****
Lamaran yang diajukan Ghani Mahendra telah mendapatkan jawaban. Pemuda itu harus menunggu hingga Om Setyo, Paman dari Revalisha datang dari kampung. Meskipun terasa lama tapi Ghani berusaha bersabar toh semua ini adalah keinginan ibu tercintanya. Ia tidak bisa menolak apapun yang dipinta oleh surganya tersebut.
Sembari menunggu akhir pekan tiba, Ghani rela harus pulang pergi Jakarta-Singapura untuk menuntaskan segala urusan dan pekerjaan yang tertunda. Meski lelah, Ghani rela melakukannya sekali lagi demi sang ibunda yang saat ini sedang mabuk ingin memiliki menantu.
Sinar matahari yang panas tidak hanya sekali dua kali menyinari kota tersebut, Revalisha memutuskan untuk makan siang bersama Beno kali ini tanpa adanya Wati. Teman perempuannya tersebut masih ada pekerjaan tambahan yang membuatnya harus istirahat lebih lambat dari jam biasanya.
Reva dan Beno berjalan beriringan menuju ke warung makan sebelah Florist tempat mereka bekerja, warung makan itu selain menyediakan makanan lengkap, harga yang dibanderol pun lumayan cocok dengan kantong para pekerja florist.
Setelah menemukan tempat duduk yang nyaman, keduanya lantas memesan makan siang seperti biasa. Kali ini suasana sedikit canggung, ada raut wajah berbeda dari Beno saat ia menatap Reva. Ya, sebagai seorang fans sejati Reva, Beno tentu saja menyimpan kekecewaan yang mendalam di hati ketika tahu gadis pujaannya telah dilamar oleh anak bos mereka yang tinggal di Singapura.
Revalisha yang menyadari kekakuan itu segera menatap Beno, ia sejenak terkejut saat mendapati pemuda itu menatapnya dengan serius. "Hei, ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?"
Beno menyudahi tatapannya, pria itu mengalihkan pandangan ke arah para pengunjung warung makan yang terlihat ramai dan tengah menyantap pesanan mereka. "Hari ini aku yang bayar, kamu makan aja apa yang kamu mau."
"Beneran Ben?" Revalisha berbinar, kebetulan sekali ia sedang tidak memiliki uang lebih. Tanggal tua sudah seharusnya ia memperlakukan uang dengan lebih irit lagi.
"Iya, pesan saja. Kemarin ada tambahan dari hasil lukisan aku yang terjual," ujar Beno dengan mimik wajah ceria. Sebisa mungkin pria itu menutupi perasaannya, dimana ia harus merelakan pujaan hati perlahan disunting orang dan sah bakal menjadi bosnya kelak.
"Udah ah, aku udah pesan. Makan banyak-banyak bikin gemuk," seloroh Revalisha lalu terkekeh. Obrolan mereka terjeda saat pelayan warung datang membawakan pesanan makanan mereka. Kini seporsi gado-gado dan nasi rames telah tersaji di atas meja.
Keduanya mulai sibuk dengan isi piring masing-masing, berbeda dari sebelumnya, Beno terlihat tak berselera siang itu. "Rev, kamu beneran mau nikah sama Tuan Ghani?"
"Kenapa Ben? Aku malas bahasnya," ujar Revalisha terlihat tak berkenan, ia mencoba menyendok gado-gado yang ia pesan.
"Ya, cuma mastiin aja." Lagi-lagi Beno mencoba menutupi perasaannya, berpura-pura fokus dengan nasi rames yang ia pesan.
"Aku tidak yakin dengan pilihanku Ben," tutur Revalisha lirih, ia menatap Beno sejenak.
"Kalo tidak yakin kenapa harus diterima?" Beno menautkan alis, merasa heran dengan jawaban Reva. Pria itu mengurungkan niatnya menyendok nasi dan terpaku pada sosok Reva yang masih sibuk mengunyah gado-gadonya.
"Gimana ya, di dalam tubuh Ghani itu ada jantung ibu aku, Ben. Setiap kali lihat Ghani, aku jadi teringat sama almarhumah ibu aku. Kamu tahu 'kan sesayang apa aku sama ibu?!" Revalisha berkata setelah menelan makanannya. Ia lalu meraih es teh yang disajikan di hadapannya dan menyedotnya perlahan. "Aku merasa ini adalah kesempatan aku untuk terus berdekatan dengan jantung ibuku. Ben, kamu tahu kan rasanya kesepian? Selama ini aku hanya tinggal sama ibu aku, kehilangan beliau beberapa waktu yang lalu benar-benar membuatku terguncang."
"Iya, aku tahu perasaanmu tapi kamu tidak harus bersedia menjadi istrinya dan menjadi pendampingnya. Apalagi perasaan kamu sama dia masih putih abu-abu," nasehat Beno sembari menatap Reva dengan serius. Keduanya terdiam sejenak hingga akhirnya Beno memberanikan diri untuk menyentuh tangan Reva perlahan. "Aku nggak mau keputusanmu yang singkat ini menjadi penyesalan yang panjang suatu saat nanti, Rev. Aku mencoba berani bilang bilang gini ke kamu karena semata-mata aku sayang sama kamu Rev. Sebagai seorang teman, aku hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik."
Reva balas menatap Beno, ia mencoba menelisik apa yang dipikirkan pria berambut ikal di hadapannya tersebut. Perlahan wanita itu tersenyum lalu mengangguk, "Ya, aku tahu kekhawatiranmu. Jangan cemas, aku sudah dewasa, aku pasti bisa menghadapi masalahku sendirian."
Gadis itu kembali menatap piringnya, melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda karena perbincangan serius mereka. Saat Reva tengah menyantap gado-gadonya kembali, ponselnya berdering. Alunan musik yang terdengar membuat Reva dan Beno saling berpandangan sejenak.
"Siapa?" Beno penasaran, pasalnya selama ini tak pernah ada yang menghubungi Reva pada saat jam istirahat siang.
Wajah Revalisha sedikit masam, ia menjawab lirih seraya meraih ponsel androidnya guna mengangkat panggilan. "Ghani."
Mendapat jawaban tersebut, Beno hanya memutar bola mata dengan kesal. Ia kembali menyendok makanannya dengan perasaan meluap kesal. Revalisha lantas mengangkat panggilan videocall tersebut. "I-iya Tuan Ghani."
"Kamu sedang apa?" tanya Ghani serius. Wajah pemuda itu terlihat jelas di layar ponsel, ia nampak duduk di suatu tempat yang berlatar belakang beberapa rak buku dan dokumen. Revalisha bisa menyimpulkan jika saat ini anak bosnya tersebut tengah berada di kantornya di Singapura.
"Saya sedang makan siang Tuan," jawab Revalisha pelan. Gadis itu melirik kanan dan kiri, merasa risih karena beberapa orang yang tengah berkunjung di warung makan itu menoleh ke arahnya karena suara Ghani yang terdengar begitu mengintimidasi.
"Makan apa? Sama siapa?" Ghani melanjutkan introgasinya tanpa menatap Reva, sesekali ia menatap ke arah lain yang Reva duga mungkin sebuah laptop atau layar PC.
"Gado-gado Tuan, saya makan sama teman kerja." Revalisha menjawab lagi, wajahnya mulai tertekan akibat pertanyaan yang dilontarkan pria tersebut.
Ghani yang mendengar Reva tengah makan siang bersama temannya sejenak menghentikan aktifitas, ia menatap Revalisha di layar ponsel dengan penuh perhatian. "Coba lihat siapa teman kamu, aku pengen tahu!"
Revalisha tertahan, ia menoleh ke arah Beno dengan wajah segan. Kurang ajar gak sih kelakuan Ghani saat ini? Untung aja dia anak bos, coba kalo temen sendiri bakal dijitak itu kepala!
"Ayo, coba lihat!" Ghani terus mendesak, membuat Reva tak punya pilihan selain menggeser layar ponselnya dan memperlihatkan Beno yang tengah melahap nasi ramesnya dengan cepat dan kesal. Melihat Beno seperti itu, Reva mendadak tidak enak hati dengan temannya tersebut. Ia buru-buru mengalihkan videocall ke arah dirinya lagi. "Tuan, sebentar lagi jam istirahat habis. Saya harus menghabiskan makanan saya."
Mata Ghani yang melihat Reva tengah makan dengan pria lain mendadak panas, ia kesal bukan main dan mendadak wajahnya berubah jadi masam. "Lain kali aku akan minta Ibu buat bawakan makanan dari rumah buat kamu. Jangan makan sembarangan di luar, kalo perlu kamu makan aja bareng sama Ibu."
"Maksudnya—apa ya?" Revalisha pura-pura bodoh.
"Maksudnya apa, maksudnya apa?! Itu tandanya aku nggak ngebolehin kamu makan sama orang lain apalagi sama cowok. Paham kamu?" Ghani mencoba menunjukkan perasaan kesalnya pada Reva. Gadis itu hanya terbengong, tak tahu harus bersikap gimana. Gemasnya lagi, Reva tidak berkata apapun setelah Ghani bersusah payah menunjukkan perhatiannya. Hal ini membuat Ghani kembali meradang, "Kok diem? Kamu gak setuju aku ngomong gitu? Iya?!"
"Eng-enggak kok Tuan. Iya, saya ngerti maksud Tuan." Revalisha berusaha menahan sabar, ia tidak bisa sembarangan marah dengan pria itu terlebih dia adalah anak bos dimana ia bekerja saat ini.
"Baguslah, kamu harus janji. Dan mulai sekarang aku mau minta agar Ibu mau pantau kamu setiap saat." Ghani kembali mengumbar kata-kata intimidasinya. "Ya udah kalo gitu, kamu lanjut makan aja. Akhir pekan aku baru pulang, inget kasih kabar aku kalo paman kamu sudah tiba di Jakarta."
Ghani lantas memutus videocall sesuka hatinya, bersamaan dengan itu Beno sedikit membanting sendoknya di piring. "Itukah pria yang bakal jadi suami kamu Rev? Ya Tuhan, Demi Dewa Paus, kamu yakin bisa bahagia dengan pria seperti itu? Dia terlalu posesif sama kamu Rev. Kalo kamu terusin, kamu bakal terkekang."
Revalisha tertunduk, kembali bingung dengan apa yang kini dipikirkannya. Beno menggeleng, ia segera menghabiskan nasinya lalu beranjak berdiri menuju ke kasir warung makan. "Ben, maafkan Ghani ya."
Sayangnya Beno telanjur pergi dengan kekesalannya, pria berambut ikal membayar semua tagihan lalu pergi begitu saja meninggalkan Reva dengan perasaan kesal. Dalam hati kecilnya, Beno hanya berharap jika Reva bakal mendapatkan pencerahan dari apa yang menjadi pilihannya saat ini. Semoga saja.
****
Ghani menggelengkan kepala, ia merasa tidak tenang semenjak melihat Revalisha makan siang dengan teman prianya tersebut. Ia khawatir kalau pernikahan gagal ditengah jalan dan ia tidak bisa membahagiakan ibunya. Saat ini ia hanya berkomitmen ingin melihat ibunya tersenyum bahagia dan panjang umur.
Tak ingin perasaannya berubah menjadi perasaan yang ngelantur, Ghani lantas menelpon ibunya di Jakarta. Pria tampan dengan postur tubuh proposional itu membuat laporan mengenai perasaannya yang tidak nyaman pada sang ibu.
"Ghani, ada apa?" Bu Ratih bersuara ketika panggilan berhasil ia terima. Wanita paruh baya itu melepas kaca mata tebal yang ia pakai lalu memusatkan perhatian pada panggilan yang Ghani buat.
"Bu, besok suruh pembantu kita agar buat bekal makanan untuk Reva." Ghani berkata tanpa basa-basi, hal ini membuat Bu Ratih mengerutkan dahi.
"Kenapa memangnya, Ghani?" Bu Ratih semakin tak mengerti. Ia menyandarkan punggung, mencoba menelaah ucapan Ghani dengan perhatian penuh.
"Reva makan diluar sama temen prianya, aku nggak suka." Ghani lagi-lagi to the point, tak suka bertele-tele ketika mengungkapkan perasaannya.
Perlahan Bu Ratih menyunggingkan senyum, kini ia tahu alasan kenapa Ghani memintanya untuk menyiapkan bekal untuk Reva. "Maksud kamu Beno ya? Mereka 'kan teman akrab sedari dulu, Ghan?!"
"Terserahlah, pokoknya aku nggak suka kalo Reva kumpul sama pria itu." Ghani memutuskan dengan mimik wajah cemberut.
Bu Ratih terkekeh, ia menggeleng tak mengerti dengan perasaan Ghani sekarang. "Hemm, anak Ibu ini. Kamu cemburu ya lihat Reva sama Beno barengan?"
Ghani membelalakkan mata, tak percaya jika ibunya sampai menebaknya seperti itu. "Apaan sih Bu? Aku 'kan berusaha untuk menjaga calon mantu Ibu. Memangnya Ibu mau ya kalo sampai Revalisha jadi mantunya orang lain?!"
Ghani berkelit, wajahnya memerah karena tebakan jitu sang bunda. Bu Ratih lagi-lagi kembali terkekeh, "Ghani, Ghani, kamu ini apa-apaan sih?! Ya jelas Ibu gak mau dong kalo calon mantu Ibu lepas. Tapi Ibu juga gak mau Reva berpikiran kamu terlalu posesif sama dia terus dia jadi kesel sama kamu. Sebaiknya untuk saat ini jangan cemburuan banget deh, Ghan. Mereka cuma temenan kok dan Ibu bisa jamin itu. Ghani, gak usah cemburu-cemburuan deh apalagi kamu 'kan belum resmi jadi suaminya Reva. Demi kebaikan kamu, tahan dulu ya cemburunya sampai akhir pekan. Kan akhir pekan kamu bisa langsung lamar Reva sama pamannya?!"
"Iya, Bu tapi—"
"Gak usah tapi-tapian, percaya deh sama Ibu. Semuanya pasti baik-baik saja." Bu Ratih tersenyum, mencoba meyakinkan putra semata wayangnya. "Ibu yakin kalian pasti akan bersatu pada suatu hari nanti. Sabar ya Ghan, orang sabar barangnya gedhe."
"Eh, apaan sih Bu?!" Ghani mencuramkan alis, menyusul gelak tawa ibunya. Wajah Ghani memerah, ia tidak tahan dengan godaan ibunya lantas mematikan sambungan telepon.
Ghani menarik napas panjang, memikirkan kembali sikapnya yang seperti kekanak-kanakan. Perlahan ia tersenyum kecil, benarkah ia cemburu pada pemuda yang bahkan tidak sebanding dengannya? Ah, tidak.
Ghani hanya ingin ibunya bahagia, tidak lebih. Jadi, ia hanya berpikir bahwa ia hanya perhatian dan bukan suka pada Reva. Ya, hanya sebatas itu. Tapi, benarkah seperti itu?
****
Reader Ghani-Reva, apa sih yang akan kalian lakukan kalo punya pasangan macam Ghani ini? Nyebelin kan kalo kerjanya ngatur-ngatur doang?!
Yuk, kemukakan komentar kamu di kolom komentar ya?! Jangan lupa tap love-nya.
Terima kasih.