Yang tiada akhir

1183 Kata
Dan Dion pun melihat kebencian itu diwajah Sani. Tetapi untuk Silvi Iya merasa biasa saja. Dan sebaliknya ke Rasya, Sani kelihatan kayak tertarik oleh Rasya. Namun Dion pun faham betul bagaimana Rasya... Iya tidak akan mau dengan wanita seperti Sani. Karena Iya telah memiliki seorang istri yang sangat baik, polos dan Pintar. Karena seandainya.. Dion bisa memiliki seorang Silvi, Iya tidak akan menyia-nyiakan wanita itu. Dan setelah Rasya dan juga Sani sedikit mengobrol, Sani pun terus beranjak ke dapur untuk mengambil minuman dan cemilan untuk di suguhkan ke Rasya dan juga Silvi. Dengan waktu yang singkat pun Sani telah selesai dalam menyiapkan sajian itu, dan Sani pun terus menyuguhkanya ke Rasya dan juga Silvi. Namun sayangnya, karena kebencian Sani ke Silvi Iya bisa khilaf ke Silvi dan mempunyai niat buruk ke Silvi. Yaitu dengan menaruhkan obat tidur dengan dosis yang sangat tinggi ke minuman Silvi, hingga Silvi pun tanpa curiga dan berfikir panjang lalu meminumnya. Dalam waktu sepuluh menit obat yang telah masuk ke tubuh Silvi pun sudah mulai bereaksi. Dan Silvi mulai merasakan lemas, pusing dan tidak karuan rasanya. Hingga akhirnya pun Silvi jatuh pingsan di pangkuan Suaminya. Rasya pun panik dengan kejadian yang tiba-tiba dialami oleh Silvi. Dan juga Rafi.. Iya sangat takut dengan melihat Ibunya yang tiba-tiba tidak berdaya itu. Rafi pun terus memanggil-manggilnya Ibunya.. Yaitu, Ibu..... Ibu.......Ibu kenapa Bu..... Dan Rasya pun terus membawanya kerumah sakit terdekat dan didampingi oleh Dion. Rasa hawatir Rasya, Dion dan juga Rafi pun tidak karuan ke Silvi. Dan Sani juga turut andil dalam menghantarkan Silvi ke rumah sakit terdekat itu. Namun untuk Sani Iya berangkat tidak bersama dengan Rasya dan Dion. Iya menggunakan kendaraan bermotor. Namun kalau Dion Iya satu mobil dengan Rasya, karena Rasya yang menggendong Silvi kedalam mobilnya. Dan Dion lah yang menyetir atau mengemudikan mobil Rasya. Setelah mobil Rasya meluncur dengan kecepatan tinggi... Sani pun membereskan bekas minuman Silvi terlebih dahulu dan Iya ganti dengan minuman yang tanpa ada obatnya. Dan setelah itu pun, Sani terus menyusul Rasya, Silvi dan Dion ke rumah sakit terdekat. Alhamdulillah karena Tuhan ( Alloh ) masih menyayangi Silvi, Iya terselamatkan dari ganasnya obat yang terlalu banyak dalam menabur dosis. Rasya pun tentunya bertanya-tanya ke Dokter tentang penyebab istrinya yang tiba-tiba pingsan dan hampir tidak bernafas itu. Dan Dokter pun setelah memeriksa Silvi secara detail, lalu memberi pernyataan ke Rasya. Bahwa penyebab dari tidak sadarnya Silvi yaitu karena terkena obat tidur yang dengan ukuran atau dosis sangat tinggi. Dan hampir saja fisik Silvi tidak bisa melawan tingginya dosis dari obat tersebut. Dan jika sampai terlambat dalam penanganan. Nyawa Silvi yang akan menjadi taruhannya. Mendengar pernyataan dari Dokter itu, Rasya pun terasa lemas badanya. Karena dengan bersamanya Silvi mengalami semua ini. Alangkah cerobohnya Iya dalam menjaga istrinya. Namun pada akhirnya, Dokter pun memberi saran ke Rasya untuk menunggu Istrinya Sadar dalam waktu kurang lebih dua jam lagi.. Walau kini Silvi belum sadar dari pingsannya, namun paling tidak.. Rasya telah lega dengan mendengar penjelasan dari Dokter yang menangani Silvi. Dan sembari memeluk anaknya, Rasya berfikir... Siapa orang yang menaburkan obat ke makanan atau minuman Silvi dengan dosis yang sangat besar tersebut. So'alnya Silvi tidak mungkin meminum obat dengan dosis yang sangat tinggi itu, yang hampir merenggut nyawanya. Pasti ada pihak lain dibalik semua ini...tetapi siapa orangnya ? Tanya Rasya dalam hatinya. Sampai-sampai tubuh Silvi pun hampir tidak mampu untuk melawannya. Dan apabila terjadi sesuatu dengan Silvi. Aqu pun bersumpah dalam hati.. Aqu akan mencari orang yang telah mencelakai Silvi. Dan aqu perhitungan denganya, yaitu dengan cara menjebloskanya kedalam penjara. Setelah dua jam Rasya dan Dion menunggu Silvi diluar ruangan, Silvi pun belum tersadarkan juga... Rasa hawatir dan cemas pun selalu menghantui perasaan dua lelaki yang saling mencintai Silvi itu. Dion pun sempat berfikir.. Apakah ini jawaban dari sakit hatinya ke Rasya ! Yang telah merebut Silvi darinya. Namun apa pun itu.. Dion ingin Silvi tetap selamat dalam ancaman dan bahaya apa pun yang Iya hadapi. Tetapi mengapa... Sampai saat ini juga , telah dua jam Silvi belum tersadarkan juga ?... Tanya Dion dalam hati. Rasya pun sempat berkaca-kaca dengan melihat istrinya yang terbaring dan tidak bersua itu. Dan setelah dua jam lebih tiga puluh menit, Silvi pun menunjukkan ada tanda-tanda mulai sadar. Dengan mulai menggerakkan Ibu jarinya.. Yang selalu Rasya pegang dengan erat..Silvi berusaha untuk menggerakkan tangannya. Dan Rasya pun melihat kejadian itu sangat senang dan lega sekali rasanya. Karena akhirnya penantian yang sangat Iya harapkan yaitu Silvi segera sadar antara dari pingsan atau komanya kini terkabul juga. Rasya pun langsung memeluk istri tercintanya itu, dan begitu juga dengan Rafi Iya juga terus memeluk Ibundanya dengan sangat erat. Ibu..... Ibu jangan sakit-sakit lagi ya Bu.... Ucap Rafi ke Silvi. Dan karena Silvi masih sangat lemah tubuhnya, Iya pun menjawab Rafi hanya dengan sedikit tersenyum... Sayang... Ucap Rasya ke Silvi. Kamu harus kuat ya, dengan semua ini. Dan qu akan selalu disamping kamu untuk menghadapi semuanya. Dion pun menyaksikan kegembiraan seorang anak dan suami yang melihat istrinya telah selamat dari bahaya yang hampir merenggut nyawanya. Sesakit apa pun perasaan Dion melihat Rasya yang berhasil memiliki Silvi. Namun Iya juga turut senang dan lega juga.. akhirnya Silvi bisa lolos dari masa kritisnya. Dan Dion pun juga mulai berfikir, mengapa Silvi bisa kelebihan dalam mengonsumsi obat...hingga tubuhnya pun hampir tidak kuasa untuk menerimanya.. Dan setelah itu pun Dion masuk ke ruangan dimana Silvi masih terbaring lemah disana. Dengan didampingi anak dan suaminya berada dalam ruangan perawatan Dionasuk dan melihat kondisi Silvi dengan jarak dekat. Rasya pun juga memberi kesempatan ke Dion untuk dekat dengan Silvi, karena bagaimana pun Dion adalah teman Silvi juga. Namun yang Rasya belum mengetahui sampai saat ini adalah, jika Dion adalah orang yang pertama mencintai Silvi sebelum Rasya. Seandainya saja Rasya telah mengetahui keadaan yang sesungguhnya, apakah Rasya masih bisa memberikan kesempatan ke laki-laki yang mencintai istrinya juga.. Namun siapalah yang tau hati manusia, terkadang baik.. namun juga terkadang bisa hilaf.. jika kita tidak benar-benar menyerahkan semuanya ke Tuhan ( Alloh ) yang Maha Esa, yang telah menentukan nasib dari setiap umat manusia di dunia ini. Dan Dion pun dengan diberi kesempatan oleh Rasya untuk dekat dengan istrinya, Iya pun juga sadar diri.. walau perempuan yang terbaring lemah dihadapannya adalah wanita yang tidak mau keluar dari hatinya sampai detik ini. Dion pun tidak mau menggunakan kesempatan itu dihadapan Rasya. Sesungguhnya.. Disini sangat ingin memeluk Silvi dengan pelukan hangatnya.. Namun sekali lagi Dion tidak mau melakukanya dihadapan Rasya. Karena bagaimana pun Rasya adalah suami Silvi. Iya pasti akan membela mati-matian untuk mempertahankan rumahtangganya bersama Silvi. Dan Dion pun hanya mendekat dan bertanya ke Silvi. Sil.... Di jalan tadi waktu menuju ke rumah aqu, apa yang kamu rasakan ? Silvi pun dengan pelan menjawab pertanyaan Dion itu. Tidak Di... Aqu tidak merasakan apa-apa.. Aqu merasa biasa saja... Namun setelah Aqu duduk diruangan tamu dengan beberapa menit, terus aqu mulai merasa tidak enak badan. Rasyanya lemas, letih dan lain-lain. Setelah itu terus aqu tidak ingat apa-apa... Dari jawaban Silvi itu pun Rasya dan Dion sudah bisa menyimpulkan. Yang artinya... Kemungkinan ada orang yang sengaja mencelakai Silvi... Namun pertanyaannya adalah... siapa..... Orang yang telah tega berbuat nekad ke Silvi ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN