Dan semoga akan segera menyusul anak ke dua kami....
Silvi pun terkejut dengan ucapan Rasya yang Iya ucapkan barusan.
Iya nak... Masih mengandung ya istrinya ?...Tanya Ibu Dafit ke Rasya.
Belum Bu..lagi proses namun belum jadi...
Dafit mendengar ucapan Rasya itu pun langsung ngakak ( Tertawa lepas) karena merasa gokil sekali Rasya ....
Dan Rasya juga pun sembari tersenyum lepas mengucapkan kata-kata tersebut.
Begitu juga Silvi, Iya menepuk paha Rasya sembari tersenyum. Dan akhirnya pun suasana terasa hidup dan tidak menegangkan.
Itulah Rasya..Iya selalu bisa membuat suasana yang serius atau tegang menjadi rileks hingga seseorang bisa santai dalam menikmati pembicaraanya.
Begitu juga Ibu Dafit, Iya pun juga tertawa hingga tiada suara, karena saking seriusnya dalam tertawa...
Dan setelah selesai tertawa Ibu Dafit pun menambahkan pembicaraanya.
Ow iya nak Rasya... Boleh ya kapan-kapan Ibu main ketempat nak Rasya, Ibu jadi ingin berteman dengan Ibu nak Rasya. Kira-kira seperti apa ya Ibu nak Rasya orangnya ?...
Pasti baik sekali...kalau dilihat dari karakter nak Rasya yang asyik dan baik... Ahhh Ibu bisa ajjaa...
Saya memang begini Bu orangnya..
Tidak suka yang terlalu serius dalam berbagai hal, namun dalam arti, bukanya tidak mau serius melainkan ya seperti itu...saya ini kalau melihat orang tegang dalam pembicaraan saya, bawaanya ingin memasukan kata-kata yang bisa membuat keadaan tersebut mencair.
Jadi kan biar kita semua itu sama-sama enak dan nggak merasa kaya mau ditikam.
Iya nak Rasya...Saya juga setuju dengan pendapat nak Rasya. Terimakasih Bu.. telah sependapat dengan saya...ucap Rasya ke Ibu Dafit.
Ibu Dafit pun tersenyum manis mendengar ucapan Rasya berterimakasih kepadanya. Dan suasana pun benar-benar menjadi cair tidak seperti diawal pembicaraan tadi.
Ow Iya Sya... Kira-kira kapan pembangunan akan dimulai ? Tanya Dafit ke Rasya.
Kalau bisa ya Minggu depan, hari minggu pagi peletakan batu pertama di lokasi tersebut. Sebenarnya hari Sabtu saya juga libur namun kata orang tua hari Sabtu tidak boleh dibuat untuk membuka suatu usaha atau apapun.
Sebenarnya pendapat itu cuma mitos, namun jika orang tua telah melarang, perasaan kita jadi ikut terbawa ragu. Iya nak... Ucap Ibu Dafit ke Rasya. Jika telah ada yang meyakini maka lebih baik dihindari.
Karena perasaan yakin itulah yang membuat sesuatu yang tidak diinginkan bisa terjadi.
Iya Bu... Dan itulah sebabnya saya memutuskan untuk peletakan batu pertama di hari Ahad saja. Dan ini sekalian saya kasih DP nya dulu ya pak ?
Tanya Rasya ke Ayah Dafit.. Dan untuk selebihnya nanti jika pembangunan sudah setengah jadi atau hampir finis , Rasya cukupkan semuanya. Iya nak..tidak apa-apa. Jawab Ayah Dafit ke Rasya.
Dan Rasya pun memberi selembar cek yang telah Iya tulis dengan nominal uang yang cukup lumayan jumlahnya. Karena untuk membangun suatu tempat usaha memang tidak sedikit biayanya.
Apa lagi Ayah Rasya akan membangun sebuah Restauran yang walau cuma sederhana itu cukup membutuhkan dana.
Dan belum untuk yang supermarket dan toko baju yang serba ada yaitu untuk pria dan wanita. Ketiga usaha itu benar-benar membutuhkan banyak dana dan fasilitas yang baik tentunya.
Supaya pengunjung yang berdatangan untuk membeli merasa nyaman dengan tempat dan suasana tersebut.
Namun untuk Ayah Rasya dengan nominal modal yang sekitar tiga ratus juta itu insa Alloh Iya tidak merasakan keberatan, karena usahanya diluar negeri sana adalah restauran.
Namun Ada dua orang teman yang menanam saham di resto itu, yaitu Ayah Rasya termasuk salah satunya. Dan selain itu, Rasya juga turut membantu dalam urusan modal Ayahnya dalam membuka usahanya itu.
Karena Rasya pun juga tau, Iya adalah anak tunggal dari kedua orang tuanya, Jadi apa pun yang orang tua Rasya miliki sekarang itu juga milik Rasya kelak.
Dan Silvi pun juga sangat mengizinkan suaminya untuk membantu Ayahnya dalam hal modal maupun dalam hal urusan yang lainya.
Jadi untuk Ayah Rasya Iya pun dari luar negeri sana hanya memandu Rasya dalam hal mengurus pembangunan gedung tempat usahanya tersebut.
Dan setelah semua urusan dana telah klier ( telah disepakati), dan kapan hari akan dimulai kerja juga telah ditentukan maka Rasya dan Silvi pun permisi izin untuk pulang dan memohon maaf ke keluarga Dafit jika telah lancang atau lain-lainya. Sekali lagi Rasya meminta maaf yang sebesar-besarnya.
Orang tua Dafit pun menerima ucapan dari Rasya tersebut. Namun satu hal yang tidak disetujui oleh orang tua Dafit ke Rasya.
Yaitu Rasya terlalu merasa bersalah ke keluarga Dafit, padahal kan semua itu tidak ada yang perlu di maafkan. Justru sebaliknya Ibu Dafit merasa senang jika Dafit mempunyai teman seperti Rasya.
Orangnya yang baik, ramah dan mempunyai sopan santun yang tinggi. Dan setelah Rasya dan Silvi berpamitan, Ibu Dafit, Ayah Dafit dan juga Dafit melarang Rasya untuk pulang terlebih dahulu.
Karena istri Dafit telah menyiapkan menu untuk makan siang, dan semua itu sekarang telah siap di meja makan keluarga Dafit. Jadi mau dan tidak mau Rasya dan Silvi pun harus mau.
Karena kalua tidak mau, nanti dikiranya tidak menghargai tawaran dari orang. Dan akhirnya pun Rasya dan Silvi pun kita andil dalam keluarga Dafit untuk makan siang bersama.
Suasana yang hening disaat makan siang pun terjadi beberapa menit pada waktu makan. Dan dikala sudah selesai makan suasana rame pun kembali terdengar.
Dan Rasya pun karena waktu telah menunjukkan pukul satu siang lebih tiga puluh menit. Iya meminta izin untuk menumpang sollat Dzuhur terlebih dahulu dan begitu juga dengan Silvi Iya juga melakukan hal yang sama sebagaimana Rasya.
Dan setelah selesai sollat Dzuhur, Rasya pun kembali berpamitan ke Orang tua Dafit dan juga ke Dafit untuk kembali pulang ke rumahnya.
Dafit beserta keluarga pun merasa senang atas silaturahim Rasya ke keluarganya, dan semoga silaturahmi ini akan tetap terjalin untuk selamanya. Ucap Ibu Dafit ke Rasya.
Dan setelah Rasya berpamitan dan juga bersalaman dengan semua kuarga Dafit dan mengakhiri dengan ucapan salam yaitu Assalamuallaikum wr wb.
Dan keluarga Dafit pun juga menjawab salam Rasya dengan ucapan, waallaikum salam wr. wb.
Setelah itu pun Rasya terus masuk kedalam mobil dan menghidupkan mesin mobilnya lalu meluncurkan kearah dimana Iya tadi melajukan mobilnya.
Dan setelah itu pun Rasya dan Silvi berunding untuk acara nanti dihari Minggu yang akan datang.
Sayang... Ucap Rasya ke istrinya. Berarti besok hari Minggu yang akan datang kita pesan ketering makanan saja ya untuk genduri ( syukuran) atas peletakan batu pertama.
Iya sayang ... Jawab Silvi ke Rasya. Namun untuk lebih jelasnya kita lebih baik tanya ke Ibu dahulu kayaknya sayang...
Ini kan urusan Ibu juga, takutnya kalau kita tidak tanya ke Ibu dahulu nanti kalau kita disalahin bagaimana ?..
Rasya pun terus diam dan memikirkan perkataan Silvi. Dan dengan waktu yang tidak lama yaitu sekitar lima belas menit Rasya terdiam, akhirnya pun Rasya menyetujui usulan Silvi barusan.
Karena setelah difikir-fikir, memang ada benarnya juga jika Rasya tidak bermusyawarah dengan Ibunya terlebih dahulu dalam hal urusan tasyakuran nanti yang dihawatirkan terjadi salah paham antar Silvi dan Ibu mertuanya.
Iya sayang.... Saya setuju dengan usulan kamu.ucap Rasya ke Silvi. Dan setelah beberapa menit dari membahas urusan untuk hari Minggu depan, tiba-tiba Rasya teringat akan belanjaan yang harus dipersiapkan untuk acara Minggu depan.
Sayang... Ucap Rasya ke Silvi lagi. Mumpung nanti kita ngelewatin moll, mau belanja sekalian atau tidak ? Tanya Rasya ke Silvi. Iya Sayang...
Mampir dulu karena lumayan banyak juga keperluan yang harus aqu beli. Mendengar jawaban dari istrinya itu Rasya pun setibanya di jalan yang dekat dengan moll, Iya terus memutar arah untuk masuk ke lokasi parkir moll tersebut.
Dan hanya dengan beberapa menit saja, Rasya pun telah masuk ke area moll dan telah memarkirkan mobilnya. Lalu Rasya dan Silvi pun terus beranjak menuju kedalam moll yang sangat nyaman tempatnya itu.
Silvi pun berputar dan mencari barang atau sesuatu yang akan Iya pergunakan untuk acara peletakan Batu pertamanya di lokasi yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya itu.
Rasya pun juga turut membantu Silvi untuk mencari sesuatu yang Iya butuhkan. Dan Rasya pun di tengah lorong moll yang sejuk nyaman itu sembari berbisik ke Silvi.
Karena Rasya melihat ada pagawai moll yang mengunakan pakaian kaya cheef, jadi Rasya pun teringat akan usahanya juga membutuhkan juru masak yang handal.
Dan dari situlah Rasya berbisik ke Silvi. Sayang... Ucap Rasya ke isterinya. Nanti kita juga mbutuhkan seorang juru masak yang handal untuk memasak menu makanan yang ada di Resto kita.
Silvi pun menjawab perkataan Rasya barusan. Sayang... Berarti yang artinya kita harusempersiapkan semua itu dari sekarang ya ?...
Iya sayang ...jawab Rasya ke Silvi. Setelah kita belanja untuk keperluan dapur selesai nanti semua ini kita masukan terlebih dahulu ke bagasi mobil ya ?..
Tambah Rasya berkata ke Isterinya. Iya sayang.. lagian juga aqu sudah capek berjalan melulu dari tadi... Nanti kita beristirahat minum ya sayang disebelah sana ? Ajak Silvi ke suaminya.
Iyaaa..... Kamu tinggal pilih tempat saja...
Ok sayang ..siaaappp laksanakan...jawab Silvi celetuk ke suaminya dan sembari bercanda. Namun Rasya juga tidak apa-apa.
Karena Iya sudah terbiasa untuk bercanda dalam kondisi yang menegangkan. Dan setelah Rasya dan juga Silvi memasukan barang-barangnya kedalam bagasi mobil, Iya pun terus kembali lagi ketempat yang semual Iya tunjukkan ke Rasya.
Dan Rasya pun hanya mengikuti apa yang telah menjadi keputusan Silvi. Di saat Silvi dan Rasya sedang duduk untuk menunggu antrian minuman yang tengah Iya pesan.