Restoran itu mendadak seperti terdengar senyap. Amber hanya focus kepada Arthur. Dia tahu Arthur becanda. Namun kali ini, becandanya sudah kelewatan. Mengapa dia harus memberikan kalung kepada Amber, benar- benar tidak mungkin. Amber tertawa mengejek, didepan Arthur. Suasana restoran kembali ramai. Amber sudah bisa menguasai emosinya.
“ha.. ha.. ha.. Arthur, kamu pikir aku anak remaja yang akan percaya pada kebohongan seperti ini? Jangan mimpi Arth… Aku wanita dewasa yang sudah banyak mengalami lika liku percintaan dan persahabatan dengan teman lelaki. Jadi sudah simpan kelakarmu untuk wanita bodoh lainnya.” Amber menyerocos tanpa memberi Arthr kesempatan.
Arthur tersenyum mendengar protes Amber. Obrolan mereka terpotong oleh pelayan yang datang embawa pesanan mereka. Setelah meletakkan makanan di tempat masing- masing mereka dan menuang wine ke gelas Amber dan Arthur, pelayan tersebut pergi meninggalkan meja itu.
“Amber… aku serius… aku membelikanmu kalung itu.” Jawab Arthur dengan muka serius
“Aku ke toilet dulu” jawab Amber tak acuh. Amber berjalan kearah toilet dengan wajah dingin. Dia sangat emosi dengan becandaan Arthur yang menurutnya tidak lucu.
“Sialan!!! Maksud dia apa sih? Kenapa dia mau memberikan kalung yang mahal begitu untukku? Dia kira aku bisa dibeli dengan perhiasan mahalnya? Arthur sialan!!!!” Amber marah-marah didepan kaca. Untungnya toilet itu sedang tidak ada orang. Jadi tidak ada yang bisa mendengar Amber memaki-maki Arthur. Setelah puas memaki- maki, akhirnya dengan memasang wajah polos lagi Amber keluar dari toilet dan berjalan menuju mejanya bersama Arthur.
“Maaf aku lama, toiletnya antri” Kata Amber
“Its okay Amber” Jawab Arthur sambil tersenyum
“Aku belum menyentuh makanannku, aku menunggumu agar kita bisa makan bersama” Arthur melanjutkan lagi
“kenapa kau tidak makan saja. Kau pasti lapar sudah siang belum makan, tadi kita terlalu lama di took perhiasan>” Ucap Amber
“Heii… by the way karena kamu membahas tentang toko perhiasan, aku baru ingat.. Amber jujur lah kepadaku, apakah kamu seorang detektif? Kamu pintar sekali dan cepat tanggap. Aku yakin kamu bukan orang biasa.” Tanya Arthur
Tawa Amber pecah, dia terbahak- bahak sejadi- jadinya. Harus diakui oleh Amber, Arthur memang orang yang sangat pintar. Dia bisa membaca situasi dengan cermat. Arthur heran melihat amber tertawa. Dia merasa tidak ada yang lucu. Kenapa Amber bisa tertawa selepas itu. Setelah bisa menguasai dirinya, dan berhenti tertawa, Amber mengambil winenya dan meminum semua isinya.
“Arthur, kamu enar-benar lucu. Bagaimana wanita sepetiku bisa menjadi detektif” ucap Amber berbohong.
“Aku hanyalah wanita dengan pendidikan sebagai sekretaris. Tidak mungkin aku bisa punya jalan menjadi detektif” Amber berbohong. Sebenarnya Amber meraasa bersalah dengan kebohongannya. Dia tidak mau membohongi Arthur. Tapi dia belum bisa jujur kepada Arthur. Maakan aku Arth, nanti ada saatnya aku akan berkata jujur kepadamu Arth… Batin Amber
“Ohh begitu, baiklah, aku kira kamu adalah detektif, ta[I mengambil pekerjaan sampingan sebagai sekretaris. Ayo kita lanjut makan” jawab Arthur cuek
Mereka melanjukan makan sambil membahas obrolan-obrolan ringan mengenai makanan yang ada dihadapan mereka. Makanannya sangat lezat, Arthur mencicipi Lobster yang dipesan Amber. Dan amber pun mencicipi makanan pesanan Arthur.
“Apakah kamu bisa masak Amber?” Tanya Arthur
“Yeah.. aku bisa masak sedikit, tidak banyak menu yang aku bisa, tapi semua menu yang bisa aku masak bisa membuat aku hidup sampai setua ini” Jawab Amber bergurau
“Suatu saat kamu harus mencoba memasakkan sesuatu untukku.” Arthur berkata
“Pasti. Aku akan memasakkanmu sesuatu nanti. Janji Amber
Bagaimana dengan kamu Arth? Kamu bisa masak kah?” lanjut Amber lagi
“Of Course.. aku koki terbaik di London…” Jawab Arthur berkelakar
“Really?” Tanya Amber takjub
“Yes… ketika memutuskan tinggal sendiri, aku ikut kelas memasak pada chef Kerajaan Inggris. Dia adalah chef terbaik di London yang selalu memasak hanya untuk Ratu Elizabeth dan Prince Phillips. Kamu tau? Susah sekali mendapatkan waktu untuk mengikuti kelas memasaknya. Tapi dia akhirnya memberikan Private lesson kepadaku.” Terang Arthur
“Ohh Lucky you Arth…” Ucap Amber
“Aku akan memasakkanmu sesuatu nanti. Kamu akan kuundang ke apartemenku dan aku akan memasakkan masakan paling istimewa untukmu. “ Arthur berkata
“Ah Arthur, terimakasih, tapi tidak usah repot- repot. Kamu sudah sangat sibuk, jangan buang- buang waktumu untuk memasak makanan untukku” Jawab Amber
“No Amber, aku senang bisa memberikanmu sesuatu yang istimewa…” Jawab Arthur lagi.
“Aku merasa tersanjung” Amber tersipu
“Aku tidak pernah mengundang orang kerumah ku. Tapi aku akan mengundangmu nanti suatu saat” tutur Arthur. Amber tersanjung mendengar ucapan manis Arthur. Hal- hal yang seperti ini lah yang kerap membuat Amber merasa diperlakukan istimewa oleh Arthur. sikapnya yang manis, omongannya yang hangat, kerap membuat Amber tersipu.
“Aku tunggu undanganmu Arth” Jawab Amber singkat
Pelayan datang lagi dengan membawa pesanan dessert mereka. Arthur memesan panacotta, dan Amber memsan banana split, setelah meletakkan kedua menu tersebut, pelayan itu memberika sebotol wine kiriman dari salah tamu lain untuk Amber.
“Maaf nona, tuan dimeja itu mengirimkan ini untukmu” Jawab pelayan tersebut sambil menunjuk meja yang dimaksud.
“Oh really? Send my Thanks to him” jawab Amber sopan. Setelah pelayan itu menuangkan wine tersebut kedalam gelas Amber, Amber mengangkat gels tersebut kea rah meja orng yang memberikan sebagai tanda terimakasihnya. Arthur dongkol meihat lak- laki tersebut, dia menatap tajam kearah laki- laki itu. Merasa dipelototi oleh Arthur, lelaki tersebut membuang muka dan menatap kea rah lain. Arthur yang geram karena merasa tidak di hargai oleh orang itu, segera mengambil kotak kalung yang tadi dibelinya.
“Amber sudah kamu tidak boleh menolak lagi pemberianku” Arthur berkata tegas
“Kamu lihatkan, orang itu tidak menghargaiku dengan memberikan wine itu kepadamu. Apakah aku datangi saja dia? Lebih baik aku pukul saja dia sekalian.” Arthur berkata sambil berdiri hendak menghampiri lelaki tersebut.
“Hei… Arth… Calm down… Calm down… aku yakin dia tidak bermaksud apa2.. dia hanya menghargaiku saja” Amber memegang tangan Arthur untuk mencegahnya berjalan kearah lelaki itu
“Tidak Amber, aku akan menghajarnya. Apakah dia tidak tahu etika, kenapa dia harus memberikan wine kepada wanita yang sedang bersama pria lain” Arthur masih berapi- api
“No.. No.. No Arthur, hei.. sudahlah, biarkanlah dia.. tidak enak dilihat orang disini. Sudahlah jangan membuat gaduh” Amber kembali menenangkan Athur. Tapi Arthur tidak bisa ditenangkan, dia tetap berjalan ke meja itu,
“Arthur Stop,, aku akan menerima kalung darimu okay? Stop Please…” Amber memohon
Jika Arthur membuat keributan disitu, maka mereka pasti akan berakhir dikantor polisi. Jika mereka ke kantor polisi, maka identitas Amber akan terbongkar. Makanya lebih baik Amber menerima saja kalung itu. Arthur berhenti mendengar ucapan Amber, dengan reflek, Arthur memeluk Amber karena perasaan gembiranya. Amber yang terkejut tapi masih bisa berfikir, membiarkan Arthur memeluknya untuk menenangkan Arthur agar dia melupakan masalah dengan pria tadi.
“Benarkah? Kamu benar- benar akan menerima kalung itu?” Tanya Arthur tidak percaya.
“Iya Arth… lagi pula kalung itu sangat mahal. Rugi kalau kamu buang ke sungai” Jawab Amber bergurau
“Kenapa kamu sebahagia ini?” Tanya Amber lagi?
“Tidak apa- apa.. aku tadi hanya kecewa. Aku sudah mengatur hari ini untukmu, aku bahkan menyewa sekretaris pengganti untuk ibuku, aku benar-benar mempersiapkan hari ini untukmu, tapi kamu tidak mau menerima pemberianku. Apakah kamu bisa merasakan kekecewaanku?” Arthur menjawab pertanyaan Amber dengan lugas
“Ohhh aku mengerti sekarang.. baiklah Arthur.. aku paham” ucap Amber
Arthur membuka kedua kotak perhiasan itu, dan memperlihatkan kepada Amber kedua kalung tersebut.
“Yang mana yang akan kau pilih Amber?” Tanya Arthur
“Hmmm… aku bingung. Aku menyukai keduanya… aku tidak bisa memilihnya Arth” Jawab Amber
“Kamu harus memilih the prettiest necklace you’ve ever seen…” Arthur berkata lagi
“Bagaimana kalau kamu saja yang memilihkannya untukku Arth?” Amber bertanya
“Seriously?” Mata Arthur membesar karena kegirangan
“Yes aku yakin pilihanmu pasti bagus dan terbaik diantara kedua kalung itu.” Ucap Amber lagi
“Hmmm baiklah kalau kamu mempercayakannya padaku” Jawab Arthur
Arthur melihat dengan seksama keatas kalung itu, dia melihat dengan cukup lama dan detail. Kemudian dia memilih satu.. Amber menutup matanya agar dia tidak bisa melihat kalung yang mana yang akan dipilih Arthur. dengan Haiti- hati Arthur melepaskan kalung itu dari ikatan bahan beludru dasar boxnya. Kemudian dia bberjalan perlahan menghampiri Amber. Amber yang mendengar Arthur ytelah mengeluarkan kalungnya membuka matanya.
“Hei… penilaian belum usai… tetap pejamkan matamu Amber” Sela Arthur
“Ohh baiklah… aku kira kamu sudah memilihnya Arth…” Jawab Amber
Sesampainya di hedapan Amber, Arthur berjalan ke belakang Amber dan membuka pengait kalung tersebut. Kemudia Arthur memasangkan kalung tersebut di leher Amber. Kalung itu terlihat sangat cocok berada dileher Amber. Seolah-olah memang kalung itu itu diciptakan untuk leher Amber. Amber terkejut ketika Arthur memakaikan kalung tersebut ke lehernya. Sentuhan jemari Arthur yang tidak sengaja di kulit Amber menimbulkan desir- desir di jantungnya. Amber membuka matanya
“Ahhh… aku memang sudah jatuh cinta pada kalung ini sejak pertama kali aku melihatnya.” Amber berkata sambil memegang kalung klasik pilihan terakhirnya di toko perhiasan tadi.
= = = = = bersambung = = = = =