Dengan keadaan

1201 Kata
Silvi merasa lega karena Ia telah menyampaikan ke Rasya atas apa yang Ibundanya ucapkan kepadanya. Yaitu mengenai tempat tinggal. Tetapi Silvi sedih karena belum tahu keputusan apa yang akan Rasya ambil nantinya. Tetapi apalah daya, Silvi pun harus bersabar dalam menunggu jawaban atau solusi dari suaminya itu. Dengan perasaan yang antara sedih dan lega itu pun Silvi dan Ibunya dan juga Rafi pun masuk kedalam mobil. Begitu juga dengan Rasa, Ia keluar dari rumah yang paling belakang sendiri, karena sembari mengontrol rumah barang kali ada yang belum terunci. Dan setelah itu pun Rasya langsung masuk kedalam mobil dan mulai melajukan mobilnya. Suara hening dan tanpa ada suara itu pun membuat hati Silvi bertambah sedih, karena suasana itu membuat Silvi berfikir bahwa bisa jadi Rasya akan lebih memilih untuk tinggal bersama orang tuanya dari pada dengan Ibu mertuanya. Tetapi selang beberapa menit pun Rasya terus memutar musik yang ada di mobilnya itu. Dan dengan suara musik itu Silvi pun lambat laun bisa melupakan sejenak tentang problema yang ia fikirkan saat ini. Dan baru beberapa menit dalam memutar musik, ternyata mobil Rasya sudah sampai di halaman depan rumahnya. Dan Rasya pun membunyikan klakson yang ada di mobilnya. Asisten rumah tangga Rasya pun begitu mendengar suara mobil Rasya ia pun terus bergegas menuju kedepan rumah, dan membukakan pintu gerbang rumah Rasya. Dan setelah pintu gerbang dibuka, Rasya pun langsung mengarahkan mobilnya menuju tempat parkir mobil yang ada disamping rumahnya. Setelah mobil diparkirkan, Rasya beserta yang lainya pun turun dari mobil dan berjalan menuju kedalam rumah. Dan sesampainya didepan pintu masuk rumahnya, Ibu Rasya sudah berada didepan pintu untuk menyambut kedatangan buah hati dan besanya itu. Hallo..Assalamuallaikum ibu... Selamat datang di rumah kami.. Ucap ibu Rasya ke ibunya Silvi. Waallaikumsalam ibu ...Jawab ibu Silvi ke ibunya Rasya. Ibu Rasya pun ke Ibu besanya itu langsung mengajak masuk kedalam rumahnya. Dan begitu juga dengan Rasya, Ia juga mengarahkan ke Ibu mertuanya untuk masuk dan beristirahat dikamarnya bersama anak perempuanya, yaitu Silvi. Dan Ibu Silvi pun juga terus masuk kedalam rumah, dan terus duduk atau beristirahat diruang tamu. Sebenarnya Silvi telah mengajak Ibunya untuk beristirahat di kamar Silvi bersama Silvi, namun Ibu Silvi tidak mau, karena kamar itukan kamar menantunya juga. Ia merasa tidak enak, jadi lebih memilih untuk tetap di ruang tamu. Dan setelah beberapa menit ngobrol-ngobrol di ruang tamu bersama besanya, Rinto pun keluar dari kamar anaknya, karena dari menidurkan anaknya. Dan Ia juga terus beranjak menemui Ibu Silvi dan kebetulan Silvi juga sedang duduk dan ngobrol bersama Ibu dan mertuanya. Rinto pun terus menjulurkan tanganya dan mengajak salaman ke Ibu Silvi dan Silvi. Setelah itu pun Rinto juga ikut duduk dan ngobrol bersama. Dan Silvi pun tidak lupa juga menanyakan kabar atau keadaan Rinto. Apa kabar paman ?.. Tanya Silvi ke Rinto. Alhamdulillah baik Sil.. Dan Rinto pun balik bertanya ke Silvi. Kamu juga apa kabar ? Alhamdulillah saya juga baik paman. Nenek mana ya... Kok belum kelihatan ? Tanya Silvi karena di tengah-tengah mereka hanya nenek yang belum terlihat. Dan setelah itu pun terdengar suara tongkat yang di pakai untuk berjalan. Tuk..tuk..tuk.. Dan itu adalah suara tongkat nenek Rasya, karena Ia sekarang berjalanya dengan menggunakan tongkat. Dan Rinto pun ketika mendengar suara tongkat itu Ia langsung menghampirinya dan membantu Ibunya untuk menemui Ibu Silvi. Memang begitulah keadaanya sekarang, nenek Rasya telah lemah badanya semenjak ia terkena sakit beberapa bulan yang lalu karena memikirkan anak laki-lakinya yaitu Rinto. Dan sesampainya di ruang tamu dan telah mengambil posisi duduk, nenek Ibu Silvi pun mendatangi nenek Rasya terlebih dahulu dan berjabat tangan. Nenek Rasya pun bertanya ke Ibu Silvi. Ibu ini Ibunya Silvi ya ?... Ibu Silvi pun menjawab. Ia Bu.. semoga Ibu cepat sehat dan pulih ya Bu..dan setelah ngobrol dengan Ibu Silvi beberapa kata, nenek Rasya pun meminta masuk kedalam kamarnya lagi. Dan Rinto pun mengantar Ibunya kembali ke kamarnya. Setelah itu pun Rinto permisi ke Silvi dan Ibu Silvi untuk tidur dan masuk kedalam kamarnya. Begitu juga Silvi, Ia terus membujuk Ibunya supaya mau tidur bersama anak dan cucunya. Namun Ibu Silvi tetap tidak mau, dan memutuskan untuk tidur di ruang tamu saja. Padahal kamar Rasya itu cukup besar sekali ruangannya, Dan memang disengaja oleh Rasya dibikin besar karena sekalian untuk ruang kerja Rasya. Yang dengan maksud jika Rasya lembur Ia bisa tetap memandang wajah istrinya yang tidak membosankan itu. Ucap Rasya waktu melebarkan kamarnya itu. Ibu Rasya pun juga meminta Ibu besanya itu untuk tidur bersamanya di kamar, namun Ibu Silvi tetap tidak mau, untuk tidur di kamar yang lain selain diruang tamu itu. Dan akhirnya pun Silvi mengalah dengan keputusan Ibunya itu, dan mengizinkan Ibunya untuk tidur di ruang tamu. Namun begitu juga dengan Silvi, Ia juga mengikuti Ibunya untuk tidur di ruang tamu. Begitu juga dengan Rafi, Ia selalu mengikuti dimana Ibunya akan berpijak. Dan akhirnya Rasya pun juga ikut sekalian tidur di ruang tamu bersama anak dan istrinya. Dan untuk persiapan acara besok yaitu untuk nasi dan lauknya, Ibu Rasya telah memesan ke orang langganannya, ( ketering ) supaya tidak terlalu repot untuk mempersiapkan ini dan itu. Namun untuk kue, malam ini akan dikemas dan dimasukan kedalam wadah supaya besok pagi tinggal nunggu nasi dan lauknya yang belum datang. Karena untuk acara besok Ibu Rasya akan mengundang anak yatim atau anak panti asuhan yang masih membutuhkan bantuannya. Dan Rasya pun sangat setuju dengan acara itu. Setelah acara bungkus-bungkus selesai Silvi dan juga Ibunya pun bersiap untuk tidur, yaitu di ruang tamu. Dan dengan sekejap mereka telah tertidur lelap semuanya, termasuk Silvi dan Rafi. Terkecuali dengan Rasya. Ia rupa-rupanya tidak bisa tertidur dengan posisi di ruang tamu. Akhirnya pun Rasya beranjak kedalam kamar dan tidur dikamar sendirian tanpa ada anak dan istri disampingnya. Namun, pintu kamar Rasya pun tidak Ia tutup sama sekali, takutnya kalau Silvi atau Rafi tiba-tiba pindah ke kamarnya. Tetapi hingga pagi menjelang, Silvi dan Rafi pun tidak terbangun sama sekali dengan tidur di ruang tamu itu bersama Ibunya. Dan akhirnya setelah pagi menjelang Silvi dan Ibunya pun terbangun dan beranjak menuju ke dapur karena akan memasak. Tetapi sewaktu Silvi dan Ibunya berada di dapur untuk mulai memasak, Ibu Rasya pun rupanya sudah terbangun juga dan mengetahui bahwa besanya sedang ada di dapur. Dan Ibu Rasya pun terus beranjak menuju dapur. Dan melarang Ibu Silvi untuk memasak. Ibu.... Ucap Ibu Rasya ke Ibunya Silvi. Ibu besan nggak usah berada di dapur ya Bu.. Biarlah yang muda-muda yang memasak di dapur.. Maksud dari Ibu Rasya yaitu biarlah Silvi dan dibantu oleh asistennya yang masak di dapur. Silahkan Ibu duduk depan saja Bu... Bersama saya.. Ia Bu.. Jawab Ibu Silvi ke Ibunya Rasya. Tetapi saya akan menjalankan sollat subuh terlebih dahulu ya Bu... Ia Bu.. saya juga akan melaksanakan sollat subuh juga .. Mari Bu..kita sollat subuh bersama di masjid dekat rumah..ucap Ibu Rasya ke Ibu Silvi. Ibu Silvi pun menerima dengan senang hati ajakan besanya itu untuk berjamaah bersama di masjid. Karena Ibu Silvi di rumah pun Ia juga terbiasa sollat berjamaah di masjid. Karena kebetulan rumah Ibu Silvi dan mesjid juga jaraknya tidak jauh. Dan akhirnya pun mereka berdua berangkat berjamaah sollat subuh bersama. Sementara Silvi dan asisten rumah tangganya memasak dirumah. Dan untuk Rasya seperti biasa dia terkadang sollat di masjid dan terkadang juga di rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN