Tetapi Rasya merasa aneh dengan sikap Silvi, Ia tidak marah tetapi terasa dingin dengan suaminya. Dan setelah melepas baju kerjanya pun Rasya mendekati Silvi lagi.
Silvi pun juga masih tetap diam dengan ada Rasya didekatnya.
Rasya pun semakin yakin bahwa Silvi benar-benar sedang ada yang dipikirkan. Sayang .... Ucap Rasya ke Silvi sembari memegang tangan Silvi.
Kalau boleh aqu tanya sesuatu, adakah yang sedang kamu fikirkan saat ini, yang mengganggu fikiranmu ?..
Silvi pun menjawab dengan mata berkaca-kaca. Ia sayang.. Ibu tadi bilang ke aqu bahwa kita diminta untuk tinggal disini bersama Ibu,.. tetapi tadi Ibu kamu juga telvon ke aqu dan bilang, kalau aqu diminta untuk pulang ke rumah..
Aqu bingung dengan posisi kita saat ini.. Di sisi lain Aqu ingin tinggal bersama Ibu yang tinggal di rumah hanya seorang diri. Dan Ibu tidak mau ikut dengan anak-anaknya yang bertempat tinggal jauh disana.
Karena Ibu tidak mau untuk meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan bersama Ayah dan anak-anaknya. Dan aqu juga tidak mau membuat hati ibu kamu yang Ibu aqu juga kecewa karena tidak menuruti apa katanya.
Dan Silvi pun akhirnya berdiskusi dengan suaminya dengan meneteskan air mata. Rasya pun tetap menggenggam erat angan Silvi sembari memberi solusi ke Silvi.
Sayang... Ucap Rasya ke Istrinya.
Untuk so'al tempat tinggal, kita fikirkan solusinya pelan-pelan ya.. sambil berjalan. Dan aqu juga ingin keputusan itu tidak akan menyakiti atau mengecewakan hati ke dua orang tua kita.
Jawab Rasya ke Silvi dengan penuh rasa meyakinkan Silvi. Percaya deh.. Aqu akan berusaha adil kepada orang tua kita. Rasya pun terus memeluk Silvi dengan penuh rasa sayang.
Silvi juga sebaliknya.. Ia juga mengimbangi pelukan suaminya dengan penuh Rasa ikhlas. Setelah itu pun Rasya membantu membereskan baju yang akan di bawa pulang dan dimasukkan kedalam Koper.
Lalu setelah selesai Rasya pun mengangkat koper itu dan memindahkanya dipinggir Ranjang tidur. Dan Rasya jga karena baru pulang kerja dan perlu beristirahat walau sejenak, maka Rasya pun mengajak Silvi untuk menemaninya beristirahat, yang tentunya di Ranjang tidur.
Dan seperti biasa.. kesukaan Rasya adalah bercanda dikala hati sang istri dalam posisi tegang. Dengan tiba-tiba Rasya pun mengangkat Silvi ke Ranjang tidur dan merebahkannya.
Akhirnya pun Fikiran Silvi cair juga dengan candaan suaminya itu.
Sayang..... Silvi ke Rasya.
Nanti kita pulangnya setelah maqrib saja yaa ?...
Karena kalau sekarang kamu kan masih capek" dan juga Ibu kan tadi diminta'in tolong untuk datang ke acara tasyakuran paman besok, dan disuruh menginap walau cuma satu malam, oleh Ibu ..
Jadi biar agak longgar waktunya kita berangkat setelah maqrib saja ya sayang ? Tanya Ulang Silvi ke suaminya.
Ia sayang.... Jawab Rasya ke istri tercintanya. Dan Silvi pun tersenyum dengan wajah lega, dan sembari mencium kening Rasya.
Dan Rasya pun sangat senang bila di Silvi romantis terhadapnya. Ia pun terus membalas ciuman juga ke istrinya bahkan kehangatan yang lainya juga.
Setelah Mereka sama- sama merasa lega akhirnya Rasya pun keluar kamar dan menemui Rafi yang sedang bermain bersama neneknya dihalaman depan rumah.
Rafi.... Ucap Rasya ke Rafi.
Sudah sore nak" kita mandi dulu yuu'... Rafi pun menjawab.
Ia Ayah...sembari berlari dan mendekati Ayahnya. Dan nenek Rafi pun terus beranjak masuk juga kedalam rumah, begitu juga dengan Rafi dan Rasya. Ia juga beranjak masuk kedalam rumah dan mandi.
Dan seperti biasa disaat Rafi mandi Silvi pun menyiapkan pakaian Rafi, tetapi kali ini Rasya keluar lagi dari kamar mandi dan Rafi ada didalam kamar mandi sendirian.
Karena memang Rafi sekarang tidak mau dimandikan oleh Ayah atau Ibunya. Kini ia telah memiliki rasa malu. Rasya pun keluar dari kamar mandi sembari tersenyum-senyum ke Silvi.
Sayang ...
Ucap Rasya ke Silvi. Anak kita ternyata sekarang sudah tidak mau lagi dimandiin ya yang ?
Sudah gede malu katanya dimandiin terus.
Ia memang Sayang...
Mulai Rafi sekolah Ia sudah tidak lagi dimandiin sama Ibunya. Jawab Silvi ke Rasya. Dan Silvi pun meminta tolong ke Suaminya, bahwa Ia akan menemui Ibunya, maka nanti setelah Rafi keluar dari kamar mandi Rasya diminta untuk memakaikan baju ke Rafi.
Rasya pun menyetujuinya..
Ia sayang".. Dan Silvi pun terus keluar kamarnya dan menemui ibunya.
Ibu....ucap Silvi ke Ibunya.
Ia nak... Jawab Ibu Silvi yang tengah ada di kamar juga lagi membereskan sedikit baju yang akan Ia bawa untuk ganti selama ditempat besanya.
Ibu sudah sollat Asyar Bu ? Tanya Silvi ke Ibunya. Sudah nak..
Jawab Ibu Silvi ke Silvi, namun baru sollat Asyar saja dan belum mandi. Ibu Silvi pun menjawab sembari tersenyum ke Silvi.
Ow Ia Bu...
Nanti kita berangkat ke rumah Ibu Rasya selah sollat maqrib Bu ?..
Ia nak...ini juga Ibu lagi bersiap.
Ya sudah ya Bu... Silvi malah belum mandi. Permisi dulu ya Bu ?..
Ucap Silvi ke Ibunya. Silvi pun beranjak keluar dari kamar Ibunya dan kembali lagi ke kamarnya.
Karena belum menjalankan sollat Asyar dan juga belum mandi. Maka Silvi pun kelihatan terburu- buru untuk melakukan kewajiban lima waktunya.
Dan sesampainya di kamar Silvi melihat Rafi yang telah selesai mandi dan sudah selesai juga berpakaian. Yang dibantu oleh Ayahnya. Silvi pun tersenyum menatap Rafi..
Sayang.... Ucap Silvi ke Rafi.
Sudah selesai ya nak mandinya.. dan giliran Ibu ya ?
Ia Ibu.... Jawab Rafi ke Silvi. Tapi Ayah belum mandi Bu..
Ok nak.. siap...
Dan Silvi pun terus bergegas menuju kamar mandi karena akan bergantian
mandi dengan Suaminya. Setelah sepuluh menit pun Silvi selesai dari mandinya itu. Dan terus mengambil air wudhu lalu menjalankan sollat Asyar.
Dan ternyata Rafi masih ada di kamar tempat sollat, dan baru selesai sollat. Ternyata Rafi gampang meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di rumahnya. Termasuk dengan menjalankan sollat lima waktu disetiap harinya.
Ternyata hanya dengan diperintahkan dua sampai tiga kali untuk melakukan sollat, Rafi terus melakukanya dengan cara mencontoh orang tuanya yang setiap harinya melakukan perintah sollat lima waktu tersebut.
Memang menurut Silvi, mendidik anak itu lebih mudah dengan cara dipraktikan langsung ke anaknya, karena si anak tersebut akan lebih gampang mencontoh dari pada mendengarkan.
Dan setelah orang satu rumah sudah mandi semua, Silvi pun mengajak semuanya yaitu, Rasya, Rafi dan juga Ibu Silvi untuk makan malamnya diganti sore saja. Karena nanti setelah sollat maqrib semua akan bepergian. Jadi Supaya tidak terburu-buru.
Ibu Silvi dan Rasya pun menyetujui pendapat istrinya itu. Dan akhirnya pun mereka melakukan makan malamnya di waktu sore hari sebelum maqrib.
Dan setelah makan sorenya selesai adzan maqrib pun berkumandang. Silvi pun bergegas membereskan meja tempat makan dan dibantu oleh ibunya.
Sementara Rasya dan Rafi pergi mengambil air wudhu karena akan menjalankan sollat maqrib terlebih dahulu.
Setelah Silvi dan Ibunya selesai membereskan meja makan dan piring-piring yang kotor mereka berdua pun juga bergegas menunaikan kewajiban sollat maqrib.
Dan Rasya dengan Rafi pun sudah pasti selesai sollat maqrib terlebih dahulu tenimbang Ibu dan neneknya. Setelah selesai sollat maqrib pun Rasya langsung bersiap memasukkan apa yang akan Ia bawa untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Lima belas menit pun telah berlalu, Silvi dan Ibunya pun telah selesai dalam menjalankan sollatnya. Dan begitu juga dengan Rasya Ia juga telah selesai dalam memasukkan barang-barang yang akan Ia bawa pulang kerumah.
Rasa sedih dan lega pun dirasakan oleh Silvi.