Perasaan tidak enak ibu Silvi pun terus melanda di hati ibu Silvi. Dan setelah Rafi capek dalam bermain, iya pun ingin tidur bersama Ibunya di ranjang yang ada di ruangan tamu, yaitu ranjang yang ditempati tidur neneknya.
Dan anak Rinto pun juga pergi ke Rinto, untuk meminta tidur di kamarnya juga. Dan Rinto pun menuruti apa yang telah menjadi keinginan anaknya itu.. akhirnya pun Rinto juga beristirahat dikamar dengan anaknya, karena setelah selesai acara tentunya badan juga terasa capek.
Begitu juga dengan Silvi, Rafi dan juga Ibu Silvi mereka juga sama-sama beristirahat, namun untuk mereka bertiga yaitu Silvi, Rafi dan Ibu Silvi mereka beristirahat di ruang tamu yang di ruangan tersebut juga terdapat ranjang tidurnya.
Karena memang sudah terbiasa tempat itu untuk bersantai Rafi dan juga Rasya jika di hari-hari biasa. Ruangan yang sejuk dan indah, yang sebelah tembok ruang tamu itu yang terdapat taman beraneka ragam tanaman bunga yang tertata rapi dan indah.
Setelah sekitar satu jam beristirahat, Silvi danb Ibunya pun terbangun kerena teringat belum menjalankan sollat Dzuhur, dan setelah selesai sollat Ibu Silvi pun meminta ke Silvi untuk diantarkan pulang ke rumahnya.
Namun Silvi meminta Ibunya untuk pulang nanti setelah Rasya pulang dari kantor. Dan Ibu Silvi pun menyetujui pendapat Silvi itu. Karena bagaimanapun juga kemarin Ibu Silvi datang dengan Silvi dan Rasya juga, takutnya kalau tidak menunggu Rasya terlebih dahulu nanti Rasya berfikir Ibu Silvi tidak mau bermain lama di rumah Rasya.
Akhirnya pun Silvi dan juga Ibunya setekah selesai sollat Dzuhur Ia kembali lagi ketempat istirahatnya yang tadi yaitu di ruang tamu. Mengobrol dan bercanda gurau sebagai mana biasanya Silvi jika bersama dengan Ibunya.
Begitu juga dengan Ibu Rasya, Ia juga setelah menjalankan sollat Dzuhur terus beristirahat di kamarnya lagi, karena Ibu Rasya sedang ada yang difikirkan yaitu mengenai pembicaraan tadi bersama Rinto. Yang artinya jika Rinto berangkat bekerja keluar Negeri berarti Ia harus merawat anak Rinto yang kini juga telah bersamanya.
Sedangkan nenek Rasya saat ini sudah tidak mampu lagi untuk merawat anak Rinto, karena kondisi badannya yang sudah melemah. Dan setelah sekitar satu jam berada di kamar, Ibu Rasya pun merasa jenuh dan keluar dari kamar untuk mencari udara yang sejuk di taman.
Suasana yang mendung yang diiringi oleh angin sepoi-sepoi membuta hati Ibu Rasya menjadi lebih lega dan damai. Silvi pun setelah mengetahui Ibu mertuanya berada di taman sendirian lalu Ia pun menghampirinya.
Setelah Silvi menghampiri Ibu mertuanya itu, Silvi pun melihat Ibu mertuanyabitu seperti ada yang sedang difikirkan. Silvi fun bertanya ke Ibu mertuanya itu.
Ibu...mengapa Ibu disini sendirian Bu ? Dan Ibu Rasya pun menjawab pertanyaan yang Silvi tanyakan kepadanya.
Tidak apa-apa nak....
Hanya ingin mencari udara segar.
Dengan melihat bunga-bunga yang mekar dan harum, rasanya di badan dan otak terasa segar dan indah sekali.
Dan setelah Silvi menemani Ibu mertuanya hingga beberapa menit, Ia pun permisi masuk kedalam rumah dan membantu asisten rumah tangganya yang sedang berbenah.
Karena setelah acara tentunya halaman rumah pun pada kotor dan perlu untuk dibersihkan, dan untuk lantai-lantainya pun juga perlu di sapu dan di pel. Maka dari itu Silvi pun membantu asistennya dalam membereskankan pekerjaannya itu. Sebenarnya itu bukan tugas Silvi namun seperti itulah Silvi, Ia selalu tidak tega melihat orang lain merasa kesulitan .
Dan pekerjaan berbenah itu selesai, namun posisi Silvi masih ada di luar rumah, datanglah mobil yang dari arah kejauhan dan menuju rumahnya, dan setelah sampai didepan rumahnya berhenti dan sembari mengklakson pertanda ingin dibukakan pintu gerbang rumahnya.
Ternyata Ia adalah Rasya, Silvi pun dengan bergegas membukakan pintu gerbang itu dan mempersilahkan Rasya untuk masuk.
Rasya pun tersenyum sembari mengucapkan terimakasih Buu.... Atas bantuannya...
Dengan nada bercanda dan Silvi pun juga membalas candaan itu.
Iya pak.... Silahkan masuukk.....Dan Rasya pun tidak lepas dari tawanya, dan terus melajukan mobilnya dan memasukan ke tempat parkir mobil.
Dan setelah itu pun Silvi juga menghampiri Rasya, dan seoerti biasa setiap suaminya pulang dari kerja, Silvi selalu membawakan Tas Rasya dan bersalaman dengan suaminya.
Lalu mereka berdua pun terus menuju kedalam rumah. Dan untuk Rasya Ia bersalaman ke Ibunya terlebih dahulu sebelum Ia masuk kedalam kamar dan berganti pakaian.
Setelah itu pun Silvi membuatkan minuman untuk Rasya seperti biasanya dan diletakkan di meja kamar didamping Rasya beristirahat.
Sebenarnya Rasya biasanya beristirahat di ruang tamu, namun karena di raung tamu ada Ibu mertuanya, jadi untuk kali ini Ia beristirahat di ranjang kamar. Sembari merebahkan badannya yang telah lelah bekerja di kantor seharian, Rasyamenarik tangan Silvi yang baru saja menaruh minuman di meja yang jaraknya dekat sekali dengan ranjang tidurnya itu.
Dan tentunya Silvi pun terbawa oleh tarikan Rasya tersebut, dan badan Silvi pun menindih tubuh Rasya.
Yang sebenarnya Rasya juga tidak sengaja menarik Silvi hingga terjatuh di badanyabitu.
Namun karena tarikan itu lumayan kuat, akhirnya pun Silvi jatuh dan danvtepat di atas d**a Rasya. Dengan posisi Rasya yang baru memakai pakaian singlet, dan baru pulang bekerja tentunya Rasya tidak terlu percaya diri ke Silvi karena merasa badanya bau keringat.
Hingga akhirnya pun Rasya Rasya hanya memeluk Silvi dan melepaskanya dan semabri bilang.
Sayang ...Aqu masih bau badan ...
Maaf ya aqu terlalu kencang dalam menarik tangan kamu hingga kamu terjatuh di badan aqu.
Silvi pun menjawab dengan wajah yang mengganggu Rasya.
Makanya sayang... Jangan suka iseng....akhirnya kan kebablasan.
Sembari Silvi menyodorkan secangkir teh buatanya untuk Rafi.
Dan Rafi pun dengan senang hati dan terus meminum teh buatan istri tercintanya itu.
Sembari meminum teh, Silvi pun bilang ke Rasya bahwa ibunya meminta diantarkan untuk pulang ke rumahnya. Rasya pun walau sesungguhnya masih terasa capek baru pulang kerja, Ia pun tetap menuruti permintaan Silvi itu.
Dan sebenarnya Rasya pun ingin Ibu mertuanya itu tinggal lebih lama lagi di rumah orang tuanya itu, namun apalah daya, jika Ibu mertuanya telah memintanya untuk di hantarkan pulang. Rasya juga harus menurutinya.
Dan akhirnya pun Rasya bersedia untuk mengantarkan pulang ibu Silvi di sore hari ini. Dan setelahbitu pun Rasya terus bergegas ke ruang tamu dimana Ibu mertuanya sedang ada disana dan menemani Rafi yang sedang tidur dari tadi yang belum terbangun.
Rasya pun mendekati Ibu mertuanya dan bertanya.
Ibu...?
Apa Ibu mau pulang sekarang ?
Bukankah disini saja dulu Bu untuk beberapa hari kedepan ini ?
Tidak nakk... Ucap Ibu Silvi ke Rasya.
Ibubtidak bisa meninggalkan rumah ibu dengan berlama-lama. Jadi maafkan Ibu ya nakk...
Kalau Ibu tudak bisa untuk tinggal lebih lama lagi disini.
Rasya pun mengangguk mendengar jawaban dari Ibu mertunaya barusan.
Dan mendengar percakapan Rasya dengan ibu mertuanya itu, ibu Rasya pun terus menghampirinya dan memberi tambahan pertanyaan ke ibu besanyabitu.
Iya Ibu besan...disini saja dulu...kan ibu besan di rumah sendiri, kasian lhoo...tidak ada temanya.Dan lagian kan Silvi juga ada disini. Kenapa tidak tinggal disini saja Bu...sekalian dengan kita.. ?
Rumah ini kan cukup besar lhoo...masih sangat cukup untuk tambah satu orang lagi untuk tinggal di rumah ini.
Iya Ibu... Terimakasih sekali atas tawarannya...tetapi mohon maaf yang sebesar-besarnya ya Bu... Saya harus tetap pulang ke rumah.
Dan setelah Ibu Sikvi meminta maaf ke besanyabitu, Ia pun terus bersalaman dengan besarnya dan sembari berpelukan.
Rasya pun terus bergegas memakai baju dan menuju ke luar rumah dan mengambil mobilnya yang sedang teroarkirkan di areanya itu.
Dan Rafi pun tiba-tiba terbangun dengan suara-suara neneknya itu. Dan terus terdiam tanpa ada suara sama sekali, karena Rafi kelihatanya kaget mendengar sesuatu.
Dan sebekum berangkat pulang, ibu Silvi pun beroamitan dahulu ke Rafi yang sedang termenung yang seolah-olah tidak mengetahui apa-apa itu.
Sayang.... Ucap neneknya ke Rafi.
Nenek pulang dulu ya naakkk.....