Setia menunggu

1378 Kata
Dan setelah selesai berbelanja Dion pun juga terus bergegas pulang. Sesampainya di rumah Dion pun karena merasa letih akhirnya Ia beristirahat di kamarnya. Kamar di mana waktu bujanganya dulu biasa Ia gunakan untuk chatan dengan Silvi hingga larut malam. Dan kini Ia pun mengingat semua itu. Setelah lama hilang kontak dengan Silvi kini pun Dion telah mendapatkan nomor itu lagi. Dan Dion pun mencoba untuk mengecat Silvi dengan candaan mengetes nomor. Silvi pun karena tidak terlalu memegang haneponya Ia pun lama dalam merespon chat dari Dion. Namun pada akhirnya Ia merespon juga, dan menjawab semua candaan Dion terhadapnya. Namun untuk sekarang ini karena Silvi telah bersuami Ia pun membatasi diri dalam memegang haneponya. Dan setelah Dion bisa berkomunikasi lagi dengan Silvi lewat chat maupun media lainya. Ia pun merasa nyaman untuk tinggal di rumah orang tuanya itu. Namun Dion juga Sadar diri bahwa Ia juga telah beristri dan mempunyai seorang anak, walau sesungguhnya anaknya itu adalah hasil pernikahannya dengan Sani, namun dalam berproses, yang ada dalam ingatan Dion adalah Silvi. Walau pada kenyataanya Ia memberikan benihnya ke Sani, namun Dion serasa memberikanya ke Silvi. Ibu Dion pun turut bingung mengatasi perasaan Dion yang seolah-olah telah terkunci oleh perempuan yang bernama Silvi. Dan pada akhirnya pun Dion juga mengetahui dari tetangga Rasya yang masih saudara Dion, bahwa Silvi cepat atau lambat akan pindah tempat tinggal bersama Ibunya. Tidak tau mengapa Dion merasa senang mendengar Silvi akan pindah rumah bersama Ibunya. Dan akhirnya pun dua hari telah berlalu Dion berada di rumah Ibunya, Dan karena Ia masih terikat kontrak kerja dengan perusahaan atau PT Garmindo footwear, maka Ia harus segera kembali ke rumahnya. Untuk melanjutkan aktivitasnay. Yaitu sebagai pemimpin perusahaan di tempat kerjanya itu. Namun untuk saat ini Dion pun telah merasa tenang karena nomor Hanepon wanita yang menjadi tambatan hatinya telah Ia bawa atau telah Ia miliki. Dan akhirnya pun Dion pulang ke rumahnya. Yaitu rumah yang Ia beli dengan jerih payahnya sendiri. Begitu juga dengan Silvi, hari-harinya Ia isi dengan pengabdian ke keluarga suaminya. Yaitu dengan cara merawat nenek Rasya. Namun Ia melakukan itu semua dengan perasaan yang ikhlas, maka beban seberat apapun akan terasa ringan, jika diangkat dengan keikhlasan. Dan prinsip seperti itulah yang dimiliki oleh Silvi yang jarang dimiliki oleh perempuan pada umumnya. Oleh sebab itulah Rasya berusaha untuk mempertahankan pernikahanya dengan Silvi hingga tutup Usia. Dan berbeda dengan Dion, Ia tersakiti oleh cintanya sendiri, wanita yang telah membuat hatinya terkunci untuk perempuan lain, kini Ia telah dimiliki oleh temanya sendiri dan telah hidup bahagia bersamanya. Oleh karena itulah, untuk mengatasi rasa sakit hatinya Dion pun memutuskan untuk menikah dengan wanita yang mempunyai kemiripan dengan pujaan hatinya itu. Dan pada akhirnya seiring berjalanya waktu, semua itu pun terbongkar juga, kini Sani istri Dion telah mengetahui bahwa Dion menikah dengan bukan karena mencintainya, namun karena bayangan wanita yang Ia cintai ada pada Sani. Namun yang lebih menyakitkan bagi Sani adalah, ketika Ia mengetahui bahwa sampai saat ini ternyata Dion belum melupakan wanita itu. Wanita mana yang tidak merasa sakit hati mengetahui bahwa suaminya mencintai perempuan lain. Dan pada akhirnya Antara Sani dan Dion pun tidak merasakan hidup bahagia sebagaimana Silvi dan Rasya. Memang perjalanan cinta terkadang membuat hidup seseorang rumit, namun apa pun dan bagaimana pun itu, manusia cuma menjalankan dari apa yang telah Tuhan tentukan ke umatnya. Hidup bahagia, makmur dan sentausa itu adalah harapan dari setiap insan, namun ketentuanlah yang akan tetap memenangkan segalanya. Maka dari itulah, Dion memutuskan untuk menjalani apa yang ada didepan kita yang sesuai dengan hati nuraninya. Dan pemikiran seperti itulah yang membuatnya untuk tetap menggunakan kesempatan dengan pujaan hatinya, walau hanya sesaat dan sederhana. Hingga suatu hari, Rasya dan Silvi pun mencari lokasi untuk tempat usaha Ayahnya kelak. Karena Ayah Rasya akan membuka usaha di Indonesia dan akan menetap di Indo, maka Ayah Rasya pun meminta Rasya untuk mencari lokasi yang strategis untuk membuka usaha. Rasya pun ternyata mendapat penawaran tempat disebuah perkotaan yang tidak jauh dari tempat Dion bekerja. Rasya dan Silvi pun menyempatkan waktu untuk meninjau lokasi tersebut. Dan karena sesampainya di lokasi itu telah siang dan saatnya jam makan, Silvi dan Rasya pun mempir disebuah rumah makan kecil dan sederhana namun pengunjungnya yang sangat luar biasa banyaknya. Namun karena tidak ada tempat warung nasi lain selain disitu, Silvi dan Rasya pun akhirnya menimbrung bersama orang- orang tersebut. Dan ternyata pengunjung yang teramat banyak tersebut berasal dari sebuah Perusahaan Garmindo footwear. Yang mana perusahaan tersebut yang menjadi manajer produksinya adalah Dion. Dan kerena antrian yang panjang, Silvi dan Rasya pun tidak mau terburu-buru dalam mengambil antrian tersebut. Dan akhirnya mereka mendapat giliran makan yang paling belakang sendiri. Dan disaat Ia mengambil menu makanan, tiba-tiba Silvi melihat sosok Dion yang juga sedang menikmati sebuah hidangan disana. Silvi pun berbisik ke Rasya, sayang... "Kok kaya ada sosok Dion ya disebelah sana ? Silvi pun sembari mengarahkan mukanya kearah Dion, dan Rasya pun akhirnya mengetahui juga. Setelah Silvi dan Rasya selesai memilih menu makanannya, dan kebetulan tempat yang masih kosong adalah disebelah Dion. Maklum karena Dion adalah seorang manajer, maka tidak semua orang berani dekat dengannya. Dan waktu itu memang Dion duduk sendirian, karena teman yang biasa Ia ajak makan bersama telah makan terlebih dahulu. Karena pekerjaan yang lagi lumayan banyak, akhirnya pun Dion keluar beristirahat untuk makan dan sollat terakhir sendiri. Silvi dan Rasya pun berjalan dan menuju ke tempat duduk yang di samping Dion. Dan setelah jarak antara Silvi dan Dion cukup dekat Dion pun baru menyadari bahwa ada Silvi dan Rasya ditempat ini. Dion pun langsung menyapa Silvi dan Rasya untuk mempersilahkan duduk disampingnya. Dan kebetulan kursi yang kosong tinggal dua yaitu disebelah kanan dan kiri Dion akhirnya pun mereka duduk bersebelahan. Dan yang membuat Dion senang adalah, selain Ia bisa bertemu dengan temanya ditempat yang tidak Ia disangka-sangka yaitu ditempat kerjaanya. Yaitu dalam pertemuan itu Ia duduk tepat disebelah Silvi. Rasa nyaman dan damai masih saja Dion rasakan disaat berada dekat dengan Silvi. Mereka pun akhirnya mengobrol-ngobrol dan dalam obrolan itupun Dion juga sempat bertanya ke Rasya. Hey teman... Tanya Dion ke Silvi dan Rasya. Kok bisa sampai kalian sampai ketempat sini ?... Dari rumah atau memang kebetulan lewat saja ya ?... Kami dari rumah memang sengaja ketempat ini karena ada urusan ditempat ini. Dion pun tersenyum bingung, karena belum mengetahui misi atau tujuan Rasya dan Silvi datang kemari. Rasya pun terus memberi keterangan tentang alasnya Ia datang ketempat itu. Dan Dion pun mendukung maksud Rasya untuk membuka usaha disekitar PT dimana Dion bekerja saat ini. Selain itu juga, Dion mempersilahkan Rasya dan Silvi untuk mampir kerumahnya terlebih dahulu. Namun Rasya menolaknya karena waktu yang terbatas dan esok Ia juga harus bekerja. Setelah mereka selesai makan dan sambil mengobrol, Dion pun meminta izin ke Rasya dan Silvi terlebih dahulu untuk masuk dan kembali lagi bekerja. Karena pekerjaanya yang masih banyak dan harus segera diselesaikan secepatnya, maka Dion pun tidak bisa keluar dan beristirahat berlama-lama. Dan setelah selesai makan, Rasya dan Silvi pun terus beranjak mencari masjid atau musholla untuk sollat. Dan setelah selesai melakukan sollat, Rasya pun melihat di Google mepnya dan ternyata lokasi yang akan Ia tinjau yaitu tepat disebelah mesjid dimana Ia berdiri sekarang. Lokasi yang datar dengan luas yang terjangkau untuk membuka sebuah usaha, apalagi tempat itu dekat dengan pabrik dimana Dion bekerja dan menjadi manajer disana. Dan setelah beberapa Menit Rasya menunggu pemilik tanah tersebut untuk survei dan bernegosiasi, akhirnya sang pemilik lokasi itu pun datang juga. Setelah mereka saling bernego dan akhirnya mereka pun menyetujui harga jual tersebut dan sekalian diadakan perjanjanjian hitam diatas putih bahwa lokasi yang Rasya beli tersebut sedang tidak dalam sengketa. Dengan mendatangkan para tokoh dan saksi untuk bukti kuat pembayaran atas jual beli tanah tersebut. Akhirnya semua telah klier dan selesai tanpa ada halangan suatu apa pun. Dan kini lokasi itu telah menjadi milik dan hak Rasya atau orang tua Rasya yang Syah. Akhirnya pun Rasya telah merasa lega karena telah memiliki tempat untuk membuka usaha barunya. Dan Rasya pun mempunyai niat untuk membangun sebuah restauran yang sederhana di lokasi tersebut. Yang tentunya Ia meminta persetujuan terlebih dahulu dari Ayahandanya. Karena usaha ini bakal Ia urus bersama dengan Ayahnya kelak. Jarak yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya ke lokasi yang akan Ia bangun usaha itu. Namun bagi Rasya dimana ada niat dan kemauan disitu pasti ada jalan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN