75

1755 Kata
Sepertinya waktu telah menunjukkan pukul 6 sore. Amber melirik jam dindingnya, benar sudah jam 6. batin Amber. Dia tersadar dia terlalu lama berbenah. Tapi dia tidak bisa membiarkan Apertemennya berantakan. Dia melihat kearah Arthur yang ada disofa. Arthur telah tertidur disana. Mungkin dia kelelahan telah seharian pergi menemaniku belanja. Pikir Amber lagi. Setelah menyiapkan bahan masakan yang akan dibawa kerumah Arthur, Amber memasukkan semua bahan kedalam tas belanjaan. Dan menjinjing tas tersebut. Kemudian dia beranjak ke Arthur yang sedang tertidur. Lihatlah dewa Yunani ini tertidur seperti bayi. Kenapa dia harus setampan ini, dan kenapa dia haruss menggoda imanku terus. Batin Amber frustasi. Andaikan aku tidak harus menangani kasus ini, maka aku tidak perlu berkenalan dengannya. Lanjut Amber lagi dalam hatinya.Amber memandang wajah sempurna Arthur, matanya yang indah, alisnya yang indah, hidungnya yang mancung sempurna, dan bibir tipisnya yang seksi. Bibir ini tadi menciumku. God Arthur kenapa kau harus menggoda seorang gadis naif ini. Amber berjongkok di sebelah sofa Arthur “ Arth… Arth… bangun…” Amber menggoyang- goyangkan tangan Arthur. Arthur bergerak sedikit, tapi tidak terbangun “Arth… ayo.. kita kan mau makan dirumahnmu. Ayo bangun” sekarang Amber menggoyang- goyangkan tubuh Arthur. Mata Arthur terbuka sebelah, kemudian dia mengerjapkan kedua matanya. “ Aku tertidur ya? “ Tanyanya sambil mengucek mata indahnya “ Ya… apakah kau menungguku berbenah terlalu lama? “ Tanya Amber. Arthur meraih tangan Amber dan menggenggamnya. “ No… Aku hanya sedang melamun memikirkan sidang dan Mr Gilbert, kemudian aku jadi lelah karena memikirkan pria botak itu. mungkin itu yang membuat aku jatuh tertidur. “ Jawab Arthur sambil mengecup tangan Amber. Amber berdiri dari jongkoknya, sambil melepaskan tangan Arthur. “ Im ready” Ucap Amber singkat “ Kau sudah selesai berbenah? “ lanjut Arthur lagi “ Yeah… should we go now? Or later? ” Tanya Amber “ Lets go.. Im hungry” Jawab Arthur sambil bangkit dari sofa. Arthur meraih tas belanjaan Amber. dia menggandeng tangan Amber dan mereka berjalan menuju pintu keluar. Arthur meraih sepatunya. Amber mengganti sepatunya dengan sandal casual. “ Kau cantik memakai pakaian antai dan sandal begitu Amber.” Arthur berkomentar “ Apakah penampilan aku sehari- hari tidak terlihat cantik? ” Tanya Amber “ You are stunning.. but I like your casual style. “ jawab Arthur. Mereka berjalan keluar pintu menuju lift. Amber membisa tanpa banyak berkomentar oleh celotehan Arthur. Arthur merasakan kebisuan Amber, tapi dia mengabaikannya. Arthur tau Amber merajuk karena ciumannya. Lift sudah sampai di lobby bawah. Mereka keluar dari lobby dan langsung menuju mobil. Disepanjang jalan Amber hanya diam. Arthur terus mengoceh menceritakan segala hal, Amber hanya menjawab dengan ya, tidak, hmm dan tidak tau. Arthur memilih untuk tetap membiarkan Amber begitu tanpa ingin bertanya dia kenapa. Pintu tol menuju rumah Arthur sudah terlihat, Arthur mengambil lajur kanan untuk menjangkau pintu keluar tersebut. Tak lama setelah keluar tol, mobil berbelok kekanan, dan tampaklah sebuah perumahan mewah dengan gaya rumah modern minimalis semuanya. Arthur melambaikan tangan pada security yang berjaga di gerbang. Setelah melewati gerbang utama perumahan tersebut, mobil melaju dan berbelok ke kiri. Tak lama sampailah di sebuah rumah mewah dengan pagar tinggi. Rumah ini layak disebut istana juga. Namun dengan gaya yang berbeda dari istana Mrs Axton. Istana Mrs Axton bagaikan Kastil Windsor versi lebih kecil. Kalau ini, bagaikan istana Hampton court versi mini. Sebenarnya mereka punya kekayaan seberapa banyak sih? Batin Amber tercengang melihat rumah pribadi Arthur. Arthur memarkir mobilnya di dalam halaman. Seorang pria datang menghampiri Arthur,membukakan pintu untuk Arthur. Arthur membukakan sabuk pengaman Amber, dan bergegas keluar untuk membukakan pintu bagi Amber. Amber keluar dari mobil dalam hati dia menyesal mengganti sepatu dengan sandalnya. Rumah ini terlalu mewah untuk dimasuki memakai sandal. Ah aku bodoh sekali, padahal aku sudah melihat mewahnya rumah Mrs Axton, kenapa tidak terpikirkan bahwa rumah Arthur juga tidak jauh berbeda. Bodoh kau Amber pikir amber “ Aku menyesal mengganti sandal” Amber berkata “ Why? Kamu tetap cantik pakai andal” Arthur menjawab acuh “ Sepertinya tidak pantas memasuki Istanamu memakai sandal begini Arth… kenapa kamu tidak bilang bahwa rumahmu sama mewahnya dengan rumah ibumu. “ Amber menjawab dengan ekspresi malu “ Amber hanya aku yang ada disini. Tidak ada orang lain. Kau merasa tidak pantas kepada siapa?” Arthur bertanya heran sambil memberikan kunci mobilnya kepada pria tadi. Pria tadi membungkuk sekilas dan menyapa mereka “ Good evening Mr Axton” Katanya kepada Arthur “ Good evening Ma’am..” katanya kepada Amber “ Yeah good evening Paul” jawab Arthur “ Good evening Paul” Amber menyapa Pria tersebut Arthur melangkah menaiki tangga depan teras rumahnya sambil menggandeng tangan Amber. pintu depan dibuka oleh dua orang pelayan wanita. Kemudai mereka memasuki rumah itu, bagian depan rumah adalah foyer dimana kemudian ada pembagian ruang ke kanan ke ruang tamu, kekiri ke ruang keluarga. Ruang tamu dan ruang keluarga sama luas dan mewahnya.. semua sofa terbuat dari kulit asli. Berwarna senada dengan wallpaper ruangannya. Chandelier yang tergantung pada langit- langit rumah terbuat dari Kristal Swarosky asli dipadu plat Platina. Di masing- masing euang terdapat 2 chandelier, saking besarnya ruangan. Arthur membawa Amber kearah kiri, melewati ruang keluarga dan ruang makan langsung menuju dapur bersih. Dapur bersihnya berkonsep open kitchen, dimana pemisah ruang makan dan pantry adalah meja bar tinggi lengkap dengan kursinya. Pantry itu didominasi warna abu- abu silver dan hitam. Disebelah pantry adalah ruang makan, dimana meja makannya ada 2. Yang satu berada di dekat jendela kanan menghadap kolam renang, meja makan yang satunya disebelah kiri menghadap ke taman luar yang penuh lampu dan tanaman. Arthur meletakkan ta belanjaan Amber di meja Pantry “ Kau memasak disini saja cukup kan? “ Tanya Arthur kepadaAmber yang maih tercengang melihat rumah Arthur “ Yeah,, I think its enough “ Jawab Amber. dia berjalan masuk ke dalam pantry dan mulai mengeluarkan bahan-bahan dari dalam tas belanjaan. “ Kalau kau butuh bahan tambahan, ada di dalam lemari pendingin. kau tinggal buka saja.” Lanjut Arthur lagi. Amber membuka lemari es dan melihat semua bahan yang dibelanjakannya ada didalamnya. “ Whaattt??? Arthuuur.. kenapa kau mengerjaiku???” Tanya Amber hampir berteriak histeris “ Kenapa Amber? ” Tanya Arthur bingung “ kau punya bahan yang lebih lengkap dari supermarket. Kenapa tadi kau membiarkan ku membeli lagi bahan baru?” Amber berkata dongkol “ Ohh I see… sebenarnya aku tidak tahu didalam lemari pendingin itu ada bahan apa saja, karena yang mengisi lemari pendingin itu adalah para pelayan. Aku tidak pernah membeli bahan kebutuhan sendiri. “ jAwab Arthur polos “ Ohh begitu… aku kira kau sudah berbelanja ini semuanya. Tapi kau tetap membiarkan ku berbelanja lagi bahan yang sama” ucap Amber “ Tidak…. Aku tidak tahu bahan- bahan masakan apa saja yang ada disitu. Tapi setahuku memang disitu isinya lengkap. Karena aku tidak suka ada bahan yang tidak ada jika aku edang memasak. Jadi para pelayan memindahkan isi supermarket kerumah ini “ jawab Arthur lagi “ Oke yasudah lah.. aku mulai saja. Kalau begitu aku buat Steak salmon ini untuk kita berdua saja atau untuk orang serumah? “ Amber bertanya lugu “ Ha… ha.. Amber kamu lucu sekali. Untuk kita berdua saja lah. Aku tidak sudi semua orang merasakan masakanmu. Hari ini kamu memasak hanya untukku Amber. ingat itu ya.. “ Arthur menjawab dambil tertawa “ Okay bos” Amber menjawab lagi. Amber mulai membersihkan salmon yang tadi dibelinya. Dia membuang kulit salmon tersebut dan merendamnya pake dalam air perasan lemon. Arthur membantu Amber memasak. Sambil memasak, Amber mencoba mengorek tentang Liam kepada Arthur. “ Hei Arth… kamu benar- benar seorang tuan muda ya? Tidak ada orang lainkah di dalam keluargamu?” Tanya Amber hati- hati “ Hmm setahuku aku memang anak semata wayang ayah dan ibuku. Tapi aku tidak tau apakah aku punya sodara lain yang beda ayah atau beda ibu denganku. Ibu belum sempat bercerita” jawab Arthur. Dia tidak berani menyebutkan soal Liam kepada Amber karena dia belum mendapatkan cerita selengkapnya dari ibunya. “ Ohh begitu.. apakah kau tidak pernah bertanya kepada ibumu? “ Tanya Amber lagi “ Yup aku belum punya bahan atau bukti untuk bertanya kepadanya. “ jawab Arthur sambil memotong- motong sayuran yang akan menjadi menu tambahan untuk steak salmon tersebut “ Apakah pacarmu sering memasak disini? ” Tanya Amber lagi “ Ini dapur ku seorang. Aku tidak pernah mengijinkan siapapun masak disini. Kau adalah rang pertama yang kuijinkan memakai dapur ini. Kau lihat secinta apa aku padamu?” jawab Arthur “ Cih… kau bisa saja berkelakar.” Amber memanyunkan bibirnya “ Amber kau selalu tidak mempercayai kata-kataku. “ Arthur mencubit pipi Amber “ jangan sentuh aku, tanganmu bau ikan Arth..” Amber berkata sambil tertawa “ Aku tidak memegang ikan. Ktangan kamulah yang bau ikan Amber” Arthur menjawab lagi Amber menyentuhkan tangannya ke lengan Arthur. Kemudiann Arthur melotot kepada Amber. Amber tertawa tergelak. “ ha.. ha.. haa.. kena kau Arthur” ucap Amber sambil tertawa “ kau jahat sekali Amber setelah mematahkan hatiku sekarang kau membuat tanganku menjadi bau.” Arthur memasang wajah sedih “ itu hukuman untuk menciumku tanpa ijin.” Amber kembali memegang lengan Arthur kali ini dengan kedua tangannya yang berbau amis. “ Amber.. kamu jahat sekali…” Arthur mencolek butter pakai jarinya kemudian mengoleskan kepipi Amber “ Heiiii tuan… pipiku bisa berjerawat nanti dan semakin berminyak. “ Amber dongkol. Amber membalas mengoleskan butter ke pipi Arthur. Arthur juga mengoleskan lagi butter ke pipi Amber yang satunya. Sampai akhirnya wajah mereka berdua bergambarkan butter di dahi, pipi, hidung, bibir dan dagu. Kemudian Arthur mengambil tissue untuk membersihkan wajahnya, setelah selesai, dia mulai membersihkan wajah Amber dengan perlahan, dia mengelap dahi amber, hidungnya, pipinya dan kemudian dagunya. Dia sengaja menyisakan bibir untuk dibersihkan paling terakhir. Setelah dia selesai mengelap semua butter, dia mencium bibir Amber dengan berrgairah. Amber yang sedang terbawa suasana, tanpa sengaja membalas mencium Arthur. Arthur yang meraakan perubahan Amber, memanfaatkan hal itu, dia terus melumat bibir amber, tangannya meraih pinggang amber dan memeluknya. Tak lama Amber sadar dan akhirnya mendorong tubh Arthur menjauh. “Aku sudah selesai memberishkan bytter yang ada di bibirmu Amb…” Arthur berkata sambil tesenyum. “ Ayo kita lanjutkan memasak. Jika kebanyakan bercanda, bisa –bisa kita makan malam pada waktu tengah malam nanti. “Amber berkata sambil berusaha menguasai diri. Dia berjalan kembali ke meja Pantry. Dan menyalakan panggangan. Setelah mengoleskan butter pada grill, kemudian dia meletakkan salmonynya dengan perlahan diatas panggangan. Dia mendiamkan ikan tersebut, sambil mengoleskan bumbu lemon, setelah itu dia membalik panggangannya dan mengoleskan bumbu lemon lagi pada sisi ikan satunya. Bersambung ke chapter selanjutnya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN