Mengetahui yang sebenarnya

1479 Kata
Dan ternyata setelah sekian lama tidak bertemu dengan Silvi, Dion masih saja memiliki perasaan ke Silvi. Walau kini Ia juga telah beristri dan mempunyai seorang anak. Karena menurut Dion Silvi menjadi istri Rasya itu bukan semata-mata Silvi yang menyakiti perasaan Dion. Namun karena Dion lah yang telat dalam mengungkapkan perasaanya, jadi menurut Dion Silvi masih tetap Silvi yang dulu, seorang wanita yang sangat Ia inginkan. Dion pun juga tidak tau, mengapa perasaan itu sampai sekarang masih saja tumbuh dalam hatinya. Padahal Silvi sekarang telah menjadi milik orang dan juga telah mempunyai seorang anak dari pernikahanya. Dan setelah Dion dan Silvi mengobrol lumayan panjang. Silvi pun memberi tau ke Rasya bahwa Ia sekarang sedang bertetemu dengan Dion dan juga istrinya, yang kebetulan mereka juga sedang bertamasya ketempat ini. Dan setelah Silvi memberi tau ke Rasya bahwa Ia sekarang sedang bersama Dion, Silvi pun juga meminta Dion untuk memanggil Istrinya diajak mengobrol bersama. Akhirnya pun Dion menuruti juga apa yang diminta oleh Silvi. Dan terus menelvon istrinya. Kriiiiiiing.........kriiiing..... Suara hp istri Dion berbunyi. Dan Ia pun terus mengangkatnya. Hallo Ayah... Ucap Istri Dion ke Dion. Ia ma... Ucap Dion ke istrinya. Ma, ini Ayah sedang duduk disebelah kamar toilet, mama menyusul kesini ya... Istri Dion pun menjawab... Ia Ayah..nanti aqu kesitu. Silvi pun tersenyum mendengar percakapan Dion dan istrinya yang memanggil dengan sebutan Ayah dan mama. Dan Dion pun mengetahui bahwa Silvi tersenyum karena mendengar percakapan antara Dion dengan istrinya. Dion pun terus melanjutkan senyuman Silvi yang senyuman itu diarahkan kepadanya. Sil.....Memeng beginilah kami...istri saya dan saya bersepakat dengan sebutan kita seperti itu.. Silvi pun juga masih tersenyum dan sembari menjawab. Ia Di tidak apa-apa juga .... Setiap orang kan memang berbeda-beda. Dan tiba-tiba Istri Dion pun datang menghampiri Dion dan juga Silvi yang sedang bersama anaknya. Hay.... Ucap Silvi ke Istri Dion. Hallo... Jawab Silvi ke istri Dion. Dan mereka pun akhirnya mengobrol bersama. Namun dalam hati istri Dion merasa ada kejanggalan antara Silvi dan Dion. Yaitu terutama dalam pandangan Dion ke Silvi. Dalam tatapan Dion terlihat bahwa Dion mempunyai perasaan ke Silvi. Dengan caranya yang santun dan kompak dalam berprinsip, serta Dion selalu bisa mengalah dan santay dalam bersikap didepan Silvi. Dan Dion tidak terlalu menanggapi pembicaraan Sani yang istrinya sendiri. Dan lebih mengarah kompak ke Silvi. Dan setelah sekian lama akhirnya Silvi pun meminta izin dan pamit untuk kembali ke Rasya. Karena Rasya tidak menghampiri Silvi, tentunya Silvi juga berperasaan bahwa suaminya telah lama menunggunya di tempat permainan anak itu. Dengan perasaan yang berat, Dion pun mempersilahkan Silvi untuk kembali ke suaminya. Dan tentunya Silvi waktu diawal pertemuan tadi dengan Dion Ia bersalaman maka diakhir pun Ia juga berjabat tangan. Dion pun ternyata sangat erat dalam berjabat tangan dan menggenggam tangan Silvi. Sampai Silvi susah untuk melepaskannya. Dan kebetulan saat Silvi berpamitan ke Dion istri Dion masih ada di toilet atau kamar kecil. Akhirnya Sani pun tidak mengetahui yang dilakukan Dion ke Silvi. Dan tau-tau Sani kembali dari toilet ke tempat duduknya, ternyata Silvi sudah tidak ada lagi disana. Dan Sani pun bertanya ke Dion. Yah.. teman Ayah kok sudah tidak ada, dan lagi kemana ? Ke tempat permainan anak.. Karena tadi suami dan Ibu mertuanya masih ada disana masih disana dan dengan keponakanya juga. Lalu Sani pun bertanya lagi ke Dion seolah-olah ingin tahu sekali tentang Silvi. Ow Ia yah.. Kamu kelihatan sudah akrab sekali ya sama teman kamu itu ? Dion pun menjawab pertanyaan Sani dengan santainya dan sembari duduk di tempat yang Ia tempati semula. Silvi itu dulu teman Ayah satu kampus, dan juga suaminya Silvi. Dan selain itu juga,rumah Ayah sama Ibu itu lumayan dekat dengan tempat tinggal Ibu Silvi. Jadi kami dulu memang tetanggaan. Selain itu juga, Ayah dan Silvi itu teman dalam suatu organisasi, jadi ya kami memang sudah akrab dari dulu. Sani pun terdiam dan sembari melanjutkan minumannya yang belum Ia habiskan tadi. Dan setelah minuman Sani habis anak Dion dan Sani pun meminta untuk bermain ke lokasi permainan anak. Dion dan Sani pun menuruti permintaan anaknya itu. Dan ternyata Silvi, Rasya dan juga Ibu Rasya masih ada disana menemani Rafi dan anak Rinto sedang bermain. Dan akhirnya pun, Dion menemui Rasya dan juga Ibunya itu. Assalamuallaikum Rasya... Ucap Dion ke Rasya. Dan Rasya pun langsung menjawab salam dari temanya itu. Waallaikum salam Dion.. Apa kabar ? Lama sekali ya kita tidak pernah berjumpa ? Alhamdulillah Sya...Kabar baik, sehat...dan kamu sendiri bagaimana kabarnya sya ? Tanya Dion ke Rasya. Dan Rasya pun dengan senang hati menjawab pertanyaan temanya itu. Kabar Aqu Alhamdulillah baik juga Di...Dan sudah punya anak dua. Silvi pun tersenyum mendengar Rasya mengucap bahwa Ia telah mempunyai anak dua. Dan Silvi menempelkan jemarinya ke perut Rasya sembari mencubitnya. Karena Silvi sedang berdiri tepat disampingnya Rasya. Jadi seperti itulah Rasya bila berada didekat Silvi. Ia belum merasa puas jika belum melihat Silvi tertawa dengan candaanya. Dan Sani pun ternyata sangat menikmati gurauan Silvi dan Rasya itu. Lalu mereka berempat pun duduk bersantai dan sembari mengawasi anak mereka yang sedang bermain ditempat permainan itu. Namun Ibu Rafi merasa sungkan berada didekat ke empat anak muda itu, yaitu Rasya dengan Silvi dan Dion Dangan Sani. Dan akhirnya Ibu Rafi pun mendekati Rafi dan juga anak Rinto yang sedang bermain bersama. Suasana yang tiada disangka oleh meraka, yaitu antara Silvi, Rasya, dan Dion saling bertemu ditempat yang tidak pernah Ia rencanakan, setelah beberapa tahun mereka tidak berkomunikasi. Akhirnya kini Alloh masih mempertemukan mereka untuk saling mengobrol dan bercanda gurau. Dan Sani pun sekarang benar-benar mengetahui dengan sendirinya bahwa memang diantara Silvi, Rasya, dan Dion bahwa dulu benar-benar berteman. Dan setelah mereka mengobrol dengan panjang, akhirnya waktu pun telah menunjukkan pukul 13:00 dan sudah saatnya menjalankan sollat Dzuhur. Mereka pun bersama-pergi ke sebuah musolla dan melakukan sollat berjaah dan yang mengimami adalah Rasya. Dan setelah selesai sollat Dzuhur mereka pun melanjutkan obrolanya hingga waktu hampir sore. Yaitu sekitar pukul 14:30 karena sudah lama mereka tidak saling bertemu akhirnya mereka pun menggunakan kesempatan itu untuk mengobrol hingga puas. Dan waktu pun telah menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh menit, akhirnya Rasya, Silvi dan Dion pun memutuskan untuk pulang bersama. Mereka bersama-sama menuju ketempat parkir mobil masing-masing. Dan setelah mereka semua masuk kedalam mobil Rasya dan juga Dion pun perlahan memutar balikan arah dan meluncur kearah pulang. Begitu juga dengan Dion, Ia juga satu arah atau satu jalur dalam perjalanan menuju ke rumah masing-masing. Untuk Dion adalah pulang ke rumah orang tuanya. Dan mereka pun berdampingan dalam melajukan mobilnya. Rasya ada didepan dan Dion ada dibelakang. Namun sesekali Dion juga mendekati mobil Rasya yang didalam mobil itu ada Silvi. Wanita yang masih menyangkut di hatinya sampai saat ini. Walau telah bertahun-tahun ternyata perasaan itu tidak terbunuh juga. Karena memang Silvi adalah wanita yang baik dan berusaha bijak dalam mengambil sikap. Dengan tujuan, supaya tidak ada yang tersakiti olehnya. Dan alhasil memang seperti itu yang dirasakan oleh Dion, hingga sampai sekarang perasaanya masih tertanam untuk Silvi. Dan dari awal Dion berbicara dengan Silvi, ternyata Sani memperhatikannya. Dan Dion tidak menyadari bahwa sang istri sedang memantaunya. Hingga suatu ketika di jalan, dalam situasi menyetir pun Dion, seolah-olah berusaha mencuri pandang ke Silvi dari Rasya dan istrinya. Nun Silvi tidak menghiraukan semua itu. Dan setelah beberapa jam perjalanan mereka pun telah sampai area rumahnya. Dion menuju pulang ke rumah orang tuanya, dan Rasya juga pulang ke rumah orangtuanya. Setelah mobil mereka berpisah kearah rumah masing-masing. Dan Dion ternyata yang Sampai dirumah terlebih dahulu tenimbang Rasya. Dan Sani pun mulai menampakan kecemburuannya ke Silvi. Tiba-tiba pun Sani bertanya ke Dion. Ayah.. boleh nggak mama tanya ? Ucap Sani ke Dion. Dan Dion pun juga terus menjawab. Boleh ma, mau tanya apa ? Ucap Dion sembari bercanda ke Sani. Dan Sani pun tidak merespon candaan dari suaminya itu. Karena difikiranya telah terpenuhi oleh perasaan cemburu ke Silvi. Ayah.. bararti kalau Ayah dulu satu kampus dengan Rasya dan Silvi pernah nggak Ayah mempunyai perasaan ke Silvi ? Dion pun merasa bingung untuk menjawab pertanyaan dari istrinya itu. Karena jika Sani di jawab jujur maka Ia bisa-bisa marah dan salah faham ke Silvi. Namun jika tidak dijawab secara jujur,Dion tidak mau menyembunyikan sesuatu yang rahasia dari istrinya termasuk tentang perasaanya. Akhirnya pun Dion menjawab dengan apa adanya ke Sani dan berusaha untuk tidak membuat hati Sani tersakiti. Ia ma... Jawab Dion ke Istrinya. Dulu kami bertiga memang bisa dibilang sangat akrab. Namun pada akhirnya Ayah pergi merantau dan jarang kembali ke rumah Ibu dan Ayah, akhirnya ya seperti ini.... Kita akan mengobrol dengan sepuasnya, jika kita bertemu dan ada waktu untuk mengobrol bersama. Tetapi kalau mama perhatikan.. Ayah kelihatan perhatian lho ke Silvi istri Rasya... Ucap Sani ke Dion. Ya memang kita dari dahulu seperti itu," ucap Dion ke Sani. Kita akan selalu membantu jika diantara kita ada yang membutuhkan. Maksut aqu Yah... kalau dilihat dari perhatian Ayah ke Silvi dan cara Ayah bicara ke Silvi. "Sepertinya Ayah pernah ada rasa ke Silvi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN