Bantulah hamba dalam mengatasi problematika kami ....
Hingga akhirnya pun Dion tertidur di ruang kerjanya. Dan ditengah malam Sani pun terbangun, setelah Ia menoleh kesampingnya ternyata Dion tidak ada disebelahnya.
Sani pun berusaha mencarinya. Dan ternyata Dion masih berada di ruang kerja dan tertidur di meja kerjanya.
Sani pun membiarkan Dion tertidur di ruang kerja hingga pagi. Dan setelah pagi pun Dion juga masih merasa bingung. Mengapa hari-harinya kini terasa sunyi, setelah Sani mengetahui masa lalunya dan mengetahui bahwa Ia belum bisa melupakan masa lalunya.
Terutama untuk wanita yang dulu Ia cintai dan yang kini telah berkeluarga juga. Setelah Ia keluar dari ruang tamu pun Dion terus beranjak ke tempat wudzu dan mengambil air wudzu terus melakukan sollat subuh.
Dan setelah Ia selesai melakukan sollat subuh, Dion pun membangunkan anaknya dan membimbingnya untuk melakukan sollat.
Sementara Sani pun berada di dapur dan melakukan rutinitas pagi, yaitu memasak di dapur. Dan
Seperti biasa, urusan Dion pun Setiap pagi menyapu halaman dan memandikan anaknya.
Setelah Dion selesai menyapu halaman dan terus memandikan anaknya. Dan setelah itu pun untuk so'al memakaikan baju ke anak adalah urusan Sani.
Dion setelah mandi biasanya Ia bersiap diri untuk berangkat ketempat pekerjaanya yaitu di sebuah perusahaan Garmen di daerahnya tersebut. Letaknya yang lumayan jauh, sehingga Dion pun berangkatnya dari rumah lebih awal.
Dan setelah Dion selesai memakai baju dan bersiap Ia pun terus menuju ke meja makan seperti biasanya. Dan kali ini Dion pun merasa bingung dengan keadaan ini.
Akhirnya pun Dion setibanya di ruang makan, karena ada Sani disana Ia pun menyapanya.
Hay... Ucap Dion ke Sani.
Dan Sani pun menjawab pula..
Hallo...
Dion pun merasa canggung ke Sani, semenjak masa lalunya terungkap oleh Sani.
Dan tidak seperti biasanya, Dion setelah menyapa Sani pun Ia terus mengambil piring dan terus menyantap sarapan. Dion pun bersarapan tanpa mengajak Sani sebagaimana biasanya, untuk bersantap makan bersama.
Keadaan rumah tangga Dion saat ini benar-benar sedang dalam ujian. Dion merasa kini Sani tidak seperti dulu lagi, sekarang Sani ternyata menunjukkan jati diri Sani yang sebenarnya.
Dan hal-hal seperti itulah yang membuat Dion merasa enggan untuk berbicara dengan Sani seperti biasanya. Rasa kecewa itulah yang membuat keduanya kini memiliki jarak.
Dan Setelah selesai sarapan Dion pun langsung berpamitan ke Sani, dan terus meluncur ke pekerjaanya. Di tempat pekerjaanya itu, Ia pun mempunyai teman seorang perempuan yang masih gadis yang gerak-gerik perempuan itu menunjukkan bahwa ia menyukai Dion.
Namun memang Dion bukan sosok yang gampang terjerat hatinya oleh seorang wanita. Walau mempunyai banyak teman di pabrik dan banyak juga wanita yang menyukainya.
Dan apalagi Ia adalah seorang manajer produksi, tentunya pun lebih mudah baginya untuk menjerat hati seorang wanita. Tetapi Dion tidak mau melakukan itu.
Ia tetap tidak mudah untuk mendapatkan pengganti Silvi di hatinya. Memang begitu istimewanya Silvi di hati Dion, hingga Ia mampu membuat hati seorang Dion terkunci untuk wanita lain.
Dan setelah Dion berangkat ke pabrik, Sani pun di rumah semabari mengurus anak dan merenungkan nasib rumah tangganya.
Dalam hatinya pun Ia berfikir, bahwa Ia tidak pernah menyangka jika Dion menikahinya semata-mata bukan karena Ia mencintai Sani namun karena wanita lain.
