Liam terbangun dari keresahan mimpinya, dia berusaha mengingat-ngingat mimpi tersebut. Siapa orang itu. Tugas apa yang dimaksud, Apa yang harus dia lakukan? Hal itu terbayang-bayang dibenak Liam. Mimpinya sangat nyata, seolah-olah orang itu benar-benar hadir. Tapi di satu sisi mimpi itu juga sangat aneh. Orang tersebut terasa sangat jauh, sehingga tidak bisa di raih, tapi juga terasa sangat dekat, sehingga aura sejuknya masih terasa di kulit Liam. Hati Liam menghangat, seolah-olah ada rindu yang mengalir didalam hatinya. Rindu yang sangat besar, entah untuk siapa itu. Liam keluar dari sleeping Bagnya. Dia duduk diatas sofa. Pandangannya merenung, dia memikirkan seseorang. apakah itu Dad? Atau Mom? Pikir Liam masih mencari-cari jawaban. Dia memutar otak mencari bayangan ayahnya di masa lalu. Tapi dia tidak bisa mengingat apapun. Semburat wajah sang ayahpun tidak pernah hadir di bayangan Liam. Kemudian dia menggali memorynya lagi untuk menemukan ibunya. Dia ingat ibunya perempuani ceria berambut coklat tanah, matanya teduh berwarna keemasan. Senyumnya indah bagaikan malaikat. Dia adalah penyembuh segala sakit liam. Tenggorokan Liam tercekat mengingat bayangan ibunya. Kesedihan dihati Liam karena kehilangan ibunya tidak pernah pergi. Luka itu menetap selamanya di kalbuku mom pikir Liam getir.
Liam tidak mau terlarut dalam kesedihan. Hari sudah menjelang pagi. Matahari diufuk timur udah menampakkan wajahnya dengan malu-malu. Sudah saatnya aku membantu Angel pikir Liam lagi. Dia mengambil ranselnya, mengeluarkan sikat gigi, sabun, shampoo, handuk dan kerokan jenggotnya. Liam segera masuk kamar mandi membawa peralatannya. Liam agak lama berada dikamar mandi. Dia membersihkan jenggot dan kumisnya yang sudah mulai agak panjang. Mencuci muka dengan sabun muka, kemudian menyikat giginya, selanjutnya dia mandi dan keramas. Air dikamar mandi ini juga dilengkapi heater. Walaupun kamar mandinya terletak didalam garasi, namun ini adalah tempat ayah Angel bersantai mengurus hobinya. Makanya fasilitas didalamnya lengkap. Setelah selesai membasuh tubuhnya, Liam segera keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian yang bersih. Setiap seminggu sekali, Liam membawa pakaian kotornya ke Laundry koin yang terletak di ujung jalan. Biasanya disitulah Liam menumpang mandi sebelum dia mencuci bajunya. Baju bersih yang dipakai Liam berbau pengharum pakaian khas laundry. Dia juga mengganti celananya dengan celana yang baru dipakai. Digarasi Angel sebenarnya ada mesin cuci, tapi Liam tidak mau menyentuhnya. Dia lebih nyaman mencuci bajunya di Laundry.
Liam membuka pintu garasi dan segera berjalan kearah halaman depan rumah yang berfungsi sebagai toko roti dan kopi itu. Sambil berjalan, Liam mengangkat sampah yang ada dihalaman dan membawanya ke tempat pembuangan sampah dipinggir jalan. Hal-hal kecil seperti ini yang dilakukan Liam, sangat berarti untuk Angel. Dengan kehadiran Liam dia tidak perlu lagi mengangkat sampah restorannya yang sangat banyak itu setiap pagi. Sampai di halaman toko, Liam mengambil sapu lidi dan menyapu daun-daun kering yang gugur dari pohon yang terletak disepanjang jalan menuju toko. Halaman depan toko roti ini jadi bersih semenjak adanya Liam. Angel dan keluarganya tidak sempat lagi menyapu halaman, karena kesibukan mereka mengurus restorannya. Mereka hanya memasrahkan kebersihan jalan kepada para penyapu jalanan dari dinas social kota London yang mana datang seminggu sekali. Liam melihat didalam toko Angel sudah sibuk dengan kegiatannya. Setelah selesai menyapu, Liam segera masuk kedalam toko untuk membantu Angel
“Good Morning Miss Angel” ucap Liam sopan
“Hai Liam,, good morning” jawab Angel sambil tersenyum. Angel agak kaget melihat penampilan Liam yang lebih bersih hari ini, karena telah menyukur semua rambut di wajahnya. Walaupun seorang tunawisma, tapi penampilan Liam tidak terlihat sedikitpun. Dengan tinggi badan 190 Cm lebih, kulit pucat, rambut berwarna coklat gelap, dan pupil mata berwarna keemasan. mukanya tampan, sehingga sering membuat Angel terpana. “Tidurmu nyenyak tadi malam?” Tanya Angel menutupi keterpesonaannya
“Yeah… bisa dibilang seperti itu” jawab Liam sambil membantu Angel menurunkan kursi dari atas meja. “kamu habis shaving? “ Tanya Angel lagi
“iya, aku merasa gatal jika bulu-bulu janggutku sudah mulai panjang” Jawab Liam lagi.
“yeah its good for you, You look so nice “ Angel menjawab tulus. Angel memalingkan mukanya agar Liam tidak bisa melihat bahwa dia tersipu.
“Thank you miss Angel” Liam menjawab dengan nada datar tanpa ekspresi apa-apa.
Kemudian Liam mengambil kain lap dan mulai mengelap meja, etalase dan box-box yang akan diisi oleh Angel. Angel kebelakang untuk mengambil roti dari oven pengering. Kemudian setelah dia mengisi roti-roti tersebut kedalam Nampan. Liam datang mengangkat nampannya membawa ke depan untuk diletakkan di etalase. Liam menyusun roti tersebut satu persatu sesuai jenis masing-masing. Croissant di nampan croissant, butter di nampan butter, Danish di nampan Danish dan sebagainya. Liam sering takjub melihat Angel bisa memanggang Roti sebanyak ini di waktu pagi hari. Menurut dia Angel dan keluarganya luar biasa. Angel datang lagi membawa nampan yang baru diisi roti dan mengambil nampan kosong dari tangan Liam. Ketika dia berhadapan dengan Liam, perut Liam dan Angel sama-sama berbunyi, menandakan mereka lapar. Mereka saling berpandangan dan serentak tertawa, mendengar bunyi perut masing-masing.
“Bau butter ini membuat perut kita bereaksi ya” ucap Angel sambil terus tertawa.
“Yes miss Angel, sepertinya perutku susah berkompromi dengan bau butter ini” Jawab Liam bercanda.
“Hei… kamu bisa bercanda juga ternyata yaa… “ Angel berkata takjub
“Hidupku sulit miss, hingga tidak punya waktu untuk tertawa.” Jawab Liam murung
“Hei, apakah bertemu dengan ku dan kluargaku menambah kesulitan hidupmu?” Angel menyindir sambil tersenyum
“Oh, tidak miss maksud ku bukan begitu” Liam salah tingkah.
“Ayo kita sarapan dulu, sebelum aku makin menyulitkan hidupmu “ ucap Angel menyindir lagi
“Miss Angel maafkan aku, aku tidak bermaksud demikian… Kalian sangat baik kepadaku. Hidupku jauh lebih baiik dengan mengenal kalian.” Liam berkata dengan nada tidak enak
“Ahahaaha Liam aku hanya bercanda. Ayo kita sarapan dulu” Angel mendorong kopi hitam dan roti kedepan Liam. Dia sendiri meminum cappuccino dan makan beberapa potong roti. Liam menyesap kopinya perlahan, kemudian dia memakan beberapa potong roti yang masih hangat dan wangi itu. Acara sarapan mereka setiap pagi sangatlah singkat. Karena tidak lama para pengunjung sudah antri didepan toko. Angel membungkus kan beberapa potong roti untuk Liam sebagai makan siangnya. Angel selalu bertanya-tanya dalam hati, kemana Liam pergi pada siang hari? Apakah Liam baik-baik saja? Tapi kesibukan Angel membuat ia melupakan kekhawatiran dihatinya. Liam pamit kepada Angel, Angel mengingatkan Liam untuk kembali lagi nanti malam. Liam mengangguk dan berjanji pada Angel akan kembali lagi malam nanti. Dia pun beranjak pergi, karena tidak mau terlihat oleh para pengunjung. Liam menelusuri jalanan kota London, hal yang sama dilakukannya setiap hari. Dia berharap mudah-mudahan hari ini ada orang yang butuh pertolongannya. Setiap hari dia menolong orang yang membutuhkan bantuannya, baik ibu-ibu, nenek-nenek bapak-bapak, bahkan anak sekolah yang ingin menyebrang jalan. Dia tidak pernah meminta bayaran kepada siapapun yang dia tolong. Tapi setiap orang yang dia tolong selalu memberikannya seuatu. Liam selalu menolak pemberian mereka. Bahkan kadang-kadang pemberian mereka dia bagi-bagi lagi kepada pengemis di sepanjang jalan tersebut. Dia hanya ingin melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi semua orang tanpa pamrih. Hanya itu yang dia inginkan. Membantu semua orang.
Hari sudah mulai petang, semburat jingga sang mentari telah menaungi kota London. Liam berjalan kearah pulang. Iya, dia merasa mengarah ke rumah Angel adalah jalan pulang. Angel yang mungil itu adalah rumah bagi Liam. Liam berhenti dari jauh. Dia tidak mau terlihat Angel bahwa dia sudah didekat toko. Liam melihat kesibukan Angel, hatinya iba. Dia ingin membantu, tapi dia takut Angel merasa risih dengan kehadirannya. Dia tidak mau membuat Angel membencinya. Dia takut para pengunjung disitu merasa jijik dengan kehadirannya. Walau bagaimanapun dia dalah tunawisma, yang dianggap gembel oleh semua orang. dia tidak mau membuat keluarga Angel merugi karena kehadirannya.
Tamu terakhir sudah bersiap-siap pulang, Liam melihat orang tersebut beranjak dari mejanya menuju ke meja kasir, setelah dia membayar, dia langsung meninggalkan toko, kemudian Angel bergegas menutup pintu dan membalikkan Plang open menjadi closed. Liam berjalan kearah toko, mengetuk pintu toko dan berdiri disitu sampai Angel membukakan pintunya. Angel tersenyum dan berjalan kearah Liam.
“Liam…” seru Angel dengan muka gembira
“good evening Miss Angel” ucap Liam sopan
“Liam kamu tidak perlu mengetuk pintu, kalau kamu sudah datang, langsung masuk sajalah. Tidak usah menungguku membukakan pintunya” omel Angel kepada Liam. Angel memang selalu mengomeli Liam masalah ini. Karena Liam orang yang sangat sopan, dia tidak mau masuk kerumah orang sebelum orang tersebut mempersilahkannya, hal itu kadang-kadang membuat Angel sewot.
Liam tersenyum manis. “aku tidak enak miss” jawab Liam
“Ah sampai sekarang pun kau masih memanggilku miss.. apakah kau tidak menganggapku temanmu?” Tanya Angel masih dengan nada sewot
Liam sudah biasa menghadapi ocehan Angel tentang ini. Dia hanya tersenyum saja sambil meneruskan membantu Angel membereskan toko. Setelah mereka selesai membereskan semuanya, Angel melihat jam didinding. “Masih pukul 7. Apakah kamu mau makan malam diluar Liam?” Tanya Angel. “Aku sedang bosan dengan makanan dirumah. Lagipula aku ingin menghirup udara segar.” Angel bertanya penuh harap. Angel memang sedang bosan di toko. Kesibukannya yang monoton setiap hari membuat Angel ingin keluar malam ini. Sekaligus Angel ingin mengatakan sesuatu kepada Liam.
“Aku terserah kamu saja miss.. kalau kau ingin keluar aku akan menemanimu..” jawab Liam datar
“Yess!!! “ Angel menjawab sambil tersenyum lebar..
“Aku mandi dan siap-siap dulu ya.. kamu kalau mau mandi dan siap-siap dulu silahkan“ sambungnya lagi. Kemudian mereka masing-masin berjalan kearah kamar mandi untuk bersiap-siap. Angel mengganti seragam restonya dengan baju kasual. Dia memakai sweater lengan panjang dan celana jeans. Rambutnya dia biarkan terurai. Tak lupa dia menggulung syal di lehernya, agar tetap hangat. kemudian dia mengambil coat merah mudanya dan disampirkan dilengannya. Angel berjalan kearah bawah, dan menemukan Liam sudah berdiri disana dengan gagah dan tampan sekali memakai coat coklat tuanya dan jeans biru. Angel terpesona untuk yang kesekian kalinya dihadapan Liam. Sambil pura-pura mencari kunci rumah dia menggeleng-gelengkan muka untuk membuat pipi merahnya berwarna normal kembali.
“Okay...? Im ready.. come on Liam. I wanna tell you ssomething” kata Angel ceria
“Lets go miss Angel” Liam berkata sambl tersenyum manis. Liam bertanya-tanya apa yang akan dikatakan Angelpadanya? Apakah Angel akan mengusir dia?
Bersambung ke chapter selanjutnya