yang dibunuh, sehingga kejadian ini masih bisa disembunyikan dari publik.”       “Kalau kalian semuanya berkenan, kita bisa membahas masalah ini dirumah saya, apalagi masih ada resiko bahwa mereka akan kembali lagi.”       Memang benar kata guru, apalagi dari perkataannya itu dia seperti sudah mengincar diriku dari awal, lebih bagus jika membicarakan ini di ruang tertutup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN