Penantian

1201 Kata
Entah karena berada ditempat yang sejuk atau karena berada diantara teman dan wanita yang Iya cintai. Yang jelas, Dion saat ini sedang merasa damai dan bahagia hatinya. Dan tidak seperti waktu di rumah. Rumah baginya hanya tempat untuk berteduh dan berlindung dari bahaya. Namun hatinya.. didalam rumah yang iya tempati saat ini bersama dengan sang istri, bagaikan tidak ada kebahagiaan lagi. Hanya berpasrah kepada Alloh (Tuhan Semesta Alam) Dion menjalani kehidupan ini. Karena jika merenungi nasibnya, semua akan terlihat.. siapa dan apa yang salah dan penyebab dari permasalahan ini semua. Dan bagi Dion merenungi nasib itu tidak penting, yang terpenting baginya adalah mencari solusi untuk mendapatkan solusi dari problemnya. Jalan damai, itulah yang sedang Iya usahakan saat ini. Dan setelah makan siang telah selesai, Dion pun mengajak Rasya dan Silvi mampir ke rumahnya terlebih dahulu. Dan Rasya pun kali ini sudah tidak enak lagi untuk mengelaknya. Kerena untuk yang pertama ketempat ini Iya telah menolak untuk mampir. Akhirnya pun Rasya dan juga Silvi beserta Rafi, Iya mengikuti permintaan Dion yaitu untuk mampir ke rumahnya. Dion berkendara dengan Motor besarnya, Rasya menggunakan mobilnya dan mengikuti Dion dari arah belakang. Karena Rasya belum tau tempat Dion, jadi Dion lah yang menjadi petunjuk arah ke rumahnya. Dan hanya dengan hitungan menit, Dion pun telah sampai di kediamanya. Sekitar kurang lebih dua puluh menit dari area Rasya ke tempat tinggal Dion. Setelah Rasya dan Silvi sampai ditempat tinggal Dion, Iya pun terus mempersilahkan Rasya dan Silvi untuk masuk didalam rumahnya. Dan bersantai di ruangan yang telah Dion persiapkan untuk setiap tamu atau teman yang lainya. Rumah yang Iya beli dengan jeripayahnya sendiri. Tidak terlalu besar, namun cukup jika dihuni oleh dua keluarga sekalipun. Dengan lebar tanah 50 x 50 m², tanah yang tidak terlalu lebar namun bisa jika untuk membuat bangunan rumah tiga keluarga lagi. Belum tanah milik Dion yang didekat persawahan dulu. waktu Iya masih hidup dengan bercocok tanam.. Dengan Luas 100 x 50 m² Yang sekarang Iya sewakan ke orang, karena Dion sudah tidak ada waktu untuk menggarap persawahannya itu, tenaganya telah dialihkan ke pabrik sepenuhnya. Dan selain itu, Dion juga sudah tidak boleh lagi bercocok tanam oleh orang tuanya. Tanah itu dulu Iya beli dengan seorang petani yang sangat membutuhkan biaya... Jadi dulu tidak terlalu mahal harganya. Dikala Iya sedang patah hati Dion pergi seolah-olah tanpa arah tujuan. Yang hanya mengikuti arah Bus kota. Dan sewaktu Bus yang Dion tumpangi sedang berhenti dan beristirahat di sebuah warung makan. Di sebuah rumah makan itu terdapat orang tua renta yang sedang duduk dengan seorang diri dan sembari menangis. Dion pun dengan pelan mendekati lelaki tua itu. Dan Dion pun memesan makanan dan minuman yang lebih untuknya. Dengan tujuan selebihnya akan Iya berikan untuk kakek yang sedang menangis dan yang duduk hanya seorang diri yang ada didekatnya. Setelah pesanan Dion itu datang, Dion pun meminum dan mencicipi makanan yang telah Iya pesan itu. Dan kakek itu pun melirik kearah Dion seolah-olah iya juga menginginkannya. Dion pun berkata ke kakek itu.....kek... Ucap Dion ke kakek yang ada disebelahnya. Ini minuman yang satu untuk kakek ya.... Ucap Dion ke kakak itu... Kakek itu pun menganggukkan kepalanya, yang artinya Iya mau dengan pemberian dari Dion itu. Dan Dion pun terus memberi makanan yang lainya. Kakek itu pun terlihat sangat senang dengan apa yang telah Dion berikan kepadanya. Dan Dion pun sembari bertanya-tanya ke kakek itu. Kek... Ucap Dion ke kakek yang telah tua renta itu. Kakek mau kemana kek ? Atau dari mana kok sendirian saja ditempat ini ? Kakek itu pun menangis sembari penjawab pertanyaan dari Dion itu. Saya diusir oleh anak menantu saya.. Padahal Rumah yang ditempati anak menantu saya adalah rumah saya.. Dan surat tanah itu sekarang Iya gadaikan di sebuah Bank.. Dan tadinya anak saya tidak mengetahuinya...Namun seiring berjalanya waktu, akhirnya anak saya mengetahui juga.. Bahwa suaminya telah menggadaikan rumahnya ke sebuah Bank. Dan akhirnya mereka pun berantem mulut...hingga anak saya hampir dicelakai oleh suaminya sendiri. Dan ke esokan harinya.. Anak saya telah berangkat bekerja. Di rumah hanya ada saya dan anak menantu saya. Akhirnya saya pun diusir olehnya dengan tanpa sepengetahuan anak saya. Dan saya tidak tau mau kemana... Menantu saya adalah seorang pengangguran. Iya hanya mau bekerja yang ringan-ringan saja namun yang bisa menghasilkan uang banyak. Dan anak saya tidak mau yang seperti itu.. Makanya anak saya bertekad untuk mencari pekerjaan apapun yang penting halal. Dan anak saya mendapatkan pekerjaan di rumah tangga. Dan saat ini anak saya pasti sedang mencari saya.. Namun saya tidak berani pulang, karena saya telah diancam oleh menantu saya, jika sampai saya berani memperlihatkan batang hidung saya ke menantu saya. maka saya tidak akan pernah selamat darinya. Namun disisi lain, saya kasian dengan anak kandung saya.. tetapi saya bingung harus bagaimana cara membantunya... Dan setelah Kekek itu menjelaskan semua duduk perkaranya, Dion pun berusaha untuk memberi solusi dan membantunya. Kek... Kalau kakek tidak keberatan. Saya akan berusaha untuk mencoba membantu kakek dari belenggu menantu kakek. Kakek itu pun menyetujui tawaran Dion itu. Dan langkah pertama Dion adalah mengambil surat tanah milik kakek itu yang telah digadaikan di Bank beberapa tahun yang lalu. Akhirnya pun Dion menebus surat tanah kakek itu yang telah di gadaikan di Bank oleh menantunya. Dan setelah itu pun kakek yang telah tua renta itu menemui anaknya ditempat pekerjaanya. Yaitu Di rumah tangga. Dan dengan bukti memar yang ada ditubuh anaknya kakek itu pun dengan ditemani oleh Dion Iya melaporkan menantunya ke Kapolresta terdekat. Dengan cara itu akhirnya polisi pun datang dan menangkap menantu kakek yang telah berbuat keji ke mertua dan istrinya itu. Lalu sang menantu itu pun akhirnya ditangkap oleh polisi dan dimasukkan kedalam sel tahanan. Dengan modus kejahatan telah menganiyaya istrinya hingga luka-luka. Dan dengan bantuan Dion itulah, kakek Ahmad namanya, telah bebas dari kejahatan anak menantunya itu. Dan kini kakek Ahmad telah kembali ke rumahnya dan berkumpul bersama anak perempuanya. Dan yang kini menjadi masalah untuk Dion adalah, Iya kini sudah tidak memiliki uang sama sekali... Dan hanya beberapa ratus ribu yang ada disaku atau dompetnya. Setelah selesai membantu mengatasi Maslah kakek itupun.. Dion pastinya terus bingung mau kemana karena kini telah habis modalnya untuk membantu kakek Ahmad itu. Dan kakek Ahmad pun karena tidak memiliki Uang untuk mengganti modal Dion yang telah terpakai untuk menebus surat tanahnya di Bank, lalu Kakek Ahmad pun memberikan rumah yang Iya tempati beserta tanahnya dengan luas yaitu 100 x 50 m². Dan yang terdapat sawah beserta sedikit daratan. Akhirnya pun mau tidak mau Dion menerima tawaran kakek Ahmad itu dan menempati rumahnya. Lalu Kakek Ahmad pun karena telah merasa impas Atua lunas dengan orang yang telah membantunya yaitu Dion, Iya pun pergi meninggalkan daerah itu dengan anak perempuanya dan pindah tempat atau rumah ke anak yang lainya. Dengan maksud dan tujuan untuk menghilangkan jejak ke menantunya itu. Di kala Iya telah bebas dari penjara nanti. Dan akhirnya dari situlah Dion terus belajar bercocok tanam. Hingga bertahun-tahun ditempat itu. Lalu setelah Dion menyuruh, Rasya dan Silvi untuk masuk ke rumahnya. Sani pun keluar dari kamarnya dan menyambutnya. Dengan cara bersalaman dan menyapa ke Rasya dan Silvi. Hallo Rasya... Hay Silvi....Ucap Sani menyapa Silvi dan Rasya. Dan Setelah itu pun Sani juga ikut duduk bersama mereka. Namun pandangan Sani ke Silvi kelihatan ada benih-benih kebencian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN