Disaat Rasya membunyikan klakson mobilnya Rafi pun langsung lari dan menuju ke halaman depan, sembari mengucap.. Ayaaahh.....Ibuuu......
Dan setelah mobil Rasya masuk ke halaman rumah dan langsung kearah bagasi Rafi pun tetap saja mengejar mobil Ayahnya itu.
Dengan melihat anaknya seperti itu... Rasya dan Silvi pun merasa kasian sekali ke Rafi. Terutama untuk Silvi, iya adalah seorang Ibu yang mengandung dan melahirkan Rafi, tentu sangat menyakitkan melihat anaknya berlari dibelakang mobil sembari mengejarnya.
Silvi pun terus minta turun ditempat itu juga dan tidak mau menunggu turun ditempat parkir mobil. Karena sudah tidak tahan melihatnya anaknya yang berlari kerena mengejarnya.
Dan setelah Silvi turun, Rafi pun langsung memeluk Ibunya. Sembari mengucap, Ibu......
Iya sayang.....ucap Silvi ke Rafi. Dan Silvi pun terus menjulurkan tanganya ke Rafi dan Rafi pun terus mencium tangan Ibundanya (bersalaman ke Ibunya), maksud Silvi yaitu supaya Rafi terlatih dengan cara seperti itu hingga besar dan menghormati orang yang lebih tua dari umurnya.
Setelah itu pun Rafi dan Silvi terus beranjak masuk kedalam rumah, dan bersalaman dengan Ibu mertuanya. Namun tidak dengan nenek Rasya, karena nenek Rasya sekarang telah repot (susah) untuk berjalan dan lebih sering berada didalam kamar.
Dan sesekali kalau pagi berjemur dibawah terik sinar matahari pagi sekitar jam delapan sampai setengah sembilan. Dan berjalanya pun selain menggunakan tongkat, terkadang masih membutuhkan bantuan orang lain.
Jadi menurut Ibu Rasya karena kalau siang yang di rumah hanya orang-orang perempuan semua, dan lebih baik Ibunya atau nenek Rasya berada didalam kamar.
Dan semisal membutuhkan sesuatu tinggal memencet bel yang ada disamping Ranjang tidurnya itu. Namun Silvi lah yang sering memperhatikan nenek Rasya itu.
Dengan cara, mandiin, disuapin dan terkadang juga malah menggendongnya misal dari kamar mandi dan sudah untuk berjalan menuju ranjang tidurnya.
Hati Silvi memang luar biasa, padahal iya sewaktu nenek Rasya masih sehat sering diperlakukan yang tidak baik oleh nenek itu.
Namun sekarang dikala orang yang membencinya telah tidak berdaya Iya malah membantunya. Dengan alasan Silvi merasa tidak tega dan kasian melihat neneknya yang telah susah untuk berjalan dan hampir tidak berdaya itu.
Dan setelah Silvi bersalaman dengan Ibu mertuanya, Iya pun terus masuk kedalam kamar dan bersih-bersih badan. Sedangkan Rafi setelah Iya bertemu dengan Ibunya Iya pun terus ikut masuk kedalam kamar ibunya dan membuka oleh-oleh dari Ibunya itu.
Sementara untuk Rasya Iya setelah memarkirkan mobilnya, Iya terus beranjak masuk rumah dan menemui Ibunya lalu duduk di ruang tamu terlebih dahulu dan beristirahat disana.
Sembari menunggu Silvi yang sedang dikamar dan Rasya telah menebaknya pasti Silvi sedang mandi. Setelah beberapa sekitar lima belas menit Iya beristirahat Silvi pun telah selesai mandi dan beranjak menuju keluar dari kamar dan menuju ke meja makan karena mengontrol masihkah ada makanan atau tidak.
Dan ternyata masih ada, Silvi pun terus bergegas keluar rumah dan menuju ke mobil Dangan maksud membantu Bik Ina yang sedang memasuk-masukkan barang kedalam rumah.
Sementara Rasya mengetahui istrinya telah selesai mandi Iya pun terus bergegas masuk kedalam kamar dan bergantian mandi.
Namun Rasya tidak tau kalau ternyata anaknya yaitu Rafi sedang ada di kamarnya dan sedang bermain dengan mainan barunya.
Akhirnya pun Rasya terkejut disaat Iya membuka pintu kamar dan ada anaknya didalam situ. Perasaan terkejut Rasya pun membuat hati Rafi terpingkal-pingkal tertawanya.
Karena Iya merasa heran saja dengan Ayahnya, padahal Rafi masuk di kamar telah dari tadi bersama Ibunya.
Dan Rafi pun karena tadi sewaktu Ayahnya turun dari mobil Iya telah masuk kedalam rumah terlebih dahulu, makanya Iya belum sempat salaman dengan Ayahnya.
Rafi pun terus meminta salaman ke Ayahnya dan Radya pun terus mencium Rafi. Dan setelah itu Rafi beranjak lanjut bermain dikamarnya dengan sendirian.
Stelah Rafi dan Selesai mandi dan Iya pun terus duduk di kursi meja makan dan menunggu Silvi untuk makan bersama. Begitu juga dengan Rafi setelah Iya lanjut bermain dikamarnya, Rafi pun terus keluar dari kamar untuk bermanja ke Ibunya.
Namun kebetulan Silvi sedang menata atau merapihkan barang-barang yang dibeli dari moll tadi siang.
Rafi pun mengetahui Ibunya dalam posisi sibuk , Iya tidak jadi bermanja ke Ibunya dan malah menawarkan jasa untuk membantunya.
Ibu.... Ucap Rafi ke Silvi. Rafi bantu ya Bu merapihkan barangnya ? Tanya Rafi ke ibunya terlebih dahulu, karena Rafi juga takut dimarah sama ibunya jika Iya tidak izin terlebih dahulu.
Dan Silvi pun memberikan izin ke Rafi untuk membantunya. Sementara Rasya Iya duduk di kursi meja makan dan sembari menunggu Istri dan anaknya yang sedang merapikan barang-barang.
Setelah beberapa menit pun Silvi dan Rafi dalam merapihkan barang telah selesai, dan mereka pun beranjak untuk makan malam.
Sayang ..ucap Silvi ke Rafi. Makan dulu ya nak...?
Rafi pun menjawab. Iya Buu...dan sembari tersenyum manja ke Ibunya.
Silvi pun terus mengambilkan makan untuk Rafi dan tidak lupa juga Silvi pun mengajak Ibu mertuanya untuk makan bersama.
Namun Ibu Rasya menolaknya karena sedang ada kesibukan sedikit dikamarnya dengan Sinta anak Rinto paman Rasya.
Dan Rasya pun tidak menunggu Ibunya terlebih dahulu untuk makan bersama, karena Ibunya terkadang makan malamnya sangat larut. Dan selain itu juga Ibu Rasya tidak mau untuk ditunggu.
Dan akhirnya pun mereka makan malam bertiga, yaitu Rasya, Rafi dan Silvi. Terkadang Rasya pun sempat berfikir,padahal dahulu sewaktu Ibunya masih ada diluar negeri bersama Ayahnya.
Iya hanya berdua bersama neneknya, makan, bercanda. Dan sekarang neneknya sudah tidak seperti dulu lagi. Nenek Rasya sekarang kalau makan sudah tidak bisa dimeja makan lagi, namun diantarkan dan disajikan didalam kamarnya.
Rasya pun terkadang mengingat masa-masa bersama neneknya waktu dulu dan Iya pun merasa sangat sedih dengan melihat kondisi neneknya yang seperti sekarang ini.
Dan Rasya pun sengaja bilang ke Ibunya atau ke Silvi jika Iya ingin diberi kesempatan untuk menyuapi neneknya dikala waktu makan malam.
Silvi dan Ibu Rasya pun menerima permintaan Rasya itu.
Namun jika Rasya sedang ada pekerjaan lain yang membuat dirinya pulang lebih lama, Ibu Rasya atau Silvi pun tidak menunggu lama dalam memberi makan malam ke nenek Rasya.
Silvi pun lebih gesit dalam hal mengurus nenek suaminya itu. Maka dari itu Ibu Rasya pun senang sekali ke Silvi, karena Iya tidak membeda-bedakan antara merawat orang tua Rasya atau pun orang tuanya sendiri.
Dan setelah Rasya dan Silvi selesai makan malam, Mereka pun duduk di kursi yang ada diruang tamu dan Rasya sembari memanggil Ibunya untuk mengobrol atau berdiskusi bersama, mengenai rencana pembangunan dan lain-lain.
Rasya pun menghampiri Ibunya yang masih ada didalam kamarnya yang sedang sibuk dengan anaknya Rinto itu. Dan ternyata Ibu Rasya masih sibuk bermain dengan keponakanya itu.
Ibu....Ucap Rasya ke Ibunya. Aqu kira Ibu sedang sibuk ngapain dengan Sinta, ternyata sedang bermain....
Dan Ibu Rasya pun ternyata sedang sibuk bermain Dakon dengan keponakanya itu. Karena itukan permainan anak perempuan, jadi Rafi tidak mau jika diajak main oleh Sinta untuk melayani bermain seperti itu.
Karena Sinta juga tidak mau jika diajak Rafi untuk bermain mobil-mobilan. Karena Iya juga merasa perempuan adalah mainanya bukan mobil.
Maka akhirnya Nenek Rafi lah yang mengalah untuk bermain Dakon tersebut.
Dan setelah Rasya menghampiri Ibunya kedalam kamar, Rasya pun terus bilang ke Ibunya bahwa ada yang akan dibicarakan bersama dengan Ibunya dan juga Silvi diruang tamu.
Yaitu mengenai urusan bisnis atau usaha yang akan dijalankan dan akan mulai di bangun ini.
Ibu Rasya pun terus menyudahi permainan itu, dan terus bilang ke Sinta bahwa Iya akan ke ruangan tanah sebentar. Sinta pun juga menurut dengan kata-kata Ibu Rasya.