Malam itu, aku sudah diperbolehkan pulang karena tidak ada luka dalam dan bisa menjalani perawatan di rumah saja. Betapa leganya aku begitu sampai di rumah. Mama dan Ibu membantuku beristirahat di kamar. Ketika itu kami melewati ruang tengah. Pigora foto yang tadi kuambil tampak tanpa kaca bersandar di sofa ruang tengah. Bukankah Mas Aji bilang dia membuangnya? Foto itu tampak apik. Aku tampak tertawa ketika Mas Aji berbisik. Entah mengapa dari sekian banyak take foto, justru itu yang dicetak besar oleh Yogi. “Kacanya pecah mas?” tanyaku. “Iya, udah ga usah dipikir, besok aku beliin pigora baru.” “Itu foto pengantin kita...” seketika aku merasa bersalah dan malah berpikir yang tidak-tidak. “Iya, ga usah mikir macem-macem. Salah aku juga tadi nyuruh kamu ngambil.” "Katanya dibuang?"

