Bab 8—Menghubungi Pihak Penting

1819 Kata
Sebelum baca, pastikan tap love dulu ya dan pastikan bacaan ini sudah tersimpan rapi di daftar pustaka kamu. Makasih banyak, selamat membaca. **** Tentu saja Reva dibuat bingung oleh keseriusan Ghani mengenai lamarannya, ia yang tidak memiliki siapapun harus memikirkan hal ini masak-masak. Keluarga ibunya juga jauh, mereka tinggal di pulau yang berbeda. Namun begitu Reva sudah membulatkan tekat untuk menghubungi Pamannya yang tinggal di Kalimantan untuk datang ke Jakarta. Ghani sepertinya serius, itu yang ditangkap oleh Revalisha saat ini. Ada perasaan berbeda saat pria itu melamarnya, ada perasaan bahagia, terharu, sekaligus takut. Ya, takut. Ketakutan apa yang dialami Revalisha saat ini? Ia hanya takut jika Ghani tiba-tiba berpaling darinya dan perasaan yang ia punya hanyalah perasaan sesaat saja. "Aku tahu, aku terlalu mendesakmu saat ini. Soal hari dan tanggal biar kita serahkan saja sama orang tua. Jadi, kapan aku bisa menemui saudara almarhumah ibumu?" Ghani kembali berbicara, mengubah topik pembicaraan menjadi lebih berat lagi. Wajah Reva mendadak menjadi resah, ia menautkan kedua tangannya dengan peluh yang perlahan mengucur. Sekarang ia hanya berdua saja dengan Ghani, mana bisa ia berbincang serius seperti itu tanpa adanya orangtua?! "Maaf Tuan, saya tidak bisa memutuskannya seorang diri. Jika Anda bisa bersabar, saya akan menghubungi Paman saya di Kalimantan untuk datang kemari. Mohon untuk tidak mendesak saya dengan pertanyaan seperti ini, saya bingung." Revalisha memberanikan diri untuk berkeluh kesah atas perasaan tidak nyaman yang kini menderanya. Ghani terpaku untuk sesaat, ia sadar jika pertanyaannya yang memberondong membuat gadis itu semakin tak nyaman dibuatnya. Pemuda itu tersenyum kecil, menggosok tengkuknya guna mengurangi rasa tegang yang mendera. "Maaf, aku terlalu terburu-buru. Entahlah, aku tidak bisa membendung rasa emosionalku terhadapku." Keduanya terdiam cukup lama, suasana kembali canggung. Ghani meraih cangkir kopi lalu menyesapnya sedikit terburu, ia beranjak berdiri saat sadar jika senja orens kini perlahan hilang dan berganti gelap. "Aku balik dulu, nanti malam aku balik ke sini sama Ibu ya. Jangan lupa hubungi pamanmu, jika sama-sama setuju aku bersedia untuk menerbangkan beliau dari Kalimantan ke Jakarta." Reva hanya diam, bibirnya bergetar dan terkunci. Ia tidak mengangguk ataupun menyanggupi, rasanya Reva mirip seperti patung lilin yang baru saja dipahat. Pemuda itu tersenyum, ia bergegas pergi melewati pagar kayu yang berada di halaman rumahnya dan memasuki mobil yang terparkir rapi di depan rumah. Reva menggenggam erat tangannya, tak yakin dengan apa yang ia rasakan saat ini. Ia berusaha membalas senyum tatkala Ghani melempar senyum padanya lalu melambaikan tangan tatkala mobil mewah itu beranjak meninggalkan rumahnya. Gadis ayu berambut panjang itu menarik napas kuat-kuat, seolah baru saja menghadapi maut ia bergegas duduk dan menenangkan diri. Kali ini bukan Ghani lagi yang ia pikirkan tapi tentang Om Setyo, adik kandung Ibu yang tinggal di Kalimantan. Bagaimana ia harus menceritakan hal ini padanya? Kalimat apa yang akan ia ucapkan pertama kali perihal lamaran ini? Semakin serius Revalisha memikirkan, semakin pusing ia dibuatnya. Pemuda itu terlalu memesona hingga Revalisha merasa seperti bermimpi tentangnya. Ia ragu, ia ingin mundur tapi suara detak jantung ibunya kembali terekam di memori otaknya, membuat gadis itu berusaha memantapkan pilihannya. "Ibu, aku merindukanmu." Revalisha berbisik lirih, menyebut nama ibunya dalam kalbu hingga rasa rindu itu tak mampu untuk dibendung. "Ibu, aku benar-benar merindukanmu." Revalisha kembali menarik napas, ia beranjak bangun lalu masuk ke dalam rumah guna mengambil ponsel. Kali ini ia akan menghubungi Om Setyo, satu-satunya saudara laki-laki Ibu yang tinggal di kampung. Hampir lima belas menit Revalisha menatap layar ponselnya dengan ragu. Ia bingung harus memulainya darimana, hanya saja berita ini cepat atau lambat haru segera disampaikan. Reva menarik napas, dengan tekat yakin ia segera menekan nomer ponsel pamannya dan— "Hallo, Reva, apa kabar? Lama kau tak memberi kabar?" Om Setyo menyapa dengan hangat, pria sederhana yang berprofesi sebagai pekebun yang gigih dan selalu ramah pada setiap orang. "Ba-baik Om, Om sendiri apa kabar?" Revalisha balik bertanya, wajahnya mendadak gugup saat membayangkan pria berjambang lebat itu dalam otaknya. "Tentu saja baik, kapan kau main kemari, kebun kakao Om berbuah banyak dan sedang panen." Om Setyo tertawa bangga dengan hasil kebunnya sendiri. "Iya Om, nanti kalau ada biaya saya balik ke ke Kalimantan." Reva hanya bisa berkata hingga kalimat itu, keberaniannya seakan terpendam begitu saja. "Ya, Om tunggu. Oh ya ada apa ini? Kenapa tiba-tiba menelpon Om? Apa kau punya keperluan sama Om?" Om Setyo balik bertanya, firasatnya mengatakan jika gadis berusia dua puluh dua tahun itu menelponnya tidak hanya untuk menanyakan kabar saja. "Begini Om, sebenarnya ada seseorang yang ingin—" Wajah Revalisha memucat, ia menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal dengan resah. "Ini Om, ada orang yang ingin—" "Ingin apa? Kenapa kelihatannya kau bingung sekali menyampaikannya?"Sikap asli Om Setyo mulai nampak, meskipun beliau orang ramah tapi beliau adalah pria yang kurang sabaran. "Ini Om, ada yang ingin melamar Reva, dia ingin bicara dengan Om." Revalisha mengatakannya dengan hati-hati, napasnya seolah tertahan hanya karena mengucapkan beberapa baris kata tersebut. Tak ada suara dari balik telepon, Revalisha mulai cemas oleh keadaan itu. Ia takut Om-nya tak setuju, terlebih dulu beliau pernah bilang bahwa Reva sebaiknya menikah dengan pemuda yang satu pulau saja. Selain tidak jauh, Reva bisa dekat dengan sanak keluarga. Namun tawa Om Setyo tiba-tiba meledak, mengagetkan Reva yang sudah berpikir macam-macam olehnya. "Ya sudah, biarkan dia bicara. Anak mana Reva?! Kebetulan akhir pekan Om mau terbang ke Jakarta mau jenguk kamu. Bilang sama pemuda yang mau meminang kamu tuh bahwa aku datang di akhir pekan dengan tantemu, Tante Nana." "Tante Nana mau ikut?" Revalisha tiba-tiba bertanya, ia menautkan alis tanpa sadar. "Ya, dia adik ketiga ibumu. Lagipula dia ingin bekerja di Jakarta, jadi sekalian kita berdua datang ke Jakarta." Om Setyo menjelaskan titik terangnya. Revalisha hanya manggut-manggut tanpa bersuara, perasaan kalut yang tadi melanda kini perlahan berubah menjadi sedikit reda. "Ya sudah Om, aku tunggu di rumah ya kedatangan Om. Jangan sampai nggak datang loh Om." Tawa Om Setyo kembali meledak, ia meledek ucapan Revalisha. "Iya, Iya, Om janji. Kenapa? Kamu takut kehilangan calon suami? Aduh, aduh, anak gadis Om ini yang udah mau dilamar." Wajah Revalisha merebak merah, ledekan Om Setyo rasanya seperti rujak meskipun terasa panas tapi membuat jantung sukses berdesir. "Apaan sih Om?! Aku kan cuma punya Om di sini." "Iya, nanti Om terbang ke Jakarta ya akhir pekan. Tunggu saja. Ya sudah Om mau balik berkebun nih, masih separuh hektar pohon kakao yang belum dipanen. Sampai jumpa Reva, baik-baik di sana ya." Om Setyo lalu mematikan sambungan telepon. Bunyi khas sambungan telepon sejenak menetramkan hati Revalisha. Setidaknya Om Setyo sudah mengetahui perihal ini, soal boleh atau tidaknya, Reva hanya menyerahkan sepenuhnya pada adik almarhumah ibunya tersebut. **** Ghani Mahendra tiba di rumah selepas magrib, wajah pria itu terlihat ambisius saat keluar dari mobil warna hitam milik ibunya. Bu Ratih yang tengah bersantai di teras depan seraya menyesap teh herbal kesukaannya hanya merasa heran ketika anak bujang tersebut tiba-tiba duduk di sampingnya dengan wajah serius. "Bu, nanti malam ke rumah Reva ya?!" Ketegangan di wajah Bu Ratih perlahan mengendur, kerutan di dahi beliau berubah menjadi senyuman tipis di bibir. "Ini sudah malam, Ghani." "Bu, aku serius. Kita bicara kapan hari dan tanggal yang pas untuk pernikahan." Ghani mendengkus, kini ia mengarahkan mata tajamnya ke arah sang ibunda. "Katanya Ibu pengen segera punya cucu." Bu Ratih terkekeh, dalam hati ia senang sekali karena putranya rupanya mengiyakan keinginannya untuk segera memiliki cucu. Wanita patuh baya itu membetulkan letak kaca matanya dan pura-pura meraih majalah yang terdapat di kolong meja. Ghani yang mendapati gelagat aneh dari ibunya lantas menyinggungnya. "Sudah, jangan pura-pura baca majalah. Orang lagi serius malah mau baca majalah." Bu Ratih kembali terkekeh saat putra semata wayangnya itu merampas majalah dari tangannya. "Kan masih ada hari esok. Kalo malam datang ke sana, aku kasihan bagaimana reaksi tetangga sebelah. Kasihan Reva, nanti dia diomongin yang enggak-enggak." Ghani memutar bola mata dengan kesal, mengalihkan tatap dari sang ibunda ke tanaman begonia yang berderet rapi di teras rumah. "Aku heran sama orang Indo, apa-apa diributin, apa-apa dibuat gosip. Kenapa sih gak bisa masa bodoh?! Lebih enakan tinggal di Singapura, mau apapun bebas. Biar aja nanti setelah menikah, Reva mau aku ajak kesana. Di sini banyak orang penasaran." Bu Ratih menahan senyum geli, ia menggeleng pelan tanpa berkomentar lagi. Kesunyian malam itu tiba-tiba terpecahkan saat ada sebuah panggilan di ponsel Bu Ratih. Wanita itu segera melihat ponselnya yang tergeletak di meja dengan rasa penasaran. Ghani yang sama mendapati nama Revalisha segera mengambil ponsel tersebut lalu mematikan sambungan teleponnya, hal ini membuat Bu Ratih merasa heran. "Loh kok dimatikan?" "Aku mau videocall dia aja, ngapain sih pakai telepon? Videocall aja bisa 'kan?!" Ghani mengomel, ia lantas memanggil ulang Revalisha dengan video call. Hal ini membuat Bu Ratih hanya bisa menggeleng heran pada putranya lalu melanjutkan aktifitasnya menikmati teh herbal. Reva yang menelpon sempat kaget karena tak biasanya Bu Ratih mereject panggilannya. Ia pun semakin kaget saat Bu Ratih balik menelpon dan kini memakai videocall. Walau ragu, Revalisha mengangkat panggilan tersebut. "Hai Reva, ada apa? Kenapa telepon ke nomer Ibu? Kalau ada apa-apa, kamu bisa 'kan langsung telepon ke nomer aku?!" Wajah Ghani terlihat di layar ponsel, wajahnya terlihat kurang bersahabat membuat Revalisha mendadak canggung. Inikah maksud dari Bu Ratih melakukan videocall padahal biasanya tidak?! Hem, rupanya ponsel sang bos sedang dibajak putranya. "Maaf Tuan, saya ingin bicara dengan Bu Ratih." Revalisha berkata lirih, ia tidak ingin menyinggung atau membuat panas lagi suasana malam itu di videocall. "Sama aku aja. Ada apa?" Ghani terlihat tak sabaran, nada suaranya yang galak membuat Bu Ratih berkali-kali menoleh ke arah putranya sambil geleng-geleng kepala dam terkadang harus menahan senyum geli. Revalisha tertunduk, wajahnya mendadak masam. Bagaimana ia harus menyampaikan berita ini pada Ghani padahal pemuda itu sudah ngotot ingin berkunjung malam ini. "Kenapa diam? Kenapa nunduk? Ayo lihat mataku kalau bicara," Ghani merasa gemas, meskipun begitu ia merasa kesulitan untuk mengontrol nada bicaranya yang telanjur kaku. "Tuan, Om saya akan datang ke Jakarta akhir pekan jadi—main ke rumahnya sama bahas hari pernikahannya akhir pekan saja ya. Tolong bilang sama Bu Ratih ya kalau lamarannya—" "Iya," Ghani menyahut, ia menoleh sejenak ke arah Bu Ratih. "Ibu sudah denger kok. Ya sudah, akhir pekan aku kesitu sama Ibu ya. Jangan bohong, awas kalau bohong. Ya sudah, aku tutup videocall-nya." Ghani lalu mematikan sambungan videocall, meletakkan ponsel dengan wajah kurang berkenan. Bu Ratih menggeleng saat mendapati putranya menggosok-gosok dahi dengan kesal. "Ya sudah tunggu saja akhir pekan. Masih ada tiga hari lagi, kamu bisa gunakan waktumu sebaik mungkin. Jangan terburu-buru." Bu Ratih mulai memberikan siraman rohani, berharap putranya yang tak pernah terlihat berpacaran itu bersikap sabar dan yakin. Ghani hanya mengangguk, ia beranjak berdiri lalu masuk ke dalam rumah. "Aku mau mandi dulu, Bu. Nanti kalo Reva telepon, bilang aku mandi." Ghani mengucapkannya sambil berlalu masuk ke dalam rumah. Bu Ratih menggeleng lagi seraya meraih cangkir tehnya. Wanita itu meniup asap teh herbal yang wangi sambil bergumam lirih, "Siapa juga yang mau nelpon orang kaku sepertimu. Jangankan telepon, bayangin kamu aja udah ketakutan. Ghani .... Ghani...." ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN