Dua hari dari malam aku usai menjenguk Yogi, saat aku masih mendengarkan musik di telingaku melalui earphone, ketika jariku sibuk memeriksa laporan yang diserahkan stafku, sebuah pesan masuk dari Yogi. “Hari ini jadi ya?” Aku memilih mengacuhkan pesan itu, juga hingar bingar kantor hari itu. Demi membunuh imajinasi tentang pertemuan hari ini, aku mendengarkan musik yang membuaiku tetapi di saat yang sama memusatkan konsentrasiku pada pekerjaan di hadapanku. Meski sesekali pesan Yogi tadi malam berkelebat di otakku. “Aku sudah keluar dari rumah sakit,” begitu awal pesannya tadi malam. “Alhamdulillah, jangan sakit gara-gara nyamuk lagi, ga seru,” balasku. “Besok makan siang sama aku, aku jemput di kantormu.” “Ga usah.” “Udahlah, aku cuma mau nyenengin kamu, ga usah ditolak.” “Aku b

