Tak terasa Liam telah beberapa minggu membantu Angel membereskan toko rotinya dimalam hari. Ayah Angel tetap belum memutuskan menerima pekerja yang mana untuk membantu Angel. Angel sudah berkali-kali menanyakan kepada ayahnya, namun ayahnya hanya bungkam. Angel merasa sangat terbantu dengan adanya Liam. Karena kehadiran Liam memperingan pekerjaan Angel pada saat menutup toko. Liam selalu datang pada malam hari untuk membantu Angel. Walaupun kadang-kadang Liam tidak mau menerima makanan yang diberikan Angel. Dan kadang-kadang Liam juga tidak tidur di teras Angel. Jika Liam sedang tidak tidur disana, Angel kepikiran dimanakah Liam bermalam. Liam sendiri merasa tidak enak jika terus bermalam disana. Karena Liam merasa seperti benalu walaupun Liam membantu membersihkan toko, tapi dihati Liam tetap terasa tidak enak.
“Miss Angel, sepertinya aku sudah terlalu lama berada disini aku mau pamit.. mungkin aku tidak akan kesini lagi” Kata Liam sambil menunduk
Angel terkejut, dia tidak menyangka Liam berniat pergi. “Tapi kenapaa…??” Angel bertanya bingung
“Apakah ada kata-kataku atau papa yang menyinggungmu Liam?” sambung Angel lagi
“Tidak apa-apa miss, aku hanya tidak enak saja pada kamu dan keluargamu miss… kalian sudah terlalu banyak memberikan kebaikan kepadaku. Aku tidak akan pernah bisa membalasnya” Liam berkata lagi. Dalam hati Liam, dia sedih harus berpisah dari Angel. Karena Angel sangat baik hati, dan Liam sangat memujanya. Namun Liam tau diri. Tidak mungkin dia menjadi benalu terus didalam keluarga itu.
“Jangan begitu Liam, kamu tidak memberatkan kami sama sekali. Malah aku terbantu setiap malam dengan kehadiranmu.” sahut Angel dengan raut wajah sedih
“Aku tidak mau terus menerus menjadi benalu padamu miss Angel.” Liam akhirnya mengakui
“Liam….!!!” Angel terpenjarat mendengar pengakuan Liam. “Aku tidak pernah berfikir kamu benalu disini” ucap Angel masih terkejut.
“Aku tidak akan bisa membalasmu dan keluargamu miss Angel.” Liam berkata lagi
“Sudahlah Liam, aku tidak mau mendengar apapun lagi darimu. Kau tidak boleh pergi kemana-mana oke. Aku butuh bantuanmu disini. Aku anggap tidak pernah mendengar apapun dari mu malam ini” Angel menjawab tegas
Liam terdiam, sebenarnya dia masih ingin protes. Tapi Angel meninggalkannya dengan masuk kedalam toko. Dan Angel memulai beres-beres. Tidak lama Angel memanggil Liam seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Liam… Tolong bantu aku mengangkat kursi ini….” Teriak Angel dari dalam.
Liam tergopoh-gopoh masuk dan membantu Angel seperti biasanya. Hingga akhirnya pekerjaan selesai, liam dan Angel pun makan malam berdua. Hal ini sudah menjadi kebiasaan mereka. Kadang-kadang ayah dan ibu Angel ikut makan bersama mereka. Ayah Angel menyukai Liam. Liam merupakan pria tunawisma yang cerdas dan santun. Dia selalu tahu diri, dan bisa menempatkan dirinya diantara mereka, sehingga dia tidak pernah melewati batas. Itu yang disukai oleh ayah Angel. Setelah mereka menyelesaikan makan malam dan mencuci piring, Liam bersiap-siap keluar.
“Apakah kamu bermalam disini?” Tanya Angel
“Hmmmm…” Liam telihat bingung
“Jika kamu tidak bermalam disini kamu tidur dimana?”Angel bertanya.
“Di blok seberang sini, ada tempat yang biasanya aku pakai bermalam. Disana ada gudang kosong lengkap dengan kamar mandi.” Jawab Liam berbohong. Liam tidak mau terlihat benar-benar tidak punya tempat berteduh. Liam punya harga diri yang tinggi.
“Ohh begitu. Kenapa kamu kadang-kadang tidak bermalam disini Liam?” Tanya Angel lagi
“Aku malu miss. Aku merasa seperti benalu disini” jawab Liam dengan muka merah
“Ah sudahlah Liam. Kau terlalu sensitive.” Angel mengakhiri pembicaraan mereka.
“jadi kamu akan bermalam disini atau tidak? Kalau tidak aku akan mengunci pintu garasi” ucap Angel. Karena Liam yang sering membantu mereka ditoko, ayah Angel mengijinkan Liam tidur di garasi rumahnya di belakang toko. Itulah salah satu alasan yang membuat Liam semakin tidak enak hati
“Baiklah miss, aku akan menginap malam ini” jawab Liam
Liam berjalan keluar toko. Dia selalu masuk garasi dari luar. Liam tidak mau berjalan ke garasi melalui dalam toko. Liam sangat tahu diri, bahwa dia tidak pantas berjalan-jalan didalam rumah itu seperti rumahnya sendiri. Sesampainya di garasi, dia mengambil sleeping bag yang diberikan Angel kepadanya dari lemari penyimpanan. Sebenarnya didalam garasi ada sofa tua tempat ayah Angel suka duduk sambil mengutak atik mobil. Ayah Angel berkali-kali menyuruh liam untuk tidur di atas sofa alaih-alih dilantai, tapi Liam tetap tidak mau. Sudah diberikan tempat berteduh tanpa kehujanan saja Liam sudah sangat bersyukur. Liam tidak berani mengharapkan lebih lagi. Liam segera menggelar sleeping bag dan masuk kedalamnya, kehangatan sleeping bag itu segera membawa Liam dalam lelapnya tidur. Liam bermimpi kedatangan seorang tamu penting. Tamu itu bercahaya menyilaukan, Liam menatap wajahnya, tapi tidak ada yang terlihat, Namun dia tidak tahu siapa tamu itu, dan dia tidak bisa melihat muka tamu itu. Tamu itu memberikan tugas yang penting untuk Liam. Tapi dia tidak tahu tugas apa itu.
Angel masih terjaga dikamarnya. Suara angin diluar jendela mendayu-dayu seperti meneriakkan kesedihan. Hal yang sama dirasakan Angel. Entah kenapa hatinya sedih akan perkataan selamat tinggal dari Liam tadi. Angel terlanjur merasa terbantu akan kehadiran Liam di tokonya. Beban Angel sangat terangkat dengan adanya Liam. Angel bingung kalau Liam benar-benar akan pergi. Dia tidak pernah menduga Liam punya pikiran seperti itu, selama ini dia pikir Liam nyaman-nyaman saja berada disana. Tapi ternyata Liam merasa dirinya merepotkan keluarga Angel. Apa sebaknya aku bilang pada ayah saja, bahwa Liam akan pergi pikir Angel dalam hati. Bagaimana kalau ayah mempersilahkan Liam pergi? Angel bingung sendiri “aaarrggghh” Angel berteriak frustasi. “Ah aku bilang pada ayah saja agar menerima Liam sebagai waiter. Lagipula ayah juga tidak memilih satupun waiternya.” Gumam Angel. Setelah banyak memikirkan segala alternative, akhirnya Angel tertidur karena pusing sendiri dengan semua solusi yang dia pikirkan.
Alarm di telepon seluler Angel berbunyi, Angel terbangun dan mematikan alarm tersebut. Angel langsung menuju kamar mandi dan mencuci mukanya. Kemudian dia buru-buru kebawah dan mengetok kamar ayah ibunya untuk membangunkan mereka.
“Poppa… Good morning.. wake up…” Angel memanggil ayahnya sambil mengetok pintu
“Momma… Good Morning Wake up…” Angel memanggil lagi
Tidak lama terdengar suara ibunya dari dalam “Yes Angel… im awake…. Okay.. okay…”
Angel menunggu ayah ibunya keluar kamar. Tidak lama ibunya membuka pintu kamar dan terkejut melihat Angel masih didepan pintu, biasanya setelah membangunkan mereka Angel segera turun untuk memanggang roti.
“Angel! Kau mengagetkan aku…” seru ibunya
“Hehe momma….” Angel langsung memeluk ibunya manja.
“Ah Angel, I want to pee” ibunya melepaskan tangan Angel. Angel memang suka sekali memeluk ayah ibunya. Dia anak satu-satunya. Dan dia sangat manja kepada orang tuanya. Ibunya meninggalkan Angel kekamar mandi, Angel langsung masuk kekamar untuk memeluk ayahnya
“Poppa….” Angel ikut tidur disebelah ayahnya, sambil memeluknya
“Hmm… Angel.. kamu sudah sikat gigi belum?” papanya bertanya tanpa membuka mata
“Poppaaa… aku belum sikat gigi. Tapi nafasku masih wangiii.. haahh haahh” Angel meniup-niup nafasnya kemuka ayahnya.
“Angel.. kamu sungguh kekanakan.. sana mandi sikat gigi dan panggang roti dulu” kata papanya sambil berbalik badan memunggungi Angel
“Angel tidak menyerah… poppa bangunn…. Ada sesuatu yang mau aku katakan…” Angel mencoba membangunkan ayahnya sambil menggoyang-goyangkan badannya..
“Angel… pagi-pagi kamu udah membuat onar…” ayahnya berkata lagi ambil menarik lagi selimutnya.
“Poppa… wake up… Liam mau pergi!” Angel akhirnya berkata sambil menangis
Ayah Angel terkejut mendengar Angel menangis. Akhirnya dengan berat dia membuka matanya.
“Kenapa Liam mau pergi?dan kenapa kamu menangis?” Tanya ayahnya heran
“Poppa, Liam tidak mau merepotkan kita, dia merasa dia seperti benalu disini. Tapi aku merasa sangat terbantu dengan kehadiran Liam poppa…. Aku terlalu lelah untuk membereskan toko pada malam hari. Kehadiran Liam benar-benar mengurangi bebanku poppaa…” Angel tidak bisa mebendung air matanya
“Hei… Liam hanya membantu, kamu tidak boleh memanfaatkannya. Itu tidak adil buat Liam. Jika dia mau pergi, kita tidak bisa mencegahnya. Memang rumah dia bukan disini.. biarkan dia pergi. Ikhlaskan Angel. Mungkin dia butuh mencari hal lain demi kehidupannya. Kita tidak boleh egois dengan menahan dia disini” Ayah Angel menjawab dengan bijaksana
“Poppa… dia kan bisa punya masa depan disini. Kenapa tidak jadikan dia waiter kita saja. Kita kan sedang mencari waiter juga. Kita butuh dia poppa” Angel memberi pandangan baru kepada ayahnya.
“Angel, kita tidak bisa memaksakan sesuatu yang kita inginkan kepada orang lain” jawab ayahnya
“Poppa, kita tidak memaksakan, kita hanya memberikan solusi kepadanya. Aku rasa dia mau kalau kita menawarkan dia jadi waiter. Dia juga butuh masa depan poppa, kita bisa menolong dia untuk masa depannya. Siapa tau dengan dia bekerja disini, kita jadi membuka kehidupan yang lebih baik kepadanya. Jika dia sudah tidak bekerja pada kita, pengalaman kerjanya selama disini bisa dia pakai untuk mencari pekerjaan baru. Itu kan menolong dia poppa… Sudah tugas kita sebagai manusia untuk menolong sesama” ucap Angel lagi, Ayah Angel tertegun dengan pemikiran Angel yang dewasa. Dia pikir Angel hanya merengek agar menerima Liam untuk membantunya setiap malam.
“Baiklah Angel… poppa coba pikirkan dulu jalan terbaiknya bagaimana ya” ayah menjawab lagi
“ah poppa… terimakasih” Angel mengecup pipi papanya
“Aku harap Poppa benar-benar akan memberikan kesempatan kepada Liam. Poppa kan lihat sendiri, dia orang yang baik, pekerja keras, tidak macam-macam, sangat tahu diri dan selalu bertanggung jawab.” Angel menambahkan
“Yes Angel.. I know it” Ayah menjawab sambil berdiri,”Ayo sikat gigi dan beriap-siap mebuka toko. Bangunkan Liam agar dia membantumu membereskan opening toko” ayah Angel melanjutkan
“Okay Okay …. Aku ke atas dulu.. mau mandi. Thank you poppaaaa” Angel memeluk ayahnya dengan erat. Angel keluar dari kamar ayah dan ibunya. Dia berlari-lari kecil menaiki tangga. Dari bawah tercium bau roti yang sedang dipanggang ibunya. Aroma butter dan kopi meningkatkan semangat Angel untuk memulai hari ini. Dia berharap ayahnya tidak akan berubah pikiran. Dan yang paling penting adalah Liam, semoga dia tidak menolak maksud baik dari keluarga Angel. Angel benar-benar berharap Liam mau bekerja Bersama mereka.
Bersambung ke chapter selanjutnya