Kegalauan

1476 Kata
Perasaan bingung pun terlintas dipikiran Dion," memang hati kecil Dion mengakui bahwa Silvi adalah wanita impianya," bahkan sampai sekarang pun Dion telah beristri dan mempunyai anak, Ia pun belum sepenuhnya bisa muve on. Tetapi jika Ia berkata yang sesungguhnya, maka rumah tangganya bisa kiamat. Namun jika Ia tidak berterus terang bagaimana dengan perasanya jika sedang ada kesempatan bertsama Silvi. Pandangan dan ucapanya tidak bisa Ia alihkan, bahkan sampai-sampai kini istrinya pun mulai curiga terhadapnya. Dan akhirnya Dion pun terdiam ditengah-tengah pertanyaan Sani. Dion hanya berpasrah, jika Sani memang benar-benar wanita yang memiliki karakter seperti Silvi, maka Ia tidak akan terus mendesak dan menginterogasi tentang perasaanya ke Silvi. Namun jika Ia tetap bersikap tegas ke Dion tentang kecurigaannya, maka Dion pun akan terima apapun resikonya. Karena memang Dion benar-benar tidak bisa melawan perasaanya. Dan Sani pun melihat Dion terdiam dengan penegasannya, maka Ia juga terdiam juga dari ucapanya. Hingga malam menjelang pun antara Sani dan Dion tidak ada yang berkomentar apa-apa. Dan ke esokan harinya, Sani pun beranjak pergi ke pasar karena bahan-bahan yang di dapur telah mulai habis. Sani pun berangkat ke pasar sendirian tanpa diantar oleh suaminya. Sebenarnya Dion juga kasian melihat Sani pergi berbelanja sendiri tanpa Ia dampingi. Namun karena Sani sedang tidak mau berbicara dengan Dion jadi apalah daya, "Di dampingi juga pasti Sani tidak mau. Dan disaat Sani pergi ke pasar, Ibu Dion pun bertanya ke Dion. Nak... Kelihatanya Istri kamu dari tadi tidak mau bicara ya ?.. Dion pun tersenyum ke Ibunya sembari menjawab. Ia Bu... Mungkin dari diri Dion ada yang kurang berkenan di hatinya. Ibu Dion pun tersenyum dan berbalik tanya ke anaknya. "Nak....kalau boleh Ibu tau".. kira-kira apa dalam diri kamu yang kurang berkenan di hati Sani ? Dion pun terdiam sejenak" lalu memberi jawaban ke Ibunya. Mungkin semua memang salah Dion Bu".. Sani curiga kalau Dion ada perasaan ke Silvi" Memang Dion akui Bu..Dulu ...waktu Dion menikah dengan Sani... Itu karena ada kemiripan dalam diri Sani, yaitu karakter Sani," hingga akhirnya pun kami menikah dan sampai sekarang," yang Dion suka dari Sani adalah kemiripannya dengan Silvi. Namun jika telah diketahui dan seperti ini," Dion pun ikhlas Bu untuk menerima risikonya. Karena memang itulah yang terjadi. Dan Dion tidak akan lari dari kenyataan. Ibu Dion pun terdiam mendengar jawaban dari anaknya itu. Karena Ia pun berfikir," sebegitu berartinya Silvi di hati Dion sampai-sampai Ia pun menikah dengan wanita yang mempunyai kemiripan dengan Silvi. Dan jika semua ini diketahui oleh Sani," maka besar kemungkinan pun Sani bisa mundur dari rumah tangganya. Setelah Ibu Dion terdiam," Dion pun meminta Ibunya untuk tidak memberi tahu tentang semua ini ke Sani. Ibu ....Ucap Dion ke Ibunya. Rasya minta tolong ke Ibu ya Bu... Ia nak.... Jawab Ibu Dion ke Dion. Ibu akan membantu kamu sekuat jiwa raga Ibu. Dion meminta tolong Bu.. Biarlah Sani jangan mengetahui semua ini, Tentang masa lalu Dion. Dan Dion akan memberitahu semua ini ke Sani," suatu saat jika telah ada waktu yang tepat. Ia nak... Baiklah," Ibu tidak akan bilang apa-apa ke Sani. Dan setelah Dion selesai berbicara dengan Ibunya," Sani pun tiba dari berbelanja di pasar. Dan Dion pun tetap memberi sambutan baik ke Istrinya. Hay ma... Ucap Dion ke Sani. Sini biar Ayah yang membawa barang bawaanya. Sani pun masih tetap terdiam, namun Belanjaan yang Ia bawa Ia berikan ke Dion. Dan Sani pun terus beranjak ke dapur dan membereskan belanjaannya. Setelah Ia selesai berbenah Ia pun pergi mandi dan beristirahat di kamar. Dan Dion pun menghampiri istrinya di kamar. Dan sembari memberi penjelasan ke Sani tentang Silvi. Ma.. ucap Dion ke Sani. Maafkan Ayah ya... Ayah banyak salah ke mama. Sani pun masih tetap terdiam. Dan Dion pun tetap berusaha membuat Sani supa mau berbicara. Sampai-sampai Dion pun pernah merayu Sani dengan cara mencumbuinya, supaya Sani mau mengeluarkan suaranya. Dan disaat Dion mulai mencumbu Sani, ternyata Sani pun menolaknya. Dion pun sangat terkejut dengan penolakan itu. Akhirnya Dion pun pergi keluar kamar dan meninggalkan istrinya seorang diri. Dion pun sembari berfikir dan bertanya dalam hatinya. Inikah watak asli dari seorang Sani. Ternyata Ia adalah seorang perempuan yang jika merasa terhianati maka akan melakukan penolakan itu. Namun Dion tidak melakukan apa-apa dengan Silvi. Mereka hanya berbicara dan bercanda bersama dengan yang lain juga. Mengapa Sani begitu membenci Dion dengan kejadian waktu tamasya itu. Hingga malam harinya pun disaat Dion menjelang tidur, Ia oun mengambil ketegasan ke Sani. Padahal sebenarnya dengan penolakan tadi siang serasa Dion enggan untuk dekat dengan Sani. Karena bukan karakter perempuan seperti itu yang Dion mau. Namun demi untuk menuntaskan masalah, jadi Dion pun harus berpura-pura baik ke Sani. Ma.. Ayah mau berbicara ke mama. Ayah memang seorang suami yang tidak bisa mbuat hati sang istri bahagia. Namun Ayah ingin mama menggunakan perasaan baik mama. Paling tidak mama tau, bagaimana cara bersikap ke seorang suami yang akan memberi nafkah batinya.. Cukup Ayah !... Ucap Sani tegas ke Dion. Tidak usah membawa-bawa tentang nafkah batin !... Untuk apa nafkah itu yah,.. Jika dalam pandangan Ayah aqu adalah bukan Sani, tetapi istri orang lain !.. yaitu Silvi. Wanita yang sangat kamu cintai...Sani pun mengucapkan kata-kata pedas itu ke Dion sembari mengeluarkan air mata. Karena menahan sakit, bahwa selama ini suaminya menjamaknya itu karena dalam pandangan suaminya Ia adalah Silvi. Wanita mana yang tidak akan merasakan sakit hati yang teramat dalam, jika merasakan semua itu. Kamu tidak tahu kan..kalau aqu telah mengetahui semua tentang masa lalumu !.. Pantas saja, kamu kelihatan sangat bahagia dari hari-hari sebelumnya setelah pertemuan ditempat tamasya itu !.. Dion pun sangat terkejut mendengar pernyataan dari Sani yang tiba-tiba mengetahui semua itu. Kamu tidak mengira kan Di.. kalau aqu sudah tau semuanya..!! Sani pun melepaskan semua beban fikiran yang ada di kepalanya. Dion pun ditengah-tengah amarah istrinya itu Ia bertanya." Dari mana kamu mengetahui semua ini Sani ?.. Kamu tidak perlu tau Di.. siapa dan dimana !..tetapi yang jelas." Bukan orang lain yang memberitau tentang semua ini ke aqu. Dan kamu mengenali orang itu !.. Dion pun terus memilih diam ditengah-tengah amarah istrinya itu. Biarlah Sani mengeluarkan semua keresahanya terlebih dahulu. Ibu dan Ayah Dion pun mendengar keributan yang ada di kamar Dion tersebut. Dan Ibu Dion pun ingin menghampiri keributan anaknya itu, Namun Ayah Dion melarangnya. Karena bagi Ayah Dion mereka itu telah sama-sama dewasa, biarlah mereka selesaikan dengan caranya sendiri. Dan setelah Sani selesai mengeluarkan amarahnya, Dion pun memberikan penjelasan tentang semua yang terjadi di masa lalunya. Sani !.. karena kamu telah mengetahui tentang masa lalu aqu dari orang lain.. baiklah, aqu akan jelaskan sejelas-jelasnya !.. Tadinya aqu berfikir akan menutup masa lalu aqu, dan akan berusaha membangun masa depan. Namun karena kamu membutuhkan penjelasan itu, dari aqu," baiklah !... Tetapi sebelumnya," Tolong tebalkan telinga kamu dan hati kamu.. ucap Dion dengan nada yang mengimbangi Sani. "Aqu dengan Silvi dan Rasya, kita bertiga adalah teman dalam satu kampus, namun dengan vakultas yang berbeda. Namun sewaktu kami menempuh pendidikan tempat tinggal kita atau temapat kos kita berdekatan. Dan selain itu, kami bertiga adalah tetangga kampung. Terlebih dengan Silvi, kita bertetanggaan. Jadi sudah terbiasa antara aqu dan Silvi bercanda gurau. Selain kita di kampus kadang bertemu, di rumah pun kita juga sering bertemu. Dan dari situlah kami lambat laun menjadi akrab dan saling mendukung dan saling tolong. Hingga akhirnya karena kami sering bertemu dan bertukar pendapat akhirnya kami bertiga terlibat The love triangel (Cinta segi tiga) dan pada suatu hari aqu pun berusaha untuk mengungkapkan perasaan itu. Namun dari perkataan Silvi, Ia belum siap berpacaran jika impianya meraih gelar Sarjana belum tercapai. Dan akhirnya aqu pun menunggu waktu yang Silvi katakan itu. Dan akhirnya pun kami semu selesai dalam menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Dan kami semua telah mendapatkan gelar sesuai dengan yang kita inginkan, setelah itupun kami kembali pulang ke orang tua dan kampung halaman masing-masing. Sebenarnya aqu telah tau kalau Rasya juga menyukai Silvi, namun aqu berprinsip selagi belum ada ikatan pernikahan aqu akan tetap maju untuk mendapatkan Cinta qu. Dan namun ketentuan berkata lain, setelah kami boyong dan pulang ke rumah hari ini, ternyata ke esokan harinya Rasya terlebih dulu mengungkapkan perasaanya. Aqu pun mendengar itu Silvi sendiri yang bilang ke aqu, kalau Rasya telah menembaknya ( telah mengungkapkan perasaanya). Hati qu pun terasa hancur lebur pada saat itu. Sampai-sampai aqu tidak kuasa lagi untuk tinggal di desa ini. Dan akhirnya aqu pun berhijrah ke lain daerah, yang supaya aqu bisa melupakan wanita yang aqu cintai. Aqu pun sudah tidak peduli lagi dengan kehidupan qu waktu itu. yang terpenting bagi qu, Aqu bisa pergi dari desa ini, dan tidak melihat Rasya orang yang telah memenangkan hati Silvi. Padahal aqu juga terasa berat untuk meninggalkan desa dimana aqu dilahirkan disini. Dan meninggalkan kedua orang tua qu yang sangat menyayangi aqu. Namun semua itu tidak aqu hiraukan, demi untuk penyembuhan sakit hati qu yang teramat dalam lukanya. Dan akhirnya aqun pergi ke daerah yang sekarang kita temapti. Disitu aqu bercocok tanam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN