Dan setelah Dewi berada area luar moll, Iya pun berjalan berada di belakang Rasya. Karena Rasya telah berjalan lebih dahulu menuju ke mobilnya. Dan Silvi pun mengajak Dewi dan juga anaknya untuk menuju ke mobil miliknya dan naik mobil bersamanya.
Dan setelah mereka semua masuk kedalam mobil, Rasya pun terus meluncurkan mobilnya ke arah rumah Dewi. Dan Dewi lah yang menjadi petunjuk arah rumahnya.
Dengan waktu yang sangat singkat pun mobil Rasya telah terhenti didepan rumah Dewi. Rumah yang masih sangat sederhana sebagaimana rumah Ibu Silvi.
Namun Silvi dan Rasya tidak memandang semua itu, bagi Silvi kepercayaan dalam berteman itu yang lebih Iya utamakan. Setelah Rasya memarkirkan mobilnya didekat rumah Dewi, yaitu rumah saudara suami Dewi.
Iya pun dan juga Silvi terus dipersilahkan untuk masuk kedalam rumah Dewi. Mari Silvi.. Rasya ...Silahkan masuk digubuk kami ini.
Rasya dan Silvi pun dengan berjalan santai dan masuk kedalam rumah Dewi. Dan Dewi pun langsung kebelakang karena membuatkan minum kedua teman yang sekaligus tamunya itu.
Dan setelah selesai membuat minuman hangat, Dewi pun terus keluar dan menyuguhkan menumpang tersebut dan ditambah dengan makanan ringan alakadarnya.
Silahkan diminum Sil...Rasya...Beginilah kondisi rumah kami...tidak seperti rumah kamu ya tentunya... Ucap Dewi ke Rasya dan Silvi. Tidak juga Dew.. itu cuma perasaan kamu saja.
Kami juga tinggal dirumah yang sederhana.. Bagi kami kesederhanaan itu indah..Dan tetap harus dilestarikan... Jawab Silvi sembari menguatkan hati Dewi supaya tidak merendah dengan keadaanya.
Kalau boleh tau Dew... Suami kamu kerja dimana ? Tanya Silvi ke Dewi.
Suami aqu kerja disebuah koperasi simpan pinjam di daerah sini. Jawab Dewi ke Silvi.
Alhamdulillah bisa untuk menyambung keperluan hidup keluarga kami.
Sudah berapa lama Dew kamu tinggal didaerah ini ? Tanya Silvi lagi ke Dewi.
Emmm kami disini sekitar sudah ada tiga tahun lebih. Ya seusia anak kami..
Dulu kan Aqu dan suami qu menikah ditempat orang tua aqu, yaitu dijawa barat. Dan kami setelah menikah tidak langsung memiliki anak..
Namun malah suami aqu di berhentikan dari kerjaanya. Dan waktu itu suami aqu tinggalnya mengontrak. Terus akhirnya kita pulang ke rumah orang tua suami aqu, dan disini tempatnya.
Yaaahhhh.. seperti ini lah kelanjutan hidup kami,walau cuma pas-pasan namun kami tetap bersyukur dengan apa yang kami miliki saat ini.
Dan aqu mau itu Sil.. lowongan kerja yang kamu tawarkan itu..
Banyak lagi ya... Lowongan kerjanya ?
Boleh tidak Sik aqu memilih pekerjaan itu ?
Emmm untuk yang pertanyaan itu biar pak Rasya yang menjawabnya. Ucap Silvi sembari bercanda dan mengarah ke suaminya.
Dan Rasya pun terus memberi jawaban ke Dewi.
Boleh mbak Dew... Tinggal mbak Dewi pilih saja yang cocok untuk mbak Dewi yang bagian mana..
So'alnya memang ada beberapa tenaga kerja yang kita butuhkan.
Misalnya dibagian kasir.. Bagian juru masak di dapur. Bagian pelayanan dan bagian kontrol.
Iya Rasya.. insa Alloh aqu siap...
Semoga juga suami aqu mau ikut gabung dan bekerja bersama..
Ucap Dewi ke Rasya, karena berharap seperti itu. Dan setelah mengobrol sekitar tiga puluh menit, datanglah seorang lelaki yang berpakaian rapi dengan menggunakan kendaraan bermotor.
Dan orang itu melihat ada sebuah mobil yang terparkir di area rumah sebelahnya dan iya pun berfikir, mobil siapakah gerangan ?
Terus lelaki itu menuju masuk kedalam rumah yang dimana didepan rumah itu ada sandal dan sepatu..
Lelaki itu pun mengucapkan Salam, Assalamuallaikum... Rasya dan Silvi pun menjawab Waallaikum salam...
Dan lelaki itu langsung masuk kedalam rumah.
Dewi waktu itu masih ada dibelakang, kebetulan anaknya minta BAB jadi Iya mengikuti anaknya di belakang. Dan ternyata lelaki itu adalah suami Dewi.
Sayang.. ucap Silvi ke Rasya. Kok orang itu mirip kamu yaa ? Sepintas muka dan postur tubuhnya ?
Ahhh...Itu perasaan kamu saja.... Jawab Rasya ke Silvi.. enggak dehh sayang....
Iyaaa ....suamiqu......jawab Silvi dengan nada panjang.
Dan setelah itu pun suami Dewi keluar lagi kedepan, dan menemani Rasya serta Silvi.
Karena belum pernah bertemu sama sekali dengan Silvi dan Rasya, suami Dewi pun bertanya ke Rasya dan Silvi. Dari mana mas ...mbak.....
Dan Rasya pun terus menjawab pertanyaan suami Dewi itu. Eee.... Kami dari daerah sebelah...dan kami adalah teman mbak Dewi waktu kuliah.. namun untuk lebih tepatnya istri saya yang waktu dulu teman kuliah mbak Dewi.
Dan kebetulan kami tadi bertemu di moll depan sana dan akhirnya kami mengobrol dan terus diajak mampir kesini...
Dan setelah Dewi selesai mengurus anaknya dari BAB iya pun kembali lagi kedepan dan mengobrol dengan Silvi dan Rasya. Dan kebetulan Rasya masih memberikan jawaban dari pertanyaan suaminya..
Lalu Dewi pun menambahkan jawaban dari Rasya untuk suaminya. Ini pa... Ucap Dewi ke suaminya. Silvi adalah teman kuliah Dewi dulu waktu di Jakarta. Dan mama juga tidakenyangka kalau akhirnya kita masih dipertemukan kembali ditempat ini, dan bisa berkumpul dan mengobrol bersama.
Sebutan Sayang Dewi dan Suaminya adalah Papa dan mama. Beda dengan Rasya dan Silvi, panggilan sayang mereka adalah sayang. Silvi dan Rasya memang telah bersepakat untuk memanggil masing-masing mereka dengan sebutan sayang.
Dan setelah suami Dewi mengetahui cerita yang sebenarnya, Iya pun terus berusaha mengobrol sebagaimana Dewi yang telah kenal sejak dulu dengan mereka, yaitu Silvi dan Rasya.
Setelah mengobrol dengan suami Dewi Rasya pun berusaha untuk menutup pembicaraanya itu, namun susah sekali untukenutupnya, karena suami Dewi dan Dewi pun masih terus ingin mengobrol bersamanya.
Dan akhirnya pun Rasya berhasil memasukan kata-kata kearah yang Iya mau, yaitu melanjutkan pembicaraannya mengenai pekerjaan yang sempat tertunda karena anak Dewi.
Jadi begini ya mas dan Dewi...mengenai tenaga kerja aqu membutuhkan sekitar dua orang untuk kasir, dua orang untuk gudang bongkar muat barang, satu orang untuk memasak, empat orang untuk pelayan.
Jadi untuk tenaga kerja kami membutuhkan sekitar kurang lebih sembilan karyawan. Dan aqu minta tolong Dewi misal ada tetangga atau orang yang minat dengan pekerjaan itu tolong segera hubungi kita.
Bisa langsung chat atau telvon ke istri aqu atau ke aqu langsung juga tidak apa-apa.. asal pada waktu jam istirahat insa Alloh aqu pasti mengangkatnya.
Ok...Siap Rasya... Jawab Dewi ke Rasya. Ow iya maaf ya... kita telah mengobrol dengan banyak, panjang dan lebar.. tapi aku belum tau kamu kerja dimana ?
Kelihatanya sibuk sekali ya... Tidak seperti aqu.. pengangguran... Ucap Dewi ke Rasya.
Rasya pun menjawab pertanyaan Dewi dengan santai dan lembut..
Aqu sebenarnya juga tidak terlalu sibuk... Namun karena kerjaan aqu itu menghitung waktu.
Jadi kalau belum waktu istirahat dan keluar dari ruangan, belum bisa pegang hanepon..
Tapi jangan bilang pengangguran ahhh.... Celoteh Rasya ke Dewi...
Justru kerjaan seorang perempuan dirumah itu sangat berat lhoo...
Mengurus anak.. mengurus rumah, mencuci pakaian dan lain-lain sebagainya.
Dewi pun tersenyum dengan ucapan Rasya itu.. Dan setelah itu pun Rasya terus meminta izin atau pamit ke Dewi dan suami Dewi, karena telah lama mampir ke rumahnya.. dan memohon maaf apabila telah mengganggu waktu Dewi dan suaminya, karena waktu juga telah mulai sore, dan menutup pembicaraan itu dengan capan,wassalamualaikum wr.wb.
Suami Dewi pun menjawab dengan Aura ikhlas dan bersyukur karena telah kedatangan tamu yang sekaligus teman kuliah Dewi dimasa dulu.
Dan suami Dewi juga menjawab salam dari Rasya, waallaikumusallam wr.wb.
Silvi dan Rasya pun setelah berpamitan lalu bersalaman dengan Dewi dan suaminya. Terus beranjak keluar dari rumah Dewi dan menuju ketempat mobil diparkirkan.
Setelah Silvi dan Rasya masuk kedalam Bomil Silvi pun melambaikan tanganya ke Dewi.. dan Rasya pun terus meluncurkan mobilnya kearah pulang.
Dan google maap pun kembali dinyalakan oleh Rasya. Karena baru pertama kali masuk ke daerah ini dan takutnya kesasar jika tidak menggunakan petunjuk arah.
Perlahan setelah sampai di jalan Raya Rasya terus mempercepat kendaraanya. Karena waktu telah mulai sore, Rasya pun ada perasaan khawatir jika belum melewati jalan yang berlubang tadi.
Karena kelihatanya agak mengerikan. Namun Rasya berdo'a semoga semua itu cuma firasat Rasya, dan firasat itukan bisa kurang tepat.
Dan akhirnya pun Rasya sampai di jalan yang berlubang itu masih lumayan siang yaitu sekitar pukul lima nol- nol atau tepatnya pukul tujuh belas nil-nol. Alhamdulillah sesampainya Rasya dan Silvi di jalan tol waktu menunjukkan pukul Delapan belas nol-nol.
Artinya masuk waktu maqrib. Dan Silvi dengan Rasya pun berusaha berhenti disebuah musholla atau masjid untuk melakukan sollat maqrib.
Dan setelah itu Rasya pun sudah tidak berhenti-berhenti lagi dalam mengendarai mobilnya, karena Teringat akan anaknya yang tadi berkeinginan ikut, Namun karena sekolah Rafi akhirnya lebih memilih berangkat ke sekolah.
pasti Rafi masih menunggu Ayah dan Ibunya didalam rumah dan terkadang Rafi menunggu Ibunya didepan pintu keluar. Rafi pun terlihat masih berat sekali bila berpisah satu hari saja dengan Ibunya.
Namun apalah daya, kepentingan orang tuanya terkadang membuat Iya harus tetap di rumah.
Dan setelah sekitar satu jam Rasya berkendara dari rumah Dewi, akhirnya Iya telah sampai juga ke daerahnya sendiri. Dan sudah tidak lama lagi Rasya dan Silvi sampai ke rumahnya.
Dengan hitungan menit, Rasya danSilvi pun sampai diarea depan rumahnya. Rasya pun seperti biasanya selalu membunyikan klakson mobilnya.
Namun karena Rafi juga agak takut dengan Ayahnya, Iya pun menurut dengan apa yang telah Ayahnya ucapkan. Dan waktu demi waktu pun telah dilalui oleh Silvi dan Rasya.
Rasa pahit, getir, asam, dan enak pun telah Iya rasakan. Jadi untuk yang namanya ujian bagi Silvi itu memang hal biasa.