Terlaksana

1179 Kata
Setelah berunding selesai Rasya, Riko dan juga pamanya Rasya pun masuk kedalam mobil Rasya. Dan untuk kali ini Riko meminta dirinya yang mengemudikan mobil Rasya, dan Rasya pun menyetujuinya. Dan kini jam telah menunjukkan pukul 13:30 perut Rasya pun sudah terasa kosong karena sudah lewat dari jam makan siang. Dan Rasya juga belum melakukan sollat dzuhur. Riko pun bertanya ke Rasya" Sya" berarti kita ini mau sollat dzuhur dulu atau makan siang dulu ya ?.. Rasya pun menjawab pertanyaan Riko itu. Ya .. Kalau menurut aqu lebih baik makan dulu dari pada sollat dulu, supaya kita dollarnya tidak memikirkan makan. Tetapi kalau dilihat dari mendesaknya waktu... Kayaknya kita mending Sollat Dzuhur dulu deh..takutnya kalau kita makan dulu nanti waktu Dzuhur keburu habis. Mungkin tidak apalah, kita sollat dengan menahan perut keroncongan alias lapar, tenimbang kita tidak melakukan sollat Dzuhur. Akhirnya Riko pun memberhentikan mobil yang Ia kendarai dan memarkirkannya di lokasi parkir Resarea ..Di mana di Resarea itu terdapat musolla, temapat madi dan juga rumah makan. Selama di perjalanan hingga berhenti di Resarea itu pun Paman Rasya tidak mau berkomentar apa-apa. Ia pasrah dengan apa yang Rasya dan Riko putuskan. Setelah Mobil di parkirkan, Rasya pun turun dari dari mobilnya dan menuju ke sebuah warung untuk membeli peralatan mandi yang akan ia berikan ke pamanya. Riko dan Paman Rasya pun mengikuti Rasya di belakangnya. Dan setelah Rasya mendapatkan peralatan mandi itu ia pun memberikanya ke pamanya. Dan Rasya juga sembari membeli handuk dan juga pakaian untuk pamanya. Karena baju yang Paman Rasya pakai masih baju yang kucel dan lusuh sekali. Rasya tidak mau sesampainya di rumah Ibu dan neneknya mengetahui keadaan Rinto yang seperti seorang gembel yang keluar dari kurunganya. Karena pasti Ibu dan neneknya pun akan menagis jika melihat kondisi paman Rasya yang seperti itu. Jadi Rasya rela membelikan pakaian untuk ganti baju pamanya setelah ia mandi nanti. Paman" ucap Rasya ke pamanya. Mandilah terlebih dahulu ini ada sabun dan baju untuk ganti paman setelah mandi. Rasya pun memberikanya perlengkapan itu ke pamanya. Rinto pun menerima pemberian itu dari Rasya dan bergegas menuju ke tempat pemandian. Sementara Rasya dan Riko menuju ke tempat wudhu dan bergegas mengambil air wudhu untuk menjalankan sollat Dzuhur. Setelah Rasya selesai menjalankan Sollat Dzuhur sembari menunggu pamanya Ia pun duduk santai di bawah pohon depan musolla itu, dan Riko pun juga mengikuti apa yang Rasya lakukan. Setelah sekitar sepuluh menit Rasya dan Riko menunggu, akhirnya paman Rasya pun selesai juga dari mandi dan menjalankan sollat Dzuhur. Dan setelah Rasya tau bahwa pamanya telah selesai, Ia pun bergegas menuju ke pamanya dan mengajak untuk makan siang. Paman" ucap Rasya ke pamanya. Kita makan siang terlebih dahulu ya.. karena cacing-cacing di perut telah memberi kode" Paman Rasya pun menjawab dengan sangat singkat dan sangat pendek sekali. " Iya " kata-kata yang sangat pendek dan penuh makna. Ucap Rasya dalam hatinya. Dan mereka pun langsung menuju ke Ruang makan, dimana disitu tersedia beraneka ragam makanan baik dari lauknya dan jga sayurannya. Rasya pun memilih untuk menu makan siang yaitu ikan tuna dan sayuran. Menu yang sangat sederhana sekali untuk orang yang mempunyai penghasilan seperti Rasya. Memang seperti itulah Rasya, walau hidup dengan bergelimangan harta benda Ia tidak memperlihatkanya dengan cara hura-hura atau dengan kesombongan. Ia lebih memperlihatkan dengan cara membantu ke sesama teman atau orang-orang yang membutuhkanya. Jadi untuk hal makan siang Ikan dan sayuran dan dengan segelas pop Eis itu sudah cukup baginya. Tetapi untuk Riko dan pamanya Ia di persilahkan bebas untuk memilih makanan yang Ia suka. Dan setelah makan Siang selesai Rasya pun tak lupa untuk membeli oleh-oleh buat orang-orang yang di rumah yaitu terutama untuk anaknya. Ia pun membeli anggur dan strawbery kesukaan Rafi" dan setelah itu pun Ia kembali menuju ke mobil dan melanjutkan perjalanannya. Tetapi kali ini Rasya meminta dirinya yang akan mengemudikan mobilnya. Riko pun menyetujui keputusan itu. Setelah mereka kembali ke mobil dan Rasya pun mulai melajukan mobilnya. Sinar matahari pun mulai redup, karena cuaca agak sedikit mendung. Bagaikan hati Rinto yang kini merasa resah karena perbuatanya sendiri. walau kini Ia telah keluar dari jeruji besi yang mengurung tubuhnya, tetapi rupa-rupanya Ia terfikiran akan kebaikan Rasya, yang telah banyak mengeluarkan uang dan tenaga untuk membantu membebaskannya dari seltahanan akibat perbuatanya. Perasaan gelisah itu pun menghampiri fikiranya di sepanjang jalan. Keponakan yang sangat baik terhadapnya dan juga anaknya.... Dulu pernah Ia celakai hingga hampir kehilangan nyawanya. Dan tidak cuma itu" Ia juga meminta paksa cek ke Rasya dengan nominal yang sangat besar... Bisakah Dirinya membalas kebaikan Rasya...Atau paling tidak mengembalikan uang yang telah Ia pakai selama ini ... Fikiran itu pun terbesit di otak Rinto. Dan ternyata Rasya pun diam-diam memperhatikan pamanya yang selama di perjalanan tidak ada suaranya sama sekali. Paman" ucap Rasya ke pamanya. Apakah paman baik-baik saja ? Tanya Rasya ke pamanya hingga berkali-kali" Kenapa dari tadi dan sudah berjam-jam Paman tidak ada suara sama sekali ? Apakah paman sedang tidak enak badan ? Rasya pun menawari minuman teh dan juga kopi yang telah di kemas dalam botol itu serta Air mineral yang yang Ia beli tadi setelah selesai makan siang. Rinto pun menjawab semua dari pertanyaan yang di ucapkan oleh Rasya" Saya tidak apa-apa Sya.. Dan saya juga dalam kondisi baik-baik saja. Oh iya Sya" ucap Rinto ke Rasya" Bagaimana kabar Ibu kamu dan juga nenek ? Dan semua yang ada di rumah ? Rasya pun menjawab pertanyaan yang diucapkan oleh pamanya itu" Alhamdulillah semua dalam kondisi sehat dan baik-baik saja paman" Dan nenek juga sekarang insa Allah kondisi kesehatanya semakin membaik. Rasya " ucap paman Rasya lagi ke Rasya" Terimakasih ya Rasya, atas kebaikan kamu selama ini yang telah membantu paman dan teman-teman paman untuk keluar dari jeruji besi yang sangat menyiksa itu. Dan Saya tidak bisa membalas kebaikanmu selama ini. "Rasya pun menimbali ucapan pamanya itu dengan nada rendah dan halus. Paman " ucap Rasya ke pamanya. Saya tidak meminta paman untuk mengembalikan pengorbanan saya ke paman selama ini" Tetapi paman bisa insyaf dari melakukan perbuatan keji dan kriminal itu bagi saya sudah cukup. Karena perbuatan keji paman itu yang membuat paman,Ibu dan nenek merasakan penderitaanya. Jadi cukuplah satu kali ini saja hal seperti ini terjadi. Ia Rasya... Saya akan berhenti dari perbuatan keji yang pernah saya lakukan. Ucap Rinto ke ponakannya itu. Rasya pun tersenyum lega mendengar pernyataan yang keluar dari bibir pamanya itu, sembari mengucap" baik paman semoga niat baik paman bisa membuat paman lebih semangat lagi. Iya Rasya" jawab Rinto ke Rasya. Memang sungguh luar biasa baiknya Rasya. Padahal Ia telah menemukan titik terang bahwa yang menghajarnya dan meminta paksa uangnya dalam bentuk cek waktu dulu adalah pamanya dan teman-temanya. Namun hanya dengan melihat neneknya yang sakit-sakitan kerena memikirkan pamanya yang berada dalam seltahanan. Hatinya pun bisa lemah dengan seketika, dan mengikhlaskan kejadian yang tempo hari pernah menimpanya. Dan tentunya juga karena dari dorongan seorang istri yang memberi motivasi tentang keikhlasan dalam hidup. Hati Rasya pun terketuk bahwa sesuatu yang telah kita sedekahkan maka nilainya akan bertambah. Yang artinya, jika kita menyedekahkan harta atau benda kita, atau bahkan tenaga kita maka sesungguhnya semua itu akan kembali lagi pada diri kita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN