Rafi pun tersenyum sembari menjawab, Ia nek...besok main lagi kesini ya neek...
Ucap Rafi ke neneknya.
Ia sayang ...lain waktu ya...
Dan Ibu Silvi pun bergegas keluar rumah dan menuju ke mobil Rasya, yang dimana Rasya telah menunggu Ibu mertuanya di mobil. Ibu Silvi pun terus naik ke mobil dan begitu juga dengan Silvi juga Rafi Ia ikut mengantarkan Sampai ke rumahnya.
Dan setelah mobil Rasya meluncur beberapa menit, akhirnya sampailah di kediaman Ibu Silvi, dan Rasya pun memparkirkan mobilnya dan Silvi beserta Ibunya juga turun dari mobil, dan untuk Silvi Ia sembari memberi oleh-oleh ke Ibunya, baik berupa makanan dan cemilan-cemilan yang lain.
Silvi dan Rasya pun turut ikut masuk rumah bersama Ibunya. Dan setelah Ibu Silvi masuk ke dalam rumah dan semua barang bawaanya juga telah dimasukkan kedalam rumah, Silvi dan Rasya pun berpamitan untuk pulang.
Silvi pun sebelum keluar rumah salaman dengan ibunya terlebih dahulu dan sembari meneteskan air matanya, karena sesungguhnya Silvi tidak tega membiarkan Ibunya hidup hanya seorang diri di rumah.
Dan setelah Silvi dan Rasya bersalaman dengan Ibunya Ia pun terus beranjak masuk kedalam mobil, dan Rasya pun terus melajukan mobilnya kembali menuju ke rumah orang tuanya.
Selama di perjalanan Silvi pun masih terus menangis, dan akhirnya Rasya pun berkata.
Sayang....
Memang terkadang hidup itu harus memilih, dan terkadang kita juga akan di uji dengan ketangguhan dan ke ikhlasan kita.
Tapi percayalah...aqu akan berusaha secepatnya untuk mendapatkan solusi itu. Silvi pun terus terhenti air matanya ketika mendengar ucapan Rasya bahwa Ia akan segera mencarikan solusi dari problem yang menimpanya.
Dan lima belas menit pun telah berlalu, kini Rasya,Silvi dan juga Rafi telah sampai ke rumah orang tua Rasya. Dan karena waktu telah sore mereka pun terus bergegas menuju kamar mandi.
Dan yang lebih awal yaitu Rafi, Ia dipersilahkan oleh Silvi untuk mandi terlebih dahulu. Kemudian setelah Rafi selesai baru gantian dengan Silvi, dan yang terakhir yaitu Rasya.
Karena Rasya mandinya cepat jadi Ia mandinya di urutan paling akhir diantara istri dan anaknya. Dan setelah selesai mandi mereka pun berkumpul di ruang tamu seperti biasanya bersama dengan Rinto dan anak Rinto juga.
Mereka saling mengobrol dan bercanda gurau. Dan ditengah-tengah obrolannya itu Rinto pun meminta izin ke Rasya bahwa Ia akan berangkat kerja di luar negeri bersama temanya.
Karena tadi siang waktu Rinto meminta izin ke Ibu Rasya, ke Ibunya dan ke Silvi Rasya masih belum pulang dari kantor. Jadi sore ini Rinto mempunyai kesempatan untuk pamit atau izin ke Rasya.
Dan keputusan Rasya pun juga sebagaimana keputusan Ibunya, Ia memberikan izin ke Rinto jika memang asal-usul orang yang Rinto ikuti itu benar dan terarah jalurnya.
Karena bagaimna pun Rasya tidak mau pamanya jatuh pada lubang yang sama. Namun setelah Rasya teliti jalur yang pamanya tempuh untuk bekerja ke luar negeri adalah sesuia dengan prosedur maka Rasya menyetujui keputusan pamanya itu.
Dan sore itu juga Rinto memasrahkan anaknya untuk di rawat oleh kakaknya yaitu Ibu Rasya, karena kalau Ibunya Rinto yaitu neneknya Rasya kini ia telah lemah kondisi badanya dan sudah tidak bisa merawat cucunya itu.
Maka dari itu Rinto menitipkan anaknya ke Ibu Rasya, yang kakak kandungnya. Dan hari demi hari telah berlalu, dan kita tiba saatnya Rinto untuk berangkat ke Luar Negeri bersama orang yang akan membawanya.
Raut wajah yang sedih pun terpancar di wajah Ibu Rasya, nenek, dan juga anak Rinto. Anak yang seusia Rafi telah merasakan berpisah dengan orang tuanya. Pertama dengan Ibunya dan yang kini entah dimana rimbanya, dan untuk sekarang Ia harus berpisah juga dengan ayahnya.
Yang walau kontrak kerja Rinto hanya dua tahun, namun itu adalah hal yang berat bagi seorang anak. Tapi apalah daya, Rinto di rumah hanya pengangguran mungkin memang itu salah satunya untuk membuat dia supaya bisa berfikir lebih dewasa lagi.
Hanya do'a yang bisa tercurah dihati Ibu Rinto melihat anaknya akan pergi untuk mencari perubahan dalam hidupnya. Dan kini setelah kepergian Rinto Ibuk Rinto pun mulai menampakkan perubahan karakternya dengan Silvi.
Cucu yang sangat tidak Ia sukai itu, karena dengan kondisinya yang seperti saat ini lemah dan mulai tidak berdaya Ia lebih sering membutuhkan bantuan orang untuk menjalani kehidupannya.
Dan semenjak Rinto tidak ada di rumah terkadang Ibu Rasya sibuk dengan mengurus anak Rinto. Jadi Silvi lah yang menggantikan posisi Rinto untuk merawat nenek Rasya.
Dari situlah hati nenek Rasya mulai terketuk dan mulai bersikap baik ke Silvi.
Memeng terkadang seperti itulah manusia, dia merasa sombong dengan apa yang Ia miliki, padahal semua harta benda yang dan tubuh yang masih sehat dan kuat semua itu adalah milik Alloh semata.
Tetapi terkadang karena iman seseorang yang lemah, sehingga membuat hati seseorang lupa, bahwa jika apa yang kita miliki termasuk kesehatan kita, jika Alloh kehendaki untuk mengambilnya maka kita pun tidak akan berdaya dan tidak bisa apa-apa.
Dan setelah nikmat sehat dan kuat itu telah Alloh ambil dari kita, dari situlah kita terkadang baru bisa menyadari, bahwa tidak ada yang patut kita sombongkan atas apa-apa yang kita punya atau kita miliki di kehidupan ini.
Karena pada dasarnya kita terlahir di dunia ini tidak membawa apa-apa dan tidak pula punya apa-apa.
Dan ternyata hati yang baik, sabar dan ikhlas itu yang lebih baik untuk menyikapi problema hidup ini. Dengan hati yang ikhlas problema itu akan bisa hilang dan luluh dengan sendirinya.
Karena dengan keikhlasan Alloh akan membalas beribu-ribu kebaikan untuk orang yang melakukanya.
Begitu juga dengan apa yang Silvi lakukan ke nenek Rasya, Ia hanya menangis dan bersedih dengan karakter tega dan jahat nenek Rasya terhadapnya.
Namun seiring berjalanya waktu kini tubuh nenek Rasya telah tidak berdaya dan membutuhkan orang yang merawatnya. Dan ternyata Silvi orang yang dahulu sangat Ia benci dan Ia caci kini malah yang merawatnya.
Dan setelah beberapa Minggu Rinto berangkat ke Luar Negeri, Ia pun kini telah memberi kabar ke Rasya dan juga Ibu Rasya. Kini Ia telah di terima bekerja di sebuah perusahaan tekstil di Negara itu.
Karena Ijasah yang Rinto miliki adalah Sarjana juga, sebagaimana Silvi dan juga Rasya jadi Ia diterima kerja dibagian staf kantor atau perusahaan tersebut.
Perasaan lega dan senang pun tertera di hati Ibu Rasya dan nenek Rasya, begitu pula juga dengan Rasya. Ia tentunya sangat lega mendengar pamanya diterima kerja di sebuah perusahaan di Negara tersebut.
Dan kini saatnya Rasya berdiskusi dengan Ibunya mengenai tempat tinggalnya. Setelah Ia mendengar kabar bahwa pamanya telah diterima kerja disebuah perusahaan Rasya pun memberanikan diri ke Ibunya mengenai tempat tinggalnya.
Hari libur pun telah datang, Rasya dan Ibunya pun seperti biasa kalau hari libur Ia duduk- duduk diruang tamu yang sebelahan dengan taman.
Ibu.. Ucap Rasya ke Ibunya.
Boleh Rasya tanya sesuatu Bu ?
Tanya Rasya ke Ibunya.
Boleh nak.. Jawab Ibu Rasya ke Rasya.
Begini Bu... Bagaimana misal usaha Ayah pindah saja ke indo Bu.
Karenakan sekarang nenek sudah tidak seperti dahulu Bu..
Dan Ibu juga saat ini ada momongan yaitu anak paman. Jika Ayah kembali ke Indo dan membuka usaha disini maka Ibu tidak akan terlalu repot dalam mengurus nenek dan anak paman.
Walau untuk merawat nenek Silvi Juga turut andil, namun semua itu tidak cukup Bu. Ibu tetap membutuhkan sosok Ayah disamping Ibu. Karena Rasya juga tempo hari diminta untuk tinggal bersama Ibu Silvi yang sekarang hidup di rumah hanya dengan seorang diri.