Ujian kesetiaan

1487 Kata
Dan kurang lebih sekitar dua sampai tiga tahun, aqu tidak pernah pulang ke kampung halaman. Hingga suatu hari aqu mendapat kabar dari kampung bahwa Ibu sakit keras. Aqu pun hanya bisa bersedih dan menangis. Karena telah bertahun-tahun aqu tidak kembali di kampung halaman dan tidak bertemu dengan orang tua qu hingga orang tua qu jatuh sakit. Aqu pun masih belum bisa juga melupakan sosok gadis itu. Hingga suatu hari," waktu aqu masih berkebun datanglah seorang separuh baya, dan mendekati aqu. Dan orang itu pun bertanya-tanya ke aqu tentang hidup qu. Dan akhirnya aqu pun menjawab semua pertanyaanya. Dan dia pun memberi solusi atau pencerahan atas semua permasalahan hidup qu. Dari situlah aqu mulai bisa berfikir tentang kesabaran dan ke ikhlasan hidup. Dan setelah aqu menyadari semuanya, akhirnya aqu pun pulang dan kembali ke kampung halaman. Dan sesampainya di rumah, Ibu masih terbaring sakit dan tidak berdaya. Namun sesampainya aquntiba di rumah, Ibu perlahan sakitnya pun membaik. Rasya dan Silvi pun sepulangnya aqu di kampung mereka telah menikah, dan telah mempunyai anak yaitu Rafi. Aqu pun mampir sebentar di rumah Rasya dan Silvi, dan mengobrol-ngobrol seadanya. Sebenarnya rasa sakit itu masih ada," namun karena aqu telah berusaha untuk ikhlas dengan ketentuan ini, jadi rasa itupun tidak aqu perlihatkan ke mereka. Dan setelah kita mengobrol-ngobrol bertiga, akhirnya aqu pun yang mengakhiri obrolan itu dan permisi untuk pulang. Dan sesampainya di rumah aqu pun berpamitan ke Ibu dan Ayah untuk berangkat ke perantauan lagi. Karena Ibu telah berangsur pulih dari sakitnya. Aqu pun merasa sudah tidak ada lagi yang aqu beratkan. Hingga akhirnya aqu pun memutuskan untuk pergi lagi. Karena aqu merasa sudah tidak ada kebahagiaan lagi untuk hati qu di kampung ini. Ayah dan Ibu pun memberikan izin ke Aqu, namun dengan sebuah syarat yaitu," aqu boleh pergi lagi dari rumah asal aqu tidak bekerja di kebun lagi. Ayah dan Ibu menginginkan aqu untuk bekerja di sebuah kantor atau perusahaan. Dan aqu pun mencoba untuk melamar ke perusahaan Garmindo footwear, yang mana sampai sekarang aqu masih dipekerjakan disana. Dan dari situlah aqu menemukan sosok wanita yang aqu cintai yaitu kamu," sebentar Di..ucap Sani ke Dion dengan raut muka yang kesal. Mungkin yang lebih tepatnya kamu bukan mencintai aqu Di,.. Tetapi kamu mencintai Silvi. Dan sosok Silvi mungkin ada sedikit pada qu, makanya kamu berani memperistri aqu. Dan berarti apa yang telah kamu lakukan ke aqu selama ini karena kamu melihat Silvi dalam diri qu. Dan aqu tidak bisa diperlakukan seperti ini terus Di.. Untuk apa aqu berdampingan hidup dengan orang yang tidak mencintai aqu. Walau kamu menyentuh aqu..tetapi dalam hatimu bilang," aqu adalah Silvi. Lalu wanita seperti apakah aqu ini, yang hanya dijadikan boneka dalam hidupmu !.. Aqu besok akan kembali ke rumah. Dion pun tetap bersikeras dengan hatinya, Ia akan menerima apa pun sekuensinya. Karena Ia benar-benar tidak berdaya melawan hatinya. Biarlah waktu yang akan membuat jawaban untuk hatinya. Dan kini antara Sani dan Dion pun telah hilang sebutan sayang mereka, yaitu Ayah dan mama. Sebutan itu kini telah Ia ganti. Untuk Dion Ia memanggil Istrinya dengan sebutan nama yaitu Sani. Namun untuk Sani Ia memanggil Dion dengan sebutan Di.. Kini rumah tangga Sani dan Dion bagaikan sedang berada diujung tanduk. Kini Sani berada ingin mundur, sedangkan Dion pasrah dengan keputusan yang akan Sani ambil. Dion pun menyadari akan dalamnya perasaanya ke Silvi. Dan sampai-sampai Ia pun menikah dengan wanita yang mempunyai kemiripan karakter dengan Silvi. Dan Silvi pun setelah mengetahui semua itu, Ia merasa berat untuk melanjutkan pernikahanya dengan Dion, karena walaupun Dion hidup bersama Sani namun dalam hati Dion Sani adalah Silvi. Dan ternyata benar dugaan Dion, dengan Ia memberi penjelasan ke Sani tentang masa lalunya, semua itu akan menambah Sani lebih marah ke Dion. Dan mereka mengobrol pun hingga larut malam, sampai Sani tanpa terasa Ia tertidur dikala Dion sedang berbicara. Dan setelah pagi menjelang, yaitu sekitar pukul 4:00 Sani pun telah terbangun dan Ia langsung membereskan baju miliknya dan milik anaknya. Dan setelah subuh Ia pun bergegas sollat subuh terus berpamitan ke dua orang tua Dion. Dion pun di waktu Subuh Ia terbangun, semua baju Sani dan anaknya telah Sani paking kedalam Koper. Dan Dion pun setelah sollat subuh Ia juga berkemas untuk pulang kerumahnya. Namun duluan Sani keluar dari rumah orang tua Dion. Ibu dan Ayah Sani pun tidak kuasa untuk melarang Sani tetap tinggal di rumahnya. Karena bagaimana pun ini adalah persoalan pribadi mereka. Dan setalah Sani berpamitan dan keluar dari rumah orang tua Dion, Ibu dan Ayah Dion pun menginterogasi Anaknya. Naak.....Ucap Ayah Dion ke Dion. Ada apa ini ? Mengapa istri kamu pulang lebih dahulu dan tidak bareng sekalian Sama kamu ?.. Dion pun menjawab pertanyaan Ayahnya itu. Begini Ayah... Sepulang Sani dari pasar kemarin, ternyata Ia telah mengetahui masa lalu Dion dengan Silvi dan Rasya. Dan Ia merasa tidak terima diperlakukan seperti ini. Dalam arti Ia menganggap aqu tidak mencintainya. Dan Sani tidak bisa berdampingan hidup dengan orang yang tidak mencintai dia seutuhnya. Dion bisa apa Yah ?.. Sebenarnya Dion tidak akan menceritakan tentang masa lalu Dion ke Sani.. Namun Sani keburu dengar dari orang lain.. jadi dari pada Ia cuma dengar dari orang, maka aqu pun memberikan penjelasan tentang masa lalu Dion. Dan ya itu....." Silvi berat untuk terima semua ini. Lalu Seperti inilah yang terjadi. Nak... Ucap Ayah Dion ke Dion. "Bagaimana pun itu kalian telah mempunyai seorang putra, jadi berusahalah untuk mempertahankan rumah tangga kalian nak... Apapun yang terjadi. Ia Ayah...Dion akan berusaha semampu Dion untuk memperbaiki rumah tangga Dion. Dan Dion pun terus pamit ke Ayah dan Ibunya dan terus mengejar Sani. Dan kebetulan Sani pergi ke terminal bus dan belum mendapatkan Bus yang arah ke daerahnya. Lalu Dion pun mengetahui bahwa Sani masih menunggu Bus disana, dan tanpa menunggu lama Dion langsung menghampiri Sani dan juga anaknya. Sesampainya di dekat Sani, Dion pun mengklaksonkan mobilnya, namun Sani pun tidak memperdulikan Dion walau telah lama Ia menunggu Bus dan belum datang juga. Akhirnya pun anak Sani mengetahui Ayahnya yaitu Dion, Ia pun mau masuk kedalam mobil Ayahnya, dan Silvi karena dari permintaan anaknya, maka Ia tidak berdaya untuk menolak, akhirnyapun Sani juga ikut serta naik kedalam mobil. Dan selama berjam-jam di perjalanan Sani pun tidak mau mengucap apa-apa ke Dion. Namun Dion tetap berusaha memancing ucapan atau obrolan ke Sani. Sani... Ucap Dion ke Istrinya. Maafkan aqu ya ?... Aqu memang manusia yang banyak salah dan dosa. Aqu akan membuka hati untuk kamu Sani... Maukah kamu memaafkan aqu ?.. Tanya Dion ke Sani. Dan ternyata Sani pun mau menjawab pertanyaan suaminya itu. Ia Di... Aqu juga akan berusaha memaafkan kamu. Dan setelah Sani menjawab pertanyaan Dion Ia pun terus kembali terdiam dan tanpa suara sama sekali. Dan karena Dion menyetir dengan perasaan gundah, Ia pun hampir menabrak sebuah tebing dipinggir jalan. Sani pun sempat teriak..... Dioonnn.......... Karena saking rasa terkejutnya hati Sani, maka Ia pun berteriak sekeras mungkin. Dion juga merasa terkejut dengan teriakan Istrinya itu..Namun Alahamdulillah Dion bisa mengendalikan mobilnya, dan Alhasil mereka pun selamat dari tragedi yang hampir menimpanya itu. Perasaan bergetar pun masih terasa di hati Sani dan juga Dion. Kerena kelengahan Dion dalam menyetir hingga bahaya pun hampir menghamoirinya. Karena fikiran Dion yang tidak fokus sehingga mobil pun ikut merasakan imbasnya. Dan sekitar satu jam dari Ia hampir menabrak tebing itu,Dion pun telah sampai ke rumah Dion. Sayang .... Ucap Dion ke anaknya. Kita sampai .....anak Dion pun terlihat sangat ceria dengan sampainya Ia di rumahnya. Sani yang hingga saat ini masih belum banyak bicara." Namun Dion pun selalu berusaha untuk tidak menghiraukan kemarahan Sani, karena Ia ingat pesan dari orang tuanya. Untuk mempertahankan rumah tangganya. Dan sesampainya di rumah," Sani dan Dion pun kini tidak seperti biasanya lagi. Yaitu di hari-harinya Ia selalu kelihatan ceria dan ikhlas dalam menjalankan aktivitasnya. Namun untuk sekarang ini suasana hati mereka telah berubah, terutama untuk Sani Ia tidak mau dianggap Silvi. Dan Dion pun akan berusaha demi rumah tangganya untuk melihat Sani adalah Sani dan bukan Silvi. Tetapi hati Dion pun bertanya dalam dirinya.. mampukah aqu melihat Sani tanpa ada bayangan Silvi ?... Rasanya pun berat, untuk melupakan seseorang yang telah benar-benar singgah didalam hatinya. Hingga malam pun menjelang setelah Sani menidurkan anaknya, Ia pun kembali ke kamarnya untuk tidur bersama Dion. Dan kebetulan waktu itu Dion lagi ada sedikit pekerjaan yang harus di rekap melalui kamputernya. Jadi Dion pun tidak bisa tidur lebih awal dengan Sani. Dion berada di ruangan kerjanya hingga larut malam. Karena selain Dion menyelesaikan pekerjaan Ia juga sembari berfikir, mampukah Ia menyentuh Sani dengan tanpa Ia mengingat Silvi. Dion pun merasa hawatir untuk kebutuhan yang satu itu, yaitu tidak mampu melakukan kewajibannya ke istrinya (Sani) Dan Sani pun apa mungkin bisa terima jika tanpa Ia sentuh dalam kesehariannya. Dion pun sempat menghela nafas.. sembari menyebut Nama Alloh.. Astaqfirullahallazdiimm .... Ampuni hamba Ya Alloh yang telah menyakiti hati sang istri. Namun hamba benar-benar tidak berdaya ya Rob.... Dengan perasaan ini. Engkaulah Maha menggenggam hati manusia, termasuk hati hamba ya Rob...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN