"Ayu banget kamu hari ini," sebuah pesan singkat mendarat apik di ponselku pagi itu. Aku baru membukanya saat aku sudah duduk di meja kerjaku. Aku tak mengenali nomor baru itu, tapi aku tahu siapa yang mengirimnya. Tak ada laki-laki lain yang hari ini menunggu di depan studio hanya untuk melihatku berangkat kerja selain dia, Yogi. Aku perasa? Tidak. Tapi karena aku sangat mengenalnya maka aku begitu paham, bahwa secangkir kopi di meja depan studionya sebelumnya tak pernah ada. Dan aku yakin dia sengaja meletakkannya di sana hanya untuk menemaninya. Mengamatiku yang terpaksa lewat jalan itu pagi dan sore. Itu sudah bukan kali pertama, sejak aku berangkat ke kantor sendiri, Yogi selalu menungguku lewat dan lalu mengirim pesan singkat, “cantik nduk”, “merahmu merona Na”, “jangan ngebut Na

