Jadi Rasya mohon Ayah pindah usaha saja di Indo Bu... Demi kebaikan semuanya Bu, termasuk Ibu mertua Rasya. Dan Ayah bisa membuka usaha disini.
Silvi kan disini telah lumayan lama Bu.. membantu mengurus nenek.. Dan kini Ibunya meminta kita untuk tinggal bersamanya, dan Rasya tidak bisa menjawab apa pun Bu..
Dan tolong ya Bu.. Sampaikan semua ini ke Ayah..
Ibu Rasya pun terdiam karena bingung. Disisi lain Ia ingin anak laki-lakinya itu tetap tinggal bersamanya. Namun disisi lain ada mertua Rasya yang hanya tinggal seorang diri di rumah dan membutuhkan anaknya itu.
Dan setelah terdiam sebentar Ibu Rasya pun memberikan jawaban ke Rasya. "Nak penentu di rumah ini adalah Ayah dan bukan Ibu. Jadi Ibu akan berkonfirmasi terlebih dahulu ke Ayah atas semua ini.
Iya Bu... Saya akan mengerti atas semua ini. Dan untuk ke esokan harinya Ibu Rasya pun berusaha menelfon Ayah Rasya.
Kriiiiiiing.......kriiiiiiing......
Suara telefon Ayah Rasya berbunyi.
Dan kebetulan Ia lagi mengurus kafenya yang rame itu dan di bantu oleh beberapa rekan kerjanya.
Jadi hingga berkali-kali Ibu Rasya menelfon Ayah Rasya tidak mendengarnya. Dan Ibu Rasya pun berusaha mencari waktu yang tepat untuk bisa mengobrol dengan Ayah Rasya.
Hingga akhirnya Ibu Rasya pun menemukan waktu yang Ia harapkan itu, yaitu mengobrol dengan suaminya.
Dan setelah Ibu Rasya mengobrol dengan Ayah Rasya, Ia pun juga bingung dengan kondisi yang sedang di alaminya. Karena memang keadaanya sulit untuk dipilih.
Disatu sisi Usaha Restauran Ayah Rasya di luar negeri juga lumayan rame dan menghasilkan Rupiah yang cukup menggiurkan.
Namun dilain sisi, ada orang tua dan Istri serta saudara yang membutuhkanya. Kalau Ia pindah Usaha ke Indo, yang artinya Ia harus merintis dari awal. Sedangkan Usaha yang Ia Jalani sekarang walau berada jauh dengan keluarga, itu sangat menguntungkan.
Jadi akhirnya pun Ayah Rasya juga meminta waktu untuk memikirkan semuanya. Karena Ia juga tidak berani gegabah dalam bertindak, apalagi itu menyangkut urusan keluarga.
Dan setelah beberapa hari Ayah Rasya berfikir, akhirnya Ia meminta izin ke rekan usahanya untuk pulang bererapa hari ke Indo untuk memecahkan permasalahan keluarganya itu.
Akhirnya Ayah Rasya pun tiba di Indo dengan tidak memberi tahu ke Istri atau Rasya. Karena Ia sangat bingung dengan situasinya maka dengan tiba-tiba Ia pun pulang dan tanpa memberi tahu ke keluarga terlebih dahulu.
Rasya pun sangat terkejut ketika mengangkat telfon dari Ayah bahwa Ia telah ada di Bandara dan meminta Rasya untuk menjemputnya.
Dengan perasaan senang dan tidak karuan Rasya pun setiba dari kantor Ia terus bergegas mengambil air wudzu dan melakukan sollat Asyar lalu meluncurkan mobilnya dan melaju ke Bandara untuk menjemput Ayahandanya.
Dan setiba di Bandara Rasya terus menemui Ayahnya dan mengucapkan salam sembari berjabat tangan dengan Ayahnya. Ayah Rasya pun menjawab salam dari anaknya itu dan terus masuk kedalam mobil.
Ayah..Ucap Rasya ke Ayahnya. Maafkan Rasya ya yah, Rasya agak telat dalam menjemput Ayah. Karena Rasya baru pulang kerja dan juga tidak tahu kalau Ayah akan pulang hari ini.
Kenapa Ayah tidak bilang dari kemarin yah.. kalau Ayah mau pulang ke indo ? Kan Rasya bisa pulang lebih awal dan Jemput Ayah. Dan Ayah tidak kelamaan nunggu seperti ini.
Ayah Rasya pun tersenyum ke Rasya dan sembari menjawab, tidak apa-apa nakk.... Ayah Rasya juga sangat memakluminya, karena Ia juga tahu bahwa putranya juga baru pulang dari kerjaanya.
Ayah juga tidak niat dari kemarin naak..
Jawab Ayah Rasya ke putranya itu.
Ayah juga tidak niat dari kemarin kalau mau pulang sekarang nak" tadi itu dengan tiba-tib Ayah mempunyai solusi dan ingin pulang.
Akhirnya ya sudah.. Ayah meminta izin ke teman kerja Ayah untuk pulang ke Indo beberapa hari kedepan.
Perjalanan yang lumayan jauh, jarak tempuh dari rumah Rasya ke Bandara yaitu sekitar dua jam perjalanan dengan menggunakan mobil pribadi.
Dan kini tidak terasa Rasya dan Ayahnya mengobrol hingga telah menghabiskan waktu satu jam perjalanan. Dan kini telah memasuki waktu sollat magrib, Rasya dan Ayahnya pun berhenti disebuah mesjid dan melakukan sollat magrib terlebih dahulu.
Setelah selesai sollat magrib, Rasya dan Ayahnya pun bergegas masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya. Sebenarnya perut Rasya sudah mulai memberi tanda bahwa Ia telah lapar.
Namun semua itu masih Rasya tahan karena di rumah ada Istri dan Ibu yang sedang menantikan makan dan kumpul bersama keluarga.
Dan tiba-tiba perut Rasya berbunyi sangat keras.....
Dan Ayah Rasya pun sampai mendengarnya. Lalu Ayah Rasya memberi solusi ke Rasya.
Naak...Ucap Ayah Rasya ke Rasya. Perut kamu sudah mberi kode, kita berhenti dahulu ya ?... Mengisi perut sebentar..
Tidak Ayah... Jawab Rasya ke Ayahnya. Karena orang-orang yang di rumah juga sedang menahan lapar karena menunggu kita..
Jadi lebih baik kita teruskan saja perjalanan ini. Atau kalau Ayah ingin minum yang hangat-hangat boleh lah kita turun terlebih dahulu.
Ia nak... Ayah ingin minum yang hangat terlebih dahulu.. Ucap Ayah Rasya ke Rasya.
Baiklah Ayah....Rasya akan mencari tempat untuk berIstirahat dan minum.
Dan setelah beberapa menit Rasya melajukan mobilnya Ia pun menemukan Resarea didekat Jalan yang Ia lewati itu, Rasya pun terus membelokan mobilnya ke Resarea itu.
Dengan pelan Ia pun memarkirkan mobilnya dan mencari tempat duduk yang nyaman untuk beristirahat dan minum secangkir kopi.
Suasana malam yang gelap, yang terdapat lampu-lampu Jalanan yang redup semua itu membuat hati Rasya merasa senang dan juga redup (Bingung).
Karena Rasya telah berfikir, dengan sepulangnya Ayah ke rumah pasti ada kaitannya dengan apa yang telah Ia sampaikan ke Ibundanya di hari yang lalu.
Rasya benar-benar hawatir dengan apa yang akan Ayahandanya putuskan mengenai problem yang Ia hadapi saat ini yaitu untuk pindah tempat tinggal bersama Ibu mertuanya.
Karena Antara kedua orang tuanya dan Ibu mertuanya baginya sama, dan tidak diperbedakan sama sekali antara keduanya.
Dan hati kecil Rasya mengatakan, Ia ingin tinggal bersama anak dan istrinya. Dan Istrinya menginginkanya tinggal dengan orang tuanya yang hidup hanya seorang diri.
Di situasi yang berat itulah membuat hati Rasya hawatir dan bingung kalau Ia tidak diizinkan untuk tinggal dengan Ibu mertuanya oleh Ayahnya.
Karena sebagai anak Rasya juga harus patuh kepada kedua orang tua, namun sebagai suami Ia juga ingin membuat hati sang Istri bahagia.
Wanita yang telah membuat hidupnya lebih baik dan lebih berarti.
Karena Rasya dari kecil hanya tinggal dengan seorang nenek, dan jarang sekali didampingi oleh Ibu kandungnya.
walau hidup Rasya penuh dengan gelimangan harta, namun Ia kurang mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya. Karena jarak tempat tinggalah yang membuat Rasya dengan kedua orang tuanya berjauhan.
Hingga suatu hari Ia menemukan sosok seorang gadis yang sederhana namun bisa membuat hidupnya lebih baik, terutama dalam hal prinsip. Rasya lebih banyak belajar ke Silvi.
Dan dari situlah Ia merasakan kekosongan dalam hidupnya terisi dengan hadirnya seorang gadis yang sekarang telah menjadi Istrinya itu.
Gadis yang sangat berarti dalam hidupnya melebihi dirinya sendiri. Maka dari itulah Rasya bingung dalam memilih.
Hingga kegundahan itu pun terpancar di wajah Rasya dan akhirnya Ayah Rasya pun bisa melihat kegelisahan itu.
Lalu Ayah Rasya pun menanggapi kegelisahan anaknya itu. Naakk....Ucap Ayah Rasya ke Rasya.
Ia Ayah" Jawab Rasya ke Ayahnya.
Dan Ayah Rasya pun tidak langsung menanggapi kegelisahan Rasya.
Namun Ia membelokan pembicaraanya terlebih dahulu.
Ke obrolan yang lain.
Nanti setelah kita selesai minum dari sini. Biar Ayah yang menggantikan menyetir mobilnya ya ?...