“ Ehh kenapa kamu membayarnyaa? “ Amber terkejut dan terlihat raut wajahnya keberatan Arthur membayar belanjaannya.
“ Ini belanjaanku.. kamu tidak boleh membayarnya. Aku Tidak mau. “ Lanjut Amber lagi
“ Amber sudahlah jangan memperumit keadaan. Antriannya masih panjang. Kamu bisa dimarahi oleh ibu- ibu dibelakang kamu nanti. “ Jawab Arthur santai. Amber melihat ke belakang nya,terlihat antrian panjang berbentuk ular melingkar panjang sampai ke bagain rak. Dan banyak diantara para pengantre itu afalahibu- ibu dengan muka yang tidak bisa dibilang enak dilihat, lebih baik tidak mencari masalah dengan mereka.
“ Tapi aku tidak mau kamu membayarnya. Kebutuhan ku bukan tanggunganmu Arth..” Jawab Amber dongkol
“ Kamu akan membayarnya dengan memasakkanku Steak Salmon. Deal? “ tegas Arthur
“ But Its too much Arthur… tidak sebanding dengan Steak Salmon. “ kata Amber putus asa
“ Sebanding untukku. “ Jawab Arthur sambil mendorong trolly dan meninggalkan Amber sendirian
“ Kamu selalu seperti ini Arthur, keras kepalamu menyebalkan “ sahut Amber ketus. Berikan aku no rekeningmu.aku akan mentransfer uangmu kembali. Ayo kita ke ATM dulu… cerocos Amber
Arthur mengabaikan Amber yang berjalan merajuk dibelakangnya. Dia tetap berjalan lurus kedepan menuju lobby. Amber masih bersungut- sungut dibelakang berjalan mengikuti Arthur. Mobil Artur sudah terparkir di lobby ketika mereka sampai dilobby. Arthur memang memiliki akses parkir valet VIP pada pusat perbelanjaan itu. Setelah memasukkan semua belanjaan ke bagasi mobil, Arthur membukakan pintu di sebelah supir untuk Amber. Amber masuk dan duduk di jok dengan anggun. Arthur menutup pintu mobil dan berjalan kearah kemudi. Seperti biasa Arthur memakaikan sabuk pengaman pada Amber, dan memberikan sentuhan lagi pada kulit tangan Amber dan dengan sengaja bernafas di leher Amber. Amber menahan napas. Hari ini dia sudah terlalu mabuk akan sentuhan tangan Arthur. God bisakah aku bertahan lebih lama lagi menghadapi buaya ini? Batin Amber.
Arthur menekan tombol starter pada mobilnya. Bunyi mesin menderu, tak lama Arthur menginjak pedal gas, dan mobil melaju perlahan keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Hari sudah mulai gelap. Matahari bersemu jingga di sudut kota London. Langit berwarna ungu memproyeksikan bayangan awan yang menghalangi sinar matahari sore. Amber menatap keluar jendela, dan melihat keatas. Mengagumi ciptaan Tuhan.
“ Apakah kau percaya Tuhan?” Tanya Amber dengan mata tetap keluar jendela.
“ Random sekali pertanyaanmu…” Arthur menatap Amber heran
“ Hmmm… aku hanya sedang menikmati keindahan ciptaan Tuhan… menurutku Langit itu ciptaan Tuhan yang paling hebat… karena dia bisa melewati segala badai dengan tenang, tanpa berubah bentuk sedikitpun bentuknya tetap kokoh tanpa ada bekas luka sedikitpun. Kamu berpikir hal yang sama tidak? “ Amber menjelaskan
“ Aku percaya kepada Tuhan. Dia yang menciptakan semua masalah, dia pula yang menyelesaikannya. “ ucap Arthur
“ Kau benar… jalan hidup kita sudah diatur oleh Tuhan. Kita hanya harus kuat menjalani ini.” Amber berkata lagi
“ Begitu juga dengan kasusmu.. Jadilah seperti langit, walau sebanyak apapun petir menghantam, tapi dia tetap kokoh berdiri dan tidak memperlihatkan luka sedikitpun di permukaannya.” Amber melanjutkan lagi
“ Amber kamu benar- benar sering membuat kejutan. Darimana kau menemukan analogi itu? “ Tanya Arthur lagi
“ Ha..ha.. ha.. Arthur, aku tidak terlahir langsung pintar, pasti dari belajar segala asam pahit kehidupan. “ Amber tertawa terkekeh
“ Kamu benar- benar gadisku yang pintar “ Arthur berkata lagi
Amber diam saja tidak mau menanggapi semua godaan yang dilontarkan Arthur. Amber tau, Arthur sedang mengujinya. mungkin menguji kekuatan imannya, akankah bertekuk lutut kepada Arthur atau tidak. Tidak… tidak.. jangan sampai aku bertekuk lutut kepada lelaki buaya ini batin Amber. Dia tidak sebanding dengan Alan. Amber membatin lagi. Jalanan kota London mulai gelap. Mereka telah sampai di apartemen Amber. setelah membuka sabuk pengaman Amber, Arthur dan Amber segera keluar untuk membawa belanjaan ke unit apartemen Amber. Amber berkeras membawa sendiri belanjaannya. Tapi Arthur tidak mengizinkan Amber mengangkatnya. Dia tetap mengangkut semua kantong belanjaan dan mengikuti Amber masuk ke lift untuk menuju unit apartmennya. Di dalam lift mereka membisu, hanya menatap tombol- tombol angka yang bergantian menyala. Apartemen Amber berada dilantai 35. Setelah sampai di lantai 35, pintu lift terbuka, mereka bergegas keluar dan berjalan menuju unit kamar Amber. tidak lama sampailah mereka di unit 3505. Amber menekan tombol password di pintu apartemennya. Kombinasi angka kelahirannya. Arthur diam- diam memperhatikan dan mengingat- ingat password apartmen Amber itu. KLIK, terdengar suara pintu terbuka Amber melangkahkan kakinya masuk keruang tamu apartmennya. . Arthur mengikuti Amber masuk ke dalam. Lampu otomatis menyala ketika mereka telah berada di dalam ruang tamu
“ Selamat datang di gubugku. Mungkin ruangan ini semua hanya sebesar kamar mandi di rumahmu.” Kata Amber
“ Ha.. ha.. gurauanmu sangat lucu Amber. “ Arthur berkata sinis
Apartemennya kecil, ruang tamu dan dapur menyatu hanya terpisahkan oleh sekat yang dibuat sendiri oleh Amber, yaitu tirai yang terbuar dari keong berwarna emas. Amber meletakkan sepatu di rak sepatu didepan pintu. Arthur pun melakukan hal yang sama. Setelah meletakkan belajaan di atas meja ruang TV Arthur duduk di sofa yang ada didepan TV.
“ Silahkan duduk manis dulu ya tuan. Aku menyimpan belanjaan dulu, dan memilah barang- barang untuk dibawa kerumahmu nanti by the way kamu mau minum apa?” Amber berkata
“ Yeah take your time Ma’am.. aku akan menunggumu disini dengan sabar. Soda boleh kalau kau punya“ sahut Arthur sambil tersenyum manis sambil memperhatikan Amber yang berjalan bolak- balik. Setelah memeberikan minuman yang diminta Arthur, Amber memulai berbenah barang- barang belanjaannya. Arthur menatap ruangan apartmen Amber dengan seksama, dia berjalan kearah jendela. Dia membuka tirai jendela, terlihatlah pemandangan kota London yang sangat indah. Gedung apartemen ini memang terletak ditengah kota. Jadi pemandang yang tersaji di balik jendela adalah view terbaik dari kota London.
“ Aku terasa seperti sedang berada di hotel bintang 5 “ Arthur berkata dengan nada takjub.
“ Tak kusangka kau mendapatkan pemandangan seindah ini.” Lanjut Arthur lagi
“ Ohh itu.. iya aku memang menyukai night view kota London, makanya aku memilih apartemen ini.yah walaupun harga sewanya jadi lebih mahal “ Ucap Amber
“Ada harga ada rupa kau mengerti kan maksudku?” lanjut Amber sambil terkekeh
“ Kau menyewa ini? “ Tanya Arthur
“ Yup gaji sekretaris sepertiku tidak akan cukup untuk membeli unit apartmen Arth. Bisa menghidupi diri sendiri dan bersenang- senang sedikit dengan teman- teman saja sudah bagus.” Jawab Amber. Arthur terlihat prihatin dengan jawaban Amber. Wajah Arthur menampakkan ekspresi sedih. Dia ingin Amber hidup dengan layak
“ Aku akan bilang pada ibu agar menaikkan gajimu. Kau harus membeli apartemen ini, jangan sampai suatu hari kau disuruh keluar dari sini. Pemandangannya terlalu indah” Ucap Arthur
“ Arthur aku bukan sedang mengadu minta kau membujuk ibumu menaikkan gajiku. Gajiku yang diberikan oleh ibumu sudah termasuk rate tertinggi untuk profesi sekretaris. Jadi stop omong kosongmu. Lagipula jika suatu saat aku diusir dari sini, maka aku akan mencari apartemen lain yang lebih murah. Tempat ini juga sudah terlalu mahal Arth. not worth at all” Amber berkata tegas.
Arthur berjalan mendekati Amber, amber sedang berdiri menghadap lemari pendinginnya, menyusun barang- barang belanjaan yang gampang basi. Dia tidak menyadari Arthur mendekatinya, tiba- tiba Arthur memeluknya dari belakang, Amber terkesiap. Kaget dengan ketiba- tibaan ini. Arthur menempelkan kepalanya ke leher belakang Amber, sambil berbisik...
“ Bolehkah aku belikan saja Apartmen ini untuk mu sayang? “ Tanya Arthur sedih. Karena tau Amber pasti akan menolaknya. Amber yang masih tidak siap hanya berdiri kaku dan tegang, Hasrat tubuhnya yang sudah tersimulasi dengan sentuhan dari Arthur sejak pagi, tidak ingin menolak pelukan ini, tapi dia ingat Alan. Bayangan Alan terus berkelebat di pikirannya. Amber memejamkan mata hanya untuk mengingat rasa pelukan Arthur. Rasa terlarang yang tak ingin dilepas. Dengan berat hati Amber menurunkan pelukan tangan Arthur, dia berbalik badan, dan berkata dengan suara pelan…
“ Jangan Arth… aku tidak bisa membalasmu.. aku tidak bisa memberikan apapun padamu kecuali persahabatn. Jadi jangan berikan sesuatu yang berlebihan untukku.” Amber menjawab dengan suara parau karena tercekat. Arthur memegang dagu Amber, dia mendekatkan bibirnya ke bibir Amber.
“ Aku tidak butuh apapun dari mu. Hanya tetaplah berdiri disampingku “ Arthur melumat bibir Amber dengan penuh gairah. Amber tidak membalas ciuman Arthur, dia hanya diam. Akhirnya Arthur sadar Amber tidak membalasnya. Dan Arthur pun berhenti. Arthur menarik wajahnya dari wajah Amber, tangannya mengelus pipi Amber
“ Aku kelewatan ya? Maafkan aku Amber. “ Ucap Arthur sambil mengecup sekilas bibir Amber, dan melepaskan tangannya dari wajah Amber. Amber masih berdiri mematung. Otaknya serasa meledak oleh hasrat ingin membalas ciuman Arthur. Tapi ada Alan yang terlintas. Dia menarik nafas untuk menenangkan diri. Arthur memeluknya dan mengelus- elus punggung Amber untuk ikut menenangkannya.
“ Ssshh….its okay… its okay…. “ ucap Arthur sambil mengelus punggung dan mengecup rambut Amber. belaian tangan Arthur membuat degup dijantung Amber normal kembali. Amber menarik nafas dalam, kemudian melepaskan diri dari pelukan Arthur.
Arthur sadar Amber menahan diri. Pasti ada sesuatu yang membuat Amber tidak bisa membalasku. Mungkin pacarnya. Aku yakin dia juga punya pacar, layaknya Kimberly untukku. Sebaiknya aku tidak terlalu memaksanya. Lebih baik berjalan pelan- pelan seperti sekarang, asalkan aku tidak kehilangan dia. Batin Arthur. Arthur membelai pipi Amber,
“ kamu lanjutkan berbenah lagi ya… aku tunggu di sofa seperti tadi. “ Arthur berkata
“ Okay… “ Amber menjawab singkat.
Amber meneruskan berberes bahan belanjaannya. Dia hanya bungkam masih shock dengan kejadian tadi, dan bayangan Alan terus menari di pikirannya. Maafkan aku Alan batin Amber.
Bersambung ke chapter selanjutnya