Aku menepi di sebuah kedai thai tea sepulang dari perjalanan bersama Intan. Begitu memarkir motorku di bahu jalan, aku lalu masuk dan disambut pelayan kedai tersebut. "Pure green tea satu kak," pesanku "Ditunggu ya Mbak." Aku duduk di bangku set yang ada di pinggir jalan. Memandang lalu lintas kota yang mulai sepi karena sudah mendekati waktu maghrib. Kumainkan handphoneku dan otakku melayang bagaimana jika ternyata luka hati Yogi sama atau bahkan lebih perih dari lukaku. Di dalam hatiku terjadi perdebatan, haruskah kuhubungi dia dan membuka lagi persahabatan dengannya. Atau haruskan aku teguh dengan pendirianku bahwa seluka apapun dia, saat ini kami adalah dua orang yang telah terpisah. Kami mempunyai hidup dan rumah tangga masing-masing. Yogi bersama istri dan anaknya yang mulai baha

