“Halo, Nak.” Zam merinding mendengar sapan Wrystle. Baginya sapan Wrystle itu seperti ucapan salam dari malaikat maut yang tengah mengintai nyawanya. Bukankah Wrystle memang malaikan pencabut nyawa? Zam bergeming. Namun, ia tidak menyanggah jika jantungnya berdegup gugup bercampur takut. Demi Dewa. Siapa yang tidak akan ketakutan jika nyawanya sebentar lagi akan direnggut dari raganya? “Hah. Jadi, seperti ini kamarmu?” Wrystle berkeliling seperti yang dilakukan oleh Korf beberapa saat lalu. Zam tidak menyahuti atau pun memberi respon. Ia hanya berdiri kaku di tempatnya. “Kamar yang lebih baik dibanding perkemahan bukan, Zam?” ejek Wrystle. “Ya. Kamar ini tadinya memang cukup nyaman sebelum adanya dirimu,” balas Zam. Wrystle terkekeh mencemooh. “Aku bisa di mana saja, Zam. Dan menan

