Dan setelah Silvi menjemput Rafi, Iya pun terus mengawasi Rafi bermain di rumah dan sembari belajar. Dan begitu juga dengan anak Rinto, Iya pun juga belajar ke Silvi karena sekalian dengan Rafi.
Hingga waktu istirahat siang pun telah tiba, Rafi dan Sinta anak Rinto, terus beristirahat dari bermain dan belajar dan kemudian makan siang dan beranjak tidur.
Sebelum tidur, tentunya terlebih dahulu Silvi mengajarinya untuk melakukan sollat Dzuhur terlebih dahulu. Mungkin kalau untuk Rafi Iya sudah terbiasa namun untuk Sinta yang anak Rinto.
Iya masih sangat canggung, dalam menjalankan sollat. Namun bagi Silvi semua itu akan terbiasa dengan seiring berjalanya waktu yang dibiasakan.
Memang Rafi dan Sinta sangat beda, karena dari kecil Sinta diasuh oleh orang tua yang masa bodoh dengan kewajiban lima waktu yaitu sollat.
Sedangkan Rafi, untuk Ibunya saja Iya ahli dalam hal sollat, dan nenek dari Ibunya juga bisa dibilang ahli ibadah, serta saudara-saudara Silvi yang lain, semuanya suka dalam hal keagamaanya.
Hingga akhirnya pun ditiru oleh Rafi, jika telah masuk waktu sollat walau Ibunya belum menyuruh Iya pun terus bergegas mengambil air wudhu dan menjalankan sollat.
Jadi Silvi pun sangat gampang jika telah masuk waktu sollat, tanpa Iya mengajak Rafi untuk sollat, Rafi pun sudah merespon dengan sendirinya
Silvi pun senang melihat anak laki-lakinya yang seperti itu, cepat tanggap dalam urusan apa pun.
Dan setelah selesai sollat Rafi dan Sani pun diperintahkan untuk tidur siang.
Supaya tidak berisik dan tidak bermain terus, mereka pun saling menurut dan masuk kedalam kamarnya masing-masing. Hingga sore Rafi baru kebangun dari tidurnya.
Dan disaat Rafi baru bangun dari tidur, Ayahnya pun datang dari tempat kerjanya. Rafi pun sangat girang mendengar mobil Ayahnya telah pulang.
Iya langsung berlari dan menuju ke arah suara mobil, yaitu kedepan rumah. Dan Rafi pun disaat keluar dari rumah dan melihat Ayahnya pulang dari kantor, Iya langsung menghampiri Ayahnya dan meminta salaman.
Lalu Rasya pun tidak cuma menjulurkan tanganya untuk bersalaman namun juga mencium anaknya juga, karena sangat menggemaskan sekali Rafi karakternya.
Terkadang kayak Silvi namun terkadang karakternya juga kayak Rasya. Jadi yang jelas karakter Rafi adalah Iya dapatkan dari kedua orang tuanya yaitu Rasya dan Silvi.
Silvi pun berada dibelakang Rafi disaat Rafi keluar dan memburu Ayahnya yang baru pulang dari kantor. Jadi Silvi pun menyaksikan penuh akan apa yang dilakukan oleh Rafi ke Ayahnya.
Dan setelah Rafi meminta salaman ke Ayahnya Iya pun terus mendampingi Ayahnya untuk masuk kedalam rumah sebagaimana Ibunya.
Dan setelah sampai kedalam rumah, baru Rafi duduk diruangam TV sembari menonton TV. Dan untuk Rasya Iya terus masuk kedalam kamar, dan seperti biasa Iya berganti pakaian dan terus menyusul Rafi menonton TV.
Hay anak Ayah..... Sapa Rasya ke Rafi. Hallo Ayah.... Jawab Rafi ke Ayahnya.
Boleh nggak ya Ayah bergabung dengan anak Ayah ? Tanya iseng Rasya ke anaknya.
Boleh dong Ayahh.... Jawab Rafi sambil tersenyum dan berharap Ayahnya untuk menemaninya. Baiklah naak.... Ucap Rasya ke Rafi. Dan Rasya pun terus menghampiri Rafi yang sedang duduk sendiri sambil menonton TV.
