Dan akhirnya pun Silvi menggunakan kesempatan itu untuk bilang ke Rasya atas apa yang Ibunya sampaikan tadi waktu Iya mampir kerumah Ibunya. Sayang..Ucap Rasya ke Silvi.
Rafi dimana ya ?... Belum kelihatan kayaknya ?
Tanya Rasya ke Silvi.
Ada sayang sedang di kamarnya. Lagi tidur. Jawab Silvi ke Suaminya.
Tetapi Rafi tidak apa-apa kan sayang ?...kok tumben gini hari tidur ?..
Tanya lagi Rasya ke Silvi.
Iya tidak apa-apa, mungkin tadi karena kecape'an. Pulang sekolah belajar terus tidur bangun sollat Dzuhur ajja terus kembali tidur lagi. Jawab Silvi ke suaminya, karena Rasya kelihatan hawatir.
Setelah Silvi menjawab dengan jelas, Rasya pun terus bersantai bersama strinya sembari melepaskan rasa letih dan penat seharian berada di kantor dengan menghadap ke komputer terus.
Dan disaat kebersamaan itulah Silvi memberi masukan ke Rasya tentang hal yang Ibunya sampaikan tadi ke dirinya.
Sayang ....Ucap Silvi ke Rasya. Tadi kan Aqu habis mampir ke rumah Ibu, dan kata Ibu kalau bisa nanti malam kata di minta untuk main ke rumah Ibu Karena ada yang mau diobrolin katanya.
Rasya pun menjawab, Iya sayang... Nanti Insa Alloh kita kesana ya.. sekitar habis maqrib. Iya sayang.. terima kasih ya atas pengertian kamu ke Ibu aqu. Jawab Silvi ke suaminya.
Rasya pun tersenyum dan sembari mengecup kening Istrinya. Sayang...kenapa kamu kelihatan kayak asing gitu ya ke aqu ?
Tanya Rasya dengan nada bercanda..
Aahhh..... Nggak juga kok sayang...jawab Silvi ke Rasya. Akhirnya pun setelah lelah mulai menghilang dan keringat mulai tiada di badan Rasya Iya pun melakukan pekerjaan rumah sebagaimana hobinya yaitu bermesraan dengan sang istri hingga mengeluarkan benihnya.
Dan setelah selesai melakukan hal itu Rasya pun terus beranjak dari ranjang tidurnya yang empuk itu dan menuju ke kamar mandi untuk mensucikan dirinya dari hadas besarnya.
Setelah selesai dari mandi pun Rasya lebih kelihatan semangat dan ceria..
Lalu Silvi bergantian masuk ke kamar mandi sebagaimana Rasya tadi, yaitu bersuci dari hadas besarnya.
Karena tugas seorang Istri adalah melayani suami, maka kapan pun Rasya menginginkan Silvi pun akan selalu siap sedia. Dan sampai-sampai kini rambut Silvi yang semasa gadisnya panjang terus sampai ke pinggul, kini Iya telah memotongnya sebatas pundak.
Semua itu Iya lakukan karena demi suaminya juga, karena mempunyai seorang suami yang suka dengan pelayanan batin maka Iya harus sering-sering mandi besar.
Oleh karena itulah Silvi memutuskan untuk mempunyai rambut pendek hingga saat ini. Karena rambutnya yang sering basah supaya cepat kering dan gampang untuk di keramas.
Tetapi Rasya tidak mempermasalahkan rambut Silvi yang panjang atau pendek, yang terpenting bagi Rasya adalah pelayanan ke suami dan ke keluarga dengan akhlak yang baik.
Dan setelah mereka semua selesai mandi dan sollat Asyar, Silvi pun terus menuju ke dapur untuk memeriksa makan malam nanti sudah siap apa belum.
Dan ternyata semua telah siap karena asisten rumah tangganya yang mengerjakan semua. Silvi pun mengucapkan terimakasih ke asisten rumahtangganya itu.
Karena memasak adalah bukan wewenangnya.
Maaf ya mb.. tadi saya sedang sibuk dengan suami jadi mbak yang ngerjain semua.
Tidak apa-apa Bu...Jawab asisten rumah tangga Silvi itu. Ini tadi Ibu pak Rasya yang meminta saya untuk mengerjakan semuanya Bu. Karena Ibu sedang berada di kamar bersama pak Rasya.
Iya mbak... tadi saya dengan pak Rasya ada urusan keluarga jadi agak lama di kamarnya. Jawab Silvi ke asistenya. Padahal Silvi mengobrol dengan Rasya hanya sebentar untuk merilekskan badan Rasya.
Dan setelah itu adalah Silvi melayani yang urusan perasaan ke suaminya yang sangat buas itu. Namun semua itu tidak perlu Silvi katakan kesiapan pun, makanya untuk menyingkat kata-kata Silvi bilang ke asistenya ada sedang ada urusan keluarga dengan suaminya.
Dan setelah menyiapkan makan malam bersama asistenya itu, waktu magrib pun telah tiba. Dan kini semua orang yang ada di rumah itu telah meninggalkan aktivitasnya semua, dan beranjak menuju ke mesjid atau musholla terdekat untuk sollat berjamaah bersama-sama.
Setelah pulang dari mesjid, Rasya dan Silvi pun terus menuju ke meja makan untuk makan malam bersama, namun untuk asistenya Ia Idak mau diajak untuk makan bersama Bos atau majikanya itu.
Padahal Silvi dan juga Rasya telah mengajaknya untuk bergabung, tetapi karena asisten rumah tangga Rasya adalah orang yang mempunyai tata Krama jadi Iya merasa tidak enak dengan Bosnya itu.
Dan walau diajak makan bersama dari pagi hingga malam oleh majikanya, Iya pun tetap tidak mau.
Bik Ina nama asisten rumah tangga Rasya itu. Silvi pun terkadang membelikan sesuatu hadiah atau oleh-oleh ke asistenya itu jika dari bepergian jauh.
Karena selain Silvi adalah orangnya juga tidak tegaan, Iya juga merasa cocok dengan asistenya itu, karena orangnya yang sopan dan disiplin dalam bekerja.
Dan setelah makan malam selesai, Silvi pun mengajari Rafi dan anaknya Rinto untuk mengaji. Karena Silvi adalah pintar dalam mengaji, dan Rafi juga suka bila diajari oleh Ibunya, maka setiap haripun rutinitas Rafi dan juga anak Rinto mengaji setiap selesai sollat magrib.
Dan yang diajari oleh Silvi sendiri. Dengan waktu yang tidak lama sekitar tiga puluh menit mereka yaitu Rafi dan juga anak Rinto telah selesai mengaji.
Setelah itu pun, Silvi menghampiri Rasya yang sedang rebahan diatas ranjang yang terdapat di kamar tamu itu. Sayang... Ucap Silvi ke suaminya.
Jadikah kita ke rumah Ibu malam ini ? Tanya Silvi ke Rasya.
Jadi dong sayang... Jawab Rasya ke Silvi. Dan Silvi pun terus bersiap untuk berangkat ke rumah Ibunya. Begitu juga dengan Rasya, Iya pun
Terus mengambil kunci mobil dan menuju ke tempat parkir mobil. Sementara untuk Bik Ina Iya juga langsung tanggap dengan keluarnya Silvi, Rafi, dan juga Rasya yang menuju halaman depelan berarti pertanda majikanya akan bepergian.
Bik Ina pun langsung bergegas keluar menuju pintu depan dan mbukakan gerbang rumah Rasya. Dalam waktu lima menit pun Rasya telah meluncurkan mobilnya untuk menuju ke rumah Ibu mertuanya.
Rafi pun kelihatan senang sekali bila mendengar akan main ke tampat neneknya yang agak jauh tempatnya. Karena selain Rafi dekat dengan Ibu Silvi, disana Rafi lebih banyak temanya tenimbang di rumah dimana Iya di lahirkan, yaitu rumah orang tua Ayahnya.
Dan dengan bernyanyi-nyanyi Rafi memperlihatkan kegembiraanya akan ke rumah neneknya.
Dan setelah beberapa menit pun Mobil Rasya telah berada didepan rumah mertuanya itu.
Rafi pun sudah tidak sabar untuk turun dari mobil dan menemui neneknya. Setelah pintu mobil dibuka, Iya pun terus berlari menuju pintu rumah neneknya, tanpa menunggu Ayah dan Ibunya.
Assalamuallaikum...... Nenek.... Ini Rafi datang.....
Suara teriak Rafi terdengar oleh Ibu Silvi yang sedang makan malam sendirian di ruang makan.
Dengan mendengar suara cucunya itu pun Ibu Silvi langsung menjawab, waallaikum salam wr wb, lalu meninggalkan nasinya dan bergegas membukakan pintu karena didepan ada cucunya tersayang.
Dan setelah pintu rumah dibuka, ternyata didepan pintu telah ada Rasya, Silvi dan juga Rafi. Ibu Silvi pun merasa senang dengan kedatanganya anak, cucu dan menantu.
Lalu mereka bertiga pun terus masuk dan duduk di kursi yang berada di ruang tamu itu. Dan Ibu Silvi pun tidak melanjutkan makanya lagi, karena merasa senang dengan kedatangan anak cucunya, maka rasa lapar pun dengan seketika telah hilang.
Dan seperti biasa Silvi pun tidak merasa puas jika Iya main kerumah Ibunya dan tidak melihat makanan yang ada didalam tutup saji Ibunya.
Lalu Silvi pun setelah duduk sebentar terus kebelakang yaitu ke ruang makan dan melihat menu makanan Ibunya. Dan kebetulan Ibu Silvi memadamkan ayam kampung. Di opor dan ada juga yang di samabal pedas.
Namun karena Silvi telah kenyang, Dan begitu juga Radya, walau Ibu Silvi memaksa anak dan cucunya untuk makan namun mereka tetap tidak mau.
Dan Ibu Silvi pun juga duduk di kursi ruaangan dan mengobrol bersama. Sebagaimana kemarin, yaitu Ibu Silvi meminta Rasya untuk datang kemari, karena ada yang akan disampaikan ke Rasya.
Setelah duduk bersama, Ibu Silvi pun terlebih dahulu membuka obrolan yang Iya maksutkan, yaitu membahas tentang tempat tinggal yang pernah Iya sampaikan ke Silvi beberapa bulan yang lalu.
Begini nak Rasya....Ucap Ibu Silvi ke Rasya dan juga Silvi. Ibu memang sengaja kemarin meminta Silvi untuk mengajak nak Rasya ke rumah Ibu..
Maksud dan tujuan Ibu adalah...
Ibu kan sekarang sudah tua, dan terkadang juga merasa tidak enak badan, dan anak Ibu yang tinggal didekat Ibu hanya Silvi.
Untuk anak-anak Ibu yang lain semua telah berkeluarga dan menetap bersama istri dan suaminya. Dan Ibu juga sudah pernah bilang nak....
Ke anak Ibu yang lain...
Tentang siapa yang akan menempati rumah ini dan merawat Ibu...
Namun anak-anak Ibu bilang...katanya Ibu akan diajak saja untuk pindah tempat bersama mereka.
Karena mereka telah cocok dengan pencaharian mereka disana. Jadi mereka tidak mau Ibu minta untuk tinggal dirumah ini.
Dan Ibu juga mohon maaf yang sebesar-besarnya ya nak Rasya... Ibu tidak bisa untuk pindah tempat dari rumah ini. Karena di rumah ini banyak sekali kenangan bersama Ayah Silvi dan juga anak-anak Ibu diwaktu kecil.
Jadi Ibu memohon ke nak Rasya untuk tinggal dirumah ini bersama Ibu.. karena untuk saat ini hanya Silvi yang Ibu harapkan...
Silvi pun tertunduk diam mendengar pembicaraan Ibunya itu.. tetapi Rasya yang memberi jawaban dan kesimpulan atas permintaan Ibu mertuanya itu.