“Halo…” Amber mengangkat telepon selularnya yang berbunyi.
“Amber....How Are you?” Tanya Arthur
“Hai Arthur.. im fine.. how are you today? Is everything going well?” Amber bertanya dengan nada cemas
Jarang sekali Arthur meneleponnya di waktu sepagi ini. Well ini tidak terlalu pagi sebenarnya. Namun ini termasuk masih sangat pagi untuk jamnya Amber.
“Apakah kamu free hari ini Amber?” Arthur bertanya lagi
“Nope, aku kan harus kerumah ibumu Arthur. Mana mungkin dia memberikan aku waktu libur” Amber menjawab sambil merapatkan selimut. Dia masih ingin tidur sebentar lagi.
“Oh yeah.. Aku sudah menelepon ibu tadi malam. Dia bilang mengizinkan kamu libur hari ini.” Arthur memberikan penjelasan. Suaranya juga terdengar masih mengantuk
“Oh I see…” Jawab Amber “Syukurlah, artinya aku masih bisa tidur lagi sampai siang” lanjut Amber
“Jam berapa kamu berencana bangun?” Tanya Arthur lagi
“Mungkin sebelum jam makan siang.” Amber menjawab sambil melanjutkan menutup matanya.
“Aku jemput jam 12 teng ya. Bye Amber.” Arthur menutup telponnya sebelum Amber menolak dia.
“Heyy Arthur… kamu mau apa menjemputku nan…” belum sempat dia menjawab, suara Arthur sudah hilang dari speaker handphonenya “Ahh lelaki sialan. Ibu dan anak sama saja” Gerutu Amber sambil melanjutkan mimpi indahnya.
Alarm Amber berbunyi tepat pada pukul 11. Amber melihat sekilas ke jam di handphonenya. Ahhh sudah harus bangun. Si lelaki seenak jidatnya akan menjemputku. Lagipula kenapa sih dia tidak membiarkanku paling tidak nego masalah waktu ini. Menyebalkan! Batin Amber didalam hatinya. Dengan malas- malasan Amber bangkit dari tempat tidurnya. Setelah beres- beres tempat tidur dan selimut, Amber langsung mandi dan berpakaian.
“Lho dia akan menjemputku dimana ya? Lama- lama aku benar- benar menjadi b***k keluarga Axton. Sampai kapan aku harusmengabdi pada mrs Axton? Kenapa persidangan ini lama sekali berjalannya?” Amber bergumam pada diri sendiri
Amber melihat Handphonenya. Ternyata ada pesan singkat dari Arthur.
Arthur: Aku akan menjemputmu dirumah. Siap- siap, dandan yang cantik ya
Amber tersenyum membaca pesan itu, walaupun dia tidak membalas pesan tersebut, entah kenapa dia agak tersipu dengan rayuan Arthur. Arthur terlihat seperti tau bahwa Amber sering tersipu dengan omongannya dan dia sangat memanfaatkan itu. Cihh dasar laki-laki buaya pikir Amber dalam hati dengan bibir tersenyum. Tidak bisa disangkal Arthur memang sering membuat jantungnya berdetak kencang. Gerak geriknya yang lembut terhadap Amber, kata-katanya yang manis, bahkan dia selalu memperlakukan Amber seperti ratu jika Amber sedang bersamanya. Mereka sudah sering sekali makan malam berdua. Memang semuanya hanya makan malam bisnis, dimana yang mereka bincangkan hanyalah mengenai persidangan. Namun selalu di setiap kesempatan dimana mereka bertemu, Arthur selalu menyisipkan pesan atau perbuatan yang memperlihatkan dia menyukai Amber. Atau hanya menggodaku Pikir Amber ngenes didalam hati. Tapi entah kenapa Amber sangat menikmati perhatian- perhatian kecil dari Arthur tersebut. Mungkin keberadaan Alan di penjara membuat Amber kesepian dan Arthur datang disaat yang tepat. Ah tidak, ini justru bukan saat yang tepat sama sekali. Tidak ada saat yang tepat. Aku sudah punya Alan. saat yang tepat sama sekali. Tidak ada saat yang tepat. Aku sudah punya Alan. Stop Amber! Pikiran Amber memerintahkan hatinya. Tanpa disadari Amber, dia benar- benar merias wajah dan memilih mini dress warna putih dengan rok berenda, Dia memadukan gaunnya dengan sepatu kets. Pakaiannya cocok sekali untuk dipakai makan siang di restoran mewah tapi santai, tidak lupa dia memoles riasan nude di mukanya. Kulitnya yang putih sangat cocok memakai riasan nude. Dia terlihat luar biasa cantik namun sederhana.
Amber keluar dari unit apartemennya, dan masuk kelift untuk menuju ke lobby bawah. Ketika pintu lift terbuka, dia melihat sosok tampan bak dewa Yunani itu sedang berdiri di depan pintu lobby apartmen, tubuhnya disinari cahaya matahari yang masuk dari jendel-jendel besar di lobby apartemen itu. Melihat Arthur berdiri disitu dengan diselimuti cagaya mentari yanga sangat eksotis, membuat Arthur terlihat seperti lukisan klasik. Jnatung Amber berdegup kencang. Stop jantung!! Stop jantung!!! Perintah Amber kepada jantungnya yang berdetak sangat hebat. Amber mencoba bersikap biasa, ketika dia keluar dari lift, senyum manis Arthur menyambut Amber. Dengan gerakan sempurna tanpa canggung, Arthur mendatangi Amber dan mengecup pipi kanan kiri Amber. Aber masih canggung dengan kebiasaan Arthur, hampir saja Amber terjerembap sepatunya sendiri. Arthur buru-buru memegang lengannya Amber.
“Kamu masih mengantuk Amber?” Tanya Arthur serius
“Ha..ha.. iyaa Arthur. Kamu mengganggu jam istirahatku” Amber mencoba terlihat biasa saja
“Kamu cantik sekali hari ini Amber” Arthur mengelus pipi Amber
Ada aliran listrik hangat terasa di hati Amber.
“Jadi kamu mau menculikku kemana Arthur?” Amber mengubah topic, agar Arthur tidak melihat dia tersipu.
“Kesuatu tempat… percaya saja padaku” Jawabnya penuh percaya diri.
“bagaimana aku bisa mempercayaimu Tuan Arthur yang terhormat? Kita kan baru kenal beberapa minggu terakhir ini…bagaimana kalau kamu menculik dan menjual organku?” Jawab Amber menyindir.
“Amber, aku tidak akan pernah menjual Organ wanita cantik. Terlalu sia-sia… aku penyayang wanita. Kau tau?” ucap Arthur
Amber tersenyum mendengar ocehan Arthur. “jadi kamu mengakui salah satu bisnismu adalah menjual organ, tapi bukan organ wanita cantik, huh?” Tanya Amber menyelidik
“Hei Amber, apakah kamu seorang detektif? Kenapa kamu cepat sekali mengambil kesimpulan? Arthur berjalan bersisian dengan Amber menuju mobilnya. Amber mengikuti Arthur. Dia mengabaikan pertanyaan Arthur,
“Jadi kamu parkir dimana Arth?” Tanya Amber
“Tadi aku Vallet di Lobby apartemen ini” jawab Arthur
“Oh baiklah..” Sahut Amber
Mereka menunggu supir vallet membawa mobil Arthur ke Lobby. Tak lama, sedan mewah besar berwarna hitam itu datang. Arthur membukakan pintu untuk Amber dan berjalan menyebrangi mobil untuk masuk ke sisi pengemudi. Arthur memakaikan seatbelt untuk Amber. Semenjak mereka sering makan malam berdua, mereka jadi semakin dekat, an Arthur sering melakukan hal-hal kecil yang melelehkan hati Amber seperti memakaikan seatbelt, membuka pintu, mengikat tali sepatu Amber, memegang tas Amber, bahkan kadang- kadang menggendong Amber ke mobil Amber jika dia sudah mabuk berat. Namun memakaikan seatbelt ini adalah kegiatan yang paling membuat Amber menahan napas. Bagaimana tidak, wajah Arthur yang bak Dewa Yunani itu berada tepat di depan wajah Amber, hanya terpisah beberapa Inch saja. Kadang-kadang Amber berpikir bahwa Arthur sengaja melakukan itu untuk mengetes imannya Amber. Kuatkah imannya Amber bertahan melihat bibir penuh Arthur berada didekat bibinrnya?
Amber menahan napas lama, untuk menenangkan hatinya. Arthur benar-benar menggoyahkan Amber. Setelah memasang seat belt untuk Amber, Arthur memasangkan seatbelt untuk dirinya sendiri. Kemudian dia menyalakan mobil dan memasukkan persnelingnya, Arthur menginjakkan kakinya pada pedal gas. Mobil melaju pelan keluar dari pekarangan apartemen Amber. Kemudian Arthur membelokkan mobil kearah jalan raya menuju pusat kota London. Jalanan hari itu tidak terlalu padat, karena jam istirahat para pekerja yang belum dimulai. Jadi berkendara di tengah kota London yang lancar Bersama Arthur membuat Amber tersenyum sendiri. Bukan apa- apa, Amber merasa seperti sedang berlibur bersama suaminya ke tengah-tengah kota duh Amber, apa yang kamu pikirkan sih? Batin Amber. Berada disamping Arthur memang membuat Amber berbunga- bunga selalu.
“Kita akan kemana Arth?” Tanya Amber mengalihkan perhatian dari pikirannya.
“Kamu percayakan saja padaku.” Jawab Arthur sambil tersenyum. “Aku tidak akan menculikmu kok” lanjutnya lagi “Tidak akan menculikmu jauh- Jauh” Arthur terkekeh
Amber memasang muka manyun mendengar jawaban Arthur.
“Apa kau tidak bisa memberikan clue sedikit saja?” Tanya Amber penasaran
“Nope” jawab Arthur singkat
“Aku penasaran sekali Arthur…” Amber memohon
“NOPE” Arthur menutup mulutnya
“Oh.. kalau begitu aku akan menebaknya” Amber berkata keras kepala
Arthur diam tidak bergeming
“Kita akan ke kantor pengacaramu?” Amber mencoba menebak
Arthur tetap diam
“Baiklah, kita kekantormu?”Amber tidak putus asa
Arthur masih diam seribu bahasa. Perlahan dia membelokkan mobilnya ke bangunan megah yang isinya pusat perbelanjaan mewah. Semua toko yang ada disana adalah brand high class. Tidak semua warga London bisa kesitu. Karena memang barang- barang yang dijual disana tidak ada yang murah. Mobil melaju menembus pekarangan pusat perbelanjaan itu, bahkan pekarangannya pun indah, benar- benar terawat, layaknya taman kota. Arthur memperlambat laju mobilnya, karena pintu masuk pusat perbelanjaan tersebut sudah terlihat. Sambil mengantri untuk pelayanan Valet, Amber mencoba mengorek lagii
“Apakah ibumu ulang tahun? Sehingga kau ingin menv=cari hadiiah?” Amber bertanya
“Sebentar lagi Amber, sabar ya…” Arthur berkata gemas
“Aku baru sadar ternyata kamu orang yang tidak sabaran” lanjut Arthur lagi
Amber diam saja tidak mau menanggapi gurauan Arthur. Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk, Arthur membuka seatbeltnya, dan berusaha meraih seatbelt Amber, Amber mendului Arthur dengan meraih tali seatbelt lebih cepat.
“Aku bukan anak kecil Arth… aku bisa membuka dan memasang seatbelt ini sendiri” ucap Amber
“Benar Amber kau bukan anak kecil. Tapi kamu adalah wanita, dan aku selalu melayani para wanita. Aku menghormati para wanita. Bukan karena aku menganggap kamu anak kecil” Arthur berkata lembut
Amber terdiam mendengar jjawaban Arthur. Dia tidak bisa mengelak omongan Arthur
“jadi saat pergi bersamaku, biarkan aku meringankan bebanmu. Hanya memasang seat belt dan melepasnya tidak sulit bagiku. Ayo kita turun” ucap Arthur
Dua orang bagian service valet tersebut membukakan pintu mobil mereka. Arthur berjalan mengeililingi mobil untuk menggandeng tangan Amber. Amber kaget Arthur menggenggam tangannya. Namun amber tidak berbuat apa-apa dia hanya diam saja membiarkan tangganya digenggam oleh Arthur. Amber bisa melihat, hampir semua pasang mata melihat kearahnya dan Arthur. Mungkin mereka semuanya mengagumi Arthur yang tampan dan mengutuk wajahku yang biasa saja. Pikir Amber. Arthur mempererat genggamannya, dan mengarahkan Amber untuk berjalan tepat disampingnya. Mereka berjalan melewati lobby yang besar dan indah, dengan bunga segar disetiap sudut ruangan lobby.tampak sofa-sofa empuk berada disana untuk orang-orang yang sedang menunggu. Arthur berjalan kearah kanan tempat lift berada. Mereka ikut mengantri untuk masuk kedalam lift, ketika giliran mereka masuk, Arthur meminta kepada petugas untuk diturunkan di lantai 3.
Sesampainya dilantai 3, mereka kelura dari lift dan berjalan kearah kiri. Tidak jauh dari sana, Arthur berhenti dan berpikir sejenak, setelah dia membaca salah satu nama toko, kemudian dia melangkah mantap masuk ke toko tersebut. Pelayan toko membukakn pintu untuk mereka berdua.
“Silahkan masuk tuan dan nyonya.. ada yang bisa kami bantu?” Tanya pelayan toko tersebut
Arthur menjawab dengan tegas, “Ya, tolong carikan perhiasan yang palingg cantik untuk pacarku ini”
= = = = = BERSAMBUNG = = = = =