Seperti halnya kemarin, Mas Aji mengantarkan aku sampai ke pabrik tekstil, tempat kerja baruku. Saat aku sampai di ruanganku. Sepasang mata yang kemarin menatapku masih belum datang. Aku melihat ke arah jam dinding dan memang masih ada tiga puluh menit untuk jam kantor. Sedangkan staff lain yang sudah datang lebih dulu, menyapaku dengan senyum dan anggukan kepala mereka. Aku menyalakan komputer yang ada di mejaku. Lalu membuka beberapa map yang tertumpuk berisi proposal permintaan bantuan dan juga permintaan kerja sama. Aku kembali menutupnya dan beralih memeriksa file yang ada di komputer untuk kupelajari perdata. Aku melihat riwayat file yang terakhir dibuka. Setidaknya dengan begitu aku bisa tahu pekerjaan apa saja yang sedang dikerjakan dan masih berjalan progresnya. Aku juga meliha