Dan Sani pun berusaha untuk menerima kenyataan, walau dalam hatinya terasa tersayat dan reamata sakit.
Betapa tidak......"ternyata orang yang Ia cintai selama bertahun-tahun ini, dan yang telah memberinya seorang anak, ternyata Ia menyentuh Sani bukan karena mencintainya, namun karena bayangan wanita pujaan hatinya ada pada Sani.
Sani pun berusaha untuk mencari solusi yang terbaik" untukya, untuk anaknya dan juga untuk Dion.
Dan yang Sani bingung kan adalah untuk anaknya. Bagi Sani seorang lelaki tidak hanya Dion, yang artinya Ia tidak merasa sulit untuk mencari pengganti Dion.
Namun bagaimana dengan anaknya," Ia sangat membutuhkan sosok Ayahnya dan tentunya juga Ia tidak mau berpisah dari kedua orang tuanya.
Tetapi bagaimana dengan hati Sani yang dianggap orang lain oleh suaminya..." Ia merasa sangat berat menerima semua itu.
Dan akhirnya pun Sani berprinsip, demi anaknya," Ia sepulangnya Dion dari kerja nanti akan berusaha memberikan perhatianya dan pelayanan ke Dion sebagai mana mestinya, walau Dion menganggap Sani adalah orang lain.
Dan kerena Sani merasa badanya kurang sehat karena dari kemarin Ia merasakan beban fikiran yang berat dalam rumah tangganya.
Lalu Ia pun beristirahat di kamar dan sembari menonton tv. Begitu juga dengan anaknya, karena belum mulai sekolah dan memang anaknya penurut, maka apa yang Sani perintahkan pun anak Sani mematuhinya.
Dan akhirnya pun Sani tertidur hingga waktu larut siang yaitu pukul satu lebih tiga puluh menit. Ia pun terus melakukan sollat Dzuhur, dan setelah itu pun Ia melanjutkan tidurnya lagi hingga sore.
Dan di hari itu pun Dion pulang lebih awal, karena sedang tidak ada lembur, dan sesampainya Dion di rumah ternyata Sani belum keluar dari kamar dan masih rebahan di kamar.
Dion pun setelah memasukkan mobilnya ke tempat parkir mobilnya, Ia terus beranjak masuk kedalam rumah dan masuk ke kamar. Dan ternyata Sani sedang ada di ranjang tidur tersebut.
Dengan mengetahui suaminya pulang dari tempat kerja, Sani pun berusaha untuk membantu melepaskan baju Dion.
Dan Dion pun tidak bisa menolak semua itu. Padahal dalam hatinya Ia ingin membuka bajunya sendiri dan tanpa bantuan Sani.
Namun karena Sani yang mendahului akhirnya Dion pun pasrah dengan bantuan istrinya itu. Dan setelah Dion ganti baju yang biasa Ia pakai dirumah Silvipun terus beranjak kedapur untuk membikin kan minuman ke Dion.
Dan Dion pun juga menerimanya. Setelah minum kopi yang hangat itu Dion pun merasa capek dan ingin beristirahat dan tentunya didalam kamar.
Sani pun juga mengikuti Dion dan menemaninya untuk beristirahat. Walau hati Sani terasa disayat namun Ia tetap berusaha melayani suaminya.
Hingga akhirnya pun Dion karena merasa lelah Ia pun tertidur dikamarnya itu. Dan kebetulan anaknya juga berada di kamar Dion pun tidur dengan membelakangi Sani dan condong ke anaknya.
Hingga sinar matahari sore pun ampir terbenam dan Dion belum bangun juga dari tidurnya. Sani pun akhirnya membangunkan Dion kerana takutnya nanti Dion kebablasan tidak kebagian waktu solat.
Dii...........Ucap Sani ke suaminya. Sudah sore kamu belum sollat Asyar. Dion pun terbangun dan pergi mandi dan melakukan sollat Asyar.
Dan yang Sani rasakan sekarang Dion menjadi dingin sikapnya dari yang sebelum konflik rumah tangganya terjadi.
Hari demi hari pun Dion lebih banyak memilih diam dari pada berbicara atau ngobrol dengan Sani.
Hingga suatu malam, Dion pun sulit untuk tidur hingga larut malam. Di saat malam yang sunyi tiba-tiba Dion pun ingin melakukan romantisnya layaknya suami istri.
Namun setelah Ia melihat wanita yang disampingnya adalah Sani," Dion pun terus hilang rasa ingin bermesaraanya itu.
Karena Dion tahu bahwa Sani tidak mau disentuh olehnya jika Ia masih memikirkan Silvi. Dion pun berusaha mencoba menuruti kemauan Sani itu, namun apa yang terjadi....
Ternyata dengan Ia tidak melihat Silvi dalam diri Sani," Dion pun tidak kuasa untuk melakukan hubungan itu..
Dion pun juga merasa gelisah, mengapa jadi seperti ini.. Dan akhirnya pun Dion terkadang dimalam hari sering tidur di ruang kerjanya, yang hanya terdapat sebuah kursi dan meja kerjanya.
Begitu juga Sani, "ternyata perjuangannya menjadi istri dari seorang Dion tidak mudah seperti yang orang lain fikirkan.
Ia harus benar-benar mempunyai hati yang besar menghadapi problematika dari suaminya. Begitu juga dengan Dion, Ia pun sebenarnya kalau bisa diminta, Dion ingin melepaskan Silvi dari hatinya.
Namun ternyata sampai Ia pergi dan pindah ke daerah lain, Silvi pun tetap belum bisa pergi dari hatinya. Dion pun sampai berfikir...
Mungkinkah Silvi adalah pemilik hatinya...
Mengapa begitu sulit untuk melepaskannya dari ingatan Dion. Terkadang pun Dion juga berfikir, bahwa Silvi sudah tidak menghiraukannya, namun penyebab itu semua adalah bukan semata Silvi membencinya.
Namun karena Silvi berusaha untuk menjaga rumah tangganya. Hingga suatu hari Dion pun pulang sendiri di kampung halamanya, karena ada suatu acara yang membuatnya harus pulang.
Sebenarnya hati Sani was-was membiarkan suaminya pulang Ampung sendiri, namun biarlah, Sani menahan perasaan itu.
Dan sesampai di rumah orang tuanya pun Dion merasa kesepian tentunya. Dan Ia pun tiba-tiba melihat Silvi datang ke rumah Ibunya.
Karena rumah orang tua Dion dengan rumah Ibu Silvi tidak begitu berjauhan, maka Dion selalu tau jika Silvi berada di rumah Ibunya.
Sebenarnya Dion pun orangnya tidak macam-macam, Jika sedang bertemu dengan Silvi, Dion pun cuma mengobrol dan bercanda. Namun ternyata obrolan dan candaanya bersama Silvi itulah yang membuat Ia selalu ingat ke Silvi.
Kebaikan, dan ketulusan Silvi lah yang membuat hati Dion susah untuk melepaskan seorang Silvi, walau kini hatinya telah dimiliki oleh orang lain.
Dan seperti biasa, Silvi pun setiap ke rumah Ibunya Ia pun selalu mampir disebuah pusat perbelanjaan guna untuk membeli keperluan dapur Ibunya. Dan kebetulan Dion pun juga berbelanja disana.
Mereka pun hampir bertabrakan disuatu lorong karena mereka sama-sama membeli bahan pokok yaitu s**u kream dan sejenisnya. Silvi dan Dion pun selalu mengobrol apabila sedang bertemu walau hanya sebentar. Maklum, karena meraka dulu adalah teman.
Dan Dion pun memang selalu memberi perhatian ke Silvi apabila sedang bertemu, walau cuma perhatian yang kecil.
Dalam pertemuan itu pun Dion sempat meminta nomor hanepon ke Silvi. Dan Silvi pun dengan senang hati Ia memberikan nomornya. Dan setelah selesai berbelanja, Silvi pun juga terus beranjak kerumah Ibunya.
Namun Dion masih di tempat itu. Entah apalah yang dibeli oleh Dion hingga Ia berbelanja dengan cukup lama di pusat perbelanjaan itu.