Setelah lelah berkeliling, kami duduk menggelar tikar di area taman Margasatwa Ragunan. Roy membuka resleting tas ranselnya, ia mengeluarkan beberapa roti tawar dan menyodorkannya. “Kamu, kan, belum sarapan, makanlah. Nanti kalau sudah siang kita ke tempat makan di dekat sini.” Kata Vino penuh perhatian menyodorkan salah satu roti yang dikeluarkan Roy. Aku tidak menduga akan mendapatkan perhatian semacam ini. Sewaktu di mobil, pikiran negatif berseliweran di benakku. Aku pikir Vino marah karena keisenganku, dan aku merasa takut ketika dia membawaku dengan paksa. “Anggap saja ini semacam bulan madu.” Nada suaranya serius tapi aku tahu sebenarnya dia meledekku. “Bulan madu? Memangnya aku makhluk apa bulan madu di Kebun Raya Ra