Kalau selain menonton TV, tentunya Rafi pun bercanda dengan Ayahnya. Biasa karena Rasya adalah orangnya terkadang suka bercanda apabila suasana sedang tegang atau hening.
Dan disitu Rafi tentunya sangat terhibur dengan candaan Ayahnya yang gokil abis... Menurut Rafi. Padahal Rafi itu tidak tau apa yang iya ucapkan yaitu mengenai makna kata gokil.
Iya hanya mendengarkan ucapan dari para orang tua yang mengantar anaknya sekolah dan sambil ngerumpi. Padahal Rasya anaknya tidak suka ikut campur dengan urusan orang, namun jika telah mendengar kata-kata itu satu atau dua kali, iya akan cepat menangkapnya.
Dan disitulah bahayanya Rafi, iya belum bisa mendengar kata-kata ya g kurang baik untuk di dengar, karena jika sampai Iya mendengarnya maka sesampainya di rumah pun iya pasti akan mengulang kata-kata itu lagi.
Dan setelah beristirahat lumayan lama yaitu sekitar setengah jam, dan keringat pun telah berkurang, Rasya pun mengajak Rafi untuk mandi karena telah sore.
Namun Rafi tidak mau untuk mandi bareng Ayahnya. Karena iya sekarang telah merasa besar dan telah memiliki rasa malu. Jadi Ayah dulu atau Rafi dulu yah yang mandi ? Tanya Rafi ke Ayahnya.
Rafi aja dulu nak...nanti baru Ayah menyusul. Jawab Rasya ke Rafi anaknya. Dan setelah Rafi selesai mandi begitu juga dengan Rasya, Iya pun terus bergegas mencari Ibunya ya g sedang sibuk di dapur.
Hallo Ibu ...Ucap Rafi ke Ibunya. Hay nakk.... Sudah pada mandi ya ? Tanya Silvi ke Rasya dan Rafi. Sudah dong Bu...Ibu mandi dulu sana Bu...Biar Rafi dan Ayah yang menyelesaikan pekerjaan Ibu...
Sudah sore lho Bu... Ibu belum sollat Asyar kan ya ? Tanya Rafi ke Ibunya. Belum nakkk.....Jawab Silvi ke Rafi. Tetapi sebentar lagi juga selesai.
Bik Ina memang kemana sayang ? Mengapa kamu di dapur sendirian. Tanya Rasya ke Istrinya. Bik Ina sedang ada urusan sebentar sayang...
Jadi tidak apalah aqu memasak sendirian. Dan setelah beberapa Rasya dan Rafi menunggui Ibunya di dapur. Akhirnya Silvi pun selesai juga dalam memasaknya. Dan Silvi pun terus beranjak mengambil kain handuk dan bergegas mandi.
Dan setelah mandi Silvi pun menjalankan sollat Asyar dan beebahkan tubuhnya di ranjangnya yang empuk itu.
Karena siang ini iya merasa lumayan capek, akhirnya selesai sollat Silvi pun terus rebahan di kasur dan malah ketiduran. Rasya pun mencari tentunya. Dan ternyata orang yang Iya cari ada didepan matanya.
Sayang ....ucap Rasya ke Silvi yang sedang tertidur itu. Silvi pun karena baru saja tidur iya tidak mendengar ucapan dari suaminya itu. Dan setelah itu pun Rasya menemaninya untuk tidur. Namun yang Rasya susah untuk kendalikan yaitu, Jika iya dekat dengan istrinya iya pun serasa ingin memberikan adik ke Rafi.
Namun di waktu- yang menjelang magrib tentunya Rasya juga bisa mengendalikan Perasaanya. Dan akhirnya pun setelah magrib, Silvi terbangun dengan sendirinya.
Iya pun tersenyum ke Rasya dan bilang. Sayang.... Aqu tadi kok mengantuk sekali yaa ? Tanya Silvi kesuaminya.
Dan Rasya pun menjawab. Kamu itu kecape'an sayang... Karena salah satu tanda orang yang capek yaitu akan merasa cepat mengantuk. Ow ..iya kah ?...
Tanya Silvi meledek ke Rasya suaminya. Iya sekali.... Jawab Rasya ke istrinya. Dan setelah mereka semua menjalankan sollat magrib, mereka pun seperti biasa makan malam dan untuk Rasya dan Silvi setelah itu Iya masuk kedalam kamar dan berdiskusi tentang akan dilakukannya pembangunan proyeknya.
Dan Rasya mempunyai ide setelah selesai pembangunan nanti, iya selain akan membuka restauran sederhana dan supermarket, iya juga ingin membuka sebuahToko baju yang serba komplit.
Karena didekat PT atau Garmen itu banyak pegawai atau pekerja wanitanya. Maka akan sangat cocok jika Ayah Rasya membuka usaha atau toko kain disana.
Sayang ....Ucap Rasya ke Silvi setelah berada di kamar. Besok kan Aqu libur kerja, dan besok kita ke tempat teman aqu ya ? Mau mencari Arsitek untuk pembangunan gedung kita.
Karena nantikan akan dibikin tiga ruangan yang dengan ukuran lebar, yaitu untuk resto, untuk supermarket dan untuk toko Baju yang lengkap dengan semua jenis pakaian pria dan wanita.
Jadi kita harus mencari orang yang benar-benar bisa dipercaya untuk proses pembangunan itu. Dan kebetulan aqu ada teman yang Iya bekerja di proyek pembangunan.
Iya seorang Arsitektur yang mempunyai cukup pengalaman di bidangnya. Dan telah mempunyai tenaga-tenaga kuli yang siap untuk membantunya.
Iya sayang.. jawab Silvi ke Rasya. Semoga niat dan rencana kita bisa berjalan dengan lancar dan tanpa halangan suatu apa pun. ?. Amiinn.
Dan untuk Rafi juga Sinta biar Bik Ina yang mengantar ke sekolah.
Dan setelah kita nanti bersepakat dengan para pekerja, Minggu depan pun pembangunan bisa langsung kita mulai untuk meletakkan Batu pertamanya. Lanjut Rasya berunding dengan sang istri.
Dan lama kelamaan pun Silvi tertidur lebih dulu dari pada Rasya. Lalu Rasya pun tersenyum melihat istrinya yang sedang diajak bicara namun telah tertidur lebih dulu.
Baiklah sayang... Ucap Rasya ke Silvi. Karena kamu telah mengantuk dan bahkan telah tidur pulas maka aqu juga akan tidur... Good night ( selamat malam) Rasya pun mengucap kata-kata itu sembari Dangan mengecup kening istrinya.
Begitu juga dengan Rafi, Iya setelah masuk ke kamarnya langsung tertidur dan tidak butuh pendamping Ibunya lagi. Kecuali kalau lagi musim penghujan dan ada petir, Rafi masih takut dengan semua itu dan butuh Ibunya untuk berlindung.
Hingga akhirnya pagi pun menjelang, suara ayam berkokok di rumah tetangga pun terdengar di rumah Rasya, hingga Silvi pun terbangun dari tidurnya.
Dan selain karena itu juga, Silvi memang ingin bangun pagi karena akan bepergian di rumah teman Rasya. Rumahnya tidak terlalu jauh namun jalan arah ke tempat itu yang jelek dan rusak. Jadi membutuhkan waktu yang banyak dan sabar.
Setelah Silvi bangun dan beranjak ke dapur untuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan dimasak, Bik Ina pun juga ikut kebangun juga. Dan sekaligus Silvi bilang ke Bik Ina Bahwa Iya akan pergi ke rumah teman.
Bik...Ucap Silvi ke Bik Ina. Nanti aqu minta tolong anterin Rafi dan Sinta ya Bik ke sekolah.
Iya Bu... Jawab Bik Ina ke majikanya itu. Dan sekalian nanti pulangnya dijemput, so'alnya nanti saya dan pak Rasya insa Alloh pulanglah sore.
Dan seperti biasa, setelah selesai memasak, Silvi dan Bik Ina pun mempersiapkan makanan di meja makan untuk sarapan bersama.
Dan untuk Rafi Iya tidak mau bersarapan karena telah membawa bekal.