77

1792 Kata
Setelah selesai makan malam Amber bersiap siap untuk memberskan meja makan. Tapi Arthur melarangnya. “ biarkan pelayan yang mengurusnya Amber. Kau siap2 untuk pulang saja. Sudah terlalu malam sekarang. “ ucap Arthur “ kau besok masuk kan Amber? Mrs Axton bertanya. “ yes Ma’am aku pasti masuk. Kalau aku tidak masuk nanti anda merindukanku…” Amber berkata sambil bergurau mrs Axton hanya tersenyum sinis mendengar gurauan Amber. “ yang jelas aku kerepotan kalau kau tidak ada Amber. Dan kau Arthur kau tidak boleh meminta cutinya Amber seenak jidatmu lagi. Apalagi kalau kau berikan pengganti orang sebodoh tadi itu, bisa mati jantungan aku nanti” mrs Axton melanjutkan mengomeli Arthur. “ yes siap boss… aku tidak akan pernah menculik sekretaris kesayanganmu lagi nanti” Arthur menjawab dengan berkelakar “ baiklah mrs Axton, aku pamit pulang dulu. Sampai bertemu besok siang. “ kenapa siang? Kau kan sudah cuti hari ini” mrs Axton protes “ sesuai perjanjian kita Ma’am, setiap rabu saya masuk siang. Karena saya ada keperluan setiap rabu pagi” Amber menjawab sambil tersenyum hal ini sudah biasa untuk Amber, setiap selasa sebelum pulang dari rumah mrs Axton pasti dia berkeras dulu agar Amber tidak masuk siang di hari rabu. “ ah terserah kau lah amber” jawab mrs Axton. Amber tau dia telah menang. Maka dia buru- buru pamit kepada nyonya Axton. Arthur bangkit dan mengantarnya sampai ke pintu depan. “ Amber, jangan masukkan ke hati omongan ibu ya? Dia memang orang yang selalu sinis kepada siapapun.” ucap Arthur “ Yeah Arthur tenang saja. Aku kan bukan baru mengenal dia. Tidak usah kau pikirkan. Aku sudah kebal.” Jawab Amber sambil terkekeh “ baiklah Amber. Kamu hati- hati dijalan ya… Aku sunggu berharap kamu akan menginap.” Arthur memasang wajah sedih “Heiii tidak ada perjanjian inap menginap disini.” Jawab Amber tegas “ ya aku tau, tapi siapa tau kamu berubah pikiran Amber” jawab Arthur masih berusaha membujuk Amber “ tidak akan Arth… tidak akan dan todak akan pernah sekalipun aku berubah pikiran.” Amber menjawab masih dengan nada tegas “ Allrite, allrite takecare then… text me when you arrived home okay?” Arthur berkata lagi “ okay Arthur… bye” ucap Amber. Arthur mengecup pipi kanan dan kiri Amber, kemudian dia membukakan pintu tengah mobilnya untuk Amber. Amber masuk dan duduk dengan tenang. “ pasang sabuk pengamanmu Amber.” Arthur memperingatkan “ yeah sure… bye Arthur. Thank you for today” ucap Amber Arthur menutup pintu mobil. Mobil melaju meninggalkan Arthur yang masih berdiri mematung disana. Tak lama Arthur sadar ibunya masih didalam menunggunya. Arthur buru- buru masuk ke dalam agar ibunya tidak mengomel. Arthur melangkah melewati foyer dan langsung ke ruang keluarga. Dia menemukan ibunya sudah pindah dari ruang makan dan duduk di sofa ruang keluarga. “ apakah dia ratu? Sampai kau membiarkan aku menunggu terlalu lama? “ tanya ibunya sinis “ Mom, jangan terlalu keras pada Amber. Sejauh ini dia lah sekretaris yang paling kompeten kalau dibandingkan sekretaris mu lainnya” Arthur membela Amber “ Apakah cinta sudah membutakanmu Arthur? “ tanya ibunya lagi “ bukan begitu mom, kejadian hari ini saja sidah membuktikan bahwa ibu butuh dia kan? “ arthur meniawab lagi “ ah kamu benar- benar mabuk kepayang Arth… jadi bagaimana gadis yang satunya lagi? Apakah kau akan melupakannya?” Tanya mrs axtin lagi “ aku belum berpikir ke arah sana mom. Saat ini aku hanua fokus ke persidangan. Tidak terpikirkan mengenai kedia wanita itu akan bagaimana” jawab Arthur lagi “ dasar kau playboy persis ayahmu” mes Axton berkata dengan nada penuh kebencian “ ah mom jangan begitu. Dad adalah orang yang pling ku hormati selain mom” arthur membela ayahnya “ kenapa kau selalu membelanya? Padahal dia selalu menyiksaku. Bahkan ketika dia sudah di alam kubur pun dia masih menyiksaku” air mata mrs axton tiba- tiba tumpah. “ mom whats wrong??” Tanya Arthur “ sebenarnya apa yang ingin kau ceritakan sampai malam malam pun kau sempatkan kesini. “ lanjut Arthur lagi. “ kau tau? Selama beberapa hari terakhir ini ada orang yang menerorku” jawab mrs axton “ Apa maksudmi meneror mom?” Tanya Arthur kaget “ selama beberapa hari ini aku kerap menerima telepon dan surat kaleng” mrs Axton melanjutkan “ telepon bagaimana mom?” Tanya Arthur dengan nada masih terkejut “ ada telpon yang masuk ke handphoe ku dan ke telp kantor. Hapir setiap 3jam sekali, Dia menelpon.” Jawab mrs axton lahi “ apa yang dia katakan mom?” Tanya Arthur “ dia bilang ayahmu masih hidup dan skrg sedang bersama pacar mudanya dan liam anak kesayangannya. Dia bilang akan memberitakukan wartawan agar berita ini tersebar dan menghancurkan perusahaanmu” lanjut mrs axton lagi “ apa yang dia minta mom?” Tanya arthur “ dia meminta uang tunai dan saham di perusahaanmu. Juga dia meminta salah satu perusahaanmu” jawab mrs Axton lagi “ cih dasar b******n tamak. Abaikan saja mom. Dia tidak punya bukti. Biarkan dia melaporkan ke wartawan. Dia tidak akan bisa meruntuhkan aku “ jawab Arthur “ tapi dia mengirim foto foto Arth” mrs axton berkata gelisah “ foto apa yang dia punya? Ibu membawanya?” Arthur bertanta lagi “ yeah.. sebentar” mrs Axton mengambil beberapa lembar foto dari dalam tasnya. Tampak didalam foto itu seorang pria yaitu mr Axton yang sedang memangku anak kecil laki laki dimana anak itu bukan lah arthur. Kemudia difoto foto yang lain tampak seorang pria yang mirip dengan mr Axton sedang berpelukan dengan seorang wanita, dan Mr Axton yang sedang memeluk anak laki laki yg bukan Arthur juga. Arthur tersenyum melihat foto ini. “Sudah tenang saia mom, ini foto lama, dan ini adalah editan. Bukan ayah yng sebenernya ada di dalam foto itu. Itu orang lain yang mirip sama wajah ayah di tempelkan ke foto itu. “ arthur menjawab dengan nada lega “ benarkah begitu?” Tanya mrs qzton ragu ragu “ yes mom, lagipula kita sudah memastokan memakamoan ayah pada waktu itu. Apakah ibu lupa. Aku yang menurunkan peti jenazahmya” jawab arthur lagi “ tapi bagaimana kalau dia benar benar belum mati arthur? Bagaimana kalau dia ternyata membuat perjanjian dengan orang lain utk membongkar makamnya setelah kita pulang?” Tqnya mrs axton was was “ mom kalaupun ayah masih hidup dia tidak akan terlihat semuda ini. Pasti dia sudah jauh dan jauh lebih tua daripada foto ini Umurnya sudah berapa sekrang? 80? Umur 80 tidak mungkin akan berfoto segagah ini mom…” jawab arthur santai “Iya juga ya.. analosa kqmu benar juga arth… “ ibunya mengakui “Dan lagi mom, Liam tidak mungkin skrg masih jd anak kecil umur 5 tahun itu kan. Pasti dia sekrang sudah dewasa atau remaja paling tidak” arthur tersenyum sambil menggenggam tangan ibunya “ Arth… apakah menurutmu ini adalah perbuatan Liam dan si perempuan murahan itu?” tanya mrs axton “ aku belum bisa mengatakan apapun mom, yang terbaik sekrang adalah kita cari Liam saja. Kita amankan dia agar tidak terlibat dengan prang- prang macam ini. Lagipula dia berhak atas harta warisan ayah mom.” Jawab arthur bijaksana “ tidak Arth… aku tidak sudi kau memeberikan dia separuh harta ayahmu. Itu bukan milik dia. Ini semuanya adalah milikmu. Aku tidak rela kau membagikannya. “ tiba- tiba mrs axton beeteriak histeris. “ Mom, todak perlu histeris. Kita pikirkan nanti berapa yang akan kita berikan kepada Liam. Sekarang yang terpenting adalah menemukan liam. Agar tidak terjadi hal hal seperti ini lagi dimasa depan.” Tutur Arthur “Aku tidak sudi melihat wajahnya Arth… dia hanya akan mengingatkanku akan si perempuan murahan itu.” Mrs Axton menangis sejadi jadinya “Mom tenangkan dirimu. Mereka sudah tidak ada didalam hidup kita. Sekarang hanya ada kita berdua kita harus menata masa depan kita. Dan untuk menghindari semua kejadian ini, kita harus menarik liam menjadi salah satu orang kita. Tidak bisa ditawar lagi mom. Dia harus masuk ke perusahaan kita dan kekeluarga kita. “Arthur menjawab tegas “ Tidak arthur… aku tidak akan membiarkanmu membawa anak sialan itu kerumah kita. Itu tidak akan pernah terjadi. “ mrs axton masih bersikeras. “Mom, sepertinya mom harus beristirahat dulu malam ini. Mom pasti sangat lelah. “ arthur menutup sdiskusi. Karena percuma menentang mrs Axton. Pasti dia tidak akan mau kalah. Mrs Axton masih menangis. Arthur mengambol tissue untuk diberikan kepada Mrs Axton “Apakah mom mau menginap disini atau mau pulang?” Tanya Arthur “Arth… oba kamu pikirkan pagi tentang mencari Liam. Biarkanlah dia sendirian diluar sana.enih baik kita tidak saling mengenal. Daripada nanti jadi gunjingan orang.” Mrs axton masih menangis “ mom aku akan memikirkannya malam ini, apakah ini ide yang baik atau tidak.” Jawab Arthur singkat “Baiklah… aku akan tenang kalau begitu. “ jawab mrs axton lagi “ iya mom… lebih baiksekarang ibu tidur saja. Mom mau menginap atau mau pulang? “ Arthur bertanya untuk kesekian kalinya “Aku akan menginap” jawab mrs axton “ okay mom, emmaaa…. Emmaaa” arthur memanggil pelayannya Seorang pelayan datang tergopoh gopoh. “ kamar nyonya selalu dibersihkan kan?” Tanya Arthur lagi “ iya tuan Arthur. Tiap hari sy bersihkan. “ jawab emma “ oke kamu antar kan nyonya kekamarnya ya. “ arthur memberi perintah “ baik tuan” jawab emma “Mom aku mau mandi dulu. Mom kekamar dulu di temani emma, nanti aku akan kekamar mom setelah aku selesai mandi okay?” Arthur berkata dengan lembut kepda mrs axton “ baiklah.” Jawab mrs axton singkat “ emma siapkan s**u panas untuk nyonya sebelum tidur. “ perintah Arthur lg kepada emma “Baik tuan.. “ jawab emma “ mari nyonya, kita kekamar anda..” emma mengajak mrs axton. Mrs axton bangkit dari sofa dan beralan mengikuti emma menuju kamarnya. Arthur pun turut melangkah berjalan menuju lantai 2, kamar Arthur ada di lantai 2, dia masuk kamar dan mencari hanphone nya. Dia menekan nomor seseorang. Terdengar bunyi nada sambung. Tuuutt…. Tuuutt… tuuutt…. Pada derin ketiga terdengar sara wanita dari seberang sana Amber : Hallo Arthur : Kau sudah sampai dirumah? Amber : Yes sudah Arthur : Sampai jam berapa? Kenapa belum mengabariku? Amber : Aku baru saja membuka pintu Apartemenku Arth.. kenapa kamu posesif sekali? Arthur : Ha.. ha.. Tidak, aku hanya merindukanmu.. Amber : kita baru berpisah satu jam Arth. Kamu memang posesif. Arthur : Tidak Amber. Rindu ini menggila Amber : Ah aku mau mandi dulu, aku gerah sekali. Aku tutup telponnya ya. Bye! Klik, bunyi telepon terputus. Amber memutuskan teleponnya bahkan sebelum Arthur mengucapan bye juga. “ dia selalu saja seenaknya. Dasar wanita dingin!” Gumam Arthur sambil tertawa kepada dirinya sendiri. Bersambung ke chapter selanjutnya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN