Jawab Dion ke Rasya, dengan penuh meyakinkan Rasya.
Iya Shi Di.... Semoga saja...
Dan disaat Rasya dan Dion sedang membicarakan Silvi dan juga Rafi, Silvi dan Rafi pun tiba-tiba muncul dihadapan mereka.
Dan ternyata benar apa kata Dion..
Silvi tidak kesasar melainkan, mungkin sedang berjalan menuju kemari.
Dan lamanya Silvi sampai di area karena memang warung minuman itu cukup jauh tempatnya. Dan Silvi membeli minuman ada beberapa jumlah botol minuman. Baik minuman dingin atau pun yang biasa saja.
Jadi Iya merasa berat dengan bawaanya itu..Dan maka berjalanya pun jadi lebih lambat, karena berat dan juga capek.
Dan sesampainya di area.. Rafi pun terus duduk dan terdiam...
Sayang... Ucap Rasya ke Rafi.
Jagoan Ayah capek ya.. habis berjalan kaki ...
Rafi pun tersenyum dan merasa terengah-engah nafasnya. Rasya pun mengambil sebuah tiker yang ada di mobilnya dan yang telah Iya persiapkan dari rumah.
Kebetulan di area itu ada sebuah pohon yang dekat dengan masjid. Dan di bawah pohon itulah Rasya menggelar tikernya untuk duduk dan beristirahat mereka.
Rafi pun melihat Ayahnya mengambil tiker yang ada di mobil Iya terus bergegas untuk membantu membawanya.
Ayah... Ucap Rafi ke Rasya.
Biar Rafi bantu ya Ayah bawa tikernya ?
Tidak perlu sayang.......
Ayah masih bisa sendiri....
Lagian Rafiasih capek kan......
Sudah Rafi sama Ibu dulu disana.....
Nanti kalau Ayah sudah selesai.. Baru Rafi ke Ayah lagi...
Rafi pun tetap tidak mau menuruti perintah Ayahnya. Dan Iya pun tetap mengikuti Rasya yang sibuk menggelar tiker itu dan yang di bantu oleh Dion.
Setelah tikernya selesai di gelar, mereka pun terus duduk dan beristirahat dibawah pohon itu. Begitu juga dengan Rafi..Iya lebih dahulu yang merebahkan badannya ke tiker itu karena merasa sangat capek sekali.
Dan setelah Rafi rebahan di tiker tersebut, Iya pun memanggil-manggil Ibunya yang sedang berada didalam mobil.
Ibu....Ibu.....
Kemari Bu....
Silvi pun mendengar suara Rafi yang memanggil-manggilnya iya pun terus beranjak turun dari mobil dan menuju ke Rafi.
Setelah Rafi melihat ibunya berjalan ke arahnya, Iya pun mengucap ke Ibunya..
Ibu....Disini sejuk sekali Buu...
Dan Silvi pun hanya menjawab senyuman ke Rafi. Karena mau dijawab dengan suara.. maka harus yang kencang dan kuat suaranya.
Dan Silvi tidak setuju dengan itu. Dari pada Iya harus mengeluarkan suara keras atau berteriak Iya lebih baik tersenyum saja.
Akhirnya lambat lain pun Silvi sampai di bawah pohon itu bersama Rafi, Rasya dan juga Dion.
Rafi pun terus merasa nyaman sekali dengan adanya Silvi disebelahnya..
Sehingga pun Iya sembari bermain sendiri alakadarnya yang ada disitu.
Rasya dan Dion pun terus mengobrol dengan santai. Dan setelah beristirahat lumayan lama. Masuklah waktu Dzuhur.. Dan mereka pun bersama-sama menjalankan sollat Dzuhur di masjid terdekat itu.
Sebenarnya lokasi Rasya itu dekat sekali dengan area mesjid. Namun Rasya tidak mau untuk beristirahat dan bersantai di halaman mesjid tersebut.
Karena Iya merasa mesjid itu adalah tempat untuk sollat dan bukan untuk beristirahat orang-orang yang selesai bekerja.
Dan dengan senang hati mereka pun melakukan sollat berjamaah. Kesempatan yang jarang terjadi. Antara Rasya, Silvi dan Dion bisa berjamaah bersama didalam masjid yang sama pula.
Setelah mereka selesai berjamaah, mereka pun kembali lagi ke area yang akan mulai dibangun Minggu depan itu.
Dan karena belum makan siang Silvi pun meminta Izin ke Rasya untuk keluar lagi mencari makanan. Dan kebetulan Dion saat ini Iya ke pabrik tidak membawa mobil, melainkan motor.
Karena mobilnya sedang dipinjam oleh tetangganya untuk urusan keluarga. Jadi Dion ke pabrik mengalah dengan menggunakan kendaraan motornya.
Namun karena jarak antara warung makan dan area milik Rasya itu cukup jauh. Jadi Rasya tidak mengizinkan Silvi untuk pergi mencari makanan lagi.
Dan Rasya lah yang rela mengalah untuk keluar dan mencari makanan. Dan karena kebetulan ada motor Dion yang lebih mudah untuk gunakan, maka Rasya pun meminjam motor Besarnya Dion keluar sebentar untuk membeli makanan.
Dan dengan senang hati, Dion pun mengikhlaskanya. Sebenarnya Dion yang akan berangkat untuk mencarinya, namun Rasya tidak enak merepotkan Dion jadi Dia yang berangkat untuk membeli Nasi dan yang lainya.
Akhirnya pun Rasya dengan menggunakan motor Besarnya Dion, Iya pun muluncurkan kendaraan itu dengan kecepatan yang tinggi.
Karena walau Rasya biasa menggunakan kendaraan mobil, namun dengan menggunakan kendaraan motor Iya juga tidak kalah lincah dengan yang terbiasa menggunakanya.
Rasya pun sempat berfikir, yang artinya Dion dan Silvi dulu itukan teman dekat juga. Dan bahkan di antara Rasya dengan Silvi dan Dion dengan Silvi dulu masih lebih akrab Dion dengan Silvi.
Yang artinya, Rasya pun mempunyai perasaan hawatir jika Dion mengambil kesempatan dikala Iya tidak ada.
Namun bagaimana lagi, keadaan lah yang membuat Iya untuk mengalah dan mencari sesuap nasi. Maka semua anak dan istrinya pun rela Iya lakukan.
Dan sebenarnya juga seperti itu, Dion pun ingin sekali mengambil kesempatan dengan Silvi dikala Rasya sedang tidak ada, namun hati kecilnya berkata jangan.
Walau.. dulu Iya mencintai Silvi lebih dahulu dari pada Rasya namun kenyataan berkata lain, mungkin memang Saat ini Dion diberi kesempatan ke Silvi hanya bisa untuk memandang dan mengobrol bersama.
Namun tidak untuk memiliki. Kalau teringat kata-kata itu hati Dion pun merasa sangat hancur. Hingga Iya menikah pun dengan wanita yang mirip dengan Silvi juga.
Namun tidak sepenuhnya seperti Silvi, ada karakter istri Dion yang Dion sangat tidak suka, yaitu gampang salah paham dan gampang pemarah.
Dion pun sempat berfikir bahwa Iya ingin menceraikan Sani, namun setelah iya fikir-fikir lagi berpisah pun tiada guna. Karena semua itu tidak membuat dirinya dan Silvi bisa bersatu.
Dan malah anaknya yang akan menjadi korban dalam perpisahanya. Akhirnya pun Iya mengambil solusi untuk tidak menceraikan Sani. Namun Iya tidurnya yang terkadang bersama dan terkadang berpisah ruangan.
Sampai saat ini pun rumah tangga Dion tidak seharmonis dan sebahagia Silvi. Baginya untuk saat ini dengan berada dekat dengan Silvi dan bisa bercanda dengan Silvi itu sudah cukup.
Karena Dion juga tidak mau merusak kebahagiaan temanya itu. Biarlah nasib percintaannya sekarang seperti ini ( Tidak merasakan kebahagiaan dalam rumah tangganya ).
Namun Dion berharap, semoga suatu saat Iya bisa mendapatkan kebahagianya yang selama ini Iya harapkan.
Manusia memang hanya berencana, pada akhirnya Tuhan juga yang menentukan segala-galanya. Tugas manusia adalah mengikuti alur atau ketentuan hidup yang berlaku pada dirinya.
Dan Dion pun mencoba untuk seperti itu. Prinsipnya adalah Iya ingin mendapatkan kebahagiaanya yang tidak melukai siapapun, apalagi temanya sendiri.
Itu adalah bukan cita-cita Dion. Tetapi pada akhirnya disaat Iya mengalah dengan keadaan ini. Ternyata ada kesempatan yang datang kepadanya.
Yaitu dengan contoh, Sebenarnya Iya ingin merasakan kebahagiaan dengan Silvi, sebagaimana Rasya, tetapi karena jika Iya bahagia bersama Silvi maka Rasya akan terluka.
Dan Iya rela mengalah dengan semua itu. Namun ada akhirnya walau sedikit Dion selalu mendapatkan kesempatan untuk berdua dengan Silvi.
Memang begitulah hebatnya orang yang mengalah. Tetap ada kebaikan dalam pengorbanan kita itu. Namun terkadang manusialah yang kurang memahami dan kurang bersyukur atas nikmat yang Tuhan ( Alloh ) berikan untuk kita.
Dan akhirnya pun Dion dan Silvi hanya mengobrol berdua dan dengan tempat duduk yang berjauhan. Karena Silvi dan Dion juga sama-sama berfikir, bahwa mereka tidak mau menyakiti antara temanya dalam hal atau urusan cinta.
Dalam waktu beberapa menit pun Rasya telah kembali dari membeli makanan. Dan akhirnya mereka berempat makan siang bersama-sama dibawah pohon yang sejuk itu dan diiringi oleh angin sepoi-sepoi.
Rasa nyaman dan tenang pun dirasakan oleh Dion.