Paginya aku terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuh. Rasanya lebih sakit dan kaku dibanding kemarin saat baru sadar di rumah sakit. Aku melihat ke samping dan kulihat Mas Aji sudah tidak ada di sampingku. Mencoba mengingat-ingat jam berapa dia pulang semalam dari mengantar Ibu, karena yang pasti aku sudah tertidur setelah meminum obat. Aku bangun dari tempat tidur dengan mendesis menahan rasa tidak nyaman. Kucari suamiku ke kamar mandi, tidak ada. Aku keluar kamar lalu berjalan ke dapur. Di sana terlihat dia sedang berdiri membelakangiku yang berjalan ke arahnya. “Hai, bikin apa mas?” sapaku. Mas Aji menoleh ke arahku, lalu tersenyum dan mengangkat secangkir teh. Sesuatu yang biasa kulakukan untuknya. Dia lalu memberikannya padaku. Kami saling pandang. Dia mengacak-acak rambutku.

